
"Kau tidak ingin memberikan penjelasan?" tanya Daniel pada Alex dengan tatapan tajamnya.
Keduanya kini tengah berada di Biantara Group, tepatnya di ruang kerja Daniel. Baru saja mereka selesai rapat membahas kelanjutan proyek resort di desa Winara. Daniel maupun Alex memilih untuk tidak mengungkapkan peristiwa yang terjadi di desa Winara pada siapapun termasuk pada para pemenang saham dan rekan bisnis Daniel. Bisa saja peristiwa di desa Winara dijadikan alat untuk menyerang Daniel. Lagipula peristiwa itu sekarang menjadi masalah pribadi Daniel dan pria itu tentu punya hak untuk menutupinya.
"Maafkan saya Tuan. Saat itu nyonya Maya menghubungi saya untuk menanyakan keadaan Anda. Saya juga harus kembali ke hotel untuk memberikan bukti bahwa Anda membawa obat Anda. Nyonya Maya tahu Anda kurang sehat saat pergi ke desa waktu itu" terang Alex dengan kalimat formalnya.
"Hanya ada kita saja di ruangan ini jadi tidak perlu berbicara formal" ucap Daniel mendelik kesal.
"Saat itu Mama terus mendesak agar aku memperlihatkan bukti obat dengan mengambil gambar dan karena itu aku terpaksa kembali ke hotel. Kamu tentu tahu sendiri bagaimana protektifnya mama masalah kesehatan. Itu juga salah kamu, kenapa tidak mengangkat telepon saat mama menghubungimu. Saat itu mama mengomel panjang padaku padahal aku tidak bersalah" sungut Alex dengan sewot.
Ya, Alex memang memanggil kedua orang tua Daniel dengan sebutan yang sama seperti Daniel. Hal itu adalah permintaan langsung dari nyonya Maya dan tuan Raihan agar hubungan mereka lebih dekat mengingat Alex merupakan sahabat dari Daniel putra mereka. Berbeda dengan Lee dan Zayn putra angkat tuan Raihan dan nyonya Maya secara sah atau dengan kata lain keduanya tercatat sebagai anak adopsi dari tuan Raihan dan nyonya Maya, Alex tidak sama. Pria itu menolak dengan halus saat tuan Raihan dan nyonya Maya mengutarakan niat mereka menjadikan Alex putra mereka secara sah. Alex takut tidak bisa bersikap adil pada kedua orang tua kandungnya yang sudah tenang di surga. Ya, Alex adalah seorang anak yatim piatu sedari usianya sepuluh tahun. Mungkin hal itu juga yang mendasari tuan Raihan dan nyonya Maya berniat mengadopsinya.
Setelah Daniel mengenalkan Alex pada kedua orang tuanya berselang beberapa waktu tuan Raihan dan nyonya Maya langsung berniat mengadopsinya, mengatakan agar hubungan mereka lebih dekat lagi dan tidak merasa sungkan satu sama lainnya. Kedua orang tua Daniel memang menyukai anak-anak, mereka sudah merencanakan akan memiliki banyak anak hanya saja kondisi nyonya Maya tidak memungkinkan untuk melahirkan banyak anak.
"Aku harap kamu mengatakan hal yang benar" balas Daniel memutuskan untuk percaya meski sebenarnya banyak kejanggalan dalam benaknya.
Alex, orang kepercayaannya yang telah mengikutinya sedari mereka sekolah menengah atas dulu. Pria itu menempel bagai permen karet padanya karena menilai Daniel sebagai penolongnya. Alex bahkan dengan konyol mengatakan akan menyerahkan hidupnya pada Daniel saat itu.
Penampilan Alex yang terlihat culun dan ditambah lagi dengan perekonomiannya yang kurang baik membuat pria itu menjadi bulan-bulanan para kaum elit di angkasa internasional school. Daniel dengan lantang dan terang-terangan berdiri untuk Alex, membela Alex hingga tidak ada lagi yang merundung sahabatnya itu. Mereka lebih memilih mencari mainan lain daripada mengusik seorang keturunan Wijaya. Ya, siapa yang berani melawan seorang Wijaya. Nama keluarga itu sangat tersohor di negeri ini. Dan kebetulan Daniel yang sangat tidak menyukai perundungan menjadi pahlawan bagi korban-korban perundungan salah satunya Alex yang hingga kini mengekorinya.
"Tentu saja, bukankah aku sudah berjanji akan melakukan apapun yang terbaik untukmu" jawab Alex membuat Daniel bergedik geli mendengarnya.
"Berhenti berbicara seperti itu. Bila ada orang yang mendengarnya mereka pasti akan salah paham"
"Salah paham bagaimana?. Maksudnya kita dikira jeruk makan jeruk gitu?" jelas Alex secara gamblang.
"Berhenti Lex, aku serius mengatakannya. Kau ingin kuseret keluar dari sini"
"Ya ya baiklah Tuan Muda. Tapi aku pikir kau harus melihat beberapa artikel yang berseliweran di luar sana. Mereka berasumsi seperti yang kau pikirkan tadi. Aku pernah mendengar sebuah kata bijak yang pada intinya bermakna bila kita berpikir positif maka hal itu yang akan terjadi pada kehidupan kita, sering disebut dengan afirmasi positif. Begitu juga sebaliknya, bila kita berpikir negatif maka hal itu juga yang akan kita dapati saat melangkah. Dan sepertinya itu terjadi padamu, aku sendiri sebagai saksinya. Kau selalu berpikiran orang-orang menganggap kita ini pasangan menyimpang hanya karena di usia seperti sekarang ini kita masih belum menikah. Dan benar itu yang terjadi, ingat baca artikel tentangmu setelah ini. Orang-orang diluar sana tidak tahu saja aku tengah menunggu penolongku menikah baru setelahnya aku akan memikirkan untuk tentang kehidupanku termasuk menik..."
