
"Eungh" Keyra melenguh dari tidurnya, mengusap matanya menyesuaikan dengan cahaya yang sedikit menyilaukan.
Keyra menyadari jika hanya dirinya yang berada didalam mobil ini sendirian sedang suaminya sama sekali tidak terlihat.
Kemana pria itu pergi, pikir Keyra.
Setelah menunggu beberapa saat dan Daniel tak kunjung kembali Keyra akhirnya memutuskan untuk turun dari mobil, berniat untuk mencari keberadaan suaminya. Dia dengan segera membereskan barang-barang miliknya kemudian melangkahkan kakinya keluar dari mobil mewah Daniel.
"Sudah bangun?" belum sempat kaki Keyra turun dari mobil suara Daniel terdengar muncul dari samping.
"Eh, ya" jawab Keyra mengangguk.
"Kopi" tawar Daniel mengulurkan tangannya tepat didepan Keyra, memberikan satu cup kopi yang baru saja dibelinya. Ya Daniel turun dan meninggalkan Keyra yang masih tertidur dimobil karena ingin membeli minuman. Saat terbangun dari tidurnya Keyra pasti membutuhkan segelas kopi untuk menghilangkan rasa kantuknya.
"Terima kasih" ujar Keyra menerima uluran tangan suaminya.
"Sama-sama" balas Daniel.
"Jadi sekarang kita dimana?" tanya Keyra setelah menyesap kopi pemberian Daniel.
"Lihat kesana" Daniel mengarahkan tangannya menunjuk pemandangan yang berada dibelakang mobil mereka.
"Pantai" ucap Keyra terjekut.
"Iya pantai, aku pikir menikmati suasana sore hari di pantai bukan ide yang buruk" ujar Daniel.
"Jam berapa sekarang?" tanya Keyra seperti baru menyadari sesuatu. Tempat yang mereka kunjungi saat ini pasti cukup jauh lokasinya dari tempat asal mereka.
"Jam empat sore" jawab Daniel.
"Artinya aku sudah tertidur selama tiga jam" ucap Keyra tidak percaya. Dia sungguh kejam membiarkan suaminya mengemudi dalam waktu berjam-jam tanpa ada yang menemani. Beruntung Daniel membawanya dengan selamat sampai tempat tujuan.
Tadinya saat dalam perjalanan Daniel memang menyuruh Keyra untuk tidur tapi Keyra menolak. Dia mengatakan tidak mengantuk dan akan menikmati pemandangan perjalanan mereka yang sayangnya hal itu hanya bertahan sebentar. Rasa kantuk Keyra tiba-tiba menyerang dan tak tertahankan lagi hingga akhirnya tanpa sadar terlelap. Wajar saja, Keyra semalam tidur terlalu larut karena harus menyelesaikan pekerjaannya. Keyra ingat kemarin malam dia baru tidur saat waktu menunjukkan pukul tiga dini hari dan dia tidak sendirian. Daniel kukuh akan menemaninya hingga pekerjaan Keyra selesai. Dan jadilah mereka mengerjakan pekerjaan masing-masing hingga pukul tiga dini hari bersama. Pasti sekarang Daniel merasa sangat lelah karena pria itu juga kurang tidur.
"Maaf aku tidak tahu jika sudah tertidur selama itu" ujar Keyra tidak enak hati, berbicara dengan kepala tertunduk. Dia juga mengingat tadi pagi wajah Daniel terlihat cukup pucat dan mungkin hal itu karena menemaninya begadang.
"Tidak masalah, kamu pasti kelelahan karena tadi malam tidur terlalu larut" balas Daniel tersenyum menenangkan.
"Tapi Kakak juga tidur larut semalam sama seperti Keyra. Seharusnya tadi Kakak membangunkan Keyra agar kita bergantian saat menyetir" ujar Keyra benar-benar merasa tidak enak.
"Aku benar-benar tidak masalah Key. Lagipula sekarang kita sudah sampai" balas Daniel.
"Ayo sekarang turun" ajak Daniel pada Keyra yang masih menundukkan kepalanya.
