
Netra dua insan itu saling beradu, memandang dengan tatapan yang menggambarkan kebingungan dan terkejut melihat keberadaan satu sama lain dalam ruangan yang sama. Keduanya terlihat mematung di tempat layaknya sedang bermain red light green light dalam serial squid game. Tapi perbedaannya disini tidak ada seorang penjaga, hanya ada keduanya saja yang mengisi ruangan kosong itu.
"Kak Daniel" guman Keyra.
Gadis tiga puluh tiga tahun itu mengenali pria yang berdiri dihadapannya. Ya, Keyra sangat mengenalnya di masa lalu tapi mereka sudah sangat lama tidak saling menyapa. Tatapan Keyra menerangkan betapa terkejutnya dirinya saat ini. Ini pertemuan mereka setelah sekian tahun sibuk mengejar impian masing-masing.
Saat ini Keyra bahkan merasa kesulitan menghirup oksigen yang menjadi kebutuhan utama tubuhnya. Suaranya juga tercekat di tenggorokan menghadapi situasi yang tidak terduga ini. Wanita cantik itu mempertanyakan bagaimana bisa sang senior berada dalam ruangan yang sama dengan dirinya.
Daniel Wijaya, tuan muda kedua keluarga Wijaya yang menjadi senior Keyra saat sekolah menengah atas dulu kini tepat berdiri dihadapannya. Pria yang menjadi cinta pertamanya hanya saja Keyra cukup tahu diri, dia tidak akan mampu menggapai pria hebat itu. Perbedaan antara mereka seperti langit dan bumi dan Keyra merasa tidak pantas untuk pria sempurna seperti Daniel.
Tadinya Keyra hanya sendiri dalam villa itu, menunggu klien yang akan menggunakan hasil desainnya. Perusahaan tempatnya mencari nafkah menjalin kerjasama dengan salah satu perusahaan besar yang akan membangun resort di desa yang sekarang Keyra datangi. Dikarenakan hasil karyanya yang terpilih maka Keyra bertanggung jawab penuh dalam pembangunan resort itu. Hari ini Keyra hadir sebagai perwakilan dari perusahaannya yang akan melakukan inspeksi mengenai desain yang sudah mulai dikerjakan dalam pembangunan resort itu. Proyek resort yang bernilai triliunan itu direncanakan akan selesai hanya dalam beberapa bulan saja dan Keyra dituntut untuk memberikan hasil yang sempurna.
Daniel sama terkejutnya dengan Keyra tapi hanya sesaat. Pria itu bisa menguasai dirinya dengan cepat kemudian dengan langkah pasti mencoba mengikis jarak antara keduanya. Terlihat ingin memastikan jika penglihatannya tidak salah.
"Kamu..." belum sempat Daniel melanjutkan ucapannya terdengar keributan dibalik pintu villa yang tengah diinjaknya saat ini.
Pandangan keduanya otomatis mengarah pada pintu yang terdengar digedor dengan kuat dari luar. Pintu itu bahkan terlihat bergetar hebat karena hentakan tangan kokoh yang tengah menggebraknya dari luar.
Daniel mengerutkan dahinya bingung, sebagai orang yang terakhir masuk seingatnya dia tidak mengunci pintu. Lalu mengapa ada adegan seperti ini. Bukankah tidak ada gunanya menggedor pintu yang pada dasarnya memang tidak terkunci?.
"Biar saya saja yang buka" ucap Keyra mengeluarkan suaranya sesaat setelah berusaha menguasai dirinya. Jarak antara mereka yang hanya tersisa beberapa senti saja semakin membuat Keyra kelabakan mengontrol dirinya sendiri. Ternyata perasaan itu masih sama, masih terikat pada sosok pria sempurna itu.
Dorr.. Dorr... Dorr..., suara gedoran pintu itu semakin menggema begitu keras, terdengar seperti tidak sabar agar segera terbuka.
"BUKA PINTUNYA WOY!"