"Dan sekarang aku sudah menikah jadi menikahlah secepatnya. Jangan selalu menjadikan statusku sebagai alasan untuk menutupi kalau kau itu pria yang payah" potong Daniel tidak terima.
"Pria payah?. Apa maksudnya?. Aku hanya tinggal menunjuk saja jika ingin. Banyak wanita-wanita diluar sana yang menjadi penggemarku asal kau tahu. Hanya saja aku masih melakukan proses seleksi. Tentu saja sebagai pria yang bersih aku ingin mendapatkan wanita baik-baik" jawab Alex dengan penuh percaya diri.
Daniel tidak menapik perkataan sang sahabat. Daniel juga berpikiran sama, ingin mendapatkan wanita yang baik untuk menjadi ibu dari anak-anaknya kelak bila sang kuasa mengizinkannya.
"Definisi wanita baik-baik itu berbeda-beda bagi setiap orang. Maksudmu kau ingin mencari wanita yang belum pernah tersentuh sepertimu begitu?" balas Daniel ingin memperjelas maksud dari perkataan Alex.
"Ya tidak seperti itu juga. Aku bukan pria yang kolot. Tapi jujur saja tentu aku menginginkan wanita yang menjaga dirinya sama sepertiku. Hanya saja, bila nanti ditengah jalan aku mendapati wanita yang ternyata sudah pernah disentuh oleh pria lain tapi dia sudah berubah tidak menjadi masalah untukku. Yang terpenting wanita itu sudah berusaha agar menjadi lebih baik dari sebelumnya, belajar sopan santun dan menjadi wanita yang mengutamakan adap aku akan menerimanya. Lagipula ada beberapa wanita yang kehilangan mahkotanya bukan karena dengan sengaja diserahkannya pada kekasihnya tapi mereka menjadi korban pelecehan. Sangat tidak adil bagi wanita-wanita seperti itu jika kita menghakiminya. Pada kenyataannya pria jahatlah yang telah merusaknya" jelas Alex dengan bijak.
"Ternyata otakmu memahami tentang hal itu juga. Aku pikir yang ada disana hanya tentang pekerjaan dan memikirkan bagaimana cara membuat alasan pada mama" ledek Daniel menanggapi dengan remeh berbalik dengan hatinya yang bangga dengan jawaban sahabatnya itu.
"Ck, menyesal aku mengatakannya dengan panjang lebar padamu" ujar Alex malas.
Daniel hanya mengangkat bahunya dengan acuh.
"Lupakan tentang hal itu. Sekarang katakan bagaimana hubunganmu dengan Keyra?" tanya Alex penasaran dengan pengantin baru itu.
"Bagaimana cara agar bisa lebih dekat dengan wanita?" ujar Daniel kembali bertanya. Pertanyaan Alex membuatnya kembali mengingat pernikahannya dengan Keyra yang jauh dari kata normal.
"Hah?" Alex melongo mendengar pertanyaan sang atasan, memastikan pendengarannya tidak salah. Pria itu tidak percaya seorang Daniel Wijaya bertanya masalah percintaan padanya yang statusnya single dari lahir alias jomblo seumur hidup.
"Apa Bos?" tanya Alex menatap pada sang atasan dengan serius.
"Ah lupakan saja, jomblo sepertimu mana tahu tentang itu" ralat Daniel.
"Memangnya Keyra kenapa?" tanya Alex menebak permasalahan Daniel.
"Entahlah, Keyra sangat sulit sekali di dekati bahkan hanya untuk sekedar di ajak bicara. Dia lebih memilih menghindar dan seperti benar-benar menutup diri dari orang luar" curhat Daniel.
Pagi tadi benar-benar puncak Keyra menghindar darinya. Dari saat Daniel mengajak lari pagi bersama hingga menawarkan mengantar istrinya itu ke kantor tapi Keyra langsung menolaknya dengan mentah-mentah. Hati Daniel tentu saja patah, dia hanya ingin lebih dekat dengan Keyra agar mereka bisa menjalani pernikahan ini tanpa kecanggungan. Setidaknya mereka bisa berteman selama masa kesepakatan yang telah dibuat oleh Keyra berlangsung. Bagaimanapun mereka tinggal di bawah atap yang sama dan tentu sangat tidak nyaman bila hubungan mereka berdua tidak baik.
"Bukankah semasa sekolah dulu Keyra memang sudah seperti itu?" tanya Alex.
"Kau mengamatinya?" tanya Daniel dengan tatapan tajamnya.
"Bukan mengamati, hanya terlihat di depan mata. Tapi sepertinya Keyra yang sekarang sangat berbeda dengan Keyra yang dulu. Dia banyak berubah" elak Alex dengan cepat. Tidak ingin dirinya terkena masalah dan berakhir dengan bekerja lembur hari ini.
"Ya sangat jauh berbeda" timpal Daniel membenarkan perkataan sang asisten sekaligus sahabatnya itu.
"Terus bagaimana dengan mama dan papa?" tanya Alex mengingat orang tua Daniel tidak mengetahui pernikahan sahabatnya itu.
