Tuan Daniel Secret Wife

Tuan Daniel Secret Wife
TDSW 5. Kesepakatan Pernikahan


__ADS_3

Keyra langsung membatu ditempatnya. Tangannya menggenggam erat ponsel yang memang masih berada dalam genggamannya, pikiran buruk mulai menguasai kepala Keyra.


Tersenyum getir kala mendengar kalimat yang baru saja keluar dari mulut Daniel. Bodohnya dia sempat berpikir untuk mencoba menjalani pernikahan ini. Memangnya siapa dirinya?.


Keyra marah?, tentu tidak karena pada dasarnya dia tidak memiliki hak untuk melakukan hal itu. Hanya saja Keyra merasa kecewa, hatinya selancang itu bisa merasa kecewa pada pria sempurna seperti Daniel.


Sebelumnya Keyra sudah berpikir keras mengenai pernikahan dadakan ini. Dan setelah pergulatan yang batin cukup lama akhirnya dia dengan berani mengambil keputusan untuk mencoba menjalani pernikahan ini. Sayangnya kenyataan tidak sejalan dengan apa yang dipikirkannya. Hanya Keyra yang ingin mencoba tidak dengan Daniel yang baru saja mengatakan agar pernikahan mereka dirahasiakan.


Dirahasiakan?. Ya tentu saja, seorang Daniel mana mungkin bisa dengan suka rela menerima pernikahan ini apalagi dengan wanita upik abu sepertinya.


Keyra, Keyra, kamu terlalu berpikir jauh. Sudah tahu pria itu sulit digapai dan dengan lancang kamu ingin mencoba, batin Keyra tertawa miris.


"Aku punya beberapa urusan yang harus kuselesaikan dulu. Setelah itu jika kamu tidak keberatan kita bisa mempublikasikannya" lanjut Daniel lagi melihat Keyra yang hanya terdiam.


Keputusan memilih merahasiakan pernikahan dadakan mereka dari keluarganya sudah Daniel pikikan dengan matang. Daniel sedang berada dalam fase rumit dan karena itu lebih baik Daniel bungkam. Banyak hal yang mendasari keputusan Daniel salah satunya kenyamanan Keyra dan juga mempertimbangkan keluarganya. Daniel kebingungan sendiri memikirkan tanggapan orang tuanya mengenai pernikahan dadakan yang baru saja dilakukannya. Sang mama pasti akan sangat murka jika mengetahui masalah ini. Ditambah lagi bila keluarga besarnya tahu mengenai pernikahan dadakannya Keyra pasti akan mendapatkan banyak tekanan. Daniel menebak sebelum memantapkan hati mengenai pernikahan ini Keyra mungkin akan lebih memilih untuk mundur. Wanita itu pasti akan mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari beberapa anggota keluarganya, seperti yang terjadi pada ipar Daniel dulunya.


Wajar saja, pernikahan dadakan yang mereka jalani tentu akan banyak sekali menimbulkan kontroversi. Terlebih dengan status Keyra yang akan dianggap tidak sederajat dengannya layaknya istri kakaknya dulu. Bahkan sang kakak dengan istrinya pernah harus terpisah untuk beberapa tahun karena sebuah kesalahpahaman yang ditimbulkan oleh salah satu anggota keluarganya. Tapi hal baiknya adalah sepertinya hanya pernikahan sang kakak dan kakak iparnya saja yang berjalan normal. Berbeda dengan Daniel ataupun adik kesayangannya Risya yang harus menikah dalam keadaan yang rumit.


Pernikahan dadakannya dengan Keyra tentu tidak lepas dari sebuah drama, mereka akan melewati banyak rintangan karena itu Daniel membutuhkan perencanaan yang matang. Untuk sementara ini menurutnya keputusan merahasiakan pernikahan mereka adalah pilihan yang terbaik.


Daniel akan mencoba memberikan pengertian pada keluarganya tentang pernikahannya dengan Keyra secara perlahan sembari menetapkan hatinya. Bagaimana dia akan mengungkapkan pernikahan mereka sementara dirinya dan juga Keyra belum yakin dan menetapkan hati. Daniel ataupun Keyra belum membuat keputusan tentang pernikahan dadakan ini.


Sebenarnya Keluarga Wijaya sangat membenci yang namanya perceraian. Tapi meski begitu bila perceraian yang menjadi jalan satu-satunya pilihan yang terbaik siapa yang bisa melarang. Keluarganya sekalipun tidak memiliki hak untuk hal itu. Daniel yakin perlahan keluarganya akan mengerti dan tidak akan memaksa mempertahankan sesuatu yang memang pada dasarnya tidak ditakdirkan untuknya.


"Terserah Kakak" jawab Keyra dengan hati yang kacau. Lagipula siapa dirinya bisa mengajukan keberatan atas keputusan Daniel.


Atensi Keyra kembali fokus pada ponselnya, wanita itu sedang berusaha menutupi rasa kecewanya. Menyibukkan diri dengan ponselnya agar Daniel tidak menyadari kekecewaannya.


"Kamu keberatan?" tanya Daniel ragu.


"Tidak, mungkin itu memang lebih baik" jawab Keyra berusaha acuh tak acuh.


Daniel kehilangan kata-kata untuk berinteraksi lebih banyak dengan Keyra. Istrinya itu hanya membalas ucapannya dengan seadanya, terlihat enggan berbincang lebih banyak lagi dengannya. Keyra yang sekarang berada dihadapannya sepertinya menutup diri dari orang luar. Ya orang luar termasuk dirinya yang meski berstatuskan suami Keyra tapi pada dasarnya Daniel yakin dia hanya orang asing bagi Keyra.


Daniel merogoh sakunya, mengambil benda yang sudah disiapkannya untuk diberikan pada Keyra.


"Ini" ucap Daniel menyodorkan sebuah black card miliknya pada Keyra. Sudah menjadi tanggung jawabnya sekarang untuk menafkahi Keyra sebagai istrinya.


Meski pernikahan mereka sangatlah mendadak tapi Daniel pasti tidak akan lepas tanggung jawab begitu saja. Sekarang ini statusnya sudah menjadi seorang suami. Ya, suami dari Keyra Dinata. Daniel tidak ingin menjadi seorang pria brengsek yang akan menambah daftar dosanya dengan mengabaikan kewajibannya pada Keyra. Kedua orang tua Daniel selalu mengajarkan bahkan sangat menegaskan untuk tidak menyakiti seorang wanita. Tapi sepertinya saat ini Daniel sudah melakukannya tanpa sengaja. Dia akan memohon ampun dan mengucapkan kata maaf sebanyak mungkin karena telah mengecewakan kedua orang tuanya.


"Ini tanggung jawabku Key, kamu bisa menggunakannya untuk apapun. Aku mohon terima ya" tambah Daniel melihat Keyra yang tidak berminat menerima uluran tangannya.