Meski masih merasa tidak enak tapi Keyra menurut dan mulai turun dari mobil. Dan lagi apa yang bisa dilakukannya sekarang, toh sekarang mereka sudah sampai ditempat tujuan. Mungkin dengan sikap menurut dan membuat Daniel senang hari ini bisa menebus kesalahannya.
Saat menelisik keadaan sekitar, Keyra terlihat mengerutkan keningnya. Dia menyadari tempat yang mereka datang sekarang ini sangat familiar baginya.
"Kakak sering kesini?" tanya Keyra menatap pada suaminya sembari berjalan.
"Beberapa kali tapi tidak terhitung sering. Kenapa?" tanya Daniel menoleh pada sang istri.
"Ini pantai yang sering aku kunjungi dengan ayah dulu. Sudah lama sekali aku tidak kesini lagi. Beberapa kali pernah berencana berkunjung kesini tapi batal karena malas datang sendirian" terang Keyra dengan tersenyum. Sepertinya wanita tiga puluh dua tahun itu sangat senang kembali berkunjung ke pantai ini.
"Benarkah?. Kamu senang?" tanya Daniel memastikan. Sebenarnya senyuman Keyra sudah mengartikan segalanya tapi Daniel ingin mendengar sendiri dari mulut istrinya itu.
"Ya sangat senang" jawab Keyra berbinar bahagia.
"Baguslah kalau begitu, artinya aku tidak sendirian merasa bahagia berkunjung ke pantai ini" tutur Daniel.
"Terima kasih Kak" ucap Keyra tulus, tidak menyangka dirinya bisa kembali berkunjung ke pantai ini setelah sekian lama waktu berlalu.
"Tidak perlu mengucapkan terima kasih. Mulai sekarang jika ada tempat yang ingin kamu kunjungi katakan saja padaku agar kita bisa pergi bersama. Mungkin aku tidak bisa langsung menyetujuinya karena harus menyesuaikan jadwal terlebih dahulu. Kamu juga pasti tidak bisa meninggalkan pekerjaanmu begitu saja. Jadi kalau bisa katakan rencanamu beberapa hari sebelum keberangkatan kita agar kita berdua bisa mengatur waktu. Mengerti" Keyra tanpa sadar langsung menganggukan kepalanya. Kalimat Daniel membuatnya tidak dapat berkutik. Entahlah, padahal Keyra belum pernah mengalami hal seperti itu sebelumnya.
"Sekarang jangan lagi merasa sendirian. Bagaimanapun kamu menganggap pernikahan ini aku berjanji akan selalu ada untuk kamu. Jadi jangan sungkan mangatakan apapun padaku" Keyra mematung untuk beberapa saat, merasa terharu atas ucapan suaminya. Daniel terdengar begitu serius mengucapkannya hingga Keyra tidak merasa sedih saat menyinggung tentang hubungan pernikahan mereka. Dari perkataan Daniel, pria itu seperti menyerahkan masalah pernikahan ini padanya.
"Terkadang kita merasa bisa hidup sendirian dan yang terjadi juga seperti itu. Tuhan mengabulkan keinginan kita tapi disini" Daniel menunjuk dadanya sendiri.
"Rasanya kesepian. Itu yang aku rasakan saat memilih untuk tinggal sendiri" lanjut Daniel.
"Kalau begitu kenapa tidak kembali tinggal bersama orang tua kakak saja. Aku pikir papa dan mama kakak pasti akan merasa senang jika kakak kembali tinggal bersama mereka" komentar Keyra memberi solusi yang terlintas dalam pikirannya.
"Ya, semua orang mengatakan itu tapi keadaan yang memaksaku untuk tinggal terpisah"
Keyra mengerutkan keningnya tanda tidak mengerti atas jawaban yang diberikan Daniel.
"Jangan dipikirkan, yang pasti aku anak yang sok ingin mandiri karena itu akhirnya memilih tinggal terpisah" ucap Daniel terkekeh melihat ekspresi bingung yang ditunjukkan oleh sang istri.
