Tuhan Jangan Ambil Dia

Tuhan Jangan Ambil Dia
Nama direktur baru itu Natan


__ADS_3

Setelah kejadian menabrak direktur, Emely menjadi tak tenang. Ia sangat khawatir jika nanti direktur baru itu tersinggung dan memecatnya.


“Bagaimana aku harus minta maaf pada direktur agar ia tak marah dan memecatku?”dengan wajah yang khawatir.


Emely saat ini sedang merasa takut dengan nasib pekerjaannya. Apalagi sang direktur tampak terlihat dingin dan cuek dengan permohonan maaf yang di katakan oleh Emely.


Ya Tuhan ! jangan biarkan aku kehilangan pekerjaan. Aku sangat membutuhkannya !suara hatinya memohon.


Pagi itu ia bangun. Tamara melihat Emely tampaknya sedang memikirkan sesuatu. Ia kemudian menghampiri putrinya yang sedang melamun.


“Kamu kenapa sayang?bunda lihat sepertinya kamu sedang memikirkan sesuatu !”Tamara menepuk pundak Emely dengan wajah khawatir.


Emely hanya tersenyum tipis pada ibunya. Ia tak ingin mengatakan apa yang ada dalam fikirannya pada sang bunda. Emely takut ibunya akan ikut khawatir dengan kondisi pekerjaannya.


“Emely tak mengapa bun.” Ungkapnya mencoba berbohong.


Karena hari ini adalah hari libur, maka Emely tak pergi ke kantor. Ia hanya di rumah dan tak punya kegiatan lain. Hari ini kebetulan ibunya akan pergi ke rumah pak Daniel seperti biasanya. Melihat hal itu membuat Emely merasa kasihan pada sang bunda. Hingga akhirnya ia meminta izin untuk membantu sang bunda.


“Bun,Emely ikut bunda ke rumah Pak Daniel ya ! Emely mau bantu bunda bersih-bersih. Kebetulan hari ini Emely libur. Jadi apa salahnya kalau Emely bantu bunda.”Dengan raut wajah memohon.


Tamara tersenyum tipis melihat sikap Emely yang terlihat begitu polos dan tulus.


Tamara akhirnya mengizinkan Emely untuk membantunya.


“Iya sayang. Kamu boleh ikut bunda. Bunda juga senang bisa di temani kamu ke rumahnya Bu Elvi.”Jawab Tamara bahagia.


“Emely senang bisa bantu bunda.”Ucapnya senang.


Tamara dan Emely akhirnya pergi ke rumah pak Daniel untuk bersih-bersih rumah seperti biasanya. Pak tua yang tinggal di rumah mereka pun terlihat bahagia dan senang karena melihat kedekatan ibu dan anak ini.


Pak tua tak di izinkan bekerja oleh Emely dan Tamara. Karena melihat usianya yang sudah tua. Jadi sudah sepantasnya Pak tua harus banyak istirahat di rumah. Emely dan Tamara mengurus Pak tua seperti keluarga mereka sendiri. Pak tua sangat senang dan bahagia bisa bertemu dengan keluarga yang penuh cinta ini.


Ya Tuhan, terima kasih telah pertemukan aku dengan keluarga yang baik ini ! aku berharap mereka selalu hidup bahagia seperti ini terus. Kata hati Pak tua berharap agar keluarga Tamara selalu bahagia.


Tamara dan Emely pamit pada Pak tua untuk pergi bekerja.


“Kami pergi dulu ya, bapak jaga rumah dan jangan lupa minum obat !” ucap Emely dan Tamara sambil meninggalkan rumah.


Mereka ke rumah Pak Daniel menggunakan jasa taxi. Karena arah rumah mereka dan tempat kerja ibunya lumayan agak jauh.


Sepanjang jalan mereka terlibat percakapan.


“Bunda sebaiknya berhenti saja dari pekerjaan ini ! Emely kasihan melihat bunda terus-terusan bekerja sepanjang hari. Apalagi sekarang Emely sudah punya pekerjaan. Emely merasa jadi anak yang tak berguna jika melihat bunda selalu bekerja seperti ini. Gaji Emely akan cukup buat kebutuhan Emely sama bunda.”Ucap Emely mengungkapkan isi hatinya dan penuh harap agar ibunya tak perlu bekerja.


Tamara hanya tersenyum melihat ketulusan putrinya yang tak ingin dia bekerja lagi.