Sesaat Keyra hanya menatap datar black card yang diulurkan Daniel padanya tanpa berniat menerimanya.


"Apapun?. Apa bisa untuk membeli sebuah rumah?" Keyra terkekeh sendiri dengan ucapannya.


"Tentu, jika kamu menginginkannya" jawab Daniel menanggapi dengan serius.


"Lupakan saja ucapanku tadi" ujar Keyra tidak percaya dengan jawaban Daniel atas kalimatnya.


Ya, tentu saja mudah bagi seorang Daniel mengatakan hal seperti tadi. Secara kekayaan pria itu mungkin tidak akan habis selama tujuh turunan. Ditambah lagi dengan kekayaan yang dimiliki keluarganya. Daniel sebagai tuan muda kedua pastinya akan mendapatkan warisan yang tak terhitung jumlahnya.


"Tidak, aku serius mengatakannya. Kamu bisa membeli rumah atau apapun jika memang menginginkannya. Hanya saja jika bisa katakan lebih dulu padaku agar aku segera mengkonfirmasinya pada pihak bank. Bagaimanapun kartu ini terdaftar atas namaku dan pihak bank mungkin akan curiga bila terjadi transaksi yang besar menggunakan kartu ini. Selama ini aku jarang sekali menggunakannya. Karenanya untuk menghindari hal yang tidak diinginkan jangan sungkan untuk memberitahuku apapun. Bila nanti kamu memiliki waktu luang kita bisa membuat beberapa kartu atas namamu agar kamu bebas menggunakannya. Kapanpun tidak masalah, untuk sementara ini kamu gunakan ini dulu ya" terang Daniel panjang lebar, berharap Keyra segera menyambut uluran tangannya. Jujur saja kini tanganya mulai pegal berada dalam posisi seperti itu.


"Apa Kakak tidak takut bila nanti aku akan menghabiskan uang Kakak?" tanya Keyra mencoba menakut-nakuti suaminya.


"Aku tidak keberatan jika kamu yang melakukannya. Kamu istriku dan semua yang aku miliki akan menjadi milikmu juga mulai sekarang" jawaban Daniel membuat hati Keyra menghangat, sayangnya itu terjadi hanya sesaat. Keyra langsung diingatkan tentang permintaan Daniel yang menginginkan pernikahan mereka dirahasiakan.


Oh ayolah Key, jangan jatuh pada pesona pria hebat ini. Kamu tidak akan bisa menggapainya, Keyra kembali memperingati dirinya sendiri.


Keyra akhirnya memutuskan untuk menerima kartu sakti itu. Yang terpenting dia sudah menerimanya. Masalah akan digunakan ataupun tidak itu terserah padanya nanti. Jika dia terus menolak Keyra yakin Daniel juga pasti akan terus memaksanya menerima. Sementara saat ini Keyra sedang malas berbicara banyak. Moodnya sedang tidak dalam keadaan baik.


"Besok kamu bekerja?" tanya Daniel. Mengingat pernikahan mereka yang terjadi secara dadakan tidak mungkin Keyra mengambil cuti.


"Iya" jawab Keyra.


"Besok berangkat bersamaku ya. Lagipula mobil kamu masih di apartemen kan?. Biar aku yang mengantarkan kamu ke kantor besok" tawar Daniel dengan sangat tulus.


"Tidak perlu, lagipula kantor kita tidak searah. Akan sangat merepotkan jika Kakak harus bolak-balik. Aku bisa menggunakan taksi dan saat pulang akan kembali ke apartemen untuk mengambil mobilku" tolak Keyra tanpa menatap pada Daniel.


"Tidak masalah dan tidak merepotkan. Kita hanya perlu berangkat lebih cepat" jawab Daniel.


"Bukankah Kakak bilang pernikahan ini harus dirahasiakan?. Jadi akan lebih baik jika kita bersikap tidak saling mengenal saat diluar agar tidak ada yang curiga" ucap Keyra ingin cepat mengakhiri pembicaraan mereka. Dia mulai emosional dalam pembicaraan ini.


"Bukan begitu, aku..." Daniel menggaruk tengkuknya bingung.


Apa dirinya sudah salah bicara tadi, pikir Daniel.


Keyra tidak ingin mendengar apapun lagi yang keluar dari mulut suaminya. Wanita itu bangkit dari duduknya berlalu ke kamar mandi untuk menghindari Daniel dan agar tidak ada lagi interaksi antara mereka. Keyra hampir saja meneteskan air matanya dihadapan Daniel.


Didalam kamar mandi Keyra menghidupkan keran, membasahi wajahnya berharap dirinya bisa merasa lebih tenang. Menghela napas panjang mencoba menormalkan emosinya tapi sepertinya Keyra tidak berhasil. Hatinya sudah terlanjur kesal dan entah mengapa sekarang ini dia ingin sekali menangis.


"Ayah, Keyra rindu" gumam Keyra, terdengar begitu memilukan.


Keyra benar-benar merindukan sosok hebat itu. Biasanya sang ayah yang akan selalu memberikan pelukan ketika hatinya sedang tidak baik-baik saja seperti sekarang ini. Terus berusaha menenangkan dan menghibur Keyra hingga merasa lebih baik.


"Keyra hanya sendirian. Kenapa ayah ninggalin Keyra sendiri yah?"


"Ayah bilang Keyra bisa tapi lihat ayah, nyatanya Keyra tidak bisa apa-apa tanpa ayah. Ayah bilang Keyra kuat tapi lihat sekarang, Keyra menangis dan hanya sendirian. Tidak ada ayah yang akan menenangkan Keyra, tidak ada lagi ayah yang memberikan pelukan hangat untuk Keyra. Keyra benar-benar sendirian"


"Hanya ayah yang Keyra punya" lirih Keyra dalam tangisnya.


Keyra terus menumpahkan tangisnya berharap setelahnya perasaannya bisa lebih tenang dan kembali bersikap datar seperti tidak terjadi apapun. Dia tidak ingin menunjukkan sisi lemahnya pada siapapun.


"Datang kemimpi Keyra saat tidur nanti ya" mohon Keyra. Saat ini dia benar-benar membutuhkan pelukan ayahnya walau hanya dalam mimpinya saja.


"Bantu Keyra ya yah. Keyra benar-benar lelah tapi Keyra tahu ayah tidak akan menyukai Keyra yang lemah. Keyra masih harus mewujudkan rumah impian kita"


Inilah Keyra yang sebenarnya, rapuh dan mudah patah. Sikap datarnya hanya untuk menutupi pada orang-orang disekitarnya jika dia bukan wanita yang lemah. Keyra juga tidak ingin mendapatkan pengasihanan dari orang-orang sekelingnya. Dia sangat tidak menyukai hal itu.