"Padahal aku bertanya dengan serius" kesal Keyra merengut. Tadinya dia sudah merasa iba karena merasa cerita Daniel hampir mirip dengannya. Ya Keyra merasakan itu, dia selalu mengagungkan bila dirinya bisa hidup sendirian. Hanya saja seiring berjalannya waktu Keyra merasa semuanya hampa, dia kesepian. Semangatnya dalam menjalani setiap harinya karena dia belum mewujudkan mimpi satu lagi mimpi sang ayah. Sebenarnya dua tapi Keyra sudah menolaknya dulu dengan terang-terangan pada ayahnya. Dan saat itu ayahnya hanya mengatakan coba saja dulu hingga batas Keyra tak lagi mampu menjalaninya. Hanya saja Keyra yang keras kepala tetap menolak.
"Jangan cemberut seperti itu nanti orang-orang akan mengira aku tidak berlaku baik pada istriku. Bagaimana jika mereka merekam dan membuat cerita bohong itu viral. Kamu tahu sendiri bagaimana cara dunia bekerja saat ini" ucap Daniel menahan tawanya. Raut wajah kesal sang istri sungguh membuatnya senang.
"Kakak menyebalkan" tukas Keyra semakin kesal.
Daniel mengulum senyumnya, sepertinya mengganggu Keyra merupakan hobi barunya saat ini.
"Baiklah hamba minta maaf tuan putri. Hamba punya penawaran khusus hanya untuk tuan putri. Sebagai tanda permintaan maaf hamba bagaimana jika hamba mengambil gambar tuan putri sebagai kenang-kenangan telah berkunjung ke pantai ini. Tuan putri bisa melihatnya ketika merindukan momen saat berada disini. Hamba akan mengambil gambar sebanyak yang tuan putri mau. Jadi apa tuan putri bersedia memberikan maaf pada hamba?"
Keyra mendelik malas, memangnya mereka hidup di jaman kerajaan hingga Daniel menyebutnya sebagai tuan putri. Lagipula Keyra tidak akan berbangga hati saat Daniel memanggilnya dengan sebutan itu, pada kenyataannya Keyra hanyalah seorang upik abu.
__ADS_1
"Sampai kapan aku harus menunggu Key?" desak Daniel tidak sabaran.
"Ya ya aku maafkan" balas Keyra acuh. Wanita itu masih menyimpan rasa kesalnya.
"Terdengar tidak ikhlas tapi tidak masalah. Ayo sekarang kita berfoto sebelum hari gelap. Aku tidak ingin kamu semakin marah karena gagal mengabadikan momen hari ini. Disana sepertinya spot yang bagus" Daniel berjalan mendahului Keyra, dia tidak ingin mendapatkan tatapan galak Keyra untuk membalas ucapannya.
Angin pantai mulai terasa begitu menusuk karena hari semakin sore dan Daniel tidak ingin mereka terlalu berlama-lama berada disana. Dia tidak ingin Keyra sakit setelah ini.
"Kemari Key, berdiri disina" Daniel memanggil Keyra yang berjalan cukup lambat atau sebenarnya dia yang berjalan cukup cepat karena terlalu bersemangat.
"Disini?" tanya Keyra sedikit berteriak.
Keyra kebingungan memasang posenya. Biasanya Keyra yang akan berada di posisi fotografer, itupun Keyra lakukan untuk kepentingan pekerjaannya.
"Ya, smile" titah Daniel mulai mengambil jepretan gambar Keyra yang sudah berdiri dengan pose kakunya. Jujur saja Keyra gugup bahkan sangat. Dia telah lama tidak mengambil gambar seperti ini ditambah lagi saat ini Daniel sang cinta pertama yang menjadi fotografernya. Bisa bayangkan bagaimana canggungnya dia memasang fose sedang detak jantungnya berdebar tidak karuan. Rasanya untuk sekedar tersenyum saja susah. Kenapa juga Daniel begitu mempesona. Apapun yang dilakukan oleh pria itu terlihat sangat luar biasa.
"Coba lihat ke arah sana Key" ucap Daniel memberi arahan.