"Aku juga bingung. Yang pasti mama akan marah besar jika tahu apalagi mendengar masalah ini dari orang lain. Tapi untuk sekarang aku juga belum bisa jujur pada mama dan papa. Kamu tahu sendiri situasinya. Parahnya ya mungkin saja aku akan di coret dari keluarga Wijaya" jawab Daniel melebih-lebihkan. Jangan salahkan dia mengatakan hal itu, salahkan sang mama yang selalu mengancamnya dengan kalimat yang baru saja diucapkannya.
"Kau bisa memakai nama belakangku Bro" timpal Alex berpura-pura prihatin dengan memasang wajah sedihnya.
"Sialan" umpat Daniel kesal.
"Wajahmu sangat menggelikan berakting seolah prihatin akan penderitaanku. Aku tahu kau orang pertama yang akan menari diatas penderitaanku bila mama mengeluarkanku dari kartu keluarga" tambah Daniel menatap jengah pada Alex. Daniel heran mengapa dirinya bisa bersahabat dengan orang seperti Alex.
"Aku memang hanya berbasa-basi" balas Alex santai, mengangkat bahunya dengan acuh.
"Tapi menurutku kau harus lebih agresif dan bersikap bodoh amat menghadapi Keyra. Abaikan saja semua penolakan Keyra, lama kelamaan dia juga akan pasrah. Lagipula bukannya kau itu sudah menjadi suaminya, tentu kau berhak atas dia. Bersikap sedikit agresif kupikir tidak akan ada masalah. Ingat Bos, wanita itu sangat suka jika di perjuangkan. Bos bisa memberi Keyra bunga setiap hari atau memberikan sesuatu yang lainnya. Intinya memberikan barang-barang yang di sukai oleh Keyra. Dan yang paling penting Bos harus belajar merayu. Mana ada wanita yang tertarik pada pria kaku seperti bos. Dan yang terpenting dari yang terpenting Bos tidak perlu memikirkan masalah akan dikeluarkan dari kartu keluarga. Bila Keyra setuju kalian bisa membuat kartu keluarga sendiri dengan didalam ada nama kalian berdua" nasehat Alex kembali pada pembahasan mereka tentang hubungan Daniel dan Keyra. Meski tak seberapa tapi patut di coba.
"Ck, sebenarnya kau ingin memberikan saran atau hanya ingin mengataiku saja. Tapi apa kau yakin?" tanya Daniel serius, mengabaikan kalimat Alex yang mengolok-oloknya. Saat ini yang terpenting memperbaiki atau mungkin lebih tepatnya memulai hubungan yang baik dengan Keyra istrinya.
"Tidak" jawab Alex tanpa berpikir dua kali.
Tak..., sebuah pulpen mendarat di kepala Alex dan pria itu dengan cepat menangkapnya sebelum terjatuh ke lantai. Daniel yang kesal melempar pulpen yang memang tengah berada di tangannya pada Alex. Meski tidak kuat tapi cukup membuat Alex sesaat.
"Dasar!. Aku tahu tidak ada gunanya membicarakan masalah ini denganmu" cibir Daniel.
"Beruntung Risya telah menikah. Aku tidak bisa membayangkan jika dia menerima tawaranmu waktu itu" sindir Daniel menatap remeh pada sang sahabat.
"Justru Risya seharusnya beruntung mendapatkanku. Aku pria suci yang belum ternodai oleh wanita manapun" ucap Alex dengan bangga.
Hueekk, Daniel langsung berpura-pura muntah mendengar kalimat narsis Alex.
"Pria suci?, Cih, omong kosong. Dibandingkan dengan kau, Kak Dae Hoon jauh lebih baik. Oh satu lagi, aku ingatkan jika kau lupa. Sekretaris Rosa beberapa waktu ini terus mendekatimu. Aku bahkan ingat sekretaris Kak Rafa itu pernah memelukmu di tempat umum. Itu yang kau maksud dengan kata pria suci" ucap Daniel mematahkan kepercayaan diri sang sahabat. Tatapannya meremehkan kalimat yang keluar dari mulut Alex.
"Haish tidak perlu membahasnya. Aku kesal hanya mendengar nama wanita itu saja" ujar Alex bergedik ngeri.
Bayangan sekretaris Rosa yang sangat agresif membuat Alex sungguh frustrasi. Sekretaris dari Rafa itu sepertinya patah hati karena pria idamannya telah menikah dan bahkan sebentar lagi akan memiliki anak hingga menjadikan Alex pelariannya. Anak yang dulunya sempat akan menjadi anak Alex jika Risya menerima tawarannya untuk menikah. Sayangnya saat itu adik kesayangan Daniel menolaknya dengan tegas.
"Jangan terlalu membenci. Kata orang benci dan cinta itu beda tipis. Atau benci bisa juga diartikan benar-benar cinta hahaha" ledek Daniel menertawakan raut wajah kesal sang sahabat.
"Ck, tahu apa kau tentang cinta. Mendekati istrimu saja tidak bisa dan lucu sekali jika sekarang Anda berbicara tentang cinta Tuan Muda Daniel" balas Alex tidak mau kalah. Membalas telak ucapan Daniel dengan mengungkit permasalahan pria itu.
"Menyebalkan, keluar!" bentak Daniel kesal.
"Dengan senang hati Bos" balas Alex cuek, dia segera bangkit dari duduknya berniat keluar dari ruangan Daniel.