"Keyra pernah dengar kalimat ini ayah. Katanya akan ada saat dimana kita merindukan seseorang hingga terbawa mimpi. Kemudian saat kita terbangun kita mengharapkan pelukan yang nyata dari orang itu tapi tidak bisa. Itu yang Keyra rasakan setiap bangun tidur setelah memimpikan ayah. Tapi tidak masalah ayah, selama Keyra bisa melihat ayah meski hanya dalam mimpi itu jauh lebih baik daripada tidak sama sekali. Jadi temui Keyra saat tidur nanti ya yah dan tunggu Keyra" gumam Keyra pilu.


Saat pikirannya kacau, Keyra akan seperti ini, menangis sendirian dan terus menggumamkan sang ayah. Sangat berat menjalani hidup sendirian dan Keyra harus bertahan dengan hidupnya. Keyra masih harus membuktikan pada ayahnya jika dia akan menjadi arsitek yang hebat seperti permintaan sang ayah dulu. Keyra juga belum merealisasikan impian sang ayah yang ingin membuat rumah berdasarkan desain yang telah dibuat oleh ayahnya. Mungkin bisa dibilang semangat hidup Keyra sekarang hanya untuk mengabulkan keinginan ayahnya. Tidak dengan yang lainnya, semua harapan Keyra sudah lenyap bersamaan dengan hancurnya keluarganya dulu.


Puas menumpahkan tangisnya, Keyra menatap dirinya dipantulkan cermin, memperbaiki penampilannya dan kembali memasang wajah datarnya.


"Kamu pasti bisa Key, sedikit lagi" guman Keyra memberikan semangat pada dirinya sendiri.


Keyra membuka pintu kamar mandi dan kebetulan bersamaan dengan Daniel yang membuka pintu kamar mereka. Tadinya saat keyra berlalu ke kamar mandi pesanan makanan yang dipesan Daniel sampai. Daniel turun mengambil pesanannya dan sekarang dia berniat memanggil Keyra untuk makan bersama.


"Ayo kita makan Key, pesanannya sudah sampai" ujar Daniel dengan lembut. Pria itu memperhatikan Keyra dengan intens.


"Hm" balas Keyra dingin, sepertinya perasaan Keyra belum sepenuhnya tenang.


Daniel tidak lagi mengeluarkan suaranya. Dia sadar mood sang istri tengah tidak baik. Akan lebih baik dirinya diam daripada nanti ucapannya bisa kembali menyinggung Keyra dan berakhir dengan hubungan mereka yang semakin canggung.


Keduanya makan dengan penuh keheningan. Daniel tidak membuka suara, pun dengan Keyra yang hanya fokus pada makanan yang terhidang di piringnya.


Daniel tahu, cukup sulit berkomunikasi dengan sang istri karena Keyra selalu menjawab dengan seadanya. Kadang terlihat sekali Keyra menghindari banyak percakapan diantara mereka. Sekarang Daniel merasa telah salah mengambil langkah. Keyra sepertinya sudah salah paham padanya. Tapi untuk saat ini Daniel tidak bisa memberikan penjelasan karena sejujurnya dia sendiri tidak tahu harus melakukan apa dalam situasi ini.


Sesekali tatapan Daniel jatuh pada Keyra yang tetap fokus dengan makanannya. Istrinya itu juga terlihat tidak terlalu berselera dengan makanannya.


"Kamu tidak suka dengan makanannya Key?. Kalau tidak suka kita bisa memesan makanan lain" tawar Daniel melihat Keyra makan dengan malas malasan.


"Tidak, aku hanya tidak terlalu lapar" jawab Keyra.


Lagi-lagi jawaban Keyra membuat Daniel kehilangan kata-katanya. Pria itu terlihat menghela napas. Dia harus menyiapkan kesabaran ekstra untuk berhadapan dengan istri dadakannya itu.


"Kamu terganggu karena aku makan disini?"


Hal itu mungkin saja bukan. Keyra tidak terbiasa makan dengan orang asing dan Daniel termasuk asing bagi Keyra.


"Tidak perlu dipikirkan, Kakak lanjutan saja makannya. Jika sudah selesai letakkan saja piringnya biar aku yang akan membersihkannya nanti"


Setelah mengucapkan itu Keyra bangkit berdiri, berjalan membawa piringnya ke wastafel pencuci piring di dapur. Mulai membersihkannya kemudian tanpa sepatah katapun melangkah kembali ke kamar. Mungkin sangat tidak sopan meninggalkan Daniel sebelum menyelesaikan makanannya tapi bagi Keyra akan lebih tidak nyaman lagi jika dia lebih lama disana. Tidak menutup kemungkinan dia akan melampiaskan keresahan hatinya dengan bersikap ketus dan Daniel yang akan menjadi korbannya.


Didalam kamar Keyra mengambil laptop miliknya ditempat yang ditunjukkan oleh Daniel sebelumnya. Ya pria itu mengangkut barangnya meski belum semuanya tapi sepertinya Daniel cukup paham jika laptop adalah barang yang sering digunakan oleh Keyra. Bisa dikatakan benda itu menjadi kebutuhan primer Keyra karena tuntutan pekerjaannya. Daniel sebelumnya sudah memerintahkan bik Narsih untuk merapikan barang-barang milik Keyra sebelum mereka sampai di penthouse ini. Keyra tidak mengajukan protes karena tadinya dia berpikir akan mencoba menjalani semuanya. Dan sepertinya sekarang Keyra harus menyiapkan rencana lain.


"Hehh kamu bermimpi terlalu jauh Keyra" gumam Keyra menertawakan kebodohannya.


Pada dasarnya sebuah hubungan terjalin karena kesiapan dua orang. Keyra terlalu percaya diri hingga menganggap Daniel akan berpikir sama sepertinya. Dia pikir Daniel juga ingin mencoba menjalani pernikahan ini tapi kenyataannya tidak seperti itu. Daniel menginginkan pernikahan mereka dirahasiakan yang diartikan oleh Keyra jika pria itu malu memiliki istri seperti dirinya.


Daniel yang ditinggal begitu saja juga kehilangan selera makannya. Saat Keyra bangkit dari meja makan Daniel hanya menatap kemana punggung wanita itu berjalan. Rasanya susah sekali untuk mendekatkan diri pada Keyra. Jika terus seperti ini bagaimana mereka akan nyaman tinggal di bawah atap yang sama bahkan dalam satu kamar yang sama.


Setelah cukup lama berdiam diri di meja makan dan memberikan waktu pada Keyra untuk menenangkan dirinya Daniel perlahan bangkit. Waktu sudah hampir magrib dan Daniel harus bersiap untuk melaksanakan kewajibannya.


"Tidak masalah jika aku masuk bukan?" tanya Daniel pada dirinya sendiri. Pria itu merasa serba salah, dia tidak bisa berlaku seenaknya meski penthouse ini adalah miliknya.


Dengan langkah ragu, Daniel tetap menguatkan tekadnya masuk kedalam kamar dan mengajak Keyra shalat bersama. Bukankah sekarang suka ataupun tidak suka, mau atau tidak mau dia telah menjadi iman untuk Keyra. Daniel harus bisa menghadapinya.


Tok... tok..., Daniel mengetuk pintu tapi tidak mendapatkan sahutan apapun dari dalam. Dia memberanikan diri menekan handle pintu dan mendorongnya hingga terbuka. Gerakannya sangat berhati-hati berharap Keyra tidak merasa terganggu dengan kedatangannya.


Siluet Daniel memindai isi kamar, mencari keberadaan sang istri. Pria tiga puluh empat tahun itu bernapas lega karena ternyata sang istri berada didalam kamar mandi. Hal itu dibuktikan dengan terdengarnya suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Daniel memutuskan untuk duduk sembari menunggu Keyra selesai.


"Sudah selesai?" ujar Daniel lembut ketika Keyra keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


"Sudah" jawab Keyra menganguk. Seharusnya tidak perlu bertanya lagi, dengan keluarnya Keyra dari kamar mandi bukankah mengartikan jika dirinya sudah selesai.


"Key" panggil Daniel saat keyra hendak berlalu menjauh dati hadapannya.


"Iya?" jawab Keyra sedikit terkejut.


"Boleh aku mengimami kamu?" pinta Daniel dengan tatapan penuh harap Keyra akan memberikan izin.


Keyra terdiam mematung ditempatnya, tidak menyangka pertanyaan itu akan keluar dari mulut Daniel.


"Ya tentu" jawab Keyra gugup.


Ini kali pertama Keyra diimami oleh pria asing dengan posisi hanya ada mereka berdua saja. Dulu kala sang ayah masih hidup, ayahnya selalu menjadi iman untuk Keyra. Sudah lama sekali, bahkan Keyra sudah hampir melupakan detail saat ada yang mengimaminya.


"Terima kasih Key, tunggu sebentar aku wudhu dulu" ucap Daniel tersenyum, dengan langkah cepat masuk kedalam kamar mandi. Tadinya dia sempat berpikir Keyra akan menolaknya tapi ternyata Keyra memberikan izin padanya.


Selesai berwudhu Daniel segera keluar dari kamar mandi, dia mendapati dua sajadah yang sudah terbentang dengan Keyra telah duduk menempati salah satunya. Daniel berjalan mendekat, berdiri tepat pada sajadah yang telah disiapkan oleh Keyra untuknya tanpa banyak bicara.


Pasangan suami istri dadakan itu kemudian melaksanakan shalat dengan khusyuk. Seperti permintaan Daniel sebelumnya dia mengimami Keyra dan sekarang dia sedang berdiri didepan Keyra sebagai iman untuk istrinya.


Keduanya menyelesaikan rukun shalat tanpa hambatan. Kini keduanya tengah menadahkan tangan, berdoa memasrahkan diri kepada sang pencipta tentang takdir mereka. Selesai beroda Keyra bergerak maju, mengulurkan tangannya meminta tangan sang suami agar dia bisa mencium punggung tangan kekar itu.


Daniel cukup terkejut dengan tindakan Keyra yang sangat tidak disangkanya. Dengan gugup pria itu mengulurkan tangannya pada Keyra.


Muncul rasa yang berbeda bagi keduanya, ini bukan pertama kali Keyra mencium tangan Daniel setelah menjadi suaminya. Dia sudah melakukan itu sesaat setelah ijab kabul mereka selesai. Meski saat itu memang jantungnya berdegup kencang tapi sekarang ini jantungnya berdetak lebih kacau dari saat itu. Deru napas Keyra bahkan mulai tak beraturan karena terlalu gugup.


Tanpa berkata apapun Keyra bangkit, merapikan sajadah dan mukenanya kemudian berlalu dari hadapan Daniel. Menghindar adalah jalan ninjanya agar Daniel tidak menangkap kejanggalan dari dirinya. Bisa gawat jika Daniel tahu saat ini hati Keyra sedang bergetar hebat karena berhadapan dengan pria itu.


Berbeda dengan Keyra yang kabur, Daniel terpaku ditempatnya. Menatap punggung tangannya yang baru saja dicium oleh Keyra. Sungguh rasanya sangat aneh. Daniel sudah beberapa kali menjadi iman saat di rumah seperti ini, tentunya saat sedang bersama keluarganya. Tapi biasanya setelah shalat seperti ini, hanya Risya, Rayna dan Ruby yang pernah melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Keyra sebelumnya. Tapi saat itu reaksi Daniel biasa saja, tidak ada getaran aneh seperti sekarang ini.


Drrttt... Drrttt... getaran ponsel Daniel menyentak pria itu dari lamunannya. Daniel bangkit merapikan sajadah yang tadi digunakannya kemudian bergegas melihat ponselnya. Bermaksud melihat siapa gerangan yang menghubunginya diwaktu magrib seperti ini, yang Daniel yakini pasti keluarga atau teman dekatnya. Benar saja, saat mengambil ponselnya nama My Queen yang tertera disana.


"Assalamualaikum Ma" ucap Daniel setelah menerima panggilan dari sang mama.


"Wa'alakumussalam sayang. Kamu masih di desa Winara itu?" tanya sang Mama dari balik telepon.


"Tidak Ma, Daniel sudah pulang sore tadi baru sampai. Maaf Daniel lupa memberi kabar pada Mama dan papa" balas Daniel berbicara dengan penuh kelembutan.


"Kenapa tiba-tiba pulang lebih cepat?" selidik sang mama, terdengar sekali nada khawatir dari cara bicara nyonya Maya.


"Ada pekerjaan yang harus Daniel selesaikan disini. Lagipula ada Alex yang tinggal disana untuk menangani proyek desa Winara itu" jelas Daniel.


"Apa semuanya baik-baik saja?, Tidak tahu kenapa perasaan Mama terus gelisah" tutur nyonya Maya menyampaikan tujuannya melakukan panggilan ini.


"Daniel baik-baik saja Ma, jangan khawatir" jawab Daniel dengan sudut bibir terangkat. Sungguh pertanyaan sang mama sangat mengharukan, seperti mengerti keadaan Daniel saat ini.


"Syukurlah kalau begitu, besok sarapan di mansion. Meski kamu mengatakan baik-baik saja Mama tetap harus memastikan sendiri jika putra Mama memang baik-baik saja. Kamu pasti ingat perjanjiannya bukan?. Atau kamu mau Mama yang datang kesana?" tanya nyonya maya yang membuat Daniel gelagapan.


Daniel tahu ucapan cinta pertamanya itu tidak main-main. Bila besok dia tidak menampakkan diri pada sang mama maka sudah dapat dipastikan mamanya itu yang akan menghampirinya. Mungkin dulu tidak masalah tapi bagaimana dengan sekarang?. Bagaimana jika nyonya Maya datang ke penthouse miliknya dan bertemu Keyra disini. Sungguh Daniel tidak bisa menjamin semuanya masih akan baik-baik saja jika hal itu sampai terjadi. Pilihan yang terbaik memang dia harus menuruti keinginan sang mama. Dia yang harus datang ke mansion untuk menemui keluarganya.


"Biar Daniel saja yang pulang besok. Daniel tidak mau suami Mama uring-uringan karena istri tercintanya lebih memilih sarapan diluar. Papa mungkin tidak bisa menelan sarapannya jika Mama tidak ada disampingnya" jawab Daniel dengan membawa nama sang papa.


"Papa disini Niel" terdengar suara tuan Raihan yang menginterupsi Daniel. Pria paruh baya itu kesal dan tidak terima atas ucapan Daniel meski apa yang diucapkan oleh Daniel adalah kenyataan.


"Ah Papa ternyata mendengarnya" balas Daniel menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Sepertinya Mama akan sibuk membujuk Papa yang sedang merajuk itu. Kalau begitu Daniel tutup panggilannya ya. Jangan khawatir Daniel benar-benar baik-baik saja dan Daniel pasti kan pulang besok" ucap Daniel tidak berniat meminta maaf pada tuan Raihan.


"Kamu benar, Papa memang sedang merajuk" timpal nyonya Maya.


"Maa" protes tuan Raihan.


"Mama tunggu kedatangan kamu besok pagi" ujar nyonya Maya pada Daniel dengan nada tidak bisa dibantah.


"Siap My Queen. Kalau begitu Daniel tutup panggilannya. Assalamualaikum, i love you Ma, Pa" ucap Daniel.


"Wa'alakumussalam, love you too sayang" jawab nyonya Maya.


"Papa tidak ingin mengatakan sesuatu pada Daniel?" ujar nyonya Maya pada tuan Raihan yang hanya mengabaikan ungkapan sayang dari Daniel.


"Ingat jaga kesehatan" ucap tuan Raihan dengan nada datar.


"Iya Pa, bye"


Daniel kemudian menutup panggilannya, netranya melirik sang istri yang tidak menoleh sedikitpun dan hanya fokus pada laptop miliknya.


Apa Keyra sangat sibuk?, tanya Daniel dalam hatinya.


Bagaimana cara dia mengatakan jika besok akan sarapan di mansion orang tuanya. Apa Keyra mendengar percakapannya tadi?. Sepertinya tidak, jarak mereka cukup jauh dan Keyra juga sibuk dengan pekerjaannya.


"Emm itu Keyra mau keluar sebentar" jawab Keyra gugup. Meski sudah berulang kali mengingatkan dirinya dirinya agar tidak jatuh pada pesona Daniel nyatanya Keyra tidak mampu. Logikanya menerima tapi tidak dengan hatinya. Hanya berbicara dengan Daniel saja kinerja jantungnya berdetak tidak normal dan Keyra sangat kesulitan untuk mengendalikannya.


"Aku antar ya. Ini sudah malam tidak baik seorang wanita keluar sendirian" tawar Daniel terlihat khawatir. Ingin sekali dia melarang Keyra pergi tapi Daniel takut Keyra malah berpikir dia mengekang wanita itu.


"Tidak perlu Kak, hanya sebentar saja" tolak Keyra.


"Tapi ini sudah malam Key. Bahaya bila seorang wanita keluar malam-malam begini. Apa urusan kamu tidak bisa ditunda sampai besok?" Keyra langsung menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu aku antar dan aku tidak menerima penolakan" kukuh Daniel memaksa.


Keyra menghela napas, dia baru tahu bila Daniel bisa menjadi seorang pemaksa seperti ini.


"Apa Kakak mesin cetak?" tanya Keyra tidak menanggapi pemaksaan Daniel. Lebih baik dia mengutarakan maksudnya yang mengharuskan keluar malam-malam begini.


"Mesin cetak?, tentu saja punya. Ada di ruang kerjaku, kamu membutuhkannya?" tanya Daniel dan Keyra mengangguk mengiyakan.


"Boleh aku menggunakannya sebentar?"


"Tentu, ayo aku temani" jawab Daniel yakin.


"Memangnya kamu mengerjakan apa. Kenapa harus di cetak malam-malam begini?" tanya Daniel sembari berjalan menuntun Keyra menuju ruang kerjanya.


"Bukan tentang pekerjaan" balas Keyra menggelengkan kepalanya.


"Lalu?" selidik Daniel ingin tahu.


"Aku membuat sebuah kesepakatan" jawab Keyra dengan kepala tertunduk.


"Kesepakatan?" Daniel mengerutkan keningnya bingung, menatap Keyra dengan tatapan tanya.


Keyra memberanikan diri mendonggak, menatap netra hitam milik suaminya dengan intens. Sesaat dia ragu ingin menyampaikan maksud dari kesepakatan yang dibuatnya.


"Ya kesepakatan pernikahan"


Daniel langsung menghentikan langkahnya, membatu ditempat mendengar jawaban Keyra.


Apa maksudnya kesepakatan pernikahan?.


"Keyra dengar ucapan kepala desa Winara waktu itu. Kita sama-sama tahu pernikahan ini dilakukan secara mendadak. Aku ataupun Kakak tidak pernah menduganya. Kakak pasti punya rencana masa depan sendiri dan akupun begitu. Mungkin untuk sekarang ini kita tidak bisa berpisah setidaknya sampai proyek di desa Winara itu selesai. Atau beberapa waktu setelahnya agar warga desa itu tidak curiga. Aku pikir kita harus membuat kesepakatan tentang pernikahan ini"


"Ini" Keyra menyodorkan ponselnya memperlihatkan pada Daniel kesepakatan pernikahan yang sebelumnya telah dirangkainya.


"Aku sudah membuat beberapa poin yang aku inginkan. Kakak bisa menambahkan poin yang kakak inginkan dalam kesepakatan pernikahan ini" ujar Keyra menerangkan.


Daniel memandang tidak percaya dengan apa yang baru saja dijelaskan oleh Keyra. Tapi apa yang bisa dilakukannya ketika Keyra secara blak-blakan mengatakan jika mereka memiliki rencana masa depannya sendiri. Daniel seolah langsung diingatkan dengan kehidupannya sebelum bertemu dengan Keyra.


"Kamu menginginkan ini?" tanya Daniel setelah bungkam beberapa saat.


"Ya" jawab Keyra mengangguk pasti.


"Baiklah, mari kita mencetaknya lebih dulu" ujar Daniel setuju.


"Kakak tidak ingin menambahkan poin lain kesepakatan itu?"


"Tidak, aku pikir ini sudah cukup"


Menurut Daniel isi kesepakatan pernikahan yang dibuat oleh Keyra sudah dipertimbangkan wanita itu dengan cukup matang. Mungkin saja Keyra sudah memikirkan hal ini sesaat setelah akad yang dilafadzkannya selesai. Ya, Daniel rasa poin-poin yang berada dalam kesepakatan pernikahan itu sudah sesuai dengan keadaan mereka, dimana didalamnya tertera Keyra sebagai pihak pertama dan Daniel sebagai pihak kedua.


Poin 1. Pernikahan akan berlangsung selama dua tahun atau paling cepat ketika proyek resort desa Winara selesai. Dengan catatan pernikahan tetap bisa dilanjutkan bila diperlukan untuk kepentingan bersama dan kesepakatan bisa dirubah kapan saja tergantung pada situasi dan kondisi.


Poin 2. Pihak pertama dan pihak kedua tidak dibenarkan untuk ikut campur dalam urusan masing-masing terkecuali kedua belah pihak bersedia membagi masalahnya.


Poin 3. Pihak pertama berjanji tidak akan menuntut apapun ketika kesepakatan pernikahan selesai.


Poin 4. Hal-hal yang tidak disebutkan dalam perjanjian akan didiskusikan kembali bila memang dalam kesepakatan harus dilakukan perubahan.


Pasangan pengantin dadakan itu dengan cepat menyelesaikan masalah kesepakatan pernikahan yang telah dibuat oleh Keyra. Kini dalam kertas yang sudah tercetak itu telah tertera tanda tangan pihak pertama maupun pihak kedua. Keduanya sempat sama-sama ragu saat akan membubuhkan tanda tangan tapi kembali pada logika mereka. Kesepakatan ini mungkin adalah jalan yang terbaik sebagai rasa aman bagi mereka berdua termasuk Keyra sebagai pembuat kesepakatan.


***


Tidak ada percakapan apapun diantara Daniel dan Keyra. Terakhir pembicaraan mereka kala Daniel meminta kembali untuk menjadi imam Keyra saat shalat isya. Setelahnya Keyra kembali sibuk dengan laptop miliknya atau lebih tepatnya menyibukkan diri agar tidak terlibat obrolan apapun dengan sang suami. Menurut wanita itu lebih baik mereka seperti ini, tidak terlalu dekat agar Keyra bisa menjaga hatinya.


Keyra kembali menghindar, kali ini dia menyibukkan dirinya membuat desain baru yang mungkin saja berguna dimasa depan. Saat membuka laptop miliknya, Keyra tersenyum melihat wallpapernya yang menampilkan sang ayah dengan dirinya. Tangan mungilnya mengusap gambar sang ayah yang tersenyum lepas. Gambar itu diambil ketika sang ayah menemani dirinya mengambil penghargaan sebagai siswa terbaik saat di sekolah dulu. Tanpa terasa air mata Keyra kembali menetes dan dengan terburu-buru dia menghapusnya. Jangan sampai ada orang lain  yang melihatnya menangis.


Daniel yang merasa canggung akan situasi memilih keluar dari kamar. Dan lagi, pria itu tidak ingin menggangu kesibukan sang istri dan memutuskan untuk mengerjakan setumpuk berkas di ruang kerjanya.

__ADS_1


Keyra yang melihat suaminya berjalan keluar dari kamar tidak mengeluarkan sedikitpun suaranya untuk bertanya. Keyra hanya menatap punggung kekar itu hingga tak lagi tertangkap dalam pandangannya. Setelah memastikan Daniel benar-benar menghilang dari balik pintu baru Keyra menutup laptopnya, membaringkan tubuhnya dan bersiap untuk tidur.


Hari ini cukup melelahkan untuk melewatinya, Keyra hanya ingin beristirahat dengan cepat dan bangun esok hari mengulang kembali harinya, bekerja dan bekerja. Statusnya sebagai seorang istri saat ini tidak akan mengubah kesehariannya. Memangnya apa yang akan berubah?. Pernikahan dadakan, dirahasiakan dan baru saja Keyra membuat sebuah kesepakatan pernikahan. Apa yang harus diharapkan dari keadaan sekarang ini.


Di ruang kerja Daniel berusaha fokus pada pekerjaannya. Kesepakatan yang baru saja dia dan istrinya setujui cukup mengganggu pikirannya. Hanya saja Daniel tidak memiliki alasan untuk menahan Keyra agar tidak melakukannya. Daniel bisa melihat bagaimana yakinnya Keyra saat menginyakan pertanyaannya tentang keinginan Keyra atas kesepakatan itu. Pria itu juga cukup terusik dengan kalimat Keyra tentang mereka yang memiliki rencana masa depan masing-masing.


Hahh, sepertinya tidak akan mudah, batin Daniel.


"Keyra benar, aku ataupun dia memiliki rencana masa depan masing-masing" gumam Daniel.


Daniel kembali ke kamar pukul satu dini hari, berkutat dengan banyaknya berkas yang dikerjakan membuatnya tidak sadar jika hari sudah larut. Ditambah lagi pikirannya terbagi antara pekerjaan dan pernikahan dadakannya.


Pria tiga puluh empat tahun itu membuka pintu kamar dengan sangat hati-hati. Dia yakin sekarang ini Keyra pasti sudah tertidur. Dan benar saja, saat pintu terbuka Keyra terlihat sudan terlelap dibalik tumpukan selimut yang menutupi tubuh mungilnya. Daniel kini bingung, mempertanyakan pada dirinya sendiri tidak ada masalah bila dia dan Keyra tidur di ranjang yang sama.


"Aku harap kamu tidak marah besok" gumam Daniel kemudian naik ke ranjang berbaring tepat disebelah Keyra. Posisi keduanya dibatasi dengan sebuah guling yang berada ditengah-tengah ranjang.


Sebelumnya Keyra tidak mempermasalahkan Daniel berada didalam kamar itu yang Daniel artikan Keyra akan baik-baik saja jika mereka juga tidur di ranjang yang sama. Apapun yang terjadi esok hari biar dia menghadapinya besok. Saat ini Daniel sangat butuh membaringkan tubuhnya dan terlelap sebelum mengulang harinya besok.


***


Keesokan paginya Keyra membuka mata terlebih dahulu, hampir saja dia berteriak melihat Daniel berada di ranjang yang sama dengannya. Beruntung memori wanita itu kembali secepat kembalinya kesadarannya pagi ini. Keyra ingat pria yang terbaring disebelahnya ini telah menjadi suaminya.


Sejenak Keyra memandangi wajah suaminya yang terlihat sangat damai tidurnya. Daniel sangat tampan, Keyra saja yang secara sadar menutup diri bisa jatuh dalam pesona pria itu.


"Apa yang kamu lakukan Keyra?" gumam Keyra.


Keyra segera bangkit berdiri ketika menyadari tidak seharusnya dia melakukan hal seperti tadi. Sepertinya Keyra harus sangat berusaha keras menjaga hatinya selama pernikahan dadakan ini berlangsung.


"Baru sehari Key, jangan jatuh terlalu dalam" peringat Keyra bergumam.


