Trap

Trap
Tak Berdaya


__ADS_3

Reynard merasa kesal dengan ulah semua anak buahnya yang tak mengikuti perintahya. Ia berdecak sepanjang perjalanan menuju ke hunian miliknya yang ada di kota ini.


"Seharusnya kau membiarkanku menghabisi laki laki itu!". Ketus Reynard pada Asolf yang sedang duduk disebelahnya.


" Laki laki itu adalah Mario adik dari tuan Marvin yang saat ini bekerja sama dengan kita". Ujar Asolf.


"Aku tidak peduli siapa dia. Dia sudah berani ikut campur dengan urusanku". Reynard mengerang geram.


"Sepertinya dia adalah kekasih nona Merry, wajar jika dia marah melihat anda bertingkah seperti itu pada nona Merry". Tutur Asolf dengan sangat tenang.


"Merry tidak akan semudah itu melupakanku, Aku tau dia masih memiliki rasa untukku". Gumam Reynard dalam hati sambil mengusap bibirnya mengingat ciuman panas yang ia paksakan pada Merry.


Mobil yang di tumpangi Reynard kini melewati sebuah gerbang besi yang menjulang tinggi, pintu yang menjadi satu satunya akses masuk ke dalam komplek perumahan milik DANKER.


Rumah rumah di komplek tersebut sengaja di bangun untuk memfasilitasi orang orang yang bekerja di perusahaan milik DANKER grub. Perusahaan itu memang memberikan fasilitas terbaik untuk semua pekerjanya, mulai dari transportasi, hunian hingga pendidikan untuk anak anak mereka.


Itu semua di berikan sebagai hadiah selama mereka mengabdi pada perusahaan DANKER.


Namun, kali ini suasananya sudah berbeda. Perumahan yang dulunya sangat ramai kini sedikit sepi. bahkan tidak sedikit pula rumah yang terlihat tak berpenghuni.

__ADS_1


Reynard sedikit menurunkan kaca mobilnya. Matanya mulai menerjap sudut demi sudut keadaan disana. " Kemana orang orang yang dulu tinggal disini?". Kalimat tersebut kini terlintas di pikiran Reynard.


"Beberapa orang sudah pindah dan mencari pekerjaan lain karena perusahaan DANKER sudah tidak sekuat dulu". Asolf yang seolah mampu membaca pikiran Reynard tiba tiba berkata dengan santainya.


"Lalu orang itu?. Bagaimana keadaannya?". Aura Reynard berubah menggelap saat bertanya tentang seseorang.


"Jika yang anda maksud tuan Albert, seingat saya beliau masih harus di tahan kurang lebih tiga tahun lagi. Karna ini masih terhitung tujuh tahun dari masa tahanan sepuluh tahun yang di dapat". Tutur Asolf.


" Kalau boleh saya tahu, untuk apa anda menemui nona Merry?". Imbuh Asolf.


"Aku hanya ingin tahu, apa yang bisa dia lakukan tanpa diriku". Ucap Reynard dengan angkuhnya.


******


Setelah melewati beberapa rumah, kini Reynard dan orang orangnya telah sampai di bagian utama perumahan tersebut. Sebuah bangunan megah yang terletak di ujung jalan. Bangunan tersebut berkali kali lebih besar dari rumah rumah sebelumnya.


Asolf keluar dari mobil terlebih dahulu. Kemudian berjalan Sedikit memutar ke arah pintu Reynard.


" Saya sudah menugaskan beberapa orang untuk membersihkan rumah ini sebelumnya. Namun jika anda tidak ingin bermalam disini, saya akan memesankan kamar VVIP di salah satu hotel sekitar sini". Tutur Asolf melihat Reynard yang enggan turun dari dalam mobil meski supir sudah membukakan pintu untuknya.

__ADS_1


"Tidak perlu". Ucap Reynard dan segera keluar dari dalam mobil.


Reynard berjalan lebih dulu memasuki bangunan tersebut, dan diikuti oleh Asolf yang mengekori di belakang beserta orang orang lainnya. Selangkah demi selangkah Reynard memasuki rumah tersebut lebih dalam. Matanya terus menjelajah di setiap dinding bangunan yang dengan jelas menyuguhkan beberapa lukisan klasik dan foto foto keluarga Danker yang masih terawat dengan baik.


Namun semakin lama langkah kaki Reynard memberat , hingga akhirnya melemah dan membuat Reynard jatuh tersungkur. Asolf segera bergerak untuk membantu berdiri kembali namun Reynard menepisnya. Ia menolak dengan kasar bantuan Asolf.


"Jangan membantuku, menjauhlah aku bisa sendiri". Seru Reynard disertai dengan dorongan kepada Asolf. Asolf akhirnya menjauhkan dirinya dari sana tanpa berkata apapun.


Reynard mencoba bangkit dan berdiri namun ia terjatuh lagi, ia mencoba kembali hingga berkali kali namun tetap sama. Kakinya melumpuh tak mampu bergerak mengikuti pikirannya. Matanya akhirnya menumpahkan air yang yang sudah tak mampu di bendung lagi. Reynard mengerang seolah merasa kesakitan yang amat sangat hingga wajahnya memerah dan menampakkan otot ototnya. Reynard yang putus asa kini duduk mengeratkan tubuhnya sambil memeluk kakinya. Tangisnya menggema menembus sunyi malam itu.


Asolf tak mampu lagi melihat tuan sekaligus keponakannya itu begitu tersiksa. Ia segera menyuruh orang orang yang bertubuh kekar di belakangnya untuk mengangkat Reynard menuju ruangan yang menjadi kamar istirahatnya tujuh tahun yang lalu.


Reynard hanya pasrah, raganya tak mampu bergerak sama sekali. Ia hanya memejamkan Matanya mengingat semua yang pernah terjadi di rumah itu. Kenangannya bersama kedua orang tuanya, memori memori masa lalu yang kini membuatnya begitu tak berdaya dan lemah. hingga akhirnya ia tak sadarkan diri.


.


.


. sorry readers,, lama hiatusnya ... aku lagi di posisi lemah tak berdaya.😞😞😞. doa in ya semoga aku cepet sembuh biar bisa sering update.

__ADS_1


lope youuu😘😘😘😘😘😘😘😘. jangan lupa like yaaaa !!!!


__ADS_2