
Ting..., terdengar suara ponsel Keyra berbunyi yang menandakan ada sebuah pesan masuk.
Kak Daniel : 'Aku akan memberikan sebuah bocoran informasi penting pada istriku'
Keyra membacanya dengan menggelangkan kepalanya, merasa pesan Daniel sangat konyol. Tapi jujur wanita itu cukup penasaran dengan informasi penting yang dimaksudkan oleh Daniel. Saat akan membalas untuk bertanya pesan Daniel kembali masuk.
Kak Daniel : 'Kak Raya tiba-tiba saja mengatakan ingin melihat desain proyek resort itu hari ini. Kalau kamu sedang sibuk aku akan memberi pengertian pada beliau untuk membuat janji temu di hari yang lain'
Kak Daniel : 'Kurang baik apa aku pada istriku'
Dua pesan itu masuk secara berurutan. Bunyi pesan yang membuat Keyra tanpa sadar menyunggingkan senyumannya. Lucu saja rasanya.
Me : 'Tidak masalah Kak, aku tidak terlalu sibuk hari ini. Terima kasih sudah memberitahu' balas Keyra tanpa menunggu lama.
Kak Daniel : 'Ini tidak bisa diselesaikan dengan ucapan terima kasih. Kamu harus membayar untuk informasi penting ini. Tidak ada yang gratis di dunia ini Key'
Me : 'Uang Kakak jauh lebih banyak dari Keyra. Apa Kakak harus seperhitungan ini'
Kak Daniel : 'Bukan tentang uang, aku tidak mungkin memeras istriku yang sangat pekerja keras itu. Tapi yang aku butuhkan waktunya, temani aku makan malam diluar ya'
Keyra terlihat berpikir, menimbang akan menerima atau menolak ajakan Daniel. Sebenarnya dia sama sekali tidak meminta Daniel untuk memberitahunya tentang keinginan pemilik Biantara Group yang akan melihat desainnya. Dan sudah pasti Keyra juga tidak punya kewajiban untuk menerima ajakan Daniel. Tapi bukankah tidak ada salahnya menerima ajakan suaminya itu. Sesekali menikmati suasana makan malam diluar mungkin tidak buruk juga, pikir Keyra.
Kak Daniel : 'Kamu keberatan Key?' bunyi pesan Daniel kembali muncul karena tak kunjung mendapatkan balasan.
Me : 'Baiklah nanti malam akan Keyra temani'
"Oh kamu sudah sampai Key?" tanya Rani melihat Keyra sudah terduduk di depan meja kerjanya.
Keyra dengan segera menyingkirkan ponselnya dan menatap pada Rani.
"Iya Bu, ada yang bisa saya bantu?" tanya Keyra.
"Tidak ada. Bagaimana dengan desainya sudah selesai?" tanya Rani memastikan pekerjaan yang sudah diingatkannya kemarin.
"Sudah Bu" jawab Keyra mengangguk.
"Baguslah kalau begitu. Pak Gery baru saja memanggilku, beliau mengatakan Biantara Group ingin melihat desain proyek itu hari ini. Sepertinya kamu harus ikut bersama Pak Gery dalam pertemuan kali ini atau mungkin kamu yang akan kesana sendiri. Kamu bisa menemui Pak Gery dulu untuk memastikannya" terang Rani.
Keyra tersenyum menanggapi ucapan Rani, dia baru saja diberitahu oleh Daniel tentang hal ini. Sebuah informasi yang harus ditukarnya dengan menemani makan malam diluar.
"Baik Bu, kalau begitu saya permisi ke ruangan Pak Gery dulu" pamit Keyra sembari menyiapkan benda yang perlu dibawanya.
"Iya Key, semoga berjalan lancar. Semangat" balas Rani yang ditanggapi dengan senyuman oleh Keyra.
Rani atasan paling baik yang pernah Keyra temui. Wanita itu memiliki rasa peduli yang begitu tinggi terhadap sesama hingga membuatnya menjadi idola di kantor ini. Rata-rata karyawan yang berada dibawah naungannya pasti merasa nyaman saat bekerja, tidak pernah merasa tertindas karena penindasan memang jauh dari kamus hidup Rani. Wanita yang sudah memiliki satu anak itu tidak pernah bersikap semena-mena pada bawahannya. Jarang sekali marah meski bawahannya telah melakukan kesalahan sekalipun. Dia lebih mengedepankan untuk langsung mencari sebuah solusi daripada membuang-buang waktu meributkan siapa yang paling bersalah.
"Mbak, Pak Gerynya ada?" tanya Keyra pada Zea sekretaris Gery.
"Ada Key, mari saya antarkan" jawab Zea.
Tok... Tok...
"Permisi Pak" ucap Zea setelah mengetuk pintu ruangan Gery.
"Masuk" sahut Gery dari dalam.
"Oh kamu Key" ujar Gery melihat Keyra yang datang bersama sekertarisnya.
"Kata bu Rani Bapak memanggil saya?" tanya Keyra dengan sopan.
"Iya, silahkan duduk" ucap Gery mempersilahkan Keyra duduk.
"Terima kasih Pak" ucap Keyra duduk tepat dihadapan Gery.
"Kalau begitu saya permisi dulu Pak" ucap Zea undur diri.
"Iya, jangan lupa selesaikan berkas yang kuminta sebelumnya" peringat Gery pada Zea.
"Baik Pak" jawab Zea kemudian keluar meninggalkan ruangan Gery.