Keyra melangkah masuk ke dalam kamar mandi, mulai membersihkan dirinya dan berwudhu untuk melaksanakan kewajiban subuhnya. Selesai dengan kegiatannya Keyra keluar dan mendapati Daniel masih terlelap dalam tidurnya.


Apa aku harus membangunkannya?, batin Keyra bertanya.


Wanita tiga puluh dua tahun itu berpikir keras, dilema perihal harus membangun Daniel atau tidak. Hingga akhirnya Keyra memutuskan untuk membangunkan suaminya itu agar mereka tidak terlambat melaksanakan kewajiban subuh pagi ini.


"Kak" panggil Keyra pelan.


Daniel terlihat tidak bergeming sedikitpun mendengar panggilan Keyra.


"Kak Daniel" panggil Keyra lebih kuat dari sebelumnya tapi lagi-lagi tidak mendapatkan respon dari Daniel.


Dengan terpaksa keyra mengikis jarak, menyentuh lengan suaminya dari balik selimut menghindari sentuhan secara langsung.


"Kak bangun" ucap Keyra sembari menggoyangkan lengan Daniel yang tertutupi dengan selimut.


Daniel melenguh pelan kemudian kembali tertidur.


"Apa dia memang tidur seperti ini, susah sekali membangunkannya. Tidur sudah seperti kerbau" gerutu Keyra dengan kesal.


"Kak, Kak Daniel bangun" panggil Keyra lagi dengan mengguncang lengan Daniel.


"Eungh" Daniel kembali melenguh, kali ini tidak lagi lagi menutup matanya. Pria itu menggeliatkan tubuhnya dan membuka mata. Sayangnya tanpa sengaja gerakan yang tujuannya meregangkan otot-ototnya itu menyentuh lengan Keyra yang masih berada didekatnya.


Keyra menarik napas panjang, dia harus kembali mengulang wudhunya.


"Maaf" ucap Daniel merasa bersalah melihat raut wajah kesal Keyra. Meski tidak tahu apa kesalahannya tapi pria itu memutuskan untuk meminta maaf.


"Bangun Kak, ini sudah hampir masuk waktu subuh" ucap Keyra kesal mengabaikan permintaan maaf suaminya. Keyra berbalik berniat akan mengulang kembali wudhunya yang telah batal karena sentuhan tangan Daniel.


"Kamu marah?. Maaf Key, aku tidak sengaja" Daniel segera bangkit dan dengan gerak cepat mengejar Keyra, berdiri tepat dihadapan istrinya untuk menghalangi Keyra yang akan melangkah.


"Maaf Key, aku benar-benar tidak sengaja" ucap Daniel tulus.


"Iya, sekarang minggir biarkan aku lewat" balas Keyra ketus.


"Kamu masih marah?" tanya Daniel tidak bergeser sedikitpun dari posisinya.


"Aku tidak marah, awas" tukas Keyra menyentak lengan Daniel, berusaha menyingkirkan pria itu dari hadapannya.


"Kamu marah, lihat saja kamu bicara ketus seperti itu" kukuh Daniel tetap menghalangi langkah Keyra.


"Aku akan benar-benar marah jika Kakak tidak bergeser sekarang" ancam Keyra dengan tatapan galak.


"Kenapa?" tanya Daniel.


Keyra mengerutkan keningnya, bingung maksud pertanyaan kenapa yang diajukan suami dadakannya itu.


"Kenapa kamu marah?" ulang Daniel kembali  memperjelas pertanyaannya.


"Aku tidak marah" balas Keyra berusaha tidak meledakkan amarahnya.


"Hanya kesal maksudnya" terang Daniel seperti membaca pikiran Keyra.


"Iya benar, aku kesal. Tadi aku sudah berwudhu dan sekarang harus kembali mengulanginya karena Kakak. Lagian... Ah sudahlah lagipula Kakak tidak sengaja melakukannya. Sekarang biarkan aku lewat sebelum aku benar-benar marah" ucap Keyra dengan satu tarikan napas. Rasanya kesalnya tak terbendung tapi dia juga berusaha agar tidak melampiaskannya secara berlebihan pada Daniel. Keyra tahu Daniel benar-benar tidak sengaja melakukannya.


"Aku minta maaf. Kalau kamu belum memaafkanku aku tidak akan bergeser" ucap Daniel dengan keras kepala.


"Iihh, iya iya aku maafkan, sekarang minggir" jawab Keyra dengan terpaksa.


"Kamu tidak ikhlas" tuntut Daniel semakin menguji kesabaran Keyra.


Hahh, Keyra kembali menghela napas panjang, berusaha menjaga emosinya agar tidak berteriak pada pria menyebalkan yang berdiri menghalangi jalannya itu.


"Saya sudah memaafkan Anda Tuan Daniel. Jadi sekarang dengan penuh kemuliaan hati Anda bisakah Anda sedikit bergeser dan memberikan saya jalan. Saya harus lewat dan Anda menghalangi jalan saya" ujar Keyra menampilkan senyuman terpaksanya.


Daniel menahan tawa melihat senyum terpaksa yang ditampilkan istrinya, sangat menggemaskan. Sungguh benar-benar menggemaskan hingga Daniel ingin kembali mengusilinya. Tapi pada akhirnya Daniel bergeser dan membiarkan Keyra lewat. Dia tidak ingin semakin menambah kekesalan Keyra yang mungkin bisa berakhir dengan sebuah ledakan amarah.


Sebenarnya saat Keyra terbangun dan bangkit dari tempat tidur, Daniel juga sudah membuka matanya. Pria itu hanya sengaja berpura-pura tidur agar Keyra membangunkannya, seperti trik mencari perhatian.


Dengan perasaan yakin tidak yakin Daniel menunggu Keyra keluar dari kamar mandi. Dan benar saja, setelahnya Keyra berjalan mendekat kembali ke ranjang dan berusaha untuk membangunkannya. Daniel bahkan mendengar gerutuan Keyra yang mengatakan dirinya tidur seperti kerbau tapi tentu dia tidak bisa marah. Sandiwara akan terbongkar bila Daniel mengajukan protes.


Daniel senyum-senyum sendiri memandangi punggung Keyra yang mulai hilang dibalik pintu kamar mandi. Ah istrinya itu sangat menggemaskan. Kelakuan Keyra berhasil membuat moodnya baik pagi ini. Sepertinya kini Daniel punya cara baru membangkitkan semangatnya saat pagi hari. Tapi sayangnya senyum itu tidak bertahan lama, Daniel kembali diingatkan dengan undangan sang mama pagi ini.


