
Merry terdiam disamping ranjang Denis, menatap sendu wajah adiknya yang nampak sedikit pucat tersebut. Hingga suara dering ponselnya seketika menggugah lambannya.
Merry meraih ponselnya dari dalam tas. ternyata satu panggilan masuk dari Mario dan Merry segera beranjak keluar ruangan untuk menjawabnya.
"Hallo Mario"
"Kau dimana? "
"A.. aku sedang berada di rumah sakit"
"Rumah sakit?. kau baik baik sajakan ?. tunggu Aku akan segera kesana. segera kirimkan alamatnya ".
"tapi Aku, -". sebelum Merry menyelesaikan ucapannya, Mario sudah lebih dulu mengakhiri panggilan tersebut.
Setelah mengirimkan lokasinya pada Mario, Merry berbalik hendak masuk kembali kedalam ruangan perawatan. Namun, saat melihat DeniS masih tertidur lelap dari balik kaca tembus pandang yang di pasang pada setiap pintu pintu rumah sakit tersebut, Merry mengurungkan niatnya dan lebih memilih duduk di kursi yang tersedia di depan pintu masing masing kamar.
Tak berselang lama., Mario telah sampai di rumah sakit tersebut dengan raut wajah yang nampak begitu khawatir.
"Merry" teriak Mario saat melihat Merry dari kejauhan.
Merry seketika menoleh ke arah sumber suara yang memanggil namanya.
"Kau baik baik saja kan?". ucap Mario sambil menatap Merry dari atas hingga bawah bermaksud memindai luka yang ada pada tubuh wanita yang ia suka itu.
"Aku baik baik saja, duduklah dulu". ajak Merry.
__ADS_1
"kalau aku baik baik saja kenapa aku disini? cepat katakan dimana yang sakit? ". ucap Mario dengan ekspresi wajah sangat khawatir.
"Mario tenanglah dulu. Bukan aku yang sakit, tapi Denis". terang Merry.
"apa? ". menatap Merry dengan penuh tanda tanya.
"iya. Denis yang sedang dirawat disini".
"lalu dimana DIA sekarang? bukankah tadi pagi dia baik baik saja? ". Mario beranjak berdiri dan mengintip dari balik pintu kamar. dilihatnya Denis yang tengah berbaring dengan selang infus yang menempel pada pergelangan tangan kirinya.
Mario kembali duduk di samping Merry. menatap kembali Merry yang kini matanya kembali menggulirkan butiran bening di wajahnya.
"Kenapa aku sampai menangis, memangnya apa yang terjadi pada Denis sampai dia harus dirawat disini? ". tanya Mario.
Mario meraih pundak Merry, menariknya agar lebih dekat dengannya dan membiarkan Merry untuk menangis di dada bidangnya. Merry yang merasa nyaman kini semakin mencurahkan perasaan sedihnya di sana.
"Tenanglah, Aku akan menemanimu melewati semua ini". kini Mario bergantian menenangkan Merry sambil memberikan pelukan hangat pada kekasihnya itu.
Waktu kini beralih dari siang menjadi petang. Merry mulai menyelaraskan matanya yang baru tersadar dari tidur lelapnya di dada Mario.
"Kau sudah bangun? " tanya Mario.
"HEM... ya. apa aku tertidur cukup lama? " tanya Merry.
"Entahlah. tapi lenganku sepertinya mulai kesemutan". kata Mario sambil sedikit memberikan pijatan pada lengannya.
__ADS_1
"Maafkan aku. Aku begitu lelah tadi". lirih Merry.
"Apa dadaku senyaman itu sampai kau bisa tertidur? " Ledek Mario.
"Apa? " Merry tersentak dan matanya membulat sempurna.
"Aku hanya bercanda". ucap Mario.
"Kau ini". Merry memukul ringan pundak Mario.
"ya Tuhan Denis".ucap Merry saat teringat akan adik kesayangannya tersebut. Merry segera berdiri hendak masuk kedalam kamar Denis. namun, tangan Mario menahannya.
"Denis sedang di periksa dokter tunggulah disini sampai dokternya keluar". terang Mario.
"baiklah kalau begitu ".
Merry kembali duduk di tempatnya tadi hingga dokter yang memeriksa Denis keluar dari kamar Denis.
.
.
.
😆😆😆😆😆😆😆😆😆
__ADS_1