"Sedikit menunduk"
"Lihat ke kanan"
"Geser sedikit lagi, ya bagus seperti itu"
"Buat fose candid dengan melihat ke arah pantai"
"Angkat kedua tangan dan tertawa lepas"
"Jangan melihat ke arah kamera"
Daniel terus memberikan arahan dan caranya berhasil membuat fose kaku Keyra perlahan memudar. Keyra juga tanpa banyak drama mengikuti arahan dati Daniel karena jujur saja dia tidak tahu harus berfose seperti apa. Fokusnya buyar karena terpesona pada sang fotografer.
Setiap kali mengambil gambar Daniel akan melihat hasilnya dan bersyukurnya hasil gambar yang diambilnya sangat memuaskan. Daniel yakin Keyra pasti akan sangat menyukainya. Beruntung dia sering dipaksa menjadi seorang fotografer hingga hasil jepretannya tidak mengecewakan.
"Sudah, biar Keyra lihat dulu" ucap Keyra yang merasa sudah kehabisan gaya.
Daniel mendekatkan ponselnya pada sang istri, menunjukkan hasil jepretannya dengan Keyra sebagai modelnya.
"Bagus, Kakak hebat sekali mengambil gambarnya" puji Keyra. Tidak menyangka hasil gambarnya akan sebagus itu.
"Itu karena model yang diambil gambarnya cantik hingga hasilnya juga menjadi cantik" gombal Daniel yang membuat Keyra merona.
"Kakak suka fotografi?" tanya Keyra mengalihkan.
"Tidak juga, tapi aku sempat belajar fotografi dulu"
"Pantas saja. Kupikir jika Kakak tidak menjadi CEO maka Kakak akan berakhir menjadi seorang fotografer" ujar Keyra.
"Kenapa bisa begitu?" tanya Keyra heran. Bagaimana bisa Daniel mengucapkan hal seperti itu sedang hasil jepretannya sangat bagus. Daniel hanya mengatakan sempat belajar bukan benar-benar belajar. Jika sempat belajar saja hasilnya sebagus ini bagaimana jika pria itu benar-benar belajar.
"Karena pelangganku tidak akan membayar jasaku" ucap Daniel ambigu.
"Mana bisa begitu. Kakak harus tegas masalah bayaran agar tidak rugi. Memangnya kenapa Kakak berbicara seperti itu?. Kak Daniel kan belum mencoba membuka usaha fotografi"
"Aku sudah sangat hafal dengan sikap mereka. Jika aku menjadi seorang fotografer ada dua orang yang akan memonopoliku setiap hari, ah bahkan sekarang bertambah satu lagi. Totalnya ada tiga atau mungkin empat ya" pokir Daniel terlihat berpikir menghitung ulang.
"Intinya mereka akan tidak akan mau membayarku dan aku juga tidak punya kuasa untuk menagihnya. Karena mereka juga aku terpaksa belajar fotografi"
"Siapa?. Biar aku datangi rumah mereka dan melabraknya. Mana bisa mereka melakukan pemaksaan seperti itu" tanya Keyra menggebu-gebu. Dia tidak terima saat Daniel mengatakan dipaksa belajar fotografi karena orang lain.
"Benarkah?. Kamu berani?" tanya Daniel memasang wajah seriusnya.
"Tentu saja, untuk apa takut jika tidak bersalah. Jadi katakan siapa orangnya?" tanya Keyra kembali.
"Tapi kupikir saat kamu mengetahui orangnya kamu justru akan bergabung dalam komplotan mereka. Pengaruh mereka sangat kuat"
Keyra mulai gusar, Daniel yang seorang pewaris Wijaya Group saja tidak sepercaya diri ini berhadapan dengan orang yang telah memaksanya belajar tentang fotografi. Lalu bagaimana dengan dirinya?. Tapi dia harus tetap maju bukan, bagaimanapun keadilan harus ditegakkan. Tekad Keyra sudah bulat akan memberi pelajaran pada orang-orang yang telah memaksa suaminya belajar tentang fotografi.
"Aku tidak akan terpengaruh semudah itu" jawab Keyra dengan punuh keyakinan.
"Aku harap begitu" balas Daniel.
"Jadi siapa orangnya?" tanya dengan dengan tidak sabar.