"Pukul sebelas nanti pemilik Biantara Group ingin memastikan desainnya secara langsung. Sebelum itu apa kamu sudah menyiapkan desainnya?" tanya Gery pada Keyra.
"Sudah selesai semua Pak. Ini desain yang sudah saya selesaikan" Keyra menyodorkan tabletnya tepat di hadapan Gery agar bosnya itu bisa mengoreksi jika ada kekurangan.
"Desain bangunan yang sebelumnya sudah disetujui oleh pihak Biantara Group, hanya tinggal desain beberapa tempat kosong saja. Saya menambahkan taman di bagian sini dan sini. Di sini ada taman bermain khusus untuk anak-anak. Jika ada keluarga yang akan berkunjung kesana mereka bisa mengajak anak-anak mereka bermain disini agar tidak bosan. Oh saya juga membuat sedikit perubahan pada bagian depan" Keyra menunjuk tabletnya sembari menjelaskan dan Gery terlihat serius memperhatikan bagian-bagian yang di jelaskan oleh Keyra.
"Bukankah sebelumnya disini akan di buat cafetaria?" tanya Gery menunjukkan bagian taman bermain khusus anak-anak yang ditunjukkan oleh Keyra.
"Iya benar Pak. Bagian cafetaria akan tetap di buat di bagian sini hanya di tambah taman bermain di sampingnya. Pengunjung bisa menikmati pemandangan dan juga mengawasi anak-anak mereka sembari minum atau makan disini" jelas Keyra.
"Kenapa tiba-tiba menambahkan taman khusus anak-anak?" selidik Gery.
"Saya dengar pemilik Biantara Group sangat keibuan yang tentu menyukai anak-anak. Juga dari hasil pengamatan saya, beberapa proyek Biantara Group serupa dibuat taman bermain khusus untuk anak-anak. Saya pikir itu permintaan dari pihak Biantara Group Pak" jawab Keyra.
Atasan Keyra terlihat menimbang beberapa saat sembari mengamati desain yang telah diselesaikan oleh Keyra.
"Baiklah, saya setuju dan saya harap Nyonya Raya juga akan menyetujuinya. Karena saya memiliki jadwal lain siang ini jadi tidak bisa menghadiri pertemuan kali ini. Saya harap kamu bisa menanganinya. Kamu juga bisa mengajak Rani atau teman yang lainnya untuk ikut bila diperlukan" ujar Gery.
"Saya pikir saya bisa mengatasi masalah ini sendiri Pak. Pertemuan hari ini hanya untuk membahas masalah desain jadi saya pikir tidak perlu mengajak bu Rani atau yang lainnya untuk ikut. Mereka saat ini sedang disibukan dengan penanganan proyek HM Group dan JERA Company. Lagipula kerjasama ini sudah berlangsung, klien kita hanya ingin memastikan hasil desain akhirnya saja" jawab Keyra, mengingat rekan-rekan kerjanya juga saat ini tengah sangat sibuk. Jadwal mereka akhir-akhir ini begitu padat bahkan tak jarang harus lembur untuk mempersingkat waktu. Dan jika saat ini Keyra mengajak rekannya untuk ikut sudah dapat dipastikan bila mereka harus kembali lembur hari ini.
"Baiklah kalau begitu, aku percayakan semuanya pada kamu. Pertemuannya akan diadakan di restoran xxx, nyonya Raya sekaligus mengajak makan siang bersama. Tapi jika kamu sudah memiliki rencana lain siang ini bisa pamit pada nyonya Raya untuk pulang terlebih dahulu dan semoga beliau bisa mengerti. Apa kamu punya janji siang ini?" tanya Gery pada Keyra.
"Saya tidak memiliki janji untuk siang ini Pak"
"Kalau begitu sebaiknya kamu ikut makan siang bersama mereka. Dan jika pekerjaan kamu di kantor telah selesai kamu bisa langsung pulang setelah pertemuan itu"
"Baik Pak, terima kasih" jawab Keyra menanggapi.
"Ya sama-sama. Saya juga mengungkapkan terima kasih atas kerja keras kamu telah menyelesaikan desain ini dengan cepat. Saya tahu kamu pasti harus begadang untuk menyelesaikan ini. Saya meminta kamu pulang lebih cepat agar bisa beristirahat" ucap Gery.
"Biak Pak, terima kasih sekali lagi"
"Ya sama-sama. Sekarang kamu bisa kembali ke ruangan kamu" balas Gery.
Tepat pukul sepuluh lewat empat puluh lima Keyra telah sampai di restoran yang dimaksudkan oleh atasannya sebelumnya. Keyra sengaja datang lebih awal karena tidak ingin membuat sang klien menunggunya. Sangat tidak etis bila kejadiannya seperti itu. Kredibilitas Keyra pasti akan dipertanyakan.
Entah mengapa kini Keyra merasa sangat gugup padahal tadi perasaannya baik-baik saja. Dia sudah percaya diri bisa menerangkan desainnya karena memang telah memperlajarinya semalaman. Tapi entahlah mungkin Keyra gugup karena saat ini yang akan bertemu dengan keluarga suaminya.
"Tapi masalahnya mereka sama sekali tidak mengetahui siapa kamu Key. Jangan lupakan jika pernikahan ini dirahasiakan" gumam Keyra menertawakan kebodohannya.
"Buang pikiran yang tidak penting itu Keyra Dinata. Fokus pada pekerjaanmu" peringatnya pada dirinya sendiri.
"Permisi mbak, saya mau tanya. Apa ada reservasi atas nama nyonya Raya Wijaya?" tanya Keyra pada pelayan restoran.
"Tunggu sebentar ya mbak, saya periksa dulu" jawab sang pelayan dan Keyra menganggukan kepalanya menyetujui.
"Oh benar mbak, disini ada reservasi atas nama nyonya Raya Wijaya. Mari saya antarkan mbak" ucap sang pelayan dengan ramah.
"Terima kasih mbak" jawab Keyra tersenyum.
Keyra mengikuti pelayan restoran yang menuntunnya ke ruangan yang telah direservasi oleh Raya. Setelah sampai dia kembali mengucapkan terima kasih.
Sembari menunggu Keyra memilih memainkan tablet miliknya, mempergunakan waktu untuk melanjutkan desain baru yang sebelumnya sengaja dia buat. Mungkin saja desain itu akan tawarkan pada perusahaan-perusahaan yang membutuhkan desain serupa dalam beberapa waktu mendatang.
***
Tepat pukul sebelas siang Raya, Rafa dan juga twins sampai di restoran. Pun dengan Daniel, mereka berpapasan di depan pintu masuk restoran.
"Uncle" teriak Rayna yang melihat Daniel turun dai mobil.
"Hati-hati sweetheart, jangan berlari" gadis kecil itu berlari menghampiri sang pamam yang langsung mendapatkan peringatan dari mommynya.
"Hehe maaf mommy" ucap Rayna terkekeh tanpa dosa.
Jika Rayna tidak berteriak mungkin Daniel tidak akan menyadari keberadaan sang kakak dan kakak iparnya juga twins disana. Daniel terburu-buru karena menebak Keyra sudah menunggu kedatangan mereka didalam.
"Hai cantik" ucap Daniel langsung mengangkat sang keponakan dalam gendongannya.
"Keponakan Uncle yang cantik dan tampan ini baru pulang sekolah ya?" tanya Daniel pada Rayna dan Ryan.
"Iya Uncle, pulangnya cepat karena hari ini ada acara di sekolah. Mommy dan Daddy katanya mau makan siang bersama Uncle jadi kita ikut" jawab Rayna dan Daniel mengangguk mengerti. Gadis kecil itu sangat antusias berbicara sedang sang kembaran hanya diam saja.
"Rayna rindu pada Uncle, apa Uncle rindu juga pada Rayna?" tanya Rayna.
"Tentu Uncle juga rindu pada keponakan Uncle yang cantik ini" jawab Daniel mencubit gemas pipi Rayna.
"Bohong! Kalau Uncle rindu kenapa tidak pernah ketemu-ketemu kita. Kadang Rayna sering ajak Daddy ke mansion grandpa karena ingin ketemu Uncle tapi grandma bilang Uncle tidak pulang. Uncle juga susah kalau di call-call gitu" rajuk Rayna.
"Akhir-akhir ini Uncle sibuk, maaf ya. Uncle janji kalau sudah tidak sibuk lagi kita pergi jalan-jalan" bujuk Daniel pada Rayna yang tengah mengerucutkan bibirnya.
"Janji ya Uncle!" Gadis kecil itu mengulurkan jari kelingkingnya, meminta Daniel juga melakukan hal yang sama.
"Janji" jawab Daniel dan keduanya saling menautkan jemari kelingking satu sama lain.
"Kakak ngapain ikut?" tanya Daniel mengalihkan atensinya pada sang kakak. Sebenarnya tanpa bertanya Daniel sudah tahu jawabannya. Kakaknya itu sudah pasti tidak akan membiarkan istrinya keluar sendirian dan lagi CEO Wijaya Group itu tidak mungkin bisa makan siang dengan benar tanpa kehadiran istrinya.
"Terserah aku lah, kamu pikir aku akan membiarkan istriku keluar sendirian dengan perutnya yang sudah besar itu" sahut Rafa sewot.
"Alasan klasik. Kak Rafa hanya tidak rela siang ini makan tidak di temani oleh Kak Raya. Juga karena ada aku disini, dasar posesif" tuding Daniel pada sang kakak.
Meski tahu Daniel bukan pria yang akan berpotensi merebut istrinya tapi Rafa tetap tidak membiarkan Raya berdua dengan Daniel, meski sebenarnya tidak benar-benar berdua. Intinya bila ada seorang pria yang hadir dalam pertemuan istrinya dia juga harus ikut. Daddy twins itu punya penyakit cemburu akut, jangankan pada Daniel pada putranya sendiri saja Rafa cemburu.
__ADS_1
"Sudah tahu ngapain nanya" balas Rafa dengan ketus, tidak sedikitpun menyangkal tentang apa yang dikatakan oelh adiknya. Percuma juga menyangkal, semua orang terdekatnya sudah tahu bagaimana dirinya bila menyangkut Raya.
"Sudah, ayo sebaiknya sekarang kita masuk" ajak Raya melerai perdebatan sang suami dan adik iparnya itu. Jika dibiarkan pasti tidak akan ada habisnya. Kata orang, seorang kakak harus mengalah pada adiknya tapi perumpamaan itu sama sekali tidak berlaku untuk seorang Rafael Wijaya. Dia tidak akan pernah mengalah pada Daniel.
"Ayo Hubby nanti Nona Keyranya lama menunggu" ujar Raya karena Rafa tetap tidak bergeming dari tempatnya.