"HEY!" panggil Daniel dengan nada keras.
"Apalagi!" tanya Alex dengan sedikit membentak. Jujur hanya dia yang berani bersikap seperti itu pada Daniel saat mereka masih berada dikawasan Biantara Group. Orang gila mana yang akan bersikap semena-mena pada pimpinannya.
"Bawa pekerjaan ini. Kau pikir aku membayarmu hanya untuk berleha-leha saja. Aku bukan bos sebaik itu" ketus Daniel melemparkan berkas-berkas yang tadinya mereka kerjakan bersama pada Alex.
__ADS_1
"Ck, tanpa berkas ini juga pekerjaan saya sudah menumpuk Tuan Muda Daniel. Siapa yang berleha-leha?. Kau seharusnya menggantikan posisiku untuk sehari sialan" balas Alex tidak terima.
Daniel sepertinya lupa sering kali melimpahkan pekerjaannya pada Alex. Meski sikap Alex tidak sopan pada Daniel tapi pria itu pada dasarnya sangat perhatian pada sahabatnya itu. Alex hanya keras diluar tapi didalam sebenarnya hello kitty bila menyangkut tentang Daniel. Lagipula dia sudah berjanji akan menyerahkan hidupnya pada pahlawannya itu dan sepertinya sekarang Alex perlu mempertimbangkan keputusannya dulu.
"Baguslah dengan begitu tidak rugi aku membayarmu mahal. Tidak sia-sia uang yang kukeluarkan untuk memperkerjakanmu disini" ucap Daniel mengangkat kedua bahunya acuh. Sama sekali tidak merasa bersalah atas ucapannya yang sedikit kejam.
"Ck, dasar tak berperasaan. Wajar saja Keyra menjauhimu. Wanita mana yang sudi hidup berdampingan dengan pria sepertimu Tuan muda Daniel" cibir Alex.
"Lihat siapa yang bicara, kau tidak punya kaca di apartemenmu?. Perlu kubelikan setelah ini?. Kau tak lebih baik dariku Alexander Admaja. Aku ingatkan!, Kau mengutuk sekretaris Rosa hanya karena wanita itu tertarik padamu. Ah aku sekarang jadi curiga bahwa kau memang benar-benar penyuka sesama jenis. Kau itu jeruk makan jeruk karenanya tidak bisa menerima sekretaris Rosa atau wanita manapun dengan tangan terbuka"
"Sekarang tahu siapa yang lebih tak berperasaan?. Aku berbicara kasar pada pria sepertimu tapi tidak dengan wanita. Sedang kau, kau bahkan tidak sungkan bersikap kejam pada seorang wanita seperti sekretaris Rosa"
"Cih" balas Alex berdecih kesal.
Sejurus kemudian muncul seringai dibibirnya. Dia tentu tidak akan membiarkan Daniel menang dalam perdebatan ini.
"Kalaupun iya aku penyuka sesama jenis orang-orang akan mengira Andalah pasangan saya Tuan Muda Daniel. Jangan lupa mengaca juga, selama ini kemanapun kau pergi aku yang selalu berada di sampingmu. Jangan sampai nanti orang-orang mengira pernikahanmu dengan Keyra hanya sebagai dalih, dengan kata lain untuk menutupi kedok busukmu" balas Alex menyunggingkan senyum remehnya.
"Sialan!, Keluar kau sekarang juga!" umpat Daniel tidak terima karena merasa kalah telak dalam perdebatan mereka.
Daniel membenarkan ucapan sahabatnya itu. Selama ini kemanapun Daniel pergi maka disitulah letak Alex berada. Dua pria dewasa itu layaknya saudara kembar yag tidak terpisahkan.
Kenapa Daniel baru menyadari hal itu sekarang?. Pantas saja orang-orang diluar sana salah paham dengan hubungan mereka berdua. Saat ini Daniel hanya berharap Keyra tidak berpikiran sempit seperti orang-orang diluar sana.
"Hahaha, Anda sekarang sudah menyadari itu Tuan Daniel?" tawa Alex pecah melihat wajah kesal Daniel.
Sahabatnya itu terlihat tidak terima atas kekalahannya. Lagipula siapa yang menyuruh Daniel untuk mendebatnya. Otak Daniel memang lebih cerdas darinya, sesuatu yang dapat dibuktikan dengan Daniel yang selalu menjadi siswa terbaik dan Alex menjadi yang berada dibawahnya saat mereka sekolah dulu. Tapi Daniel tidak bisa menang melawannya dalam perdebatan tidak berfaedah seperti sekarang ini. Pria itu selalu dipukul telak dengan kenyataan dan itu dilakukan oleh Alex sahabatnya sendiri.
"Keluar sekarang juga!. Tidak perlu mengoceh karena aku tidak akan mendengarkan apapun yang keluar dari mulut busukmu itu" ucap Daniel bertambah kesal.
"Baiklah, tentu dengan senang hati saya menuruti perintah Anda Tuan Muda Daniel. Secara saya adalah karyawan yang tidak diragukan lagi kredibilitasnya. Kalau begitu saya permisi Tuan Muda Daniel" ucap Alex kemudian berbalik berniat meninggalkan ruangan Daniel.
"Oh aku lupa memberitahumu sesuatu. Jangan lupa untuk mengosongkan jadwalku siang ini" seketika ucapan itu langsung menghentikan langkah Alex yang sudah hampir menekan handle pintu. Pria itu menatap marah pada sahabatnya yang terlihat santai saja di kursi kebesarannya.
