
Hari ini Emely tak masuk kantor karena libur. Ia seperti biasa pergi ke rumah majikan ibunya untuk membantu pekerjaan sang bunda.
“Bun, Emely ikut bunda bersih -bersih di rumah Bu Elvi yah.”Ucap Emely tersenyum.
“Iya sayang. Bu Elvi juga sudah menanyakanmu beberapa hari ini.”Jawab sang bunda.
Pagi itu seperti biasa, ibu dan anak ini pergi bekerja di rumah Bu Elvi.
“Pak, aku dan bunda mau kerja dulu yah !”pamit Emely pada Pak tua.
“Iya nak. Kalian berdua hati-hati ya !”jawab Pak tua.
“Iya pak. Bapak juga jangan lupa minum obatnya ya.”Tamara mengingatkan.
“Iya bu.”Jawab Pak tua.
Mereka akhirnya pergi dengan menggunakan taxi. Sepanjang perjalanan Tamara dan Emely terlihat bercanda dalam mobil. Ibu dan anak ini nampak bahagia bisa pergi bekerja bersama-sama lagi. Tak terasa mereka akhirnya sampai di tempat tujuan. Emely sudah tak sabar lagi ingin bertemu Bu Elvi dan Stevani yang terlihat sangat baik padanya.
“Bun, ayo kita turun ! Emely tak sabar ingin bertemu Bu Elvi dan kak Stevani.”Ucap Emely senang.
“Iya sayang.”Jawab Tamara tersenyum.
Pada saat memasuki gerbang rumah Bu Elvi, tiba-tiba Tamara tak sadar menjatuhkan dompetnya di jalan tempat taxi tadi.
Ia baru menyadari sekarang jika dompetnya jatuh.
“Aduh, sepertinya dompet bunda jatuh.”Ucap Tamara pada Emely.
“Tunggu ya bun ! Emely mau cari di jalan tempat kita turun dari taxi tadi.”Jawab Emely langsung mencari dompet ibunya yang jatuh.
Tiba-tiba Emely pergi ke jalan tadi. Sepertinya firasat gadis ini memang benar. Ia melihat dompet berwarna cokelat milik ibunya tergeletak di jalan. Gadis ini langsung terlihat senang. Ia kemudian berlari secepatnya untuk mengambil dompet itu.
Pada saat yang bersamaan, ada sebuah mobil yang berwarna hitam dengan kecepatan rendah menabrak gadis itu. Tubuh Emely terlempar ke sisi jalan. Kepala gadis itu terbentur dan mengakibatkan pendarahan di bagian kepala. Mobil itu kemudian berhenti dan memeriksa orang yang di tabraknya.
Ternyata orang yang menabrak Emely itu adalah Natan sang direktur tampan. Pria ini tak menyangka jika orang yang ia tabrak adalah Emely juru masak pribadi di kantornya.
“Ya Tuhan ! ternyata gadis ini yang aku tabrak.”Ucapnya dengan nada khawatir.
Natan langsung mengangkat tubuh Emely yang kini tak sadarkan diri.
Pria tampan ini terlihat sangat khawatir . Ia membawa masuk Emely ke dalam rumah.
Tamara yang sedari tadi menunggu Emely tapi tak kunjung datang, ia kemudian pergi menyusul Emely.
Belum sampai di tempat, Tamara melihat Natan berlari dengan seorang gadis yang berada di tangannya. Gadis itu terlihat tak sadarkan diri dan bersimpuh darah.
Ia mendekati Natan dan mencari tahu sosok gadis itu yang tak lain adalah putrinya Emely.
Tamara seperti tak kuasa melihat kondisi putri yang sangat ia cintai.
Gadis itu ternyata mengalami kecelekaan sewaktu mengambil dompet sang bunda yang terjatuh. Ia seakan menyalahkan dirinya sendiri akibat kecelakaan itu.
Tamara berteriak histeris. Ia menangis melihat keadaan Emely yang sudah tak sadarkan diri.
Suara tangisan Tamara membuat Bu Elvi dan keluarganya berlari keluar untuk melihat siapa yang menangis seperti itu.
Mereka terkejut karena itu adalah Tamara dan Natan yang sedang mengangkat tubuh seorang gadis yang tak lain adalah putri Bu Tamara yaitu Emely.
