Tuhan Jangan Ambil Dia

Tuhan Jangan Ambil Dia
Emely manja


__ADS_3

Setelah kecelakaan itu, Emely tak bisa masuk kerja. Ia masih harus tinggal beberapa hari di rumah sakit. Natan meminta izin pada Bu Tamara untuk merawat Emely sampai sembuh total. Natan menyempatkan diri menjenguk Emely pada saat pergi kerja dan setelah pulang kerja.


Natan terlihat sangat bertanggungnjawab atas kecelakaan yang di alami gadis itu.


Pagi itu ia pergi ke kantor. Sebelum pergi Natan masih singgah di rumah sakit untuk melihat perubahan kondisi Emely.


“Bagaimana perasaanmu saat ini ?”tanya Natan.


“Iya pak. Aku sudah baikan sekarang.”Jawab Emely tersenyum.


“Kamu harus habiskan makanan ini dan minum obatmu !”perintah Natan.


Setelah selesai makan, Emely minum obat seperti biasanya. Ia sangat senang sekarang direktur sangat baik padanya.


“Kamu istirahat sekarang ! nanti pulang kantor aku akan kesini lagi.”Ucap Natan serius.


Emely hanya tersenyum mendengar ucapan Natan.


Setelah Natan meninggalkan ruangan itu, tiba-tiba Tamara datang untuk melihat keadaan putrinya.


“Pagi sayang ?”ucap Tamara menyapa Emely.


“Pagi juga bunda.”Jawab Emely terlihat bahagia menyambut kedatangan ibunya.


“Hari ini bunda akan menemani Emely disini.”Sambung Tamara lagi.


“Iya bun. Emely senang bunda ada disini.”Jawab Emely polos.


“Apa kamu sudah makan sayang ?”tanya sang bunda.


“Iya bun. tadi Natan kesini sebelum dia ke kantor. Aku disuruh makan sama minum obat.”Jawab Emely.


“Rupanya Natan menjengukmu. Bunda senang ia bisa bertanggung jawab padamu. Natan sangat merasa bersalah waktu kecelakaan itu.”Tamara terdengar menjelaskan.


“Iya bun. Emely juga merasakan hal yang sama.”Ungkap Emely yang terdengar jujur.


Ibu dan anak ini terlihat saling bercanda satu sama lain. Tamara sangat bahagia bisa kembali melihat anaknya yang tersenyum seperti sedia kala.


“Bunda bahagia bisa melihatmu kembali tersenyum. Bunda harap agar Emely cepat sembuh dan kita kembali bersama-sama lagi di rumah. Pak tua sering menanyakanmu. Ia sangat khawatir dengan kondisimu sekarang.” Ucap Tamara.


“Iya bun. Aku sekarang baik-baik saja. Nanti juga akan segera sembuh.”Jawab Emely meyakinkan sang bunda.


Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Sekarang sudah menjelang siang. Tamara masih tampak bergurau dengan putrinya.


Tiba-tiba seorang laki-laki tampan masuk ke dalam ruangan.


Rupanya pria itu adalah Natan. Hari ini Natan cepat pulang kantor karena ia harus mengurus Emely.


“Selamat siang bu ?”sapa Natan.


“Selamat siang nak.”Jawab Tamara.


“Ibu sudah lama disini ?”tanya Natan lagi.


“Iya nak. Ibu sudah dari tadi kesini menjenguk Emely. Mengapa kamu sudah pulang kantor ?”tanya balik Tamara.


“Iya bu. Soalnya aku harus mengecek kondisi Emely sekarang. Aku merasa tak tenang bila berada di kantor dan terus memikirkan kondisi Emely.”Jawab Natan khawatir.


“Terima kasih nak. Ibu sangat bersyukur kamu bisa menjaga dan merawat Emely dengan baik.”Ucap Tamara memuji Natan.


“Iya bu. Memang sudah seharusnya saya menjaga Emely. Kecelakaan yang terjadi pada Emely itu karena kecerobohanku.”Jawab Natan merasa bersalah.


