
"Kakak marah?" Keyra masih berusaha menghentikan langkah suaminya.
"Aku... Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku benar-benar mengizinkan Kakak menyentuhku tapi lewati bagian atas tubuhku. Bukankah kita hanya perlu menyatu untuk menyembuhkan Kakak" ucap Keyra bersungguh-sungguh.
"Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada Kakak" lirih Keyra dengan kepala tertunduk.
Sungguh dia tidak menginginkan situasi rumit ini. Keyra benar-benar mengikhlaskan tubuhnya untuk disentuh oleh Daniel karena pada dasarnya pria itu memang berhak. Tapi, ah entahlah Keyra tidak tahu bagaimana menyampaikan keadaannya.
Apa dia harus jujur?. Ya, mungkin Keyra harus jujur dan selanjutnya biar Daniel yang memutuskan.
"Benar Key, kita hanya perlu menyatu tapi itu pasti akan menyakiti kamu. Sudah, lupakan saja tentang pembahasan ini. Perbaiki bajumu, aku akan meminta Alex masuk" jawab Daniel tidak ingin menjelaskan lebih panjang lagi karena kondisinya yang sedang tidak memungkinkan. Pria itu sama sekali tidak marah, Daniel mengerti Keyra mungkin belum siap.
Saat ini Daniel sedang berusaha sekuat tenaga untuk menahan diri agar tidak menyakiti Keyra karena gairahnya. Sungguh Daniel sudah sangat ingin menerkam Keyra tapi pria itu berusaha untuk tetap mempertahankan kewarasannya. Hubungannya dengan Keyra baru saja membaik dan Daniel tidak ingin memperburuknya dengan kejadian ini.
Bila mengikuti maunya Daniel pasti sudah melakukan pemaksaan pada Keyra. Tidak peduli keadaan wanita itu yang terpenting hasratnya terpuaskan. Sayangnya Daniel bukan pria bajingan, didikan orang tuanya yang selalu memberikan ultimatum agar tidak menyakiti wanita sudah melekat dalam darahnya.
"Kak aku..." Keyra tidak tahu cara menyampaikannya pada Daniel. Tangannya yang tengah menahan Daniel tanpa sengaja mencengkram kuat lengan pria itu.
Dengan kepala tertunduk Keyra mulai menumpahkan tangisnya, terlihat dari bahunya yang bergetar.
Daniel mulai menyadari situasi, menduga Keyra punya alasan tersendiri atas kondisi tubuhnya yang tidak diizinkan untuk disentuh. Bukan karena tidak menginginkan Daniel menyentuhnya tapi mungkin tidak bisa.
Tapi kenapa?.
"Kanapa?" tanya Daniel dengan lembut. Berusaha sabar dengan menekan gairahnya.
"Kakak mungkin tidak akan bersedia menyentuhku bila melihat tubuhku secara keseluruhan. Kakak pasti akan merasa jijik" lirih Keyra terdengar begitu sendu. Tubuhnya cacat, Keyra sendiri sering kali merasa jijik pada tubuhnya bila melihat bekas luka yang menempel permanen di bagian belakang tubuhnya.
__ADS_1
"Kenapa aku harus jijik?" tanya Daniel dengan nada lembut bercampur gairah.
"Aku... aku cacat. Lu-luka itu meninggalkan bekas yang mengerikan" ucap Keyra dengan gemetar. Air matanya mulai menganak sungai, kejadian yang sudah lama tidak diungkitnya lagi kini masuk dalam pembahasan mereka.
"Ssttt... Maafkan aku mengingatkan kamu pada kenangan pahit yang mungkin ingin kamu lupakan" Daniel menarik Keyra masuk dalam dekapannya, memberikan kehangatan pada istrinya.
"Semuanya akan baik-baik saja Key. Terkadang apa yang menurutmu buruk belum tentu juga buruk dalam pandangan orang lain. Aku tidak mungkin menghakimi kamu atas luka yang kamu dapatkan. Apalagi jika luka itu meninggalkan rasa sakit yang amat sangat. Bisa aku melihatnya?" tanya Daniel penuh kelembutan.
Daniel berusaha memberikan kenyamanan dan rasa percaya pada Keyra. Tadinya Daniel mengatakan bahwa Keyralah yang paling berhak atas tubuhnya tapi kini pria itu menarik kata-katanya. Rasa penasaran akan kondisi Keyra membuatnya ingin menuntut istrinya memperlihatkan luka yang dimaksudnya. Daniel ingin melihat seberapa parah luka Keyra hingga istrinya itu melabeli dirinya cacat.
"Tapi aku..."
"Tenang saja, semuanya akan baik-baik saja" potong Daniel memberikan afirmasi positif.
Keyra tanpa sadar mengangguk, memberi izin pada Daniel untuk melihat luka yang berada di bagian belakang tubuhnya. Dia pasrah bila setelah ini Daniel menganggapnya manusia yang menjijikkan.
"Tidak apa-apa Key, aku hanya ingin kamu berbagi pengalaman pahit yang kamu alami. Aku tidak meminta kamu menceritakan kejadiannya, hanya saja biarkan aku melihat lukamu hm"
Percayalah saat ini Daniel mulai kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Gairahnya yang begitu menggebu hampir mengambil alih tubuhnya. Daniel dengan keras memperingati dirinya agar tidak menyakiti Keyra karena tuntutan nafsunya.
"Aku tidak bisa hiks" ucap Keyra menghentikan gerakan tangannya. Kepalanya kembali menelusup ke dada kekar suaminya. Tubuhnya gemetar ketakutan kala bayang kejadian penyebab dirinya mendapatkan luka itu berputar.
"Ssttt... Tenang Key. Biar aku bantu okey"
"Tidak akan terjadi apa-apa, kejadian itu sudah lama berlalu. Ada aku disini, aku pasti akan selalu melindungi kamu. Percaya padaku hm"
Saat Keyra menganggukkan kepalanya tangan Daniel dengan berani mulai melepas satu persatu kancing piyama Keyra. Menelan ludah kasar kala tangannya mulai turun ke bawah dan semakin ke bawah hingga semuanya terlepas.
__ADS_1
"Berbaliklah" titah Daniel dengan penuh kelembutan.
Keyra menurut, berbalik membelakangi Daniel dengan tubuh yang masih gemetar.
Tangan kekar Daniel perlahan melepas piyama Keyra dengan sangat berhati-hati sembari memperhatikan reaksi istrinya. Luka Keyra memang mungkin hanya tinggal bekasnya saja tapi untuk menunjukkan rahasia yang selama ini dijaganya dari orang lain pasti butuh keberanian besar.
Netra hitam milik Daniel membulat kala melihat bekas luka yang sedikit demi sedikit tertangkap netranya seiring dengan gerakan tangannya menurunkan piyama Keyra.
Penuh, bagian belakang Keyra dipenuh dengan bekas luka yang Daniel sendiri tidak yakin akibat apa.
Dari pandangan Daniel bekas luka itu terlihat berbeda-beda. Ada bekas cambukan, bekas luka bakar dan juga ada beberapa yang terlihat seperti bekas sayatan.
Tangan Daniel mengusap pahatan luka tubuh Keyra dengan sangat lembut. Gerakannya sangat perlahan seolah luka itu masih baru dan akan menyakiti Keyra bila dia menekannya terlalu kuat.
"Pasti sangat menyakitkan" kalimat bodoh itu keluar dari mulut Daniel.
"Sekarang tidak terasa lagi sakitnya" jawab Keyra kembali menaikkan piyamanya. Gerakannya sangat cepat hingga Daniel tidak sempat menghentikannya.
Ingin sekali Daniel bertanya penyebab luka itu tapi pria itu takut pertanyaannya akan semakin menyakiti Keyra. Lagi-lagi dia menarik perkataaanya yang mengatakan Keyra tidak perlu bercerita bila belum siap. Nyatanya saat ini Daniel ingin menuntut Keyra untuk bercerita. Pria itu menggumamkan janji pada dirinya bila luka itu dibuat secara sengaja maka Daniel akan memberikan pelajaran yang setimpal bahkan lebih.
"Kakak pasti sangat jijik melihatnya" ujar Keyra terkekeh perih. Wanita itu kembali membalikkan tubuhnya menghadap pada Daniel.
"Aku akan memanggil Kak Alex supaya Kakak cepat diobati" Keyra hendak bangkit dari duduknya tapi tangan kekar Daniel menahan kedua bahunya.
"Bagaimana jika aku tetap menginginkan kamu sebagai obatnya" ucap Daniel tanpa ada keraguan dimatanya.
Sesaat Daniel sempat melupakan keadaannya karena prihatin dengan luka Keyra. Gairahnya kembali memuncak kala Keyra mengingatkan kondisinya.
__ADS_1
"Aku benar-benar menginginkan kamu, bisakah?" Daniel menempelkan keningnya dengan kening Keyra. Napas pria itu memburu, berusaha menahan diri agar tidak melakukan pemaksaan pada istrinya.