
"Tenang bapak-bapak ibu-ibu, kita tidak bisa melayangkan tuduhan dengan sembarang. Harus ada bukti yang kuat untuk memberikan hukuman pada mereka. Jika tidak ada bukti maka jatuhnya menjadi fitnah dan sungguh fitnah adalah perbuatan yang keji" ucap sang kepala desa dengan bijak.
"Bukti apalagi. Mereka sudah jelas kedapatan dengan posisi yang tidak pantas. Apalagi yang harus dibuktikan, bapak jangan membela mereka yang jelas-jelas salah"
"Ya benar, kita semua menjadi saksinya"
"Tidak ada pengampunan bagi mereka berdua!"
Suasana di dalam ruangan itu semakin tidak dapat di kendalikan karena warga tetap bersikeras agar Daniel dan Keyra segera diberi hukuman atas kesalahan yang sebenarnya tidak keduanya lakukan. Warga desa sangat yakin jika orang kota yang ada di hadapannya ini akan berbuat zina bila mereka tidak segera datang.
Daniel melirik pada Keyra yang terlihat ketakutan dan meneteskan air matanya.
"Sebaiknya kamu masuk ke dalam kamar dulu. Biar aku yang menjelaskan pada mereka dan menyelesaikan masalah ini" ucap Daniel menatap iba pada Keyra. Sedari tadi netranya menangkap gerak-gerik Keyra yang berdiri cemas ditempatnya.
"Tapi..."
"Tidak apa-apa, aku yang akan menangani mereka" potong Daniel sebelum Keyra menyelesaikan kalimatnya, sebisanya pria itu mencoba menenangkan Keyra yang terlihat sangat kacau saat ini. Dia yakin warga desa juga melihatnya tapi mana mungkin segerombolan orang itu merasa iba pada Keyra. Justru mereka akan menilai kegelisahan Keyra adalah sebuah kepanikan karena tertangkap basah.
Keyra akhirnya mengangguk, menuruti ucapan sang senior. Jika dia terus memaksakan diri berada ditempat itu mungkin sebentar lagi tubuhnya akan tumbang di hadapan banyak orang yang tengah menghakiminya.
"Maaf Pak biar kita saja yang membicarakan masalah ini" tanpa mendengar tanggapan lawan bicaranya, Daniel menuntun Keyra masuk kedalam kamar yang ada di villa itu. Sebenarnya pria itu tidak tahu pastinya, dia hanya menebak jika beberapa pintu yang tertutup dalam rumah itu adalah sebuah kamar.
"Tunggu disini dulu ya" ucap Daniel sebelum kembali berbalik dan menutup pintu.
Di dalam kamar Keyra mulai menangis, merenungkan kembali kejadian sebelumnya. Apa yang akan terjadi selanjutnya tidak ada yang tahu, niat Keyra mendatangi desa ini hanya untuk bekerja tapi justru dia harus di hadapkan dengan kejadian yang sangat pelik ini. Otaknya bahkan susah mencerna apa yang sedang terjadi, sungguh sangat diluar dugaan. Drama kesalahpahaman yang tidak tahu bagaimana endingnya nanti tapi Keyra yakin tidak akan berakhir dengan baik. Dia menebak warga akan tetap kukuh dengan tuduhannya. Tatapan dan tudingan warga desa menerangkan segalanya. Keyra tidak yakin dia ataupun Daniel bisa keluar dari desa ini dengan mudah.
Tatapan hina yang dilayangkan para warga membuat dadanya sangat sesak. Meski ini bukan pertama kalinya tapi Keyra masih tidak terbiasa. Bagaimana dia harus menghadapi situasi sekarang ini, tidak cukupkah penderitaannya selama ini. Mengapa orang-orang terus menghinanya tanpa mendengar pembelaan yang di berikannya. Setidaknya bisakah dengarkan dulu apa yang akan Keyra katakan baru membuat kesimpulan. Tapi sayangnya Keyra lupa jika suaranya tidak mungkin didengar oleh siapapun. Dimasa lalu ataupun sekarang ini keadaan masih tetap sama, tidak ada yang akan mendengarkan suara orang kecil sepertinya.
Lama menangis meratapi kehidupannya, Keyra tiba-tiba teringat akan ucapan ayahnya. Sang ayah mengatakan 'Di dunia ini kita berjalan sesuai takdir yang telah Allah tetapkan, jangan pernah mengeluh akan lelahnya hari ini karena pasti akan ada keindahan esok hari ataupun esoknya lagi. Teruslah tersenyum dan jangan menjadi manusia yang mudah putus asa. Allah sudah menyiapkan skenario terbaik untuk hambanya karena sesungguhnya dia yang paling tahu apa yang terbaik untuk hambanya'.
__ADS_1
Keyra menghapus lelehan air mata saat hatinya sudah mulai tenang. Benar, dia hanya harus menjalani takdirnya. Bagaimanapun keadaannya, susah maupun senang sudah ada penentu takdirnya.
Tok... Tok..., Terdengar suara ketukan pintu sesaat setelah Keyra menarik napasnya berharap bisa membuat perasaannya lebih tenang.
"Bisa aku masuk?" alunan suara Daniel terdengar dari balik pintu.
Keyra bangkit dari duduknya, sekali lagi menarik napas dengan keadaan hatinya yang sudah lebih tenang dari sebelumnya. Dia sudah siap menghadapi apapun yang akan terjadi nanti.
Dengan gerakan pasti Keyra membuka pintu kamar dan mempersilahkan Daniel untuk masuk. Di luar masih ada beberapa warga yang mengawasi pergerakan mereka. Keyra berusaha mengabaikan tatapan itu dan melenggang masuk mengekor di belakang Daniel.
"Maaf menempatkan kamu berada di posisi seperti sekarang ini" ucap Daniel dengan lembut. Daniel terdengar begitu tulus mengucapkannya, padahal kejadian ini bukan salah pria itu. Daniel kembali membawa Keyra duduk di atas tempat tidur yang sebelumnya telah diduduki oleh Keyra kemudian mengambil posisi dengan dirinya berlutut dihadapan Keyra.
Keyra memberanikan diri menatap pada pria yang menjadi cinta pertamanya dulu saat sekolah menengah atas dan Keyra pikir rasa itu masih sama hingga sekarang. Detak jantungnya masih berdebar sama seperti dulu kala berdekatan dengan Daniel. Sangat cepat dan Keyra kesulitan untuk mengendalikannya.
"Maaf tapi aku tidak bisa menyelesaikan masalah ini. Mereka tidak percaya dengan apapun yang aku katakan dan menuntut kita untuk segera menikah disini, dihadapan mereka"
Deg... menikah, mereka harus menikah, bagaimana ini ya Tuhan.
"Jadi harus bagaimana?" tanya Keyra panik dan tanpa sadar menggigit kukunya.
"Karena itu aku ingin berdiskusi dulu dengan kamu" dengan gerakan lembut Daniel menarik tangan Keyra agar jauh dari mulutnya.
Apa Keyra sedang berniat melukai dirinya sendiri, lihat saja jari tangannya sudah mulai memerah.
"Untuk sekarang sepertinya kita harus menikah dulu. Dan untuk hal yang lainnya bisa kita bicarakan lagi setelah ini" ujar Daniel begitu lembut dan tenang.
"Bagaimana bisa?" tanya Keyra bingung, otaknya benar-benar kosong.
"Mereka tidak akan membiarkan kita keluar dari sini jika tidak menyetujui pernikahan ini. Aku pikir keputusan untuk menyetujui tuntutan mereka adalah pilihan yang terbaik" Daniel menyampaikan apa yang di dengarnya dari warga. Keadaan sungguh rumit dan Daniel juga sudah kehilangan akal memberi penjelasan pada warga desa.
__ADS_1
"Apa tidak ada pilihan yang lain?" tanya Keyra dan mendapat gelengan dari Daniel.
Sebenarnya pilihan lain ada atau tidak bisa dikatakan pilihan karena tidak tahu bagaimana keputusan akhirnya. Mereka akan dihukum dengan diarak keliling kampung dan juga akan mendapatkan hukuman cambuk didepan khalayak ramai dan setelah semua itu tetap keputusan ada pada pendapat warga. Daniel tentu tidak akan mengambil opsi yang akan merugikan dirinya ataupun Keyra.
"Jadi Key maukah kamu menikah denganku?" tanya Daniel penuh harap. Akan sangat romantis jika situasinya tidak seperti sekarang ini. Tapi sialnya keduanya terjebak dalam situasi yang sangat tidak mengenakkan ini.
Keyra seperti terhipnotis dengan tatapan mata pria tampan yang berada di hadapannya itu. Ditambah lagi posisi Daniel yang kini tengah berlutut dihadapannya. Sungguh menikah dengan pria hebat ini tidak pernah terbayangkan dalam hidupnya. Daniel pria sempurna yang baru saja terdengar seperti melamarnya. Benarkah?.
Oh Keyra tolong sadarkan dirimu, peringat Keyra pada dirinya sendiri.