"Uncle dan Daddy kenapa ribut-ribut terus sih kalau sudah bertemu. Kata Mommy tidak baik seperti itu, benar kan Mommy?" timpal Rayna berkomentar.
"Bukankah keponakan cantik Uncle ini juga sering ribut dengan Ryan seperti Uncle dan Daddy" sahut Daniel menyadarkan sang keponakan.
"Hehe benar juga ya Uncle. Rayna dan Ryan juga sering ribut-ribut seperti Uncle dan Daddy" jawab Rayna terkekeh malu membenarkan ucapan Daniel.
"Sudah ayo kita masuk. Ayo sayang" ajak Raya menggandeng tangan Ryan yang hanya diam saja. Semakin hari pria kecil itu semakin irit bicara.
***
Keyra meletakkan tabletnya saat mendengar suara pintu ruangan terbuka. Dia segera bangkit berdiri dengan senyuman manisnya menyambut kliennya.
Netra Keyra menangkap suaminya yang tengah menggendong seorang gadis kecil yang dia tahu adalah keponakan Daniel. Ya siapa yang tidak mengenal seorang Rafael Wijaya, pun dengan istri dan anak-anaknya. Seluruh orang di negeri ini pasti mengenal pewaris Wijaya Group itu beserta keluarga kecilnya yang baru diperkenalkan beberapa waktu lalu.
"Hai, maaf kita datang terlambat. Tadi ada sedikit drama di depan restoran" ucap Raya menyapa dengan ramah.
"Tidak masalah Nyonya, saya juga baru saja sampai" jawab Keyra. Wanita itu membenarkan rumor-rumor yang beredar di luar sana, dimana mengatakan istri sang tuan muda Rafael adalah wanita yang baik dan ramah. Kliennya itu datang terlambat lima menit tapi raut wajah Raya langsung merasa tidak enak pada Keyra. Padahal disini Keyralah yang membutuhkan Raya jadi wajar saja bila Keyra menunggu. Dan sebenarnya Raya tidak perlu untuk mengucapkan kata maaf karena Keyra tidak mungkin berkomentar buruk atas keterlambatannya.
Keyra menatap kagum dengan penampilan Raya yang terlihat sangat sederhana untuk ukuran seorang istri dari Rafael Wijaya. Wanita dua anak ditambah satu lagi yang masih bersemayam dalam perutnya itu terlihat sederhana tapi sungguh elegan meski tidak menggunakan barang-barang yang terlalu mewah. Keyra tidak heran menilai penampilan Raya yang sangat sederhana tapi tetap modis. Dia sudah mendengar jika Raya merupakan seorang designer ternama.
"Kenalkan Key, ini Kak Raya pemilik Biantara Group. Dan ini Kak Rafa, kamu pasti tahu lah siapa dia" ucap Daniel mengenalkan sang kakak dengan malas-malasan.
"Dan dua bocah ini produk mereka" lanjut Daniel mengenalkan twins.
Pukk..., Daniel langsung mendapatkan pukulan dari Rafa karena ucapan ambigunya di depan twins.
"Sakit Kak" protes Daniel tidak terima.
"Makanya kalau bicara itu di jaga. Gunakan kata yang sopan di depan anak-anak. Jangan mencemari anak-anakku" omel Rafa.
Daniel melengos mendengarnya, kenyataan Rafa yang sering kali mencemari otak twins dengan bermesraan bersama istrinya dimana saja.
"Daddy dan Uncle ribut ribut terus" protes Rayna.
"Raya" ucap Raya mengenalkan dirinya pada Keyra, mengabaikan kelakuan dua pria dewasa disampingnya.
"Keyra Nyonya" ujar Keyra menerima uluran tangan Raya.
"Panggil Raya saja Nona Keyra, mungkin dari segi umur Nona Keyra lebih tua dari saya. Rasanya tidak nyaman mendengar panggilan Nyonya itu"
"Baiklah nyo... Maksud saya Raya. Anda juga bisa memanggil saya dengan Keyra saja" balas Keyra kaku.
"Sepakat kalau begitu, aku harap kita bisa berteman setelah ini. Oh ya aku dengar dari Daniel kalian saling mengenal. Apa benar?" selidik Raya.
Keyra menatap pada Daniel dengan tatapan bertanya tapi Daniel justru mengalihkan pandangannya.
"Ya benar, Kak Daniel senior saya sewaktu sekolah menengah atas dulu nyo... Ah maksud saya Raya" jawab Keyra belum terbiasa dengan panggilannya.
"Oh pantas saja" ucap Raya.
"Ayo kenalan dulu sama Aunty sayang" ucap Raya pada twins.
"Ryan Aunty" ucap Ryan mengenalkan dirinya.
"Keyra" balas Keyra menebar senyuman terbaiknya.
"Mau turun Uncle" pinta Rayna pada Daniel dan dengan segera dituruti oleh Daniel.
"Rayna Aunty" ucap Rayna mengenalkan dirinya dengan menggemaskan.
"Nama yang cantik seperti orangnya" puji Keyra.
"Terima kasih Aunty, Aunty juga cantik" jawab Rayna senang. Gadis kecil itu sangat menyukai pujian apalagi dikatakan cantiknya sama seperti mommynya.
"Terima kasih juga sayang" balas Keyra.
Kedua bocah itu sungguh manis, Keyra langsung jatuh hati dipertemuan pertama mereka. Benar yang dikatakan oleh Daniel sebelumnya. Dia sungguh tidak menyangka pertemuan hari ini. Keyra pikir hanya Raya saja yang akan datang, tidak tahunya jika Nyonya Wijaya itu akan memboyong keluarga kecilnya. Tapi Keyra sangat tidak keberatan justru dirinya merasa beruntung. Selama ini dia hanya bisa melihat keluarga kecil Rafael dari media sosial saja, tidak menyangka hari ini bisa bertemu langsung.
"Ayo duduk sayang, kamu pasti kelelahan" ucap Rafa menuntun sang istri untuk duduk, menarik kursi menyesuaikan dengan kenyamanan istrinya. Gerakannya sangat berhati-hati karena perut besar Raya.
"Terima kasih Hubby" ucap Raya dengan tatapan cintanya.
"Sama-sama" balas Rafa.
Rafa beralih pada twins, hendak membantu dua bocah itu duduk di kursi masing-masing tapi keduanya sudah duduk manis di kursinya. Ryan yang mandiri dengan sendirinya duduk tepat di sebelah sang Mommy. Posisi yang memang diharuskan karena bila tidak seperti itu sudah dapat dipastikan pria kecil itu akan mengajukan protes. Sedang Rayna dibantu Daniel untuk duduk berada ditengah-tengah dirinya dan Rafa dalam meja bundar itu. Posisi keduanya sengaja dibuat terpisah karena tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan nantinya.
"Mau es krim Mommy" pinta Rayna dengan puppy eyesnya.
"Sedikit saja okey" balas Raya menyetujui meski harus bersyarat.
"Oke mommy, thank you" jawab Rayna berbinar seolah es krim yang dimintanya telah ada di depan matanya.
"Mommy mau bicara sama Aunty dan Uncle dulu. Ryan dan Rayna harus menjadi anak baik bersama Daddy okey"
"Siap bos" jawab tiga orang yang dimaksudkan Raya. Ketiganya dengan kompak mengangkat tangan kanan masing-masing membuat gerakan hormat pada Raya.
"Anak-anak Mommy memang paling pintar" puji Raya mencium gemas pipi twins bergantian.
"Kamu melupakan aku sayang" Rafa mengeluarkan suaranya protes karena sang istri hanya melewatkannya.
Cup, tidak ingin masalah menjadi panjang Raya memilih untuk langsung memberikan satu ciuman yang sama pada suaminya.
Tanpa sadar Keyra menyunggingkan senyumannya melihat pemandangan itu dan senyuman itu tidak terlewat dari pandangan Daniel.
"Kita membahas masalah pekerjaan disana saja Key" ucap Raya menunjuk satu meja lain yang berada di ruangan itu.
"Baik" jawab Keyra.
"Ini desain yang sudah saya selesaikan. Saya menambahkan beberapa taman di lahan yang masih kosong, seperti disini, disini dan juga disini..." Keyra membuka suara, menjelaskan desainnya dengan sangat detail.
"Saya suka desain ini" ucap Raya menatap kagum. Baru kali ini dia langsung setuju, tidak meminta tambahan atau mengurangi. Sepertinya informasi yang diberikan Daniel sangat bermanfaat dalam penyelesaian desain Keyra.
"Bagaimana Tuan Muda Daniel?" tanya Raya pada Daniel karena bagaimanapun saat ini Daniellah yang memimpin Biantara Group.
"Daniel oke" jawab Daniel tanpa berkomentar banyak. Dia sudah melihat desain itu semalam bahkan Daniel ikut membantu Keyra mengerjakannya. Rasanya akan aneh jika dia berkomentar, secara tidak langsung desain yang dibuat oleh Keyra juga merupakan hasil karyanya meski kontribusinya sangat sedikit.
"Baiklah, saya percayakan semuanya pada kalian saja" ucap Raya mengakhiri rapat mereka.
Raya kemudian beralih menatap anak-anaknya yang terlihat manis duduk bersama suaminya. Ryan memainkan tabletnya sedang Rayna bermain Barbie bersama daddynya.
"Sudah selesai?" tanya Rafa melihat sang istri berpindah duduk di sampingnya.
"Sudah" jawab Raya menganggukan kepalanya.
"Hati-hati" ucap Rafa saat Raya akan kembali duduk di kursinya. Tidak lupa juga dengan sigap Daddy twins itu berdiri untuk membantu memegangi sang istri.
"Terima kasih Hubby" ucap Raya.
"Apapun untuk istriku" jawab Rafa mendaratkan satu kecupan singkat di kening Raya.
"Kalau begitu kita pesan makan siang dulu. Saya harap Nona Keyra bisa bergabung" ucap Rafa.
"Baik Tuan" jawab Keyra gugup.
"Panggil Kakak saja seperti Daniel, lagipula kamu teman Daniel" ucap Rafa.
Meski Rafa menghargai Keyra sebagai kenalan Daniel tapi suara pria itu sungguh datar. Nadanya sangat berbeda ketika berbicara pada istri dan anak-anaknya. Yang Keyra tahu juga seorang Rafael Wijaya sangat dingin jadi dia sudah tidak terkejut lagi. Tapi hari ini dia bisa melihat sisi lain CEO Wijaya Group itu meski saat berbicara padanya tetap dengan nada datar. Rafa menjadi sosok yang berbeda dari yang dilihatnya di luar saat bersikap pada anak sang istrinya.
"Baik" balas Keyra gugup.
"Dan tidak perlu berbicara dengan formal" tambah Rafa dengan nada intimidasinya.
"Iya Kak" jawab Keyra.
