
"Ini karena Kakak kita tidak bisa pulang. Lihat sekarang kita terjebak di pantai ini sampai esok hari" sungut Keyra meletakkan sling bagnya dengan asal. Sedari tadi Keyra menggerutu karena mereka harus terjebak menginap di pantai disebabkan oleh Daniel terus mengulur waktu saat di ajak pulang. Jadilah kini mereka menginap di sebuah villa yang entah bagaimana Daniel memesannya Keyra tidak ambil pusing. Selama perjalanan ke villa Keyra sudah merengut, terus menyalahkan Daniel.
"Sudah mandi sana, jangan marah-marah terus" ucap Daniel mengacak-acak rambut Keyra.
"Terus gimana baju gantinya" jawab Keyra lemas. Wanita itu berpikir dia akan berakhir dengan mengenakan baju yang sama dan sudah pasti sangat tidak nyaman.
"Sudah kupesan, nanti akan ada yang datang untuk mengantarnya. Sementara gunakan bathrobe dulu" jawab Daniel menjelaskan.
"Kenapa tidak bilang dari tadi sih" protes Keyra mengerucutkan bibirnya.
"Kan ini sudah dibilang. Kamu kenapa jadi galak begini, perasaan dulu waktu sekolah tidak seperti ini deh" balas deh menarik hidung mancung Keyra dengan gemas.
"Memangnya dulu aku seperti apa?" tanya Keyra penasaran.
"Em seperti apa ya" Daniel terlihat mendonggak, mengetukkan jemarinya ke arah dagunya berpura-pura berpikir mengingat bagaimana Keyra dulu.
"Bilang saja Kakak tidak mengingatnya" Keyra memutar bola matanya malas. Dia yang bodoh membuat pertanyaan seperti tadi, mana mungkin Daniel sang idola sekolah memperhatikan bagaimana dirinya dulu.
"Mungkin sedikit tidak ingat. Lagipula wajar saja itu terjadi sudah lama sekali. Kamu banyak berubah terutama semakin dewasa" ujar Daniel memperhatikan wajah Keyra yang langsung berubah garang.
"Maksud Kakak tua begitu?. Jangan lupa jika aku junior Kakak waktu sekolah dulu. Itu artinya usia Kakak lebih tua dari aku"
"Kan benar, kamu semakin galak. Dulu sewaktu sekolah tidak begini. Kenapa sensitif sekali" balas Daniel mengulum senyumnya. Merasa senang karena berhasil membangkitkan kekesalan sang istri.
"Untuk sekedar informasi Tuan Muda Daniel. Bagi SEORANG WANITA selain pembahasan berat badan pembahasan usia juga sangat sensitif. Jangan coba-coba menyinggung tentang hal itu" ucap Keyra menekankan kata seorang wanita pada kalimatnya.
"Oh begitu, baiklah aku akan mengingatnya" balas Daniel mengangkat kedua bahunya santai. Sama sekali tidak terlihat serius dengan apa yang diucapkannya.
"Terserah Kakak, awas aku mandi dulu" Keyra dengan sengaja menyenggol lengan Daniel saat berjalan.
Daniel kembali mengulum senyumnya, sikap kekanakan Keyra benar-benar menggemaskan dimatanya. Baru beberapa hari dia menerima orang baru dalam hidupnya tapi kehidupannya terasa berubah banyak. Biasanya hanya akan ada Alex yang akan merecoki hari-hari indahnya tapi saat ini sudah berbeda. Dia menjadi manjadi pengacau dalam kehidupan orang lain dan Daniel sangat menikmatinya.
Tunggu, tunggu, apa hal seperti ini termasuk pembulian. Tentu tidak bukan, tujuan Daniel hanya ingin berhubungan baik dengan Keyra selama pernikahan mereka. Dan banyaknya interaksi yang terjadi antara mereka menjadi salah satu caranya. Kesepakatan pernikahan yang diajukan Keyra berlangsung dalam waktu yang cukup lama, tidak mungkin mereka berdua bersikap layaknya orang asing yang tidak saling mengenal. Setidaknya bila pernikahan mereka tidak memiliki masa depan, pilihan menjadi seorang teman tidak terlalu buruk.