“Ya tuhan ! apa yang terjadi Natan ? mengapa Emely seperti ini ?”tanya Elvi pada putranya.
Natan hanya terdiam. Ia tak bisa berkata-kata karena telah berbuat kesalahan pada gadis itu.
Bu Elvi panik begitupun Pak Daniel.
“Cepatlah kamu telfon ambulance !”ucap Daniel menyuruh Natan.
Natan segera menelfon ambulance. Ia tampak merasa panik dan khawatir dengan kondisi Emely. Beberapa menit kemudian ambulance datang. Emely segera dibawa ke rumah sakit. Semua keluarga ikut mengantar Emely termasuk Natan.
Sepanjang jalan Tamara berdoa untuk keselamatan sang putri.
Ya Tuhan, tolong selamatkan anakku ! batin Tamara memohon.
Tamara menangis karena ia merasa bersalah atas kecelakaan yang menimpa putrinya. Ia berfikir jika saja Emely tak mengambil dompetnya yang jatuh mungkin Emely tak akan mengalami kecelakaan ini.
Melihat hal itu,membuat Elvi sangat khawatir dengan jiwa Tamara yang terguncang atas kecelakaan Emely.
Bu Elvi mencoba untuk menenangkan Tamara.
“Bu Tamara yang sabar. Kita doakan saja untuk keselamatan Emely. Semua adalah musibah dan takdir yang sudah di tetapkan tuhan.”Nasehat Elvi.
__ADS_1
Kata-kata Elvi setidaknya membuat Tamara lega. Stevani terlihat sesekali membersihkan darah yang keluar bagian kepala Emely.
Natan terlihat sedang mendoakan gadis itu.
Ya Tuhan,tolong selamatkan wanita ini ! aku janji jika ia selamat dari kecelakaan ini,maka aku akan memoerlakukannya sebaik mungkin. Aku janji tak akan berbicara kasar padanya ! ucap Natan dalam hati mendoakan Emely.
Rupanya Natan berdoa untuk keselamatan Emely dan juga berjanji pada dirinya sendiri.
Akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Emely langsung dibawa ke ruangan UGD.
Tamara bersama keluarga Pak Daniel cukup mengantar Emely sampai di luar. Mereka tak di izinkan masuk.
Saat ini kondisi Emely sangat kritis. Bagian kepala Emely dijahit karena mengalami luka yang cukup serius.
Natan tak henti-hentinya mendoakan keselamatan Emely.
Ya Tuhanku,tolong selamatkan dia ! jika terjadi sesuatu pada gadis ini, maka aku tak akan bisa memaafkan diriku sendiri ! batin Natan menyalahkan diri.
Tamara masih terlihat sedih. Ia tak tahu harus berbuat apa jika terjadi sesuatu pada putrinya. Apalagi Emely adalah anak satu-satunya yang sangat ia sayangi. Tamara mengingat semua masa-masa sulit yang ia alami bersama Emely.
“Bu Tamara yang sabar. Kami selaku orang tua Natan meminta maaf atas kecelakaan yang di alami oleh Emely. Mari kita doakan sama-sama untuk kesembuhan Emely !”Nasehat Elvi dan meminta maaf atas kecelakaan yang dibuat oleh Natan.
“Bu Elvi tak perlu minta maaf. Ini hanyalah sebuah kecelakaan yang tak disengaja.” Jawab Tamara.
Tiba-tiba dokter keluar dari ruangan. Ia mengatakan pada keluarga pasien jika Emely sekarang masih dalam keadaan kritis.
“Buat keluarga pasien mohon doanya agar saudari Emely bisa melewati masa kritis. Kami dokter disini akan melakukan yang terbaik untuk anak ibu.” Ucap dokter yang meminta dukungan doa pada keluarga Emely.
Sudah beberapa jam Emely belum juga sadar. Gadis itu masih koma karena akibat dari benturan di bagian kepala Emely.
Natan menyuruh Bu Tamara dan keluarganya agar segara pulang untuk ganti pakaian. Natan bersedia menjaga Emely disitu.
“Bu Tamara bersama ayah dan ibu serta kak Stevani, kalian pulang dulu ganti pakaian. Biar Natan yang akan menjaga Emely disini.” Ucap Natan menyuruh mereka untuk pulang.