Namun Tamara juga tak ingin membuat Bu Elvi dan Pak Daniel kecewa. Apalagi mereka telah merasa senang dengan Tamara selama bertahun-tahun. Terlebih lagi Tamara sudah di anggap keluarga oleh Pak Daniel dan Bu Elvi. Rasanya berat melangkah untuk meninggalkan keluarga yang sangat baik dan berjasa pada Tamara.


“Bunda tak merasa lelah bekerja di rumah keluarga itu. Bunda juga bahagia bisa membantu keluarga Pak Daniel. Mereka adalah orang yang berjasa dalam kehidupan kita. Apalagi Bu Elvi sangat menginginkan kita terus berada di tengah-tengah keluarga mereka. Bunda juga tak merasa enak untuk meninggalkan keluarga itu. Pasti Bu Elvi akan merasa sedih jika bunda berhenti dari pekerjaan. Lagian bunda juga akan merasa bosan di rumah jika tak memiliki aktivitas.”Jawab Tamara mencoba jelaskan agar Emely mengerti dengan keputusannya.


“Baiklah kalau memang itu keputusan bunda. Emely hargai itu. Tapi bunda juga harus ingat ! jaga kesehatan bunda jangan sampai terlalu capek.”Dengan nada menasehati ibunya.


Tamara tersenyum mendengar ke khawatiran Emely terhadapnya.


“Iya sayang. Bunda janji akan menjaga kesehatan seperti kata Emely.”Jawab Tamara tersenyum.


Tak terasa perjalanan mereka telah sampai di depan rumah Pak Daniel. Emely dan Tamara turun dari mobil dan segera masuk ke dalam rumah.


“Assalamualaikum.” Tamara memberi salam.


“Walaikumsalam.”Jawab Bu Elvi.


Bu Elvi sangat senang melihat Tamara mengajak Emely ke rumahnya.


“Aduh ada Emely ! tante senang Emely bisa ikut kesini !”berbicara lagi sambil menyuruh mereka masuk.

__ADS_1


“Ayo silahkan masuk !” ajak Bu Elvi.


“Terima kasih Bu Elvi.” Jawab Tamara sambil masuk ke dalam rumah.


Mereka tampak berbincang-bincang. Tiba-tiba Stevani muncul. Ia adalah anak tertua dari Bu Elvi.


“Pagi ma?”Stevani menyapa.


“Pagi juga sayang.”Jawab Elvi sambil mencium putrinya.


“Gadis cantik ini siapa Bu Tamara?”tanya Stevani yang tak lagi mengenal sosok Emely.


“Ini Emely putri ibu. Nak Stevani sudah lupa ya?”Tamara bertanya balik agar Stevani mengingatnya.


“Emely yang dulu masih kecil itu ya bu. Ya tuhan ! aku sampai tak lagi mengenal Emely.” Ucap Stevani seakan tak percaya jika gadis cantik itu adalah Emely.


“Iya nak. Emely ini anak Bu Tamara yang biasa kesini waktu kecil.” Sambung Bu Elvi meyakinkan kembali putrinya.


“Ya ampun ! Emely sekarang sudah menjadi seorang gadis cantik.” Masih dengan nada yang seakan tak percaya.


“Terima kasih kak Stevani ! kakak juga sekarang terlihat sangat berbeda.” Emely memuji sambil tersenyum.


“Emely kamu sering-sering main kesini ya ! aku bosan di rumah tak punya teman main, curhat, jalan-jalan ke mall.” Ucap Stevani yang terlihat bersahabat.


“Iya kak. Nanti Emely sering main kesini kalau ada waktu luang ya kak.”Jawab Emely masih dengan senyuman tipisnya.


“Kamu kerja sekarang?” tanya Stevani penasaran.


“Iya kak. Aku belum lama ini baru di terima kerja. Jadi hari-harinya kerja dan tak sempat buat jalan-jalan kesini.” Jawab Emely yang mencoba menjelaskan.


“Oh iya kalau begitu.Jika Emely punya waktu luang, tolong mainlah kesini ya !” ajak Stevani.


Kedua gadis muda itu pergi keluar di taman dekat halaman rumah sambil berbincang-bincang.


Bu Elvi dan Bu Tamara terlihat sangat bahagia menyaksikan kedua putri mereka yang tampaknya akrab satu sama lain. Walaupun baru bertemu lagi selama bertahun-tahun.


“Iya bu. Terima kasih sudah mengizinkan Emely untuk bersahabat dengan Stevani !” dengan raut wajah yang bahagia.


“Iya Bu Tamara. Kita sebagai orang tua harus bisa menjaga dan membuat anak-anak kita terlihat bahagia.”Jawab Elvi dengan nada tulus.


