
"Aku akan tinggal disini" ujar Keyra memutuskan. Logikanya tidak bisa menolak, status sebagai seorang istri yang dimilikinya saat ini menjadi pertimbangan dalam keputusannya. Keyra tentu tidak ingin menambah daftar dosanya dengan tidak mendengarkan ucapan suaminya. Meski tidak tahu bagaimana kelanjutan mereka tapi inj sudah menjadi keputusan Keyra sementara ini.
"Terima kasih Key" balas Daniel tersenyum sumringah. Rasa lega menghinggapi dirinya mendengar jawaban Keyra.
"Ayo aku antar ke kamar. Kamu pasti lelah dan butuh istirahat" ucap Daniel bersemangat.
"Emm..." Keyra terlihat bingung sekarang. Apa mereka akan akan menempati kamar yang sama?.
"Kita satu kamar?" tanya Keyra mendonggak menatap pada suami dadakannya itu.
Daniel mengerti, mungkin Keyra keberatan jika mereka berada dalam kamar yang sama.
"Em itu, aku belum sempat memindahkan barang-barang milikku ke kamar yang lain tapi tenang saja aku akan segera memindahkannya nanti dari kamar itu. Sekarang yang terpenting kamu istirahat dulu"
Nyatanya peryataan pengertian Daniel bukan membuat Keyra tenang, justru wanita itu malah merasa bersalah pada Daniel yang terus mengalah padanya. Padahal Daniel bisa saja bersikap semena-mena pada Keyra atau mungkin pria itu bisa saja menuduh Keyra menjebaknya mengingat status Daniel yang bukan orang biasa, seperti novel-novel yang pernah Keyra baca. Tapi lihat bagaimana sikap Daniel memperlakukan Keyra, begitu lembut dan pengertian. Keyra semakin kesulitan mengendalikan hatinya.
"Ayo" ajak Daniel bangkit dari duduknya menuntun Keyra berjalan ke kamar utama yang ada di penthouse mewah itu.
"Kamu bisa memakai kamar ini. Nanti aku akan meminta bantuan bik Narsih untuk memindahkan semua barang-barang milikku ke kamar lain" ujar Daniel.
"Aku rasa tidak perlu Kak. Kita bisa menggunakan kamar ini saja atau jika Kakak keberatan biar aku saja yang menempati kamar lain" ucap Keyra tidak ingin bersikap kelewatan membiarkan Daniel pindah dari kamar yang telah ditempati pria itu selama ini. Lagipula mereka sudah menikah, mungkin dia harus menurunkan egonya, mencoba menjalani pernikahan ini mengikuti takdir yang telah Allah tetapkan untuk mereka. Keyra tentu percaya bila sang pencipta adalah penentu sebaiknya-baiknya alur hidupnya.
Hanya saja tolong ingatkan Keyra untuk tidak jatuh terlalu dalam pada pesona seorang Daniel. Dia harus sadar diri, kehidupan Daniel dan kehidupannya sangat jauh berbeda. Seorang Keyra yang hanyalah upik abu tidak akan mampu menggapai Daniel yang begitu sempurna.
"Apa kamu tidak akan terganggu?" tanya Daniel ragu mengiyakan keputusan Keyra karena pasti terpaksa mengucapkan oleh wanita itu. Daniel benar-benar tidak masalah bila harus menempati kamar lain, baginya yang terpenting adalah kenyamanan Keyra.
"Tidak selama Kakak tidak menggangu dan aku pikir Kakak harus tau satu hal. Aku menyukai ketenangan dan aku harap Kakak mengerti dan mengingatnya" balas Keyra dengan detak jantungnya yang tidak karuan, seakan salah satu organ pentingnya itu akan melompat keluar dari rongga dadanya.
"Baiklah, aku akan mengingatnya" ujar Daniel mengangguk mengerti.
"Apa aku boleh bertanya?" tanya Daniel dan terlihat Keyra menganggukkan kepalanya.
"Jika hal yang kamu sukai adalah ketenangan lalu bagaimana dengan hal yang tidak kamu sukai?. Bukankah dua hal itu biasanya selalu saling bersinggungan" Daniel mencoba membuat interaksi antara keduanya lebih lama. Wanita yang menjadi istrinya itu tidak akan mengeluarkan suaranya jika tidak diajak berbincang.
"Keramaian" jawab Keyra singkat.
"Eh?" Daniel menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal mendengar jawaban Keyra. Ingin kembali mengajukan pertanyaan tapi kemudian Daniel mengingat jika Keyra pasti kelelahan setelah perjalanan panjang mereka hari ini. Ditambah lagi pernikahan dadakan yang baru saja mereka lakukan pasti cukup menguras pikiran.
"Baiklah, aku juga akan mengingat hal itu. Ini kamar kita, emm maksudnya ya seperti itulah. Mungkin bila desainnya membuat kamu merasa tidak nyaman kamu bisa mengubahnya. Kamu tahu sendiri kamar ini didesain untuk pria dan ya, atas permintaanku tentunya. Aku tidak masalah jika kamu ingin mengubahnya tapi jangan hari ini okey. Hari ini kamu harus istirahat, mengerti" Keyra dengan spontan menganggukkan kepalanya.
"Good girl, kalau butuh sesuatu jangan ragu untuk memanggilku. Aku ada di ruang kerja, ruangan yang yang berada paling samping kanan itu ruang kerjaku. Atau kamu bisa juga memanggil bik Narsih jika beliau belum pulang" ujar Daniel berusaha memberikan kenyamanan pada sang istri sebisanya.
"Tapi..." Keyra menundukkan kepalanya, ragu untuk melanjutkan kalimatnya.
"Kenapa?" tanya Daniel dengan lembut.
"Bukankah kita harus bicara, maksudnya membahas apa yang terjadi hari ini" tutur Keyra mengingat tujuan awal dia mengikuti Daniel memasuki penthouse milik pria itu.
__ADS_1
"Ya, kita memang harus bicara tapi masih banyak waktu setelah ini. Bukankah kamu lelah dan butuh istirahat, jadi sekarang istirahatlah. Jangan pikirkan apapun okey, semuanya akan baik-baik saja" ujar Daniel penuh kelembutan. Wanita manapun yang mendengarnya pasti langsung tidak berkutik di tempatnya termasuk Keyra yang memang sudah menyimpan nama Daniel dalam relung hatinya.
"Baiklah" jawab Keyra tanpa sadar mengangguk menuruti ucapan suaminya.
Ah Keyra, ingat kau tidak boleh jatuh terlalu dalam pada pria hebat ini, peringat Keyra pada dirinya sendiri.
Sekarang dia mulai tidak mengenali dirinya sendiri sejak bertemu dengan Daniel hari ini. Dimana sikap penolakan yang biasanya Keyra lakukan pada para pria-pria yang mencoba mendekat padanya. Yang Keyra lakukan hari ini adalah mengangguk mengiyakan semua perkataan Daniel. Bahkan sikap dingin dan sikap acuh tak acuhnya hilang bak di telan bumi.
Sepertinya sekarang mengistirahatkan tubuhnya memang adalah pilihan yang terbaik. Dia bisa merenung sekaligus menyiapkan strategi untuk berhadapan dengan Daniel. Terlelap sejenak agar otaknya bisa bekerja dengan baik setelahnya. Saat terbangun nanti Keyra juga harus kembali pada dunianya. Dunia dimana hanya ada semua hal tentang dirinya didalamnya. Daniel sekalipun bukan orang yang diizinkan untuk masuk kedalam dunia Keyra, setidaknya untuk sekarang.
"Selamat beristirahat Key, ingat kalau butuh sesuatu jangan sungkan untuk memanggilku" setelah menyelesaikan kalimatnya Daniel berlalu meninggalkan kamar tapi kemudian langkah pria itu terhenti. Daniel baru teringat jika mereka belum saling bertukar nomor ponsel satu sama lain. Tentu hal yang sangat mudah bagi seorang Daniel untuk mendapatkannya tapi bukankah akan lebih baik jika dia meminta secara langsung pada istrinya. Perlakuan itu juga akan dinilai lebih sopan karena Daniel adalah seorang yang mengutamakan sebuah tata krama.
"Emm Key" panggil Daniel kembali berbalik.
"Ya?" Keyra mendonggak menatap tepat pada netra hitam milik suaminya.
"Boleh aku minta nomor ponselmu?. Kita belum sempat bertukar nomor ponsel" pinta Daniel dengan tatapan keduanya saling bertemu.
"Ya tentu" jawab Keyra menerima uluran tangan Daniel yang menyodorkan ponselnya.
"Terima kasih Key, kamu bisa istrirahat sekarang" jawab Daniel senang.