“Tak apa nak. Kamu tak perlu minta maaf. Semua ini sudah musibah yang harus kita jalani dengan hati lapang dan ikhlas.”Tamara berbicara lagi.

__ADS_1


“Iya bu. Terima kasih sudah menerima permintaan maafku.”Natan merasa senang karena Bu Tamara tak benci padanya.


Emely hanya tersenyum kala melihat percakapan antara ibunya dan juga Natan.


Ia tak menyangka jika Natan adalah orang yang sangat hangat dan juga cepat akrab. Natan terlihat sangat berbeda ketika ia berada di kantor. Emely sangat mengagumi sosok Natan yang terkenal pemarah dan acuh, kini ia berubah seketika bak pria idaman para gadis.


Direktur terlihat sangat manis jika ia bersikap seperti ini. Ternyata sang direktur punya sikap yang sangat perduli dan perhatian terhadap orang lain. Memang direktur adalah pria idaman bagi setiap para wanita. Gumamnya dalam hati.


“Bu Tamara pulang saja istirahat ! biar saya yang akan menjaga Emely.”Ucap Natan meyakinkan Tamara.


“Baiklah nak. Kalau begitu ibu titip Emely ya.”Jawab Tamara mempercayakan Emely dijaga oleh Natan.


“Bunda hati-hati di jalan !”sambung Emely.


“Iya nak. Kamu cepat sembuh ya. Bunda rindu bila tak melihatmu di rumah.”Jawab Tamara mengharapkan putrinya sembuh.


“Iya bunda. Emely pasti akan cepat pulih. Tolong sampaikan salam Emely sama Pak tua di rumah.”Ucap sang putri.


“Iya nak. Bunda pasti akan menyampaikan pesanmu. Kamu sekarang harus banyak istirahat. Bunda pamit pulang dulu.”Tamara pamit pada Emely untuk pulang ke rumah.


“Iya bunda.”Jawab Emely singkat.


Setelah ibunya pergi, Emely dan Natan tinggal berdua di dalam ruangan.


“Mengapa bapak kesini sebelum jam pulang kerja ?”tanya Emely bingung.


“Kamu tak perlu memikirkan tentang pekerjaan. Aku disini hanya untuk merawatmu sampai sembuh.”Jawab direktur datar.


Emely senang mendengar jawaban sang direktur yang terdengar polos tapi serius.


Aku baru tahu pak direktur sangat perhatian dan bisa merawat orang dengan baik. Batin Emely memuji.


“Pak, aku merasa pengap dalam ruangan ini. Boleh bapak menemaniku keluar di halaman rumah sakit ini?”ucap Emely memohon.


“Pak aku mohon ya ! sekali saja antarkan aku keliling halaman ini.”Dengan nada kasihan.


“Jadi aku harus menggendongmu?tanya Natan lagi.


“Iya pak. Aku mau digendong. Tak apa kan?”ucap Emely manja.


Natan tak mengerti dengan sikap Emely yang tiba-tiba terdengar manja begitu.


Dia makin aneh ! apa karena sakit jadi dia bertingkah seperti itu ? batin Natan seakan bingung dengan sikap Emely.


Walaupun demikian, Natan mengabulkan permintaan dari gadis ini. Ia juga merasa bertanggung jawab atas Emely. Jika saja tak tertabrak olehnya mungkin Emely tak perlu minta bantuan darinya. Itu yang sekarang ada dalam hati Natan.


“Baiklah. Aku akan menggendongmu keliling halaman.”Jawab Natan datar namun terlihat siap mengantar Emely.


Dia sangat manis jika terlihat seperti ini. Puji Emely dalam hati.


“Ayo cepat naik di pundakku sebelum aku berubah fikiran !”ucap Natan dengan nada rendah.


Setelah itu Emely naik di pundak Natan. Gadis ini sangat bahagia dan merasa hangat berada di sisi Natan. Emely seakan tak ingin melepaskan pelukