
Selesai berdoa Daniel menahan tangan Keyra yang tengah mencium tangannya. Bergerak merebahkan kepalanya di atas paha Keyra dimana tindakan itu membuat sang empu begitu terkejut.
"Eh?" Keyra langsung tersentak dengan apa yang dilakukan suaminya. Detak jantungnya berdebar tidak karuan, tubuhnya bahkan terasa lemas. Dia memang selemah itu pada pesona Daniel.
"Kamu menyesal?" tanya Daniel mendonggak menatap pada sang istri.
"Me-menyesal?" tanya Keyra meminta Daniel memperjelas maksudnya. Suaranya terdengar terbata-bata sangking gugupnya.
"Tentang semalam, apa kamu menyesal melakukannya?" ucap Daniel mengulang kembali pertanyaannya.
"Sudah puluhan kali Kakak menanyakan itu, apa tidak bosan?. Aku saja bosan mendengarnya" balas Keyra memutar bola matanya jengah. Sebisa mungkin menguasai dirinya agar Daniel tidak menyadari perasaannya.
"Siapa tahu saja kamu menyesal. Kamu menyerahkan harta yang selama ini kamu jaga karena terdesak keadaan, ingin menolongku. Mungkin saja kamu ingin mempersembahkannya untuk pria yang kamu cintai"
'Dan Kakak adalah pria yang aku cintai' batin Keyra.
Bila ditanya menyesal atau tidak, jawabannya jelas tidak. Keyra tidak pernah berpikir tentang mempersiapkan mahkotanya untuk pria yang dia cintai seperti perkataan Daniel. Wanita itu sama sekali tidak pernah memikirkan tentang akan membina sebuah rumah tangga yang menjadi tempat pulangnya.
Pernikahannya dengan Daniel juga tidak terencana, Keyra bahkan tidak pernah berani memikirkannya. Tapi Keyra tidak menyesal, mungkin bisa dikatakan dirinya seorang yang munafik.
Keyra sangat tidak masalah bila seseorang menyematkan kata itu untuk dirinya. Keyra sendiri merasa dirinya memanglah seorang yang munafik. Dia yang pada awalnya terus mengagungkan prinsip tidak terikat pada pernikahan justru begitu menikmati perannya menjadi seorang istri dati Daniel Wijaya.
Keyra jelas tahu konsekuensinya tapi dia tetap memilih menjatuhkan hatinya. Semakin hari semakin dalam hingga Keyra terperosok dalam jurang dan kesulitan untuk menemukan jalan pulang.
Semua sikap Daniel membuatnya terlena dan Keyra tidak bisa menyakiti pria baik itu. Hatinya tidak sanggup melakukannya, kesakitan Daniel juga menjadi kesakitannya juga.
"Aku tidak pernah berpikir tentang itu. Percaya atau tidak aku sama sekali tidak menyesal, justru aku senang karena bisa membantu Kakak. Tidak perlu dipikirkan karena aku sama sekali tidak menyesal" tegas Keyra.
"Aku sangat bersyukur kalau begitu. Dan selamanya aku akan mengingat kamu sebagai penolongku" balas Daniel lega.
"Tidak perlu berlebihan" ucap Keyra.
"No, tidak ada yang berlebihan. Pertolongan kamu semalam memang sangat berharga untukku. Aku akan mengingatnya selama sisa hidupku" jawab Daniel dengan lugas.
__ADS_1
"Terserah Kakak tapi aku tidak meminta balasan apapun" ujar Keyra berpikir Daniel akan melupakan perkataanya dalam beberapa waktu lagi.
"Aku seorang yang tahu terima kasih dan tahu diri. Aku pasti akan membalasnya" jawab Daniel dengan yakin.
"Kamu pasti masih mengantuk kan. Kamu bisa tidur kembali dan hari ini tidak perlu bekerja. Kamu bisa beristirahat seharian, aku akan meminta izin pada atasanmu"
"Sebenarnya tidur setelah subuh itu tidak baik untuk kesehatan tapi hari ini aku memberi izin kamu melakukannya. Jadi kamu bisa tidur sepuasnya"
Keyra yang memang membutuhkan istirahat lebih tidak menolak perkataan suaminya. Bila dipaksakan tubuhnya untuk bekerja tidak menutup kemungkinan Keyra malah merepotkan orang-orang sekitarnya karena sakit. Akan lebih baik saat ini dia mengistirahatkan tubuhnya dan kembali beraktivitas seperti biasanya saat keadaannya sudah membaik.
***
"Huaaammm" Keyra menguap, menutup mulutnya dengan tangannya. Netranya melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.
Tidak pernah dalam sejarah hidupnya Keyra semalas ini. Biasanya dia akan bangun pagi, melaksanakan kewajiban subuhnya kemudian Keyra akan melakukan olahraga ringan seperti jalan kaki dan bentuk olahraga kecil lainnya.
Saat akan mengucek matanya Keyra tiba-tiba teringat dengan Daniel menghentikannya. Pria itu mengatakan matanya bisa sakit bila Keyra menggosoknya.
Tapi bicara tentang Daniel Keyra jadi bertanya-tanya kemana perginya pria itu. Dia sama tidak menemukan sosok Daniel disekitar kamar yang saat ini ditempatinya. Suasana kamar mandi juga sangat sepi, tidak juga terdengar suara gemericik air dari kamar mandi yang menandakan didalamnya sedang tidak ada siapapun.
Keyra memutuskan bangkit, terlelap beberapa jam membuat tubuhnya terasa lebih baik. Perutnya juga sudah terasa lapar dan Keyra perlu memberi makan cacing-cacingnya.
"Obat?" Keyra mengerutkan keningnya saat melihat ada beberapa obat yang tersimpan di nakas samping tempat tidur saat akan mencari ponselnya.
Sesaat dia membaca nama obat-obatan itu tapi satupun diantaranya tidak ada yang Keyra tahu sebagai obat apa.
"Apa mungkin milik pelanggan sebelumnya ya" tanyanya pada dirinya sendiri. Berpikir obat-obatan yang tersimpan di nakas adalah milik orang yang sebelumnya menghuni kamar itu sebelum mereka.
Tidak ingin menambah beban pikirannya yang sudah cukup banyak Keyra memutuskan untuk mengabaikan tentang obat-obatan itu. Tangannya meletakkan kembali obat-obatan itu ditempat semula dia mengambilnya.
"Sudah bangun?" alunan suara Daniel terdengar membuat Keyra tersentak kaget.
"Kak, kaget tauu" protes Keyra memegangi dadanya.
__ADS_1
"Memangnya sedang apa?. Serius sekali sampai tidak menyadari aku masuk" tanya Daniel tanpa rasa bersalah.
"Itu, Keyra nyari ponsel. Kakak melihatnya?" tanyanya menatap pada suaminya.
"Ponsel kamu?, itu disana" tunjuk Daniel pada sofa yang letaknya tidak jauh dari mereka.
"Oh Keyra lupa meletakkannya disana semalam" Keyra menepuk jidatnya.
"Kakak darimana, tidak kerja?" tanya Keyra yang melihat penampilan Daniel hanya menggunakan setelan kasual.
"Hari ini aku cuti. Lagipula tidak mungkin aku meninggalkan istriku di hotel sendiran setelah membuatnya kelelahan. Aku tidak ingin dia menganggapku pria yang tidak bertanggung jawab karena meninggalkannya begitu saja" ujar Daniel dengan bercanda.
Langkah kakinya berjalan menuju sofa, memungut ponsel Keyra kemudian kembali berjalan kearah Keyra dan menyodorkan ponsel yang dibawanya.
"Ehemm, terima kasih. Kakak bisa pergi bekerja aku baik-baik saja" balas Keyra dengan canggung. Sengaja berdehem menutupi kegugupannya.
"Sudah kukatakan kalau aku cuti hari ini, kenapa malah menyuruhku pergi bekerja. Apa pendengaran istriku bermasalah karena semalam. Perlu kita pergi ke dokter untuk periksa?" ujar Daniel dengan sengaja. Bibirnya terangkat melihat wajah malu-malu yang ditampilkan oleh istrinya.
"Tidak!, pendengaranku sama sekali tidak bermasalah" jawab Keyra dengan cepat menggelengkan kepalanya. Wanita itu langsung panik saat Daniel berkata akan memeriksakan kondisinya ke dokter.
"Baiklah, baiklah. Kita tidak perlu ke dokter tapi kamu harus segera sarapan. Karena terlalu lelap kamu melewatkan waktu sarapan. Sekarang ayo cuci muka dan setelah itu kita sarapan bersama" ujar Daniel mengulum senyumnya merasa Keyra begitu menggemaskan.
"Iya" jawab Keyra patuh, segera bangkit dari duduknya kemudian berjalan dengan pelan ke arah kamar mandi. Sakit diantara pangkal pahanya masih terasa saat dirinya bergerak tapi sudah terasa lebih baik dari sebelumnya.
"Jangan lama" peringat Daniel sedikit berteriak saat Keyra sudah menutup pintu kamar mandi.
"Iya" sahut Keyra juga ikut berteriak.
Whatt!!!, pekik Keyra terjekut. Dia baru sadar jika lehernya dipenuhi tanda mereka yang ditinggalkan Daniel.
Keyra kini berdiri tepat didepan cermin berniat akan membasuh wajahnya. Kegiatan itu terhenti kala dirinya menangkap sesuatu yang janggal. Bagian lehernya yang tidak tertutupi dengan piyama begitu penuh dengan tanda merah. Itu hanya bagian yang terlihat belum di bagian yang lainnya.
Sangking lelahnya setelah mandi semalam dan tadi sebelum subuh Keyra sama sekali tidak sempat bercermin. Ini kali pertama dia menyadari kondisi tubuhnya sudah banyak dengan bekas merah hasil karya Daniel.
__ADS_1
"Benar-benar buas" gumam Keyra menggelengkan kepalanya dengan wajah merona. Bayangan keduanya saling berbagi peluh kembali menari di kepalanya.
"Key, sudah selesai?"