"Ya ya Anda Bosnya, terserah saja. Kau pikir mudah mengubah jadwal secara tiba-tiba seperti ini. Kenapa tidak diberitahu dari tadi malam atau minimal pagi tadi. Lihat!, ini sudah pukul sebelas dan aku harus kembali mengatur jadwalmu brengsek. Bos macam apa kau ini" gerutu Alex mengumpati sahabatnya.
"Jangan protes, lakukan saja apa yang kukatakan. Semakin berlama-lama berdiri disana maka akan semakin membuang waktu. Sekarang keluarlah dan jangan lupa untuk mengosongkan jadwalku" balas Daniel tidak peduli. Anggap saja itu balasan untuk Alex karena sudah berani membalas ucapannya tadi.
"Ck, dasar manusia merepotkan"
Alex keluar dari ruangan Daniel dengan perasaan kesal. Dia bahkan membanting pintu ruang kerja Daniel untuk melampiaskan kekesalannya.
Setelah di tinggalkan sendirian oleh Alex Daniel tertawa puas mengingat ekspresi sahabatnya saat keluar dari ruangannya. Kini bisa dipastikan pria itu tengah bersungut kesal di ruangannya. Dia memang bisa kalah dengan Alex dalam perdebatan tak berfaedah tapi bukan berarti Daniel akan diam saja. Sebisa mungkin dia akan membalas Alex dengan cara lain.
Puas dengan tawanya Daniel kemudian menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya, menatap langit-langit ruangannya dengan pikiran yang penuh pertimbangan. Dia mulai memikirkan cara untuk mendekati Keyra.
Selama ini Daniel tidak pernah terlibat dengan wanita manapun dan rasanya wajar saja bila dia mendapati julukan pria kaku dari Alex sahabatnya. Seumur hidupnya hanya ada sang mama, adik bungsunya dan juga kakak iparnya dan beberapa waktu ini bertambah dengan keponakan-keponakan cantiknya.
Raya sang kakak ipar adalah wanita asing pertama yang mampu berinteraksi normal dengan Daniel. Sebelum itu hanya ada nyonya Maya dan Risya. Kebaikan, kelembutan dan juga sikap tulus Raya mampu membuat Daniel merasa nyaman saat mereka berbincang. Bahkan dengan sepupu-sepupunya yang bergender perempuan Daniel tidak akrab. Sikap pria itu sangat dingin dan kaku dengan orang yang tidak dekat dengannya. Daniel, pria yang tidak menyukai para penjilat terlebih wanita yang berlalu lalang disekitarnya.
Bukan hal rahasia lagi bila dia mengatakan banyak wanita-wanita diluar sana yang mengejarnya bahkan sedari usianya yang masih sangat belia. Daniel dinilai sebagai tangkapan besar jika berhasil didapatkan. Beberapa dari rekan bisnis sang ayah kerap kali menjodohkan putrinya dengan Daniel dan hal itu membuat Daniel jijik. Sialnya lagi, para gadis-gadis yang dijodohkan dengannya dengan senang hati mencoba menarik perhatiannya. Itu sudah terjadi sejak usianya masih belia dan hal itu juga yang menjadi pemicu Daniel bersikap dingin pada para wanita.
Nasibnya sedikit mengenaskan bila berbicara tentang wanita. Berbeda dengan sang kakak yang memang sudah dijodohkan sedari kecil dan hal itu membuat kedua orang tuanya harus berpegang pada janjinya dengan menjauhkan Rafa dari kumpulan wanita-wanita yang mengejarnya. Ditambah lagi kakaknya itu juga dengan senang menerima wanita yang dijodohkan dengannya. Rafael Wijaya bahkan menjadi pihak yang memperjuangkan wanita yang dijodohkan dengannya hingga keduanya bisa hidup bahagia hingga sekarang. Memiliki anak-anak yang lucu dan yang paling penting sang kakak juga kakak ipar saling mencintai. Keduanya menjadi pasangan bucin yang terkadang begitu memuakkan melihatnya. Tapi ya, begitu cara mereka menebar tawa setiap waktunya.
Daniel kurang beruntung seperti sang kakak dalam kehidupan percintaan. Disaat sekarang dirinya sudah menikah saja istrinya malah sibuk menghindarinya. Tapi bukankah setiap orang akan melalui proses yang berbeda-beda, juga akan punya takaran kebahagiaan yang berada. Kita sebagai orang luar hanya melihat luarnya saja, tidak tahu apa yang terjadi didalamnya. Seperti sang kakak, tahu-tahu dulu Daniel mendapati kakak iparnya pergi dan dua orang itu terpisah selama bertahun-tahun lamanya. Bahkan tragisnya lagi kakaknya tidak mengetahui bila dirinya telah menjadi seorang ayah untuk waktu yang lama.
Jangan heran bila Daniel membawa kehidupan sang kakak dalam kehidupannya karena Rafael merupakan salah satu orang yang menjadi panutannya. Daniel hanya berniat membanding-bandingkan kehidupan mereka untuk hal yang baik dan juga sebagai contoh jika itu sesuatu yang baik. Dia sama sekali tidak iri ataupun dengki dengan apa yang dimiliki oleh kakaknya. Justru Daniel akan sangat bahagia bila melihat semua anggota keluarganya bahagia.