Puas berkutat dengan pikirannya Daniel kemudian mengingat kalau dirinya dan Keyra belum makan malam. Sudah cukup terlambat tapi tetap saja tidak boleh dilewatkan. Bisa-bisa Keyra semakin marah padanya bila sekembalinya dari pantai ini wanita itu terkapar sakit.
Daniel kemudian kembali memamerkan senyum misteriusnya. Merogoh ponselnya kemudian berjalan mendekat ke arah kamar mandi dimana ada sang istri didalamnya.
"Key" panggil Daniel tapi tidak mendapat sahutan.
"Key" panggil Daniel kembali sembari mengetuk pintu kamar mandi.
"Belum selesai" sahut Keyra berteriak.
__ADS_1
"Bukan itu. Aku hanya ingin bertanya mau makan apa" teriak Daniel dengan senyuman jahilnya.
"Apa saja" jawab Keyra menghentikan aktivitasnya.
"Tidak dengar, kamu bilang apa?" teriak Daniel berpura-pura.
"Terserah Kakak mau pesan apa" Keyra berteriak dengan menguatkan volume suaranya lebih dari sebelumnya.
"Ap sih Key, tidak dengar"
Didalam sana Keyra mendengus kesal. Beruntung dia belum membuka bajunya hingga bisa berjalan menghampiri Daniel.
"Kakak budek banget sih. Masa teriakan sekuat itu tidak terdengar. Suara Keyra jadi serak karena terus berteriak" gerutu Keyra memanyunkan bibirnya.
Daniel menahan tawa melihat kekesalan yang terpampang jelas diwajah Keyra. Entah mengapa berhasil menjahili Keyra membuat hatinya begitu bahagia.
"Ya lagian ngapain kamu berteriak. Kenapa tidak berbicara seperti ini saja" balas Daniel memasang wajah tak berdosanya, dia sama sekali tidak merasa bersalah sedikitpun.
"Terserah Kakak deh. Kalau begini yang ada nafsu makanku hilang karena kesal. Pokoknya pesan apa saja terserah"
Brakk, Keyra membanting pintu kamar mandi saat menutupnya untuk melampiaskan rasa kesalnya. Sedang Daniel yang masih berdiri didekat pintu kamar mandi mengelus dada. Jujur dia terkejut dengan dengan aksi Keyra.
"Kenapa dia jadi galak begini" gumam Daniel berbicara sendiri.
"Sepertinya waktu banyak merubahnya" gumam Daniel kembali.
Tidak ingin membangkitkan kemarahan Keyra Daniel akhirnya mengakhiri kejahilannya. Segera memesan makan malam untuk mereka berdua agar saat Keyra siap membersihkan dirinya makan malam mereka sudah ada disana. Karena waktu yang sudah cukup larut Daniel memilih makan didalam kamar saja. Lagipula Keyra pasti kelelahan dan akan menolak saat diajak makan diluar.
"Sepertinya steak tidak buruk" gumam Daniel melihat menu makanan yang tersedia di restoran yang berada di dekat villa.
Tidak lama setelah Daniel selesai memesan makanan ponselnya berdering dan terlihat nama Alex yang tertera disana.
"Aku sudah sampai"
Tut, Alex hanya langsung mengucapkan tiga kata itu saat Daniel baru menerima panggilan dan kemudian langsung menutup panggilannya setelah menyelesaikan kalimatnya.
"Ck, asisten tidak punya sopan santun. Kalau bukan karena mama aku pasti sudah memecatnya sedari lama" gerutu Daniel mengutuk sikap Alex yang begitu semena-mena padanya.
Daniel segera keluar dari kamar menghampiri Alex yang diyakini tengah berada di ruang tamu villa. Sudah dapat dia bayangkan bagaimana raut wajah Alex saat ini. Pria itu pasti mengutuknya habis-habisan karena harus memenuhi permintaannya.
Benar saja, Alex terlihat duduk di ruang tamu villa dengan melipat kakinya di atas meja. Netranya tidak lepas menatap Daniel yang sedang menuruni tangga seakan ingin menerkam sahabatnya itu.
Tuk, saat Daniel tepat berdiri didekatnya Alex melempar paper bag yang dibawanya dan dengan gerakan cepat ditangkap oleh Daniel.