"Mama, Risya, kak Raya dan juga Rayna" jawab Daniel tersenyum. Keyra langsung lesu sekaligus kesal. Lagi-lagi Daniel berhasil mengerjainya melalui permainan kata. Keyra terlalu berpikir jauh tadinya. Dia pikir Daniel telah mengalami suatu kejadian yang menyedihkan.
Netra Keyra menatap tajam pada suaminya yang lagi-lagi dengan mudah mengerjainya. Sialnya lagi Keyra juga sangat mudan terperangkap dalam akting pria itu.
Saat Daniel bercerita, terdengar dan terlihat sangat meyakinkan hingga Keyra pikir apa yang diucapkan pria itu nyata. Tapi bukankah memang nyata, hanya saja tidak seburuk yang ada dalam pikiran Keyra. Daniel terlalu mendramatisir ceritanya hingga pikiran Keyra menggiring ke arah yang negatif. Keyra tahu bila suaminya memang sengaja melakukan hal itu untuk membuatnya kesal.
"Jadi tidak kamu mendatangi rumah mereka?" tanya Daniel dengan tatapan usil. Rasanya dia ingin tertawa terbahak-bahak saat ini. Tatapan tajam Keyra sama sekali tidak menakutinya tapi justru malah terlihat menggemaskan dalam pandangan Daniel.
"Jadi!. Kalau aku punya kesempatan bertemu mereka aku akan mengatakan jika kakak tidak ikhlas belajar tentang fotografi. Kakak juga menceritakan hal yang buruk pada orang lain, mengatakan jika kakak dipaksa belajar fotografi. Dan satu lagi aku akan masuk dalam komplotan mereka yang akan menjadikan Kakak seorang fotografer tidak dibayar" sungut Keyra dengan seribu kekesalannya.
"Untukmu menjadi fotografer tidak dibayar juga tidak masalah" balas Daniel santai, Keyra semakin naik pitam dibuatnya.
"Sudah jangan marah lagi. Ayo kita bermain ombak pantai" ajak Daniel langsung menarik tangan sang istri mendekati ombak pantai.
Meski kesal Keyra tetap menurut. Dia mengikuti Daniel yang menarik tangannya tanpa protes.
__ADS_1
"Dingin?" tanya Daniel saat kaki mereka sudah menyentuh air pantai.
"Tidak, ini menyenangkan" balas Keyra.
Keduanya berjalan berdampingan di atas genangan ombak pantai. Sensasi menginjak pasir tanpa alas kaki rasanya begitu menyenangkan.
Sesekali pandangan Daniel melirik Keyra yang sedari tadi tidak berhenti tersenyum. Senyuman yang seolah bisa menular hingga tanpa sadar sudut bibir Daniel juga ikut terangkat saat melihatnya.
"Dulu aku dan ayah juga sering seperti ini" cerita Keyra.
"Awalnya aku sama sekali tidak menyukai pantai, melihat riak ombak seperti ini membuatku takut. Rasanya saat ombak datang kepermukaan terlihat seperti akan membawaku kelautan bersamanya. Entah bagaimana pikiran itu terlintas tapi itu yang selalu aku bayangkan setiap berkunjung ke pantai. Rasa tidak suka itu bertambah saat menyentuh pasir dengan kaki telanjang seperti ini, sensasinya sangat aneh"
"Mungkin hal itu terjadi karena aku belum terbiasa saat itu. Pada mulanya setiap kali berlibur ke pantai aku akan langsung meminta pulang. Menangis, meraung dan tak jarang juga mengamuk sembari memukuli ayah karena tidak mendengarkan permintaanku. Hingga akhirnya ayah pasrah dan kami pulang karena tidak tega melihatku terlalu lama menangis. Tapi ayah tidak menyerah, beliau tetap mencoba mengenalkan aku pada keindahan pantai. Tidak ingin aku mengalami phobia atau semacamnya"
"Saat itu aku ingat usiaku baru empat tahu. Ayah berusaha menghilangkan ketakutanku dengan mengenalkan lautan melalui berbagai media. Beberapa buku yang berisikan tentang lautan dengan ikan-ikan dan terumbu karang didalamnya menjadi bacaanku setiap hari. Ayah juga saat itu pernah memenuhi halaman rumah kami dengan pasir pantai agar aku terbiasa menginjaknya. Setelah aku terlihat cukup baik-baik saja ayah kembali membawaku ke pantai. Dan ternyata saat itu hasilnya masih sama, aku masih ketakutan tapi tidak separah sebelumnya"
"Dengan penuh kesabaran sembari membawaku dalam gendongannya ayah berkeliling di pantai seperti ini. Membisikkan padaku jika semua baik-baik saja, pantai tidak akan menyakitiku bila aku berhati-hati. Berulang kali ayah memintaku untuk mencobanya tapi aku selalu menggeleng. Aku benar-benar takut, entah apa alasannya aku juga tidak tahu. Hingga akhirnya kami kembali pulang, seingatku ayah saat itu sama sekali tidak memaksaku"
"Pada liburan selanjutnya kami kembali lagi ke pantai dan ayah kembali berusaha membuat ketakutanku hilang. Hal yang sama ayah lakukan, membawaku berkeliling pantai dengan aku berada dalam gendongannya. Pada saat itu sepertinya usaha ayah sedikit membuahkan hasil. Aku tertarik pada cangkang kerang yang bertebaran di atas pasir pantai. Ayah memanfaatkan hal itu, memintaku untuk turun dan mengumpulkannya agar kami bisa membawanya pulang"
"Dengan persetujuanku perlahan ayah menurunkan aku dari gendongannya tapi berakhir dengan aku kembali menangis dan bergelantungan pada ayah. Ternyata menyentuh pasir yang berada di pantai secara langsung masih terasa sangat aneh bagiku, padahal saat berjalan di halaman rumah yang sudah dipenuhi pasir aku baik-baik saja. Tapi ayah tetap sabar, mencoba membujukku dengan segala rayuannya dan akhirnya aku luluh. Dengan perasaan yang masih takut aku mencoba menginjakkan kakiku menyentuh air pantai"
"Awalnya aku menangis tapi lagi-lagi ayah membujukku. Hingga akhirnya usaha ayah berhasil, meski masih takut tapi dengan digandeng oleh ayah kami berjalan di pinggir pantai. Lama-kelamaan ketakutan itu benar-benar hilang dan berakhir dengan aku yang sangat menyukai pantai. Rasanya sangat menyenangkan, apalagi berjalan bergandengan dengan ayah mengitari pantai seperti ini"
Keyra tersenyum membayangkan kenangan bergandengan tangan dengan sang ayah saat mengitari pantai. Dia sangat bahagia memiliki ayah sehebat Aditya Dinata. Kata orang bagi anak perempuan ayah adalah cinta pertamanya dan ya, Keyra membenarkan kalimat itu. Dia sangat mencintai ayahnya hingga saat kepergian sang ayah menjadi titik terendah dalam hidupnya.
Hanya sang ayah yang dia punya hingga saat Aditya meninggal Keyra kehilangan segalanya. Keyra kehilangan kebahagiaan, senyuman tulusnya, tempat sandarannya dan yang paling parah Keyra kehilangan arah. Bila bukan tentang ingin memenuhi impian sang ayah mungkin saat itu Keyra memilih untuk menyerah. Wanita itu merasa tidak sanggup berjalan sendirian di dunia ini.
"Eh?" Keyra terkejut karena tiba-tiba saja Daniel menggenggam tangannya.
"Sekarang kamu bisa menggandeng tanganku" ucap Daniel membuat jantung Keyra menggila. Perasaan haru menyeruak memenuhi dadanya.
"Aku juga awalnya tidak menyukai pantai. Bukan dalam artian takut seperti kamu, hanya rasanya biasa saja setiap kali berkunjung ke pantai. Tidak ada perasaan antusias atau berbinar bahagia ketika papa dan mama mengatakan akan berlibur ke pantai"
"Karena keadaan yang tidak memungkinkan aku tidak bisa bermain dengan leluasa di pantai. Jadi sebab itu, mau berlibur di pantai ataupun di rumah sama saja menurutku. Hingga suatu hari aku mengenal seseorang yang sangat bahagia ketika hanya mendengar kata pantai. Saat aku bertanya mengapa, dia mengatakan hal yang paling disukainya adalah pantai. Dan tanpa sadar aku juga ikut menyukainya"
"Jadi kalau kamu ingin berkunjung ke pantai kapanpun itu ajak aku okey. Jangan sungkan, kita pasti sama-sama menikmatinya karena memang sama-sama menyukai pantai. Lagipula aku juga tidak memiliki teman untuk di ajak berlibur"
"Dulu aku sering berlibur bersama kak Rafa dan kak Dae Hoon tapi sekarang mereka sibuk dengan istri-istrinya. Kalaupun berlibur bersama aku akan menjadi pria yang menyedihkan diantara mereka semua. Mereka akan menjadikan statusku sebagai bahan olokan bahkan tak jarang dengan sengaja menjodohkan aku dengan anak-anak dari rekan bisnisnya. Sungguh menyebalkan, bukanya menyegarkan pikiran dari rutinitas sehari-hari yang membosankan yang ada malah tambah pusing" curhat Daniel mengeluhkan kelakuan para saudaranya.
"Kakak kan bisa berlibur dengan kak Alex" komentar Keyra. Mengingat persahabatan Daniel dan Alex terjalin sangat erat pasti keduanya banyak menyukai hal yang sama.
"Dulu iya tapi semenjak berita itu beredar kita tidak pernah lagi berlibur bersama"
"Berita?" Keyra mengerutkan keningnya bertanya.
"Kamu tidak tahu?" ujar Daniel kembali bertanya. Rasanya tidak mungkin bila Keyra tidak mendengarnya. Berita sialan itu bahkan menyebar di grup sekolah mereka.
"Tidak, memangnya berita apa?" tanya Keyra dengan penasaran.
"Sebaiknya jangan cari tahu" balas Daniel yang kembali membuat Keyra kesal, berpikir Daniel kembali mengerjainya. Tadinya Keyra sudah sangat penasaran dan berharap akan mendapatkan jawaban tapi nyatanya Daniel justru menggantungnya.
"Aku serius, sebaiknya jangan mencari tahu. Apapun itu sekarang ini aku tidak akan bisa pergi berlibur dengan Alex" ucap Daniel, kali ini dia benar-benar serius mengatakannya.
"Jadi saat kamu ingin berkunjung ke pantai ajak aku okey. Kita bisa berlibur bersama, sebelumnya kamu mengatakan malas berlibur sendirian dan akupun begitu. Kamu bisa menjadikan aku siapa saja, teman atau saudara aku tidak masalah. Bukankah aku sangat baik?. Dimana lagi kamu mencari pria sepertiku" Keyra langsung melengos mendengarnya. Dia saja yang terlalu serius menanggapi ucapan Daniel. Perasaan haru yang tadinya menyeruak kini meluap begitu saja karena kalimat narsis Daniel.
"Aku benar-benar serius Key" ucap Daniel kembali berharap mendapatkan tanggapan.
"Ya, terserah kakak saja" balas Keyra berjalan cepat meninggalkan Daniel. Keyra baru tahu bila Daniel pria yang suka bercanda. Saat masih sekolah dulu mereka memang tidak banyak berkomunikasi dan kalaupun ada kesempatan berbicara Keyra lebih memilih kabur. Dia ingin menjaga kesehatan jantungnya karena setiap berhadapan dengan Daniel detak jantungnya akan menggila.
"Kenapa malah melepaskan tanganku. Bukankah kamu bilang menyenangkan bila berjalan bergandengan. Aku memang bukan ayah tapi setidaknya kamu tidak lagi berjalan sendirian. Apa kamu takut dosa?. Tenang saja, bukankah kita sudah menikah jadi sudah halal bila bersentuhan bahkan jika melakukan lebih dari bergandengan tangan pun diperbolehkan"
"Dibanding dengan takut dosa berada didekat kakak lebih menakutkan" balas Keyra.
"Kenapa?. Memangnya aku menyeramkan?" tanya Daniel menghentikan langkah Keyra. Menuntut jawaban dengan segera. Bagaimana mungkin wajah tampannya menakutkan bagi Keyra.
"Tidak, hanya saja aku bisa mati muda karena kesal" elak Keyra.
Pada kenyataannya dia bisa mati muda karena terkena penyakit jantung tapi tidak mungkin Keyra mengatakan hal itu pada Daniel. Dimana harga dirinya jika mengakui kalau dia menyukai Daniel. Baik dulu maupun sekarang perasaan itu ternyata tidak berubah meski banyak waktu yang telah terlewati. Lagipula Keyra tidak berharap cinta bertepuk sebelah tangannya mendapatkan balasan. Dia cukup tahu diri siapa seorang Daniel baginya dan siapa dirinya bagi seorang Daniel. Karena itu memilih untuk memendam perasaannya adalah pilihan yang terbaik.
"Hahaha... Mana ada orang yang mati karena kesal Key. Kamu bisa bercanda juga ternyata" balas Daniel tertawa dengan memegangi perutnya.
"Siapa yang bercanda, aku serius Kakak benar-benar menyebalkan. Aku baru tahu jika Kakak bisa usil dan banyak bicara seperti ini" ujar Keyra.
"Jangankan kamu, aku juga baru tahu kalau aku bisa seperti ini pada orang lain. Maksudku kita baru bertemu dan aku sendiri jujur sangat terkejut dengan sikapku sendiri" jawab Daniel membenarkan.
"Dan tentang mengusili kamu aku memang orang yang suka usil. Risya dan Kak Rafa sering menjadi korbanku. Berbeda dengan Risya yang akan berakhir menangis dan mengadu pada papa, kak Rafa justru bisa selalu menjawab ucapanku. Seperti kamu yang lakukan terus menjawab meski kamu berakhir dengan kekalahan. Biasanya bila mengusili kak Rafa dengan kata-kataku kak Rafa selalu berhasil membalasnya. Aku yang akan kalah jika usil padanya" terang Daniel.
"Satu lagi tentang banyak bicara, hanya terkadang saja. Kupikir mungkin aku akan banyak bicara jika keadaannya seperti sedang mengusili kamu dengan perkataanku kemudian kamu menjawabnya dan aku kembali membalasnya. Jika tidak seperti itu jujur aku tidak tahu harus bicara apa" jujur Daniel memberithau keadaannya.
Seorang introvert sepertinya menyukai ketenangan dan keadaan yang sepi. Biasanya Daniel dengan sengaja menarik diri dan tidak suka terlibat banyak obrolan dengan orang-orang yang dianggap tidak penting dalam hidupnya. Hanya Keluarga intinya yang bisa berinteraksi dengan normal padanya. Diluar itu pasti selalu diabaikan oleh Daniel termasuk para rekan bisnisnya yang kebanyakan dari mereka hanya menjilat. Kalaupun ada kepentingan entah pekerjaan ataupun urusan pribadi Daniel lebih suka berbicara langsung pada intinya. Tidak berbelit-belit dan juga tidak perlu basa-basi.
Berusaha berinteraksi dengan Keyra merupakan tantangan yang besar untuk Daniel. Dia yang selama ini pendiam dituntut sebagai pihak yang dominan dalam komunikasi diantara mereka. Beruntung sikap usilnya melalui perkataan bisa ditanggapi oleh Keyra. Kalau tidak jujur saja Daniel tidak tahu bagaimana membangun komunikasi diantara mereka. Keyra yang menutup diri ditambah Daniel yang pendiam dan acuh ternyata berinteraksi dengan baik meski tidak seperti interaksi orang-orang pada umumnya.
"Jadi perkataan usil Kakak hanya agar bisa berbicara denganku?" tanya Keyra memperjelas.
"Iya" jawab Daniel mengangguk pasti.
"Baiklah kalau begitu aku akan memaafkan setiap perkataan usil Kakak. Meski mungkin akan kesal pada awalnya tapi aku akan memaafkan Kakak setelah kekesalanku reda" ujar Keyra.
__ADS_1
"Terima kasih atas perhatiannya kalau begitu" ucap Daniel.