"Bisa tidak Kakak bicara dengan suara dan raut wajah yang santai saja. Suara dan ekspresi Kakak membuat Keyra tertekan" protes Daniel malas.
"Bukan urusan kamu!" ketus Rafa acuh.
Daniel mendelik malas, percuma juga dia melayangkan protesnya kembali. Semuanya akan berakhir sia-sia karena sang kakak begitu keras kepala.
"Mau makan apa?" tanya Rafa pada sang istri. Suaranya langsung melembut.
"No, tidak boleh pedas!" tegas Rafa seolah tahu isi pikiran sang istri. Raya yang mendengar ultimatum dari suaminya langsung merengut.
"Kau juga!" peringatnya pada Daniel.
"Ck, kalau begitu tidak perlu berbasa-basi bertanya mau makan apa. Kenapa tidak Kakak saja yang memesannya" balas Daniel kesal.
Daniel dan Raya memang penyuka makanan pedas. Tidak jarang keduanya secara sembunyi-sembunyi memakan jenis makanan itu bersama bila berada di mansion tuan Raihan. Sensasinya berbeda jika dikerjakan bersama. Keduanya sering kali mengulangi tindakan yang sama meski akan ketahuan dan berakhir dengan mendapatkan omelan dari Rafa dan nyonya Maya.
"Twinsnya Daddy mau makan apa?" atensi Rafa beralih pada twins, mengabaikan kekesalan Daniel padanya.
"Daddy saja yang pesan" jawab Rayna terlihat tidak terlalu lapar karena telah menikmati es krim dan snack sebelumnya.
"Baiklah, janji tidak protes oke" Rayna menganggukan kepalanya.
__ADS_1
Makan siang mereka akhirnya di pesan oleh Rafa. Keyra yang takut salah memesan juga akhirnya menyerahkan semuanya pada Rafa.
"Enak Uncle?" tanya Rayna terlihat tertarik dengan makanan yang ada dipiring Daniel.
"Enak, mau mencobanya?" tawar Daniel dengan lembut.
"Mau mau" jawab Rayna mengangguk antusias.
"Aaa" Daniel menyuapkan satu sendok makanannya pada Rayna dengan penuh perhatian. Dia juga melakukan hal yang sama pada Ryan meski pria kecil itu tidak memintanya.
"Mommy tidak mau mencoba makanan Uncle, makanan Uncle sangat enak Mommy" tawar Rayna pada mommynya.
"Jangan macam-macam!" peringat Rafa dengan tatapan tajamnya saat Daniel dengan jahil ingin menyuapi Raya.
"Mommy tidak tertarik pada makanan lain selain makanan Daddy" ucap Rafa pada twins dengan penuh percaya diri.
"Daddy pencemburu" tuding Rayna.
"Benar, Daddy pencemburu" timpal Daniel.
"Iya, Daddy memang pencumburu karena Daddy sangat cinta pada Mommy" jawab Rafa mengakui secara gamblang. Sudut bibirnya tersenyum bangga akan rasa cintanya pada sang istri. Dia benar-benar menggilai wanita yang menjadi ibu dari anak-anaknya itu.
"Tapi Mommy cintanya lebih besar pada Ryan dan Rayna sama adik bayi yang ada di perut Mommy. Benarkan Mommy?" jawab Rayna polos.
Daniel dan Raya menahan tawanya melihat ekspresi Rafa yang langsung berubah masam. Apa yang diucapkan Rayna mematahkan kepercayaan dirinya.
"Tos dulu" ujar Daniel pada keponakan cantiknya itu.
"Tidak masalah untuk Daddy. Biar Daddy yang lebih banyak mencintai Mommy. Mommy hanya perlu selalu ada disamping Daddy saja, menemani Daddy kemanapun" ucap Rafa.
"Kalau Ryan besar seperti Daddy, apa Ryan juga harus lebih besar mencintai istrinya?. Ryan juga harus menjaga istrinya seperti Daddy menjaga Mommy, begitu ya Daddy?" tanya Rayna penasaran.
"Tentu saja, sebagai pria sejati harus seperti itu. Pria sejati itu harus bisa melindungi dan membahagiakan wanitanya. Daddy akan memarahi Ryan jika nanti dia menyakiti seorang wanita" jawab Rafa.
"Kalau begitu marahin Ryan Daddy, Ryan tidak seperti Daddy. Dia suka jahat-jahatin Rayna sama Ruby dan buat kita nangis" sahutnya dengan menunjuk pada kembarannya.
Ryan memutar bola matanya jengah. Bukan dia yang jahat tapi dua gadis itu yang sering kali mengusik hidup tenangnya.
"Memangnya Ryan jahatin Rayna seperti apa?" tanya Rafa tidak mungkin memarahi putranya tanpa alasan yang jelas.
"Ryan suka kata katain Rayna sampai Rayna nangis Daddy" jawab Rayna.
"Bukan begitu Baby, Ryan hanya sedang usil pada Rayna. Terkadang mengusili juga bagian dari rasa sayang. Seperti Daddy dan Uncle, kita sering ribut dan sering mengusili satu sama lain tapi saling sayang. Contohnya seperti Uncle Daniel yang selalu buat Daddy marah dengan mengganggu Mommy padahal Uncle tahu Daddy tidak menyukainya. Uncle tetap melakukannya bukan karena jahat pada Daddy tapi Uncle hanya ingin mencari perhatian Daddy saja. Daddy juga sering usil pada Uncle Daniel dan Aunty Risya tapi bukan berarti Daddy jahatin mereka. Daddy hanya ingin mencari perhatian mereka. Coba tanya Uncle Daniel dia pasti merasa seperti itu" jelas Rafa dengan bahasa yang muda dimengerti oleh anak kecil.
"Apa iya Uncle?" tanya Rayna dengan polos dan Daniel menganggukkan kepalanya.
"Jadi Ryan jahat karena cari perhatian sama Rayna, begitu Daddy?" tanya Rayna.
"Bukan jahat baby tapi usil" timpal Rafa mengoreksi.
"Dan lagi bukan hanya Ryan, Rayna juga sering usil pada Ryan. Coba ingat lagi, Rayan sering mengganggu Ryan kalau sedang sibuk bermain dengan tabletnya. Rayna juga pernah sembunyiin tablet Ryan. Bukankah Rayna melakukan itu karena ingin mencari perhatian Ryan. Rayna ingin bicara dengan Ryan dan ditemani Ryan bermain. Apa Daddy salah?"
"Apa iya seperti itu Daddy?" tanya Rayna bingung. Gadis kecil itu terlihat tengah berpikir dan ekspresi sungguh menggemaskan.
"Hm, memang seperti itu. Setiap orang yang bersaudara pasti saling menyayangi satu sama lain bahkan rela melakukan apapun untuk saudaranya. Jadi tidak ada yang namanya Ryan jahat pada Rayna"
"Apa Rayna ingat?, waktu Claire gangguin Rayna Ryan selalu melindungi Rayna. Ryan melakukannya karena Ryan sayang pada Rayna. Dia tidak ingin Rayna terluka, berpikir lebih baik dia yang terluka daripada Rayna. Dan Daddy juga tahu Rayna tidak suka melihat Ryan kesusahan, itu namanya rasa sayang Baby. Nanti saat dewasa Rayna akan mengerti dengan sendirinya. Ryan dan Rayna harus besar dulu seperti Daddy atau Uncle" Rafa mulai kewalahan, bingung sendiri memilah bahasa yang mudah dimengerti oleh putrinya.
"Karena itu makannya harus banyak supaya cepat besar" seloroh Daniel menyuapkan satu sendok makanan dalam mulut keponakan cantiknya.
Keyra menatap tersenyum keluarga kecil yang berada di hadapannya, hubungan mereka sangat harmonis. Rafa yang di kenal tidak memiliki hati nyatanya tidak begitu saat bersama dengan keluarga kecilnya. Pun dengan Daniel yang terlihat dingin tapi perlakuannya begitu hangat pada keponakan-keponakannya.
"Tapi nanti Rayna gendut dan tidak cantik lagi Uncle" ujar Rayna.
"No, siapa yang bilang seperti itu. Mau bagaimanapun bentuk tubuh Rayna, Rayna pasti akan tetap cantik. Lihat Mommy, sekarang mommy gemuk karena ada dedek bayi dalam perut Mommy tapi Mommy tetap cantik bukan?. Apa ada yang bilang Mommy tidak cantik?" papar Daniel yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari sang kakak.
"Tidak perlu memuji istriku!" ucap Rafa mendengus kesal.
"Aku hanya membuat perumpamaan Tuan Muda Rafael" sahut Daniel ikut kesal.
"Walau begitu tetap saja tidak perlu memuji istriku" tegas Rafa.
"Lanjut saja makannya Key, tidak perlu menghiraukan mereka. Mereka memang selalu seperti ini setiap kali bertemu" ujar Raya pada Keyra yang terlihat kebingungan menyaksikan perdebatan kakak beradik itu. Seolah tidak ada selesainya.
"Jangan merusak citraku di depan Keyra Kak" protes Daniel.
"Seharusnya kamu tidak berdebat dengan Mas Rafa agar citramu tidak rusak" balas Raya tanpa rasa bersalah.
"Sudahlah, ayo makan Key" ucap Daniel mengalah karena sadar dirinya tidak akan menang berdebat melawan pasangan suami istri itu. Ditambah lagi Rafa dan Raya punya pasukan.
"Maaf key, sepertinya first impression kamu sangat jauh dari apa yang kamu bayangkan" ucap Raya yang dapat menebak raut wajah Keyra.
"Ah bukan seperti itu tapi ya begitulah" jawab Keyra kebingungan, takut salah bicara.
"Kamu pasti berpikir sikap mereka sangat jauh dari yang terlihat di luar sana, dingin dan kaku. Tapi ya, kenyataannya seperti ini jika mereka bertemu. Sepertinya kamu harus membiasakan diri dengan hal itu karena kita akan sering bertemu untuk membahas proyek ini" ucap Raya mengerti tentang kebingungan Keyra.
"Pasti sangat menyenangkan" gumam Keyra dengan suara kecil, hanya dirinya yang mungkin mendengarnya.
"Kamu mengatakan sesuatu?" tanya Daniel mendengar Keyra bergumam.
"Tidak, bukan apa-apa" jawab Keyra.
Acara makan siang itu berakhir cukup lama, mereka bahkan sempat mengobrol bersama. Hal yang tidak pernah disangka oleh Keyra jika dirinya yang bukanlah siapa-siapa bisa diperlakukan dengan baik oleh Rafa, Raya dan juga twins. Ah seharusnya Keyra tidak meragukan didikan keluarga Wijaya. Dia sudah mengenal bagaimana perilaku baik Daniel selama ini dan itu pasti atas peran kedua orang tuanya. Dari cerita twins tentang Grandpa dan Grandmanya, sikap mereka tidak jauh berbeda dari Rafa dan Daniel. Jadi dapat dipastikan jika sikap Rafa dan Daniel saat ini mengikuti kedua orang tuanya.