Keduanya bisa mendengar suara keributan dari balik pintu yang sepertinya ada banyak orang diluar sana. Keyra menjadi gugup saat akan melangkahkan kakinya. Perasaannya mulai tidak nyaman tapi Keyra mencoba menepisnya dengan berpikir positif.
Dorr... Dorr...
"HEI BUKA PINTUNYA!"
"Saya... Mungkin mereka..." ujar Keyra meracau tidak jelas. Dirinya seperti orang bodoh menghadapi situasi sekarang ini. Tidak tahu apa yang sedang terjadi tapi perasaan Keyra sungguh tidak karuan.
__ADS_1
"Biar aku saja yang buka" ucap Daniel dengan suara tegasnya.
"Tidak, tidak, biar saya saja" timpal Keyra melambaikan kedua tangannya melarang Daniel untuk membuka pintu.
Brugh... karena terlalu gugup Keyra terpeleset dan entah bagaimana caranya wanita terjatuh dengan posisinya saat ini menimpa tubuh Daniel.
Brakkk..., bersamaan dengan tragedi itu pintu villa di buka paksa dari luar dan sialnya posisi mereka terlihat sangat tidak pantas.
Daniel dan Keyra dengan cepat menolehkan pandangan mereka ke arah pintu masih dengan posisi yang sama. Keduanya membulatkan mata begitu melihat banyak orang masuk dengan tatapan yang seolah tengah menghakimi mereka.
"Ma-maaf" Keyra segera bangkit berdiri wajahnya sudah sangat memerah akibat kejadian memalukan ini.
Daniel juga segera ikut bangkit dan berdiri di samping Keyra dengan ekspresi tenang. Tidak sedikitpun terlihat raut kegugupan di wajah tampannya. Berbeda dengan Keyra yang mulai menundukkan kepalanya takut.
"Kalian ingin berbuat mesum disini?" tuding seorang wanita paruh baya dengan wajah marah. Wanita Itu berada dalam segerombolan orang-orang yang datang dan membuka pintu secara paksa.
Daniel menganalisa apa yang terjadi sekarang, sepertinya warga desa telah salah paham dengan keberadaan Daniel dan Keyra yang hanya berdua saja dalam villa itu. Hal yang lumrah bila keadaan itu terjadi dikota besar atau tempat-tempat lain yang memang tidak terlalu peduli akan aturan agama. Sedangkan dari yang Daniel dengar tempat yang tengah diinjaknya sekarang sangat menjunjung tinggi aturan agama. Dan sekarang dirinya dan juga Keyra menjadi tersangka yang mungkin dianggap mengotori desa yang warga jaga selama ini.
"Bukan bu, ini hanya salah paham" Keyra menjawab dengan panik, melambaikan kedua tangannya juga menggeleng-gelengkan kepalanya. Berusaha meyakinkan warga dari ucapannya maupun gerakan tangannya. Gadis itu menyangkal tuduhan yang dilayangkan oleh wanita paruh baya itu pada mereka.
"Iya benar, kalian orang kota datang hanya ingin mencemari desa ini" teriak yang lainnya lagi.
"Benar, sangat tidak beradab!"
Tuduhan demi tuduhan terus di layangkan oleh warga desa tanpa memberi waktu pada Daniel ataupun Keyra untuk menjelaskan. Banyaknya jumlah lawan membuat Keyra kewalahan ditambah lagi Daniel sang senior sedari tadi menutup mulutnya dengan rapat.
"Ini benar-benar hanya sebuah kesalahpahaman. Kami sedang bekerja dan berjanji akan mengadakan rapat disini. Tidak hanya kami berdua yang menghadiri rapat ini, yang lainnya sedang dalam perjalanan"
Keyra tidak menyerah, berusaha menjelaskan situasi mereka. Nama baiknya di pertaruhkan dalam situasi sekarang ini. Apa yang diucapkannya bukanlah kebohongan tapi tidak juga sebuah kebenaran. Keyra hanya menebak keadaan, tidak mungkin dalam rapat proyek besar ini hanya ada dirinya dan juga Daniel. Lagipula Keyra belum tahu sebagai apa Daniel saat ini berdiri disampingnya.
"Halah mana ada maling yang mau mengaku, sudah tertangkap basah saja masih berusaha mengelak" teriak salah satu warga dengan tatapan sinis.
"Iya benar, sudah jelas jika hanya mereka berdua saja yang berada dalam rumah ini. Tidak perlu menebar kebohongan untuk menutupi kelakuan buruk kalian"
__ADS_1
"Benar, memang orang-orang kota tidak tahu aturan"
"Tidak ada keringanan bagi mereka, aturan di desa ini harus ditegaskan agar mereka tidak berlaku semena-mena saat berada di desa ini"
Warga desa terus menuding Daniel dan Keyra berbuat tidak senonoh di desa yang selama ini mereka jaga dengan baik.
"Tenang ibu ibu, kita bisa membicarakan masalah ini dengan kepala dingin" ucap salah satu pria paruh baya yang sepertinya seorang aparatur desa. Pria yang berada di tengah kerumanan warga itu berusaha membuat warganya lebih kondusif. Situasinya cukup kacau dengan dihiasi tudingan-tudingan para warga para Daniel dan Keyra.
"Tidak bisa begitu Pak. Perbuatan mereka tidak bisa di benarkan" sahut salah satu warga.
"Wuuuu" warga berteriak menyoraki Daniel dan Keyra.
Daniel masih tetap diam, membaca situasi dan kondisi yang mereka hadapi sekarang. Rasanya percuma saja menjelaskan dalam situasi yang tidak kondusif seperti sekarang ini. Ditambah lagi penilaian warga sudah terlanjur buruk padanya dan juga Keyra.
Posisi pertama mereka yang terlihat oleh warga menjadi acuan. Apapun yang Daniel dan Keyra katakan pada warga desa mereka pasti hanya akan menganggap itu sebuah alasan untuk menutupi perbuatan buruk Daniel dan Keyra.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Daniel pada Keyra.
Keyra terlihat berdiri dengan gelisah, tatapan warga sungguh melukai harga dirinya. Dia sudah berusaha memberikan pembelaan tapi tidak ada siapapun yang percaya atau hanya sekedar mendengar ucapannya. Rasanya wanita tiga puluh dua tahun itu ingin pingsan di tempatnya agar terbebas dari situasi ini. Dan mungkin saja hal itu tidak lama lagi bisa terjadi, saat ini kepalanya terasa sudah sangat pusing.
"Maaf menyela Pak. Tapi bisakah kita membicarakan masalah ini dalam keadaan yang lebih kondusif. Mungkin kerumuman ini bisa di bubarkan lebih dulu dan biarkan dua orang perwakilan warga ikut dalam pembicaraan kita" ujar Daniel tenang dengan nada bijkanya. Terlihat sangat berwibawa dalam penyampaiannya. Ya tentu saja, Daniel bisa menguasai diri dengan baik karena sudah terbiasa menghadapi situasi sekarang.
Daniel merupakan seorang tuan muda kedua Wijaya Group. Sebagai seorang pewaris kedua, Daniel tentu sudah banyak menghadapi situasi yang tidak terduga dalam hidupnya. Keadaan seperti saat ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan situasi perdebatan kala adanya perbedaan pendapat dalam rapat umum pemegang saham. Atau keadaan lain yang mengharuskan dirinya membuat sebuah klarifikasi untuk menjaga nama baik keluarganya ataupun nama baik Wijaya Group.
"Tidak bisa seperti itu, mereka sudah mengotori desa kita. Harus diberi hukuman agar tidak sembarangan di tempat orang" sungut salah satu warga tidak setuju.
"Mereka harus di arak keliling kampung!"
"Iya tidak ada keringanan untuk penzina"
"Berikan hukuman yang berat pada mereka"
"Jangan beri keringanan"
__ADS_1
"Mereka tidak pantas dikasihani"