Daniel berlalu dari kamar dengan senyuman yang tidak lepas dari bibirnya. Sepertinya pria itu terlihat tidak terpaksa dengan pernikahan dadakan yang baru saja dia lakukan. Berbeda dengan Keyra yang sibuk memikirkan banyak kemungkinan tentang pernikahan dadakan ini.
Seperti yang dikatakan oleh Daniel sebelumnya, pria itu berjalan ke ruang kerjanya ingin menandatangani beberapa berkas yang diperlukan dalam waktu dekat. Dia mungkin akan sibuk dalam beberapa waktu ini mengingat Alex sedang menangani proyek yang ditinggalkannya bersama Keyra. Desain Keyra tetap akan digunakan untuk pembangunan proyek itu hanya saja untuk sementara ini lebih baik dia ataupun Keyra tidak berkunjung kesana dikarenakan nama mereka telah buruk dimata warga desa.
"Minumannya..." Bik Narsih kebingungan melanjutkan kalimatnya. Saat dirinya kembali ke ruang tamu dengan membawa nampan berisikan minuman hasil dari permintaan tuannya bik Narsih tidak lagi mendapati siapapun disana. Keadaan ruang tamu telah kosong dan wanita paruh baya itu menebak jika sang tuan telah kembali ke kamar. Tadinya bik Narsih berniat mengantarkan minuman itu ke kamar Daniel karena itu dia bisa berpapasan dengan Daniel yang akan berjalan ke ruang kerjanya.
"Bawa saja kembali ke dapur Bik. Letakkan di dalam lemari pendingin nanti aku dan Keyra akan meminumnya" ujar Daniel tidak enak hati. Bik Narsih pasti sudah kerepotan membuat minuman itu dan mereka tidak jadi meminumnya.
"Baik Tuan, kalau begitu Bibik permisi dulu" jawab bik Narsih patuh.
Daniel kembali melanjutkan langkahnya dengan tujuan ke ruang kerjanya. Sesampainya disana pria itu langsung mengerjakan setumpuk berkas yang sudah menantinya.
Cukup lama Daniel menghabiskan waktu berkutat dengan berkas yang tak kunjung selesai, kini pria itu mulai membaringkan tubuhnya di sofa yang berada di ruangan itu. Mulai merenungkan banyak hal, salah satunya tentang bagaimana caranya menjalani pernikahan ini dengan istri dadakannya. Daniel tahu tidak akan mudah meluluhkan hati Keyra mengingat Keyra adalah orang yang tertutup. Tapi bukankah hal itu memang wajar, mana ada wanita yang langsung luluh dengan pria yang selama ini asing untuknya.
Mencoba memahami satu sama lain mungkin adalah hal yang terbaik yang dapat dilakukan saat ini. Sebagai seorang suami Daniel akan berusaha sebisanya menjadi suami yang baik bagi Keyra sampai keduanya bisa membuat keputusan tentang masa depan mereka. Daniel akam menghargai apapun yang menjadi keputusan Keyra dan dia berharap Keyra melakukan hal yang sama.
Sejatinya sebuah hubungan ada yang tetap bertahan dan ada juga yang memilih untuk meninggalkan. Daniel, meski statusnya adalah suami dari Keyra tapi dia tidak akan menuntut apapun sebagai suami dari istrinya itu. Selama Keyra bahagia menjalani kehidupannya dia akan mengizinkan Keyra melakukan apapun. Daniel akan memberikan ridonya dalam setiap langkah Keyra. Pria itu berjanji pada dirinya sendiri tidak akan memberatkan Keyra karena status pernikahan mereka.
"Key, bisa aku masuk?" ucap Daniel mengetuk pintu kamar. Aneh bukan, sekarang Daniel bahkan harus mengetuk pintu saat akan memasuki kamarnya. Tapi percayalah, pria itu sama sekali tidak keberatan.
"Iya masuk saja" sahut Keyra dari dalam kamar.
"Aku pikir kamu masih tidur" ujar Daniel berbasa-basi.
"Baru saja bangun" balas Keyra seadanya.
__ADS_1
Daniel menganggukkan kepalanya tanda mengerti, kemudian obrolan mereka terhenti begitu saja. Seperti yang dikatakan oleh Daniel sebelumnya Keyra tidak akan membuka suaranya jika tidak diajak berbicara.
"Emm kalau begitu aku mandi dulu" ucap Daniel setelah keadaan hening untuk beberapa saat.
"Ya" jawab Keyra menganggukkan kepalanya.