Pertemuan mereka cukup meninggalkan kesan baik bagi Keyra pun dengan sebaliknya. Kini mereka sudah berada di depan restoran berniat akan pulang, Raya kembali berpamitan saat akan masuk ke dalam mobil.
"Kalau begitu kita duluan ya" ujar Raya berpamitan setelah mereka selesai. Twins juga sudah mulai terlihat mengantuk karena sekarang ini memang waktu tidur siang mereka.
"Jangan lupa antar Keyra pulang" peringat Rafa.
"Iya Kak, tenang saja" balas Daniel.
"Aunty" panggil Rayna yang masih berada dalam gendongan Daniel.
"Iya sayang?" Keyra menoleh pada anak cantik itu.
"Nice too meet you Aunty. Saat besar nanti Rayna ingin seperti Aunty" ucap Rayna yang mengejutkan semua orang.
"Maksudmu memiliki pekerjaan seperti Aunty?" tanya Ryan memperjelas.
"Iya Rayna ingin menjadi arsitek seperti Aunty" jawab Rayna mengangguk yakin.
Penegasan itu semakin membuat orang-orang disekitarnya terperangah. Dimana setahu mereka Rayna selama ini selalu berkata akan di rumah saja bersama sang mommy, masalah mencari uang itu urusan Daddy dan saudaranya. Rayna mengatakan tidak suka bekerja karena akan merasa lelah.
"Apa Rayna boleh belajar pada Aunty?" pinta Rayna penuh harap.
"Tentu boleh sayang, Aunty akan sangat senang sekali jika Rayna mau belajar dengan Aunty" jawab Keyra mengangguk.
"Baby, Uncle Daniel tidak menyuruh kamu melakukan sesuatu sebelum ini bukan?" selidik Rafa curiga.
"Aku bahkan sudah tidak bertemu dengan Rayna beberapa hari ini" ucap Daniel tidak terima. Dia tentu tahu arah pembicaraan kakaknya itu.
"Ya siapa tahu saja kamu menghubunginya saat aku dan Raya tidak ada" balas Rafa tanpa rasa bersalah.
"Rayna ingin seperti Aunty karena keinginan Rayna sendiri Dad. Tadi Rayna lihat gambar-gambar Aunty, semuanya bagus. Uncle bilang Aunty itu arsitek dan gambarnya akan dibuat rumah rumah besar nanti. Kalau Rayna bisa seperti Aunty maka Rayna bisa membuat rumah impian Rayna sendiri. Tapi nanti Rayna minta uang pada Daddy saja ya, uang Daddy kan banyak. Kalau Rayna yang cari uangnya pasti Rayna akan capek" ucap Rayna polos.
Rafa mengacak rambut sang putri dengan gemas. Ternyata tidak semudah itu merubah pola pikir putri kecilnya itu.
"Ya sudah ayo sekarang pamitan dulu pada Auntynya. Kapan-kapan kita akan bertemu Aunty lagi" ujar Raya.
"Bye Aunty, assalamualaikum" pamit twins dengan kompak.
"Wa'alakumussalam, hati-hati di jalan ya" balas Keyra.
"Siap Aunty, see you" jawab twins lagi-lagi bersamaan.
"Kita duluan ya Key" pamit Raya sebelum masuk kedalam mobil.
"Kita pergi dulu, jaga kesehatan kamu" ucap Rafa menepuk punggung Daniel kemudian pria itu masuk kedalam mobil bergabung dengan keluarga kecilnya.
"Kamu balik ke kantor lagi?" tanya Daniel pada Keyra setelah keduanya hanya tinggal berdua saja.
"Tidak, Pak Gery memberi waktu bebas setelah meeting ini selesai. Mungkin beliau berpikir meeting ini akan memakan waktu yang lama tapi tidak tahunya cepat selesai" jawab Keyra.
Sebelumnya akan seperti itu kejadiannya. Biasanya klien yang menggunakan desain Mahesa Company akan meminta beberapa bagian yang direvisi dan Keyra ataupun yang lainnya kembali memperbaiki desainnya sesuai permintaan klien. Tapi karena Raya dan Daniel langsung setuju maka meeting ini bisa selesai sangat cepat.
"Kamu punya rencana lain setelah ini?" tanya Daniel kembali.
"Tidak ada, Keyra pikir akan pulang dan beristirahat" jawab Keyra.
"Bagaimana kalau kita jalan-jalan?" usul Daniel.
"Kak Daniel tidak kembali ke kantor?" tanya Keyra.
"Tidak, pekerjaanku juga sudah selesai" bohong Daniel. Nyatanya pekerjaannya masih sangat menumpuk dan dapat pastikan Alex yang akan menjadi korbannya.
"Jadi bagaimana?" tanya Daniel kembali. Keyra terlihat masih menimbang ajakan pria itu. Hatinya bimbang tidak tahu karena apa. Satu sisi mengatakan pergi saja tapi satu sisi lainnya menolak.
"Emm aku ingin menukar bayaran tadi. Kita tidak perlu makan malam diluar, hanya temani aku jalan-jalan saat ini" ucap Daniel melihat Keyra hanya diam saja. Dia menggunakan sedikit cara licik agar istrinya setuju.
"Baiklah" akhirnya Keyra menganggukkan kepalanya.
__ADS_1