"Sebaiknya aku mencari tahu cara untuk mendekatinya. Tidak mungkin hubungan kami akan terus seperti ini sampai kesepakatan itu berakhir" gumam Daniel memungut ponselnya yang tergeletak bersamaan dengan berkas-berkas pentingnya.
Pria itu kemudian membuka aplikasi mesin pencari tahu nomor satu di dunia untuk mendapatkan sebuah informasi. Dengan wajah seriusnya dia mengamati apa-apa saja yang tertera dalam beberapa artikel yang di bacanya. Daniel bahkan mencatat ulang beberapa poin yang dinilai penting.
Mengapa sahabatnya itu tahu, pikir Daniel.
Ah seharusnya Daniel memperhatikan bagaimana cara papanya memperlakukan sang mama selama ini. Atau mungkin perlakuan sang kakak pada kakak iparnya. Kenapa Daniel merasa payah sekali sekarang ini. Sesuatu yang sebenarnya sangat mudah seperti ini harus dicarinya dari mesin pencari nomor satu di dunia itu.
***
Sore ini Daniel sengaja pulang lebih cepat agar bisa menjemput sang istri dari kantornya. Meski pagi tadi Keyra menolak untuk berangkat bersama tapi Daniel pastikan sore ini Keyra akan ikut dengannya. Dia memilih mengikuti nasehat Alex yang mengatakan untuk bersikap lebih agresif meski sebenarnya Daniel ragu dengan kemungkinan berhasilnya.
"Ke kantor Keyra" ucap Daniel pada Alex yang mengemudikan mobilnya.
"Kau sudah menghubunginya?. Jangan sampai nanti kita kesana tapi Keyra sudah pulang" balas Alex tidak semerta-merta menurut.
"Disini sebenarnya kau atau aku bosnya hah!. Menurut saja apa susahnya" ketus Daniel.
"Aku hanya mengatakannya saja. Kenapa harus menanggapi dengan berlebihan seperti itu. Jangan karena dunia percintaanmu tidak berjalan lancar kau melampiaskannya padaku. Itu sangat tidak adil Tuan Muda Daniel" balas Alex bersikap seolah-olah dirinya korban.
"Kau mulai banyak bicara ya. Sepertinya kau akan bisa merenungkan kesalahanmu bila aku melakukan pemotongan gajimu untuk bulan ini. Mungkin sekitar lima puluh persen tidak buruk atau tujuan puluh persen saja?" tutur Daniel melayangkan ancamannya. Hanya cara itu yang dapat membungkam mulut sahabatnya itu.
"Kita ke kantor Keyra kan bos. Silahkan gunakan sabuk pengaman Anda bos" ucap Alex gelagapan. Tidak mungkin dia rela gajinya dipotong untuk bulan ini. Tenaganya akan terbuang percuma bila Daniel memotong gajinya.
Alex mulai melajukan mobil yang di kendarainya menuju kantor istri sahabatnya dengan diam dan menjadi penurut. Sedang Daniel meski membalas ucapan Alex dengan sengit tapi kini dia tengah mencari kontak Keyra. Daniel membenarkan ucapan Alex dalam hatinya dan berpikir dia harus menghubungi Keyra terlebih dahulu. Menanyakan apakah istrinya itu sudah pulang atau belum.
"Assalamualaikum Kak" jawab Keyra sesaat setelah Daniel melakukan panggilan.
Tanpa sadar sudut bibir Daniel terangkat, menyunggingkan senyumannya mendengar suara merdu Keyra. Ah manis sekali bila hubungan mereka seperti pasangan pada umumnya.
"Kak?" suara Keyra kembali terdengar karena Daniel tak menanggapi salamnya.
"Ehem, wa'alakumussalam key. Kamu dimana?" tanya Daniel setelah tersadar.
"Masih di kantor. Apa ada yang penting?" tanya Keyra langsung pada intinya.
"Tidak ada, tunggu disana!" ucap Daniel kemudian mengakhiri panggilan secara sepihak.
Alex yang mendengar komunikasi pasangan suami istri dadakan itu menahan tawanya. Perbincangan Daniel dengan Keyra sangat minim menurutnya. Mana ada pasangan yang seperti Daniel dan Keyra si dunia ini.
Alex yakin Keyra kini pasti tengah kebingungan dengan kelakuan atasannya. Menelpon hanya bertanya lokasi Keyra kemudian menutup panggilan tanpa memberi penjelasan. Sungguh benar-benar diluar dugaan. Alex pikir Daniel tidak separah itu.
Benar saja tebakan Alex, di kantornya Keyra tengah menyernyitkan keningnya sembari memandangi ponselnya. Daniel sangat aneh menurutnya. Karena tidak ingin menambah beban pikirannya Keyra memilih melupakan panggilan tidak jelas dari suaminya. Wanita itu mulai menyibukkan diri merapikan mejanya dan bersikap untuk pulang.
"Mau pulang Key?" tanya Rani atasan Keyra yang menjabat sebagai manager di departemen Keyra.
"Iya Bu" jawab Keyra dengan sopan.
"Tolong besok jangan lupa desain proyek kerja sama dengan Biantara Group. Usahakan sudah harus seratus persen selesai. Pak Gery memintanya setelah rapat tahunan" pesan Rani.
"Baik Bu" jawab Keyra patuh.
"Ayo kita turun bersama" ajak Rani karena dirinya juga akan pulang.
Keyra menganggukan kepalanya dan dengan gerakan cepat mengambil tasnya serta barang-barangnya yang akan di bawanya pulang. Tidak lupa juga membawa tablet kesayangannya, benda yang biasanya akan Keyra butuhkan untuk pekerjaannya yang dibawa pulang.
"Mari Bu" ajak Keyra setelah selesai dengan bawaannya.
Keduanya berjalan berdampingan sembari mengobrol santai. Beberapa kali pembahasan mereka terlempar pada pekerjaan yang tidak ada habisnya.
__ADS_1
"Pak Gery" dua wanita itu berpapasan dengan CEO kantor mereka saat menunggu lift. Mau tidak mau keduanya harus menyapa.
"Sudah akan pulang?" tanya Gery dengan ramah.
Gery Mahesa merupakan atasan Keyra di kantor sekaligus pewaris satu-satunya Mahesa Company. Pria berusia tiga puluh tiga tahun itu di kenal cukup ramah di kalangan karyawannya. Gery juga merupakan crush para karyawan wanita yang masih single. Selain karena keramah-tamahannya, pria itu juga di kabarkan tengah berstatus single setelah sebelumnya di kabarkan menjalin hubungan dengan aktris ternama.
"Gunakan lift ini saja" ajak Gery pada Keyra dan Rani.
Ruangan mereka memang berada di lantai yang sama. Lift untuk CEO dan para eksekutif lainnya di pisahkan dari lift yang biasa digunakan oleh karyawan. Hal itu di lakukan demi kenyamanan para petinggi perusahaan.
"Eh?, tidak perlu Pak" tolak Keyra menggelengkan kepalanya.
"Maksudnya tidak menolak Pak. Terima kasih sebelumnya" Rani menarik paksa Keyra masuk ke dalam lift yang di gunakan oleh Gery. Jika ada yang lebih mudah mengapa harus menggunakan yang susah. Menggunakan lift bersama dengan Gery sang atasan artinya sudah dapat dipastikan mereka akan mendarat di lantai dasar tanpa hambatan.
"Bapak hanya sendirian?, Maksud saya biasanya bapak bersama asisten Bapak" tanya Rani berbasa-basi.
"Oh Martin, dia sedang ada pekerjaan diluar. Aku memintanya langsung pulang setelah pekerjaannya selesai" jawab Gery menerangkan.
"Oh begitu. Soalnya heran saja, biasanya dimana ada Bapak di situ juga ada Pak Martin" ujar Rani.
Keduanya terlibat obrolan selama berada di dalam lift sedang Keyra hanya diam saja memandangi pintu lift. Dia tidak tertarik untuk ikut dalam obrolan atasan-atasannya. Hingga akhirnya benda kotak berjalan itu sampai di lobby kantor dan ketiganya melangkah keluar.
"Kalau begitu saya duluan ya Pak" ucap Rani menggerakkan kepalanya menunduk memberi hormat pada atasannya.
"Duluan ya Key, suami saya sudah menunggu. Sampai jumpa besok" ujar Rani tak lupa memberikan ucapan selamat tinggal pada Keyra.
"Iya Bu, hati-hati" ucap Keyra menebar senyumannya.
"Mobil kamu dimana?" tanya Gery pada Keyra setelah Rani menghilang dari pandangan keduanya.
"Saya naik taksi Pak. Kalau begitu saya duluan" ucap Keyra juga menggerakkan kepalanya menunduk memberi hormat pada Gery.
Karena pernikahan dan pindahan dadakannya Keyra terpaksa berangkat ke kantor menggunakan taksi. Pagi tadi dia belum sempat mengambil mobilnya yang terparkir di apartemen miliknya.
"Kalau begitu biar saya antar" ucap Gery mengekori langkah Keyra.
"Tidak perlu Pak. Saya sudah memesan taksi" bohong Keyra menolak dengan halus.
"Batalkan saja" ucap Gery kembali.
Interaksi keduanya tertangkap oleh netra milik Daniel dan Alex yang sedari tadi sudah menunggu kehadiran Keyra. Keduanya sudah berada di lobby Mahesa Company sekitar sepuluh menit yang lalu.
"Tidak buruk juga. Selera Keyra cukup bagus" ucap Alex tanpa merasa bersalah.
Daniel mengepalkan tangannya melihat sang istri bisa berinteraksi layaknya orang normal pada orang lain. Sedang pada dirinya jika tidak ditanya Keyra mana mungkin sudi untuk membuka mulutnya.
"Pria itu kabarnya sudah putus dari pacarnya yang artis itu. Wah sepertinya dia akan menjadi saingan beratmu Bos. Kekayaannya walau tidak sebanding dengan yang Bos miliki tapi dia tidak miskin juga. Dari latar belakang keluarganya pria itu merupakan pewaris perusahaan ini. Keyra juga terlihat nyaman berbincang dengannya. Lihat Bos, Keyra bahkan tersenyum pada pria itu meski terlihat sedikit kaku. Dan tatapan pria itu bisa mengartikan segalanya" ujar Alex yang membuat suhu didalam mobil panas padahal pendingin mobil mewah itu menyala.
"Kalau bos tidak bergerak cepat mungkin pria lain yang akan memikat Keyra"
Ucapan Alex sontak semakin membangkitkan kemarahan Daniel dan Alex memang sengaja melakukannya. Alex ingin melihat apa yang akan di lakukan oleh sahabatnya itu.
Tanpa berkata apapun, Daniel membuka pintu mobil kemudian berjalan mendekat pada Keyra. Memasang tampang polosnya dan dengan langkah pastinya mengikis jarak dari istrinya yang tengah berbincang dengan atasannya.