Setelah berbincang-bincang sejenak, Tamara minta izin untuk segera mengerjakan tugasnya di rumah Bu Elvi.


“Saya permisi bersih-bersih dulu ya bu !”ucap Tamara minta izin.


“Iya Bu Tamara. Silahkan !” jawab Elvi.


Sementara Emely dan Stevani masih terlihat mengobrol asyik di halaman rumah. Emely melihat dari jauh jika ibunya yang telah membersihkan rumah. Emely pamit pada Stevani untuk membantu ibunya.


“Maaf kak ! aku mau bantu ibu bersih-bersih rumah dulu ya.” Ucap Emely minta izin.


“Oke dek. Biar kak Stevani bantu juga bersih-bersih ya. Soalnya kakak juga tak punya kegiatan hari ini. Hitung-hitung buat olahraga dalam rumah.”Jawab Stevani bersungguh-sungguh ingin membantu Emely.


“Oke kak. Yang penting kakak jangan terlalu capek ya !” dengan nada mengingatkan.


“Iya iya. kakak tahu kok.” Jawabnya tersenyum.


Kedua gadis cantik itu masuk ke dalam rumah dan segera membantu Tamara yang sedang membersihkan rumah.


“Bun, Emely sama kak Stevani ingin bantu bunda bersih-bersih.” Emely dengan wajah tersenyum.


“Iya Bu Tamara. Stevani ingin membantu Emely dan juga Ibu.” Jawab Stevani dengan raut wajah terlihat senang.


Tamara tersenyum mendengar anak majikannya ingin membantu membersihkan rumah.


“Iya kalau begitu kalian bantu ibu tapi jangan yang berat- berat ya !” ucap Tamara mengingatkan.

__ADS_1


“Iya Bu.”Jawab kedua gadis cantik itu.


Akhirnya ketiga orang itu terlihat sangat akrab dan bahagia bisa saling membantu satu sama lain. Stevani terlihat sangat gembira memiliki teman baru. Ia tampak sangat menyambut kedatangan Emely.


Mereka juga terlibat dalam percakapan sehingga membuat suasana menjadi ramai.


Tiba-tiba seorang laki-laki tampan turun dari tangga. Ia keluar dari kamar karena mendengar seperti ada keramaian di bawah.


Dengan rasa penasaran, lelaki itu turun dan melihat apa yang sebenarnya terjadi.


Apalagi pria ini tak suka dengan kebisingan. Ia suka menyendiri dan tak ingin bergabung dengan orang lain kecuali orang tuanya.


Tampak wajahnya terlihat sangat kesal mendengar suara wanita yang terdengar sangat mengganggu telinganya.


Siapa itu ya? Mengapa mereka terdengar sangat berisik sekali? mereka tak tahu jika aku paling benci kebisingan ! batin Natan Seakan merasa kesal.


Sampai di bawah. Ia melihat kakaknya bersama Bu Tamara dan salah seorang gadis yang tak dikenalnya. Gadis itu terlihat sedang tertawa lebar karena merasa lucu dengan tingkah Stevani yang terlihat sangat konyol. Mereka bertiga sangat menikmati kebersamaan itu. Pria ini belum terlalu melihat jelas siapa wanita yang tertawa lebar yang mengganggu pendengarannya.


Karena ia melihat dari jarak yang agak jauh dari tempat mereka.


Siapa wanita itu ? mengapa suaranya begitu keras dan seakan memecahkan gendang telingaku ? hatinya bertanya-tanya tentang siapa gadis yang tertawa lebar itu.


Pria itu tak tahan lagi. Ia segera menghampiri mereka bertiga dengan wajah kesal. Kebetulan Bu Elvi sedang keluar rumah. Jadi tinggal mereka bertiga yang sedang membersihkan rumah dan saling bercanda satu sama lain. Pri itu tak menegur Bu Tamara ataupun Stevani. Ia hanya fokus pada Emely. Karena ia sangat terganggu dengan suara gadis itu.


“Hei ! apa anda tahu ini rumah punya siapa?


aku sangat membenci mendengar suaramu yang sangat mengganggu gendang telingaku ! aku sangat tak suka kebisingan ! dan ingat ! jaga sikapmu !”sambil menunjuk ke wajah Emely dengan nada tinggi.


Stevani tak terima melihat adiknya yang memarahi Emely. Ia kemudian membentak dan membela Emely.


“Hei tutup mulutmu ! jaga sikapmu dan jangan berbicara kasar pada orang lain ! apa masalahmu pada Emely ? jika kamu tak suka dengan kebisingan silahkan pergi tinggalkan rumah ini ! kalau bisa tinggal saja di hutan karena disana tak akan ada orang lain yang berbicara. Hanya ada tumbuh-tumbuhan dan hewan.”Jawab Stevani membentak dengan raut wajah yang kesal.