"Kamu mau makan di rumah saja atau di luar?" tanya Daniel sebelum kakinya panjangnya memasuki kamar mandi.
"Bisa kita makan di rumah saja?" Keyra kembali mengajukan pertanyaan atas pertanyaan Daniel.
"Tentu, aku akan memesan makanan untuk kita nanti" jawab Daniel mengangguk pasti.
Pria itu kemudian berlalu masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Tidak ingin terlalu lama karena mungkin saja Keyra membutuhkan sesuatu darinya. Istrinya itu pasti butuh penyesuaian ditempat yang baru dan Daniel berusaha memberikan kenyamanan bagi Keyra.
Selesai membersihkan diri Daniel keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe. Daniel takut membuat sang istri tidak nyaman jika dia keluar hanya dengan menggunakan handuk dan memamerkan bagian atasnya seperti yang biasa Daniel lakukan saat tinggal sendiri di penthouse ini. Mulai sekarang sepertinya akan banyak kebiasaan yang harus dirubahnya agar sang istri merasa nyaman.
Keyra terlihat tidak terusik sedikitpun bahkan tidak menoleh saat Daniel keluar dari kamar mandi. Itu yang tertangkap oleh Daniel tapi sebenarnya wanita itu tengah menutupi rasa gugupnya dengan berpura-pura sibuk memainkan ponselnya. Degup jantungnya berdebar kencang meski dia sudah menyusun banyak strategi untuk berhadapan dengan Daniel. Pesona pria itu terlalu kuat menyihirnya.
Tanpa berkata apapun Daniel melangkahkan kakinya berjalan ke ruang ganti. Siluet matanya melihat kejanggalan di sofa ruang ganti. Disana ada sebuah setelan dan Daniel tahu itu pakaian miliknya.
Apa Keyra menyiapkan baju ganti untuknya?, tanya Daniel dalam hatinya. Sepertinya memang begitu karena tidak mungkin bik Narsih yang menyiapkannya. Wanita paruh baya itu sudah berpamitan pulang dan lagipula hal ini tidak pernah dikerjakan oleh bik Narsih.
Meski kebingungan Daniel tetap menggunakan pakaian yang telah disiapkan untuknya. Sesaat setelah selesai mengenakan pakaiannya sudut bibir Daniel tertarik melengkung. Kini dia yakin memang Keyra yang menyiapkan pakaian untuknya. Pria itu kemudian merapikan penampilannya dan juga tak lupa menyemprotkan minyak wangi kesukaannya kemudian keluar untuk menemui sang istri.
Di dalam kamar Daniel masih mendapati Keyra bermain dengan ponselnya. Dia ragu untuk mengajak Keyra berbicara atau tidak. Daniel mengingat perkataan Keyra mengenai hal yang disukai oleh istrinya itu 'ketenangan' ya, dan kini dia bingung sendiri karena satu kata itu. Keyra tetap terlihat sibuk dengan ponselnya bahkan mengabaikan Daniel yang sedari tadi menatapnya.
"Mau makan apa?" tanya Daniel.
Cukup lama terdiam akhirnya pria itu memutuskan memberanikan diri untuk membuka suara.
"Apa saja, aku bukan pemilih makanan" jawab Keyra seadanya bahkan pandangannya tidak beralih dari ponsel yang dipegangnya.
Daniel menghela napas. Susah sekali berkomunikasi dengan Keyra yang hanya menanggapi ucapannya dengan seadanya.
"Baiklah, aku akan memesan makanan untuk kita. Dan terima kasih sudah menyiapkan pakaian ganti untukku" ujar Daniel tidak menyerah. Pria itu tetap berusaha menghilangkan kecanggungan diantara mereka.
"Iya sama-sama" jawab Keyra singkat. Percayalah jawaban singkat yang terkesan dingin dari Keyra hanya demi menutupi perasaan gugupnya.
Keyra sempat salah tingkah mendengar ucapan Daniel tapi secepat mungkin menutupinya dengan kembali memasang wajah datarnya.
Keduanya kembali terdiam untuk waktu yang cukup lama. Keyra tidak lepas dari ponselnya sedang Daniel tengah bingung merangkai kata untuk membicarakan masalah pernikahan dadakan mereka.
"Em Key" panggil Daniel berusaha menarik atensi Keyra dari ponselnya.
"Ya?" Keyra mendonggak menanyakan maksud Daniel memanggilnya.
"Bisakah untuk sementara ini kita merahasiakan pernikahan ini?"
__ADS_1
Deg...