“Ayo Bu Tamara kita pulang mandi ! biar Natan yang akan menjaga Emely. Sejak tadi Bu Tamara belum makan.” Ucap Elvi mengajak Tamara.
Akhirnya mereka pulang ke rumah bersama Bu Tamara.
Sementara Natan tetap tinggal di rumah sakit untuk menjaga Emely. Ia merasa sangat bersalah atas kejadian yang menimpa gadis itu. Natan berfikir akhir-akhir ini ia sangat jahat terhadap Emely.
“Maafkan aku Emely ! aku benar-benar tak sengaja menabrakmu.”Ucap Natan berbicara pada dirinya sendiri.
Tak lama kemudian dokter datang lagi untuk menyampaikan kondisi pasien saat ini.
“Iya pak. Saya keluarganya. Bagaimana dengan kondisi pasien sekarang dok ?”tanya balik Natan menanyakan kondisi Emely.
“Kondisi pasien sekarang telah stabil. Saudari Emely telah melewati masa kritisnya.”Jawab dokter menyampaikan kabar baik tentang kondisi Emely.
“Terima kasih dok. Terima kasih telah menyelamatkan Emely !”ucap Natan semangat karena merasa bersyukur.
Natan langsung menelfon orang tuanya untuk menyampaikan kabar baik ini.
“Halo ?Bu,sekarang Emely sudah melewati masa kritisnya.”Ucap Natan penuh semangat.
“Alhamdulillah nak. Kamu jaga Emely disitu ! ibu dan ayah akan kesana bersama Bu Tamara.”Jawab Bu Elvi sambil mengakhiri percakapan.
Emely telah melewati masa kritisnya. Tapi saat ini gadis itu belum juga sadarkan diri.
Natan masuk ke ruangan UGD untuk melihat keadaan gadis itu. Ia menatap wajah Emely yang kini masih terbaring disitu.
Natan menggenggam tangan Emely dan meminta maaf langsung pada gadis itu.
“Aku minta maaf atas kecelakaan ini ! aku sangat menyesal telah membuatmu terluka.”Ucap Natan tertunduk dalam.
Rupanya Natan merasa sangat bersalah terhadap gadis itu.
Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk memperlakukan Emely dengan baik jika ia selamat nanti.
Natan duduk di samping tempat tidur Emely untuk menunggu kedatangan keluarganya.
Tangan Emely kemudian bergerak. Ia tampaknya bisa merasakan jika ada orang di dekatnya. Namun sekarang gadis itu belum bisa membuka matanya.
Tak lama kemudian Tamara bersama keluarga Natan tiba. Mereka langsung masuk ke dalam ruangan untuk melihat kondisi Emely.
“Bangun nak ! bunda sangat khawatir padamu !”ucap Tamara sedih.
Ia menggenggam tangan putrinya yang belum
juga sadarkan diri.
__ADS_1
“Bu Tamara yang sabar. Kita harus yakin dengan pertolongan tuhan !”nasehat Elvi memberikan kekuatan hati untuk Tamara yang saat ini terlihat sedih.
Kemudian Natan menawarkan untuk menjaga Emely malam ini. Ia merasa sangat bertanggung jawab atas kondisi Emely.
“Bu Tamara bersama orang tuaku, kalian pulang saja istirahat. Aku akan menjaga Emely disini. Kecelakaan ini disebabkan olehku. Biarlah malam ini aku akan menjaga Emely.”Pinta Natan.
“Iya Bu Tamara. Biarkan Natan yang akan menjaga Emely disini. Bu Tamara tidur saja di rumah. Besok kita akan ke rumah sakit lagi untuk menjenguk Emely.”Jawab Elvi membenarkan ucapan Natan.
Tampaknya Tamara tak tega meninggalkan putrinya. Ia ingin berada di samping Emely hingga sadar nanti. Walaupun begitu ia tak ingin menolak ajakan Bu Elvi.
“Baiklah bu. Natan tolong jaga Emely ya ! jika ada sesuatu langsung kabari ibu.”Ucap Tamara memberikan kepercayaan pada Natan untuk menjaga putrinya.
Akhirnya keluarga Natan bersama Bu Tamara pulang. Kini di rumah sakit itu hanya ada Natan yang menjaga Emely.