Apa Daniel harus meninggalkan Keyra sarapan sendiri atau sebaliknya, dia harus mengabaikan undangan sang mama. Atau mungkin Daniel harus sarapan dua kali pagi ini. Daniel merasa dirinya seperti pria yang sedang selingkuh saat ini. Tapi bila dia tidak pulang dan menemui sang mama maka dapat dipastikan wanita yang melahirkannya itu akan menerornya seharian. Dan lebih buruknya lagi, nyonya Maya akan menghampirinya ke penthouse ini. Sepertinya pilihan yang terbaik adalah dengan Daniel pergi menemui nyonya Maya setelah menyelesaikan sarapan bersama istrinya. Tidak mungkin dia meninggalkan Keyra sarapan sendirian di penthouse ini.


"Segera wudhu Kak" alunan suara lembut itu membuyarkan lamunan Daniel yang sedang merencanakan kegiatan paginya.


"Iya, tunggu sebentar dan kita shalat subuh bersama" ucap Daniel.


Keyra menganggukkan kepalanya, dia mulai membiasakan diri untuk shalat berjamaah bersama Daniel ketika sedang berada di rumah. Meski Keyra tidak tahu bagaimana jalan pernikahan ini sebisa mungkin dia tetap menghargai Daniel sebagai seorang suami. Dia juga akan berusaha menjaga dirinya dengan statusnya yang sekarang, ya walau pernikahan mereka berada dalam sebuah kesepakatan. Mungkin tidak akan banyak yang berubah dari kesehariannya mengingat pernikahan ini adalah pernikahan yang tidak diinginkan oleh keduanya. Tapi tetap saja Keyra merasa punya kewajiban yang harus dilakukan atas pernikahan ini. Dia akan menjalaninya dengan caranya dan tentang Daniel, Keyra tidak akan menuntut apa-apa dari suami dadakannya itu.


Dinikahkan, terpaksa menikah atau apapun itu namanya Keyra akan tetap sama dengan Keyra yang sebelum menikah, dimana pekerjaan yang akan menjadi prioritasnya. Katakan saja dia istri durhaka tapi rasanya Daniel juga pasti akan bersikap seperti itu padanya. Tidak mungkin dengan tiba-tiba Daniel menyerahkan hidupnya untuk pernikahan ini. Lagipula mereka sudah membuat kesepakatan dalam pernikahan mereka atau lebih tepatnya Keyra yang membuatnya dan Daniel menyetujuinya.


Daniel juga telah mengatakan dengan terang-terangan bahwa pernikahan ini harus dirahasiakan. Bukankah itu mengartikan bila Daniel tidak ingin mengakui pernikahan dadakan mereka?. Ya benar, Daniel mungkin saja menganggap pernikahan ini adalah sebuah aib mengingat bagaimana cara mereka menikah. Dan beginilah seharusnya Keyra, tetap tidak merubah prioritas hidupnya.


"Sudah siap?" tanya Daniel.


Pria itu muncul dan sudah berdiri disajadah yang sudah disiapkan oleh Keyra sebelumnya. Keyra yang melamun bahkan tidak menyadari jika suaminya sudah berdiri didepannya.


"Sudah" jawab Keyra tersentak dari lamunannya.


Keduanya kembali shalat berjamaah dengan khusyuk. Setiap kali Daniel menjadi imam untuknya, Keyra selalu merasa jantungnya hampir copot sangking kuatnya berdetak. Terkadang Keyra menangis saat menadahkan tangannya, menyadari saat ini telah ada pria yang sudah menggantikan sang ayah menjadi imam untuknya. Entah sampai kapan bisa seperti ini Keyra juga tidak tahu, yang pasti mungkin selama dirinya menjadi istri dari seorang Daniel mungkin. Ya, kalau statusnya bukan istri dari pria itu mana mungkin Daniel bisa menjadi imamnya.


"Key" panggil Daniel menahan tangan Keyra saat akan bangkit setelah mencium tangannya.


Keyra diam menatap pada Daniel seolah bertanya ada apa.


"Mau lari pagi bersama?" tanya Daniel dengan hati-hati.


"Tidak" tolak Keyra tegas.


Mendapatkan penolakan tegas dari istrinya tentu saja membuat Daniel kecewa. Tapi bukankah itu hal yang wajar, mungkin Keyra masih merasa asing dengannya.


Sedang Keyra dibuat bingung dengan sikap Daniel. Daniel sendiri yang mengatakan semalam jika pernikahan mereka harus dirahasiakan. Minsalkan saja saat mereka tengah jalan berdua dan kebetulan diluar secara tidak sengaja bertemu dengan orang yang mereka kenal kemudian orang itu bertanya tentang hubungan diantara mereka. Bukankah akan rumit menjelaskannya.


Bagaimanapun orang-orang berusaha berpikir positif nyatanya kemungkinan-kemungkinan lain yang akan terlintas. Seperti, mengapa pagi hari seperti ini Daniel dan Keyra bisa bersama. Dan tidak menutup kemungkinan ada paparazi yang menangkap gambar mereka mengingat Daniel bukanlah pria biasa.


Apa Daniel tidak terpikirkan akan hal itu?. Lebih baik menghindar dari pada mengucapkan kebohongan demi kebohongan, itu yang berada dalam benak Keyra.


Jujur saja raut wajah kecewa Daniel mengusik ketenangan hati Keyra tapi logikanya menekankan ini yang terbaik. Keyra sendiri sebenarnya bingung dengan apa yang diinginkan oleh Daniel. Kenapa harus membuat keadaan seperti ini. Apa Daniel berniat ingin mempermainkannya. Bukankah kesepakatan yang mereka tandatangani tadi malam memperjelas semuanya. Daniel juga tanpa bantahan menyetujuinya. Lalu mengapa Keyra merasa sekarang Daniel seperti berusaha mendekatkan diri pada padanya. Apa benar pria itu ingin mempermainkannya?.


Sepertinya keputusan yang dibuat Keyra untuk menjaga jarak dengan Daniel adalah keputusan yang tepat. Dia harus bisa menjaga hatinya untuk tidak terjatuh terlalu dalam pada pesona Daniel.


"Kenapa?" tanya Daniel penasaran.


"Hanya tidak ingin saja" jawab Keyra beralasan.


"Apa karena bersamaku?" Daniel yang tidak puas dengan jawaban Keyra kembali bertanya.


Tanpa menjawab Keyra berdiri meninggalkan Daniel yang masih kecewa. Tatapan kecewa dari pria itu entah menapa melemahkan hatinya. Keyra merasa sakit melihat tatapan itu.


Apa dia memang selemah itu?. Baru satu hari kebersamaan mereka dan dia sudah melow seperti ini. Kenapa dia harus peduli dengan kekecewaan Daniel. Kalau begini apa Keyra bisa bersikeras mengatakan untuk menjaga hatinya?.


"Tunggu Key" Daniel ikut bangkit menyusul Keyra, dia harus memaklumi sikap Keyra. Daniel bertekad membuat hubungan mereka menjadi lebih baik setidaknya mereka bisa berteman sampai kesepakatan pernikahan itu selesai.

__ADS_1


__ADS_2