__ADS_1
"Aku tahu kau tidak memiliki siapapun selain aku di dunia ini. Tapi apa harus kau semerepotkan ini" todong Alex menatap geram pada Daniel.
"Benar-benar menyebalkan" tambahnya menggerutu.
Daniel tidak menghiraukan kemarahan sahabatnya, pria itu dengan santai duduk di sofa tepat berhadapan dengan Alex.
"Aku tidak tahu mengapa sampai sekarang kau masih bekerja denganku. Tidak ada seorang asisten yang sekurang ajar kau, kau harus tahu itu" ujar Daniel.
"Dan tidak ada bos semerepotkan kau. Sudah membatalkan jadwal dengan tiba-tiba dan ditambah harus merepotkan asistennya dengan mengantarkan keperluannya hingga harus menempuh perjalanan selama empat jam lamanya. Apa kau tidak bisa sehari saja becus mengurus dirimu sendiri. Jika bukan karena mama aku tidak akan sudi bekerja denganmu" balas Alex sengit.
"Kau pikir aku juga akan sudi memperkerjakan seorang asisten sepertimu jika bukan karena mama. Banyak yang memohon bekerja denganku dan seharusnya kau bersyukur menempati posisimu sekarang"
Kedua pria itu saling menjadikan sang mama sebagai alasan dalam perdebatan mereka. Pada kenyataannya nyonya Maya tidak sedikitpun terlibat sedikitpun dalam urusan pekerjaan keduanya. Alex bisa menjadi asisten dari Daniel merupakan keputusan penuh dari pria itu.
"Itu karena mereka belum bekerja denganmu. Coba saja jika mereka sudah menjadi bawahanmu aku yakin mereka akan memiliki keluhan yang sama denganku. MEMILIKI BOS YANG SANGAT MEREPOTKAN" Alex tidak menampik tentang banyak orang yang ingin bekerja dengan Daniel tapi dia sangat yakin akan jawabannya. Orang-orang diluar sana bisa dengan mudah melamar menjadi karyawan Daniel karena belum tahu bagaimana menyebalkan Daniel sehari-hari. Alex yang memiliki kesabaran setebal kamus saja kewalahan menghadapi atasannya itu.
"Ck, itu sangat sepadan dengan bayaran yang kau terima. Untuk apa aku mengeluarkan uang banyak jika kau hanya bersantai saja. Kau tentu tahu gunanya seorang asisten bukan. Aku membayarmu jelas untuk membantu pekerjaanku, bukan untuk protes setiap hari seperti ini. Semakin tua kurasa otakmu semakin lelet hingga pekerjaaamu saja lupa" ketus Daniel menanggapi ocehan sang sahabat.
"Hello Tuan Muda Daniel, apa Anda sadar sekarang?. Bukan membantu okey tapi mengcover hampir seluruh pekerjaanmu sialan" ujar Alex membenarkan kalimat Daniel.
"Tidak perlu melebih-lebihkan, hal ini tidak setiap hari terjadi. Kau pikir posisiku akan bertahan hingga saat ini jika aku mengandalkanmu. Bisa-bisa Biantara Group kembali jatuh pada orang seperti Andy sigila harta itu. Ingat bro, persaingan bisnis sangat tidak terduga. Bisa saja orang yang kupercayai menusukku dari belakang dan tidak terkecuali kau. Ah atau mungkin kau sudah punya rencana untuk menjatuhkanku. Jika dilihat dari bagaimana beraninya kau bersikap padaku itu bukan hal yang mustahil" sinis Daniel. Percayalah ucapannya yang begitu kejam hanya sebatas dimulut saja. Daniel sudah percaya sepenuhnya pada Alex yang selama ini menjadi orang paling setia yang berada disampingnya. Seperti janji pria itu, Alex menyerahkan hidupnya pada Daniel dan sahabatnya itu tidak main-main akan ucapannya.
"Aku pikir itu ide yang bagus. Tadinya aku tidak kepikiran kesana tapi karena kau sudah mengatakannya aku jadi tahu. Tidak buruk juga menjadi pengkhianat bagi bos tak berperasaan sepertimu. Jika nanti itu terjadi anggap saja aku sudah benar-benar muak dengan sikapmu" balas Alex acuh.