Ternyata jika dilihat, Natan adalah sosok pria yang perduli terhadap orang lain. Sifatnya berbeda jauh pada saat masih di kantor. Pria ini sifatnya pemarah dan terlihat cuek. Namun saat ini sikap Natan sangat berbeda. Ia terlihat sangat khawatir dan perduli pada gadis itu.
Natan menjaga Emely sepanjang malam. Sampai akhirnya ia tertidur di samping Emely karen Kelelahan. Pada saat tidur, rupanya Emely telah siuman.
Ia sangat kaget melihat sosok pria yang pemarah itu kini berada di sampingnya.
Mengapa direktur itu bisa ada di sampingku?” batin Emely merasa bingung dengan keadaannya sekarang.
Emely kemudian menatap dari dekat wajah Natan yang terlihat polos saat tidur.
Wajah direktur sangat polos jika sedang tidur. Batinnya berkata lagi.
Gadis itu tak ingin membangunkan Natan yang kini tertidur pulas di sampingnya.
Keesokan harinya. Natan terbangun dari tidurnya, ia melihat Emely yang masih tidur.
Natan memeriksa nafas gadis itu. Ia tampak khawatir karena Emely belum juga sadarkan diri. Rupanya semalam Natan tak tahu jika Emely telah siuman.
Ia mengecek nafas Emely yang keluar dari hidung.
“Syukurlah ia masih bernafas !”ucap Natan tak sadar jika Emely mendengar ucapannya.
Apa yang dilakukan direktur ? apa dia fikir aku telah kehabisan nafas ? kata hati Emely yang belum membuka matanya.
Tapi gadis ini tak ingin membuat Natan khawatir terlalu lama. Ia membuka matanya agar Natan tahu jika ia sudah sadar.
“Ya tuhan ! sekarang kamu sudah sadar. Aku minta maaf atas kejadian kemarin yang membuatmu celaka !”ucap Natan tulus meminta maaf.
Emely hanya tersenyum melihat Natan yang brgitu cuek dan pemarah akhirnya bisa minta maaf juga.
Apa benar dia pria yang ku kenal ? sikapnya sangat baik dan terlihat tulus. Aku hampir tak bisa mempercayainya yang berubah dengan cepat.” Ucapnya dalam hati karena merasa heran dengan sikap Natan.
Natan langsung memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Emely.
“Dok, tolong periksa keadaan Emely ! saat ini ia sudah siuman.”Ucap Natan.
Dokter itu kemudian pergi ke ruangan Emely. Ia ingin memastikan keadaan gadis itu.
“Iya benar pak. Sekarang pasien sudah dalam keadaan sadar.”Jawab dokter sambil meninggalkan ruangan itu.
Natan langsung mengambil makanan yang ada disitu. Ia menyuapi Emely yang sekarang masih terbaring lemas.
“Aku akan menyuapimu. Setelah itu kamu harus minum obat.”Ucap Natan yang terdengar tegas.
Mungkin karena ia terlalu khawatir jadi sikapnya langsung berubah tegas.
Hmmmm... dia masih terlihat tegas dan kaku seperti biasanya. Gumam Emely dalam hati.
Natan langsung menyuapi Emely makan. Ia terlihat sangat tulus mengurus gadis itu. Emely ingin sekali tertawa melihat wajah polos sang direktur yang terlihat khawatir.
Rupanya ia terlihat sangat manis jika menjadi pria yang baik. Batin Emely memuji.
Emely sangat senang melihat sikap baik Natan yang sangat perduli terhadapnya.
“Terima kasih pak.”Ucap Emely bersungguh-sungguh.
“Tak perlu memanggilku pak. Sekarang kamu panggil aku Natan. Ini bukan kantor.” Jawabnya datar.
Rupanya sikap direktur cepat sekali berubah-ubah. Tapi tak masalah yang penting sekarang ia sangat baik padaku.” Kata hati gadis itu sambil tersenyum.
“Habiskan makananmu setelah itu minum obat !”ucap direktur yang terdengar seperti sebuah perintah.
“Iya pak.”Jawab Emely singkat namun tampak bahagia.
Gadis itu lalu meminum obat yang di berikan Natan.
__ADS_1
Sekarang Natan dan Emely terlihat saling perduli satu sama lain akibat dari peristiwa kecelakaan itu.
Hidup Emely kini kembali berubah setelah ia mengenal Natan lebih dekat.