“Iya den. Saya minta maaf atas tindakan anak saya ! tolong maafkan dia !” ucap Tamara meminta maaf atas kesalahan Emely.


“Bu Tamara tak perlu minta maaf. Seharusnya adik saya yang harus minta maaf. Dia sudah sangat keterlaluan terhadap Emely. Tolong maafkan segala kesalahan adik saya yang sudah memarahi Emely !”Stevani meminta maaf pada Bu Tamara dan Emely atas sikap adiknya.


Pria itu masih terlihat sangat kesal. Ia tak terima dimarahi oleh kakaknya hanya karena wanita itu.


Emely hanya terdiam seketika. Ia tak bisa berkata apa-apa. Saat ini perasaanya sangat takut. Karena orang yang berdiri di hadapannya adalah seorang direktur perusahaan tempatnya bekerja. Ia khawatir jika ketahuan bisa berakibat fatal untuk pekerjaannya. Apalagi ia sudah membuat dua kesalahan pada pria ini. Pertama menabrak dan kedua membuat masalah di rumah sang direktur. Dalam hatinya ia memohon pada tuhan agar pria ini tak mengenali wajahnya.


Ya Tuhan, tolong Emely ! mudah-mudahan ia tak mengenali wajahku ! jika sampai itu terjadi maka akan berakibat buruk bagi pekerjaanku ! apalagi aku sudah membuat dua kesalahan terhadap pria ini. Pertama menabrak dan sekarang membuat masalah pada rumahnya sendiri. Ya tuhan, aku benar-benar butuh pertolonganmu ! batin Emely yang tak bisa ia ungkapkan.


Pria ini menatap tajam ke wajah Emely. Ia sepertinya mengenal Emely namun masih belum yakin. Pria ini mencoba mengingat wajah Emely agar ia tak lagi penasaran dan bertanya-tanya.


“Siapa gadis ini ya ? aku seperti mengenalnya, tapi dimana? wajahnya sangat tak asing bagiku ?” hatinya penuh pertanyaan yang tak bisa ia pecahkan sendiri.


“Ya Tuhan, mengapa ia menatapku seperti itu ? apa sekarang dia sudah mengenalku ? ya Tuhan, tolong jangan biarkan ini terjadi !” Emely dengan penuh pengharapan dalam hatinya.


Setelah berfikir sejenak, akhirnya pria ini kembali mengingat wajah Emely.


Sekarang aku ingat. Dia adalah gadis yang menabrakku di kantor waktu itu. Tapi mengapa dia bisa ada di rumahku ? gadis ini sudah dua kali membuat masalah dalam hidupku. Pertama menabrak dan kedua membuatku kesal dengan suaranya. Batinnya seakan mengenal dan mengingat pertemuan mereka di kantor.


Kemudian pria ini langsung naik ke atas meninggalkan mereka. Wajahnya masih tampak kesal karena di marahi oleh kakaknya.


Ia sempat menatap Emely dan menyeringai sebagai tanda tak suka terhadap apa yang telah terjadi.


Tamatlah riwayat karirku ! ia pasti akan memecatku dari pekerjaan yang susah ku dapatkan ! ucap Emely dalam hati yang merasa khawatir.


Tiba-tiba Stevani menepuk pundak Emely yang terlihat diam seribu bahasa.


“Kamu kok diam Emely. Maafkan adikku Natan ya ! dia memang orangnya seperti itu. Tak suka dengan kebisingan. Jangan di ambil hati dengan kata-katanya. Orangnya saja yang terlihat seperti itu. Tapi sebenarnya hati Natan sangat baik.” Meminta maaf pada Emely atas kesalahan Natan.


“Oh iya kak. Tak perlu minta maaf. Aku juga tak ambil hati dengan sikap adiknya kak Stevani.”Emely memaafkan sambil tersenyum pada Stevani.


“Terima kasih ya Emely ! kamu memang gadis yang baik.” Stevani dengan nada memuji.

__ADS_1


Mendengar pujian Stevani membuat Emely tersenyum. Ia pun mengingat nama adik dari Stevani itu ternyata Natan.


Oh jadi pria itu namanya Natan. Mengapa sikapnya sangat berbeda dengan kakaknya ? mereka saudara kandung tapi memiliki sikap yang berbeda. Batinnya seakan membandingkan sikap dari kakak-beradik itu.


__ADS_2