"Wah wah wah, mulai sekarang aku perlu berhati-hati kalau begitu. Mendengar dari ucapanmu tidak menutup kemungkinan jika orang yang katanya TELAH MENYERAHKAN HIDUPNYA berakhir dengan berkhianat padaku. Hal pertama yang harus aku lakukan mengurangi pendapatanmu. Aku tidak mungkin membiarkan calon pengkhianat menumpuk kekayaannya yang akan menjadi senjata untuk mengkhinatiku dimasa depan. Terima kasih sudah berkata jujur CALON PENGKHIANAT" balas Daniel mengancam. Dia dengan sengaja menekankan kata telah menyerahkan hidupnya dan juga calon pengkhianat pada kalimatnya.
"Ehem, apa ada lagi yang perlu saya lakukan bos seperti memesan makanan mungkin. Melihat bagaimana bos bersikap sekarang aku menebak jika bos sedang lapar. Jadi katakan bos ingin makan malam apa?" tanya Alex langsung merubah cara bicaranya. Seperti biasa, gaji merupakan kelemahan pria itu. Bila Daniel sudah mengancamnya dengan memotong pendapatannya maka Alex akan kembali bersikap manis layaknya seorang asisten pada umumnya atau memilih diam tak berkutik.
Sebenarnya belum pernah terjadi Daniel memotong pendapatannya, hanya mungkin tidak memberikan bonus saja bila Alex sudah terlalu menyebalkan baginya. Tapi tetap saja Daniel akan memberikan bonus dua kali lipat pada bulan berikutnya. Daniel melakukan hal itu hanya agar Alex tidak semakin bersikap menyebalkan padanya. Ucapan Daniel hanya sekedar ancaman tapi siapa yang tahu bila tuan muda kedua itu berubah pikiran.
"Urus saja makanmu sendiri. Kau pikir aku tidak tahu bagaimana cara mengurusi perutku sendiri. Aku tidak akan kelaparan meski kau tidak ada" cibir Daniel.
"Sepertinya sama-sama menyakiti dengan ucapan menjadi love language mereka. Sudah terlihat jelas jika mereka saling peduli satu sama lain" komentar Keyra yang mengintip perdebatan Daniel dan Alex dari lantai dua villa itu. Wanita itu menggeleng kepalanya melihat dua pria dewasa itu yang akan selalu berdebat jika bertemu. Keyra bahkan ragu keduanya bisa saling bekerja sama mengingat Alex merupakan asisten suaminya.
Keyra yang melihat Alex juga berada di villa itu mengurungkan niatnya untuk menghampiri suaminya. Rasanya sangat konyol bila dia turun hanya menggunakan bathrobe saja. Selain karena tidak sopan Keyra juga merasa tidak nyaman. Jadilah dia berdiri di balik tembok, berharap Daniel datang menghampirinya tapi ternyata suaminya itu malah sibuk berdebat dengan sahabatnya.
"Kenapa lama sih. Apa Kak Daniel berniat membiarkan aku mati kedinginan hanya dengan menggunakan bathrobe ini saja"
Keyra akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamar. Mungkin akan menjadi opsi yang lebih baik jika dia menghubungi Daniel dan meminta pria itu memberikan pakaian untuknya seperti yang dikatakan Daniel sebelumnya.
Wanita tiga puluh dua tahun itu merogoh tasnya dengan kasar, mencari dimana letak ponselnya berada. Keyra kembali kesal karena Daniel melupakan keberadaannya dan sibuk berdebat dengan Alex ditambah perutnya juga sudah terasa lapar. Dia berniat menghubungi Daniel dan meminta pria itu memberikan pakaian ganti yang telah dijanjikannya.
Daniel yang masih sibuk berdebat dengan Alex mengerutkan keningnya bingung saat melihat nama Keyra tertera di ponselnya. Berpikir untuk apa istrinya itu menelpon sedangkan mereka berada dibawah atap yang sama. Sesaat kemudian Daniel menepuk jidatnya, baru tersadar jika dia melupakan istrinya yang pasti sudah menunggu pakaian gantinya.
__ADS_1
"Sial, ini gara-gara kau" ucap Daniel langsung bangkit dari duduknya meninggalkan Alex yang kebingungan menatap sahabatnya itu.