"Anda mengingat saya?" tanya Keyra dengan ragu. Rasanya memang bukan saat yang tepat untuk menanyakan hal itu tapi rasa ingin tahunya sudah tidak bisa terbendung lagi. Dibanding yang lainnya Keyra lebih penasaran dengan indra pendengarannya dimana baru saja dia mendengar 'Key' keluar dari mulut Daniel. Sedari tadi saat mereka berbincang Daniel sama sekali tidak menyebutkan namanya karena itu Keyra mengabaikan tentang ini. Tapi kalimat Daniel terakhir kali Keyra jelas mendengar satu kata itu 'Key' awalan namanya, dia jelas mendengar itu meski sesaat kemudian meragukan pendengarannya sendiri. Atau dia benar-benar telah salah mendengar?.
Terlihat Daniel mengerutkan keningnya, pertanyaan Keyra cukup membuatnya kebingungan. Bukankah mereka sudah saling mengenal meski memang sudah lama tidak saling bertemu. Atau mungkinkah Keyra melupakan dirinya. Bukankah hal itu sangat wajar mengingat tahun demi tahun yang telah mereka lewati tanpa saling menyapa satu sama lain. Keyra juga berbicara formal padanya tidak seperti dulu saat dimana mereka masih sekolah.
"Maksudnya... Emm tadi Anda memanggil nama saya, 'Key' seperti itu. Apa Anda mengingat saya?" ucap Keyra mengulang pertanyaannya. Wanita itu sepertinya mengerti kebingungan Daniel, karena ya sangat bisa ditebak dari raut wajah tampan Daniel yang tengah kebingungan.
"Tentu saja ingat. Kita satu satu sekolah dulu Keyra Dinata, benarkan?" jawab Daniel tanpa ragu. Mendengar pertanyaan Keyra ternyata tebakannya salah. Bukan Keyra melupakannya hanya saja wanita dihadapannya itu tidak ingin salah mengambil langkah yang mungkin menurutnya akan bisa mempermalukan dirinya. Keyra tidak ingin bersikap sok akrab dengan dirinya.
Keyra langsung mengangguk membenarkan ucapan Daniel. Terkejut mengetahui fakta jika senior yang di idolakan wanita satu sekolahnya dulu ternyata mengingat namanya. Haruskah dirinya senang, melompat-lompat untuk mengekspresikan kebahagiaannya karena ternyata sang idola sekolah mengingat namanya. Ya, seharusnya seperti itu jika terjadi pada wanita umumnya diluar sana. Mereka pasti akan berjingkrak kegirangan di hadapan Daniel dan berusaha menunjukkan pesonanya agar menarik perhatian pria tampan itu. Tapi sayangnya hal itu tidak akan terjadi pada Keyra. Wanita tiga puluh dua tahun itu justru berpikir mungkin memang hal yang wajar bila Daniel mengingat namanya. Meski sudah sekian tahun keduanya tidak bertemu tapi dulu saat masih sekolah dia dan Daniel beberapa kali pernah terlibat dalam kegiatan yang sama.
Keyra tidak sedikitpun berharap atau kegeeran hanya karena Daniel mengenalinya ataupun karena mengingat namanya. Kenyataan mungkin saja jauh dari apa yang ada dalam pikirannya. Keyra tidak ingin terhempas jauh jika nantinya kenyataan itu tidak sesuai dengan dugaannya.
"Jadi bagaimana?" alunan suara Daniel membuat Keyra tersentak dari lamunannya.
"Hah?" sesaat Keyra hanya menatap bingung pada Daniel. Dia sama sekali tidak mendengar pertanyaan pria itu karena terlalu sibuk dengan lamunannya.
"Tentang kita menikah Key. Bagaimana?" ulang Daniel.
Lidah Keyra terasa kelu hanya sekedar mengucapkan iya atau tidak. Bahkan jawaban melalui gestur tubuh juga tidak dapat diberikannya. Keyra bingung, sungguh bingung dengan keadaan rumit ini. Batinnya penuh dengan dilema, egonya tetap ingin dengan pendiriannya selama ini dimana tidak akan ada pernikahan dalam hidupnya tapi keadaan sangat tidak mendukung.
__ADS_1
"Kita bisa kembali membicarakan semuanya setelah ini selesai. Yang terpenting sekarang kita bisa lepas dari warga desa. Mereka tidak akan membiarkan kita pulang jika kita tidak menikah, itu yang aku dengar" ucap Daniel berusaha meyakinkan. Pria itu bisa melihat keraguan dari wanita yang sekarang berada di hadapannya ini.