"Hai Key, sudah selesai?" tanya Daniel tenang, mengabaikan tatapan terkejut Keyra yang melihat kehadirannya.
"Kakak ngapain kesini?" tanya Keyra menyernyitkan dahinya.
"Bukankah tadi sudah kukatakan untuk menunggu. Aku datang untuk menjemputmu" jawab Daniel tanpa merasa berdosa.
"Tuan Daniel" sapa Gery yang tentu mengenal Daniel.
"Ya Tuan Gery, Anda sudah akan pulang?" tanya Daniel dengan tampang polos.
"Ah ya, saya akan pulang. Kalau begitu saya duluan" jawab Gery pada Daniel.
Rasa penasaran Gery muncul saat melihat seorang tuan muda Daniel berkeliaran di kantornya dan berkata akan menjemput Keyra. Tapi pria itu tidak mungkin bertanya karena hubungan mereka tidak sedekat itu. Keduanya hanya saling mengenal karena urusan bisnis.
"Duluan ya Key" pamit Gery pada Keyra yang tengah menunduk.
"Iya Pak" balas Keyra seadanya.
"Ayo pulang" ajak Daniel pada sang istri.
Keyra bergeming di tempatnya, menatap pada suaminya dengan ekspresi kebingungan.
"Kenapa Kakak bisa berada disini?" selidik Keyra belum puas jika tidak mendapatkan jawaban yang jelas dari Daniel.
"Tentu saja menjemputmu, memangnya apa lagi?" balas Daniel apa adanya.
"Tadi Kakak menelpon untuk itu?" tanya Keyra kembali.
"Iya" jawab Daniel mengangguk.
"Lain kali tidak perlu repot-repot Kak. Aku bisa pulang menggunakan taksi saja" ucap Keyra mengingatkan. Keyra hanya tidak ingin tindakan Daniel yang datang menjemputnya menimbulkan rumor tidak sedap. Keyra menjaga keputusan Daniel yang menginginkan pernikahan mereka dirahasiakan dan dia sangat malas berurusan dengan rumor-rumor murahan yang terkadang sengaja diciptakan untuk menjatuhkan orang lain.
Daniel menghela napas, pria itu sudah menduga penolakan Keyra.
"Aku sama sekali tidak merasa direpotkan Key. Ayo" ajaknya pada sang istri.
Daniel mulai melangkah tapi Keyra tidak bergerak sedikitpun dati tempatnya berdiri.
"Kenapa?" tanya Daniel kembali berbalik.
"Sebaiknya Kakak pulang duluan saja. Aku masih ada urusan sebentar. Maaf merepotkan Kakak datang kesini" tutur Keyra yang langsung membuat Daniel melongo di tempatnya.
Yang benar saja, dia ditolak lagi, batin Daniel.
"Tidak bisakah kita pulang bersama saja. Lagipula aku sudah berada disini dan kamu juga tidak membawa mobil. Kamu ingin menolakku lagi?. Tidak masalah kamu menolak aku antar tadi pagi karena memang kebetulan kita masih berada di penthouse dan kamu menolak dengan tujuan kita tidak searah. Tapi sekarang aku sudah berada didepan kamu Key, tujuan kita sama dan sangat searah. Kamu mau beralasan apa lagi" ujar Daniel frustrasi. Belum pernah seumur hidupnya mendapatkan penolakan layaknya yang dilakukan oleh Keyra padanya. Biasanya Daniel yang akan menjadi pihak yang menolak. Apa sekarang Daniel tengah mendapatkan karma atas perbuatannya?.
"Bukan beralasan Kak, aku memang sedang ada urusan lain. Lagipula aku tidak tahu Kakak akan datang menjemputku. Kakak tidak mengatakannya sebelumnya" jawab Keyra.
"Dan kalau aku mengatakannya apa kamu akan menerimanya dengan senang hati. Kamu pasti akan menolakku lagi bukan?" ujar Daniel dan Keyra menganggukkan kepalanya dengan polos.
"Karena itu aku tidak mengatakannya. Tidak bisakah kamu menghargai niat baikku setidaknya untuk sekarang ini saja" pinta Daniel dengan tatapan penuh permohonan.
"Tapi Keyra punya urusan lain Kak, tidak langsung pulang" balas Keyra.
"Urusan apa?. Biar aku yang mengantarmu" timpal Daniel pantang menyerah.
"Tidak perlu, aku tidak ingin merepotkan Kakak" tolak Keyra.
"Aku sama sekali tidak merasa direpotkan" kukuh Daniel.
Keyra menghela napas. Daniel terlihat sangat keras kepala baginya. Kenapa pria itu tiba-tiba berubah menjadi pemaksa seperti ini. Keyra ingat dulu sikap pria itu tidak seperti ini. Atau memang begitu sikap Daniel sebenarnya, Keyra saja yang tidak mengetahuinya.
"Jadi mau kemana?" tanya Daniel.
__ADS_1
"Mau kemana?" desak Daniel kembali bertanya karena melihat Keyra hanya diam saja sembari menatap padanya. Jika dibiarkan seperti ini Daniel bisa ketahuan salah tingkah mendapatkan tatapan itu. Bayangkan saja ada seorang wanita yang begitu cantik menatap dengan intens padanya.
"Ke makam ayah" jawab Keyra akhirnya menyerah. Wanita itu juga malas terlibat perdebatan panjang dengan Daniel.