
"Kakak tidak merasa jijik padaku?" tanya Keyra begitu lirih dengan kepala tertunduk.
"Tidak sama sekali" jawab Daniel tanpa keraguan.
"Jadi boleh?" tanya Daniel kembali memastikan.
Keyra menganggukkan kepalanya tanda memberi izin. Dia memang sudah memasrahkan tubuhnya saat setuju memasuki kamar tempat Daniel menginap.
Keyra yang sudah dewasa tentu mengerti maksud Alex memanggilnya. Daniel membutuhkannya lebih tepatnya butuh tubuhnya untuk meredakan efek dari obat perangsang yang telah Daniel minum sebelumnya.
"Terima kasih Key" ucap Daniel kemudian langsung kembali melanjutkan aksinya yang sempat tertunda.
Keduanya mulai hanyut dalam gelora nafsu yang didominasi oleh Daniel. Keyra mengikuti dan pasrah dengan apapun yang dilakukan suaminya pada tubuhnya.
Seluruh inci tubuh Keyra tidak lepas dari sentuhan Daniel. Tidak terhitung berapa jumlah tanda yang telah dibuatnya pada tubuh mulus Keyra. Tanda yang mungkin akan menjadi tatto yang menghiasi tubuh Keyra kedepannya.
Keyra tidak sadar bila kini tidak ada sehelai benangpun yang menempel ditubuhnya. Sentuhan Daniel membuatnya lupa segalanya, tubuhnya terus meminta lebih.
"Kamu yakin tidak akan menyesal?" tanya Daniel sebelum memasuki Keyra.
"Aku yakin, Kakak suamiku dan Kakak memang punya hak atas tubuhku" jawab Keyra mengangguk yakin.
Jawaban Keyra tentu semakin membuat Daniel kesulitan menahan gairahnya. Tapi pria itu tidak ingin terburu-buru, Daniel tidak ingin menyakiti Keyra dengan melakukan penyatuan tanpa pemanasan. Meski dirinya bukan pria yang handal dalam berhubungan intim tapi sebagai pria dewasa dia sedikit tahu mengenai hal itu.
Setelah dirasa Keyra cukup siap untuknya, Daniel mulai melucuti pakaiannya sendiri.
"Aku dengar akan sangat sakit bagi seorang wanita saat pertama kali melakukannya. Kamu bisa mencakar atau menggigitku untuk pelampiasan" ujar Daniel dengan suara purau penuh nafsu.
__ADS_1
Keyra menganggukan kepalanya tanda mengerti, dia juga pernah mendengar tentang itu. Sebenarnya Keyra takut tapi tentu ketakutannya tidak sebanding dengan tekadnya yang ingin membantu Daniel dari jebakan seseorang.
"Arghh" erang Keyra kesakitan saat Daniel menyatukan diri dengannya. Tubuh Keyra terasa terbelah dua. Air matanya menetes menggambarkan sakit yang dirasakannya.
"Maaf" ucap Daniel dengan tatapan bersalahnya.
"Apa sangat sakit?" Keyra menganggukkan kepalanya mengiyakan. Sungguh rasanya benar-benar sakit.
"Ingin berhenti saja?" tanya Daniel tidak tega dengan istrinya yang kesakitan. Meski kondisi tubuhnya terus menuntut gairahnya terpuaskan tapi Daniel tidak ingin egois. Melakukan hubungan suami istri bukan hanya satu pihak saja yang harus terpuaskan melainkan kedua belah pihak harus sama-sama menikmati.
"Tidak, lanjutkan saja tapi pelan-pelan" lirih Keyra.
Daniel kembali memberikan rangsangan berharap Keyra bisa lebih menikmati permainan mereka. Bagian atas Keyra tidak terlewat dari sentuhannya hingga istrinya itu terlihat lebih rileks.
Rasa sakit yang mendera Keyra terasa berkurang dengan rangsangan yang diberikan Daniel. Wanita itu terlihat lebih menikmati kegiatan panas mereka.
Keyra sudah beberapa kali mendapatkan pelepasan tapi Daniel belum menghentikan kegiatannya. Pria itu baru satu kali mendapatkan pelepasan dan itu belum cukup untuk meredam gairahnya. Entah seberapa banyak obat terkutuk itu yang dimasukkan ke dalam minumannya hingga membuat Daniel menjadi buas seperti sekarang ini.
"Aku akan menyelesaikan dengan cepat" ucap Daniel mempercepat gerakannya. Rasa bersalah menelusup dalam jiwanya melihat betapa sayunya tatapan sang istri. Jika bisa Daniel sudah berhenti sedari tadi tapi tubuhnya terus menuntut untuk tidak melepaskan Keyra. Gairah Daniel sangat sulit dipuaskan karena obat sialan itu.
Hingga beberapa menit kemudian Daniel berhasil mencapai puncaknya. Tubuhnya luruh menindih tubuh istrinya dengan deru napas memburu. Daniel menghirup aroma Keyra yang terasa begitu memabukkan meski tubuh wanita itu dipenuhi dengan peluh akibat kegiatan panas yang baru saja terjadi.
Sesaat posisi keduanya tetap seperti itu hingga Daniel merasa tuntutan untuk kembali mengulang kegiatan panas mereka kembali datang. Dengan sekuat tenaga Daniel menekan gairahnya karena kondisi Keyra yang tidak memungkinkan.
Istri Daniel itu memang tidak sedikitpun melayangkan protes meski tubuhnya sudah terasa sangat remuk. Dia membiarkan Daniel menyentuhnya dengan sesuka hati asalkan keadaan pria itu bisa membaik. Keyra benar-benar memasrahkan tubuhnya pada suaminya.
"Terima kasih banyak Key" ucap Daniel mendaratkan satu ciuman begitu dalam di kening Keyra.
__ADS_1
"Maaf aku menyakitimu" lanjutnya lagi.
Gairah Daniel sebenarnya belum padam sepenuhnya tapi keadaannya sudah cukup membaik. Efek afrodisiak yang dicampurkan dalam minumannya sudah hampir hilang.
Bila Daniel terus memaksakan kehendaknya tidak menutup kemungkinan Keyra akan kehilangan kesadarannya karena melayani nafsunya. Daniel tidak mungkin tega membiarkan istrinya itu terlalu kelelahan.
"Tidak perlu meminta maaf kak, aku baik-baik saja" jawab Keyra yang bisa disimpulkan bukanlah sebuah kejujuran. Wajah lesunya menggambarkan bagaimana lelahnya dirinya melayani Daniel. Ucapannya yang mengatakan dirinya baik-baik saja hanya agar suaminya tidak merasa terbebani.
"Jangan berbohong, aku tahu kamu kelelahan"
***
Daniel keluar dari kamar setelah membantu istrinya membersihkan diri dan memastikan wanita itu telah tertidur dengan nyaman. Dia perlu memeriksakan keadaan tubuhnya dan memastikan semuanya baik-baik saja. Tidak ada efek berkepanjangan dari afrodisiak yang terminum olehnya.
Sebenarnya Daniel sempat akan tertidur tapi dua orang yang kini tengah menunggunya sibuk mendial nomornya yang mengakibatkan ponsel miliknya terus berbunyi. Tidak ingin tidur sang istri yang begitu kelelahan terganggu akhirnya Daniel memutuskan untuk menemui Alex dan dokter Bryan.
Langkah Daniel kini berjalan menuju kamar tepat disebelahnya, kamar yang diyakini ada Alex dan dokter Bryan didalamnya. Pria itu melangkah dengan rasa malas akibat menahan kantuknya. Beberapa kali Daniel bahkan terlihat menutupi mulutnya karena menguap sambil berjalan.
"Cepat periksa, ngantuk!" ucap Daniel mendelik malas melihat dua orang yang begitu santai untuk ukuran orang yang menghawatirkan keadaannya.
Sahabat dan sepupunya itu terlihat begitu tenang, satu berbaring di ranjang dengan bermain game menggunakan ponselnya dan satunya lagi duduk di sofa yang Daniel duga tengah mengerjakan pekerjaannya.
"Sensi amat, baru dapat jatah juga" celetuk dokter Bryan.
Ekspresi Daniel merona sesaat kala dokter Bryan menyebutkan jatah yang disematkan untuknya. Beruntung pria itu adalah orang yang handal dalam pengendalian raut wajah. Daniel bisa dengan cepat menguasai dirinya hingga Alex ataupun dokter Bryan tidak sempat melihat perubahan raut wajahnya. Bila dua orang itu menyadarinya tentu Daniel akan menjadi bahan bulian bagi keduanya.
"Gimana malam pertamanya?" goda dokter Bryan yang membuat wajah Daniel semakin memerah.
__ADS_1
Ck, Daniel berdecak datar karena tidak ingin wajah memerahnya terdeteksi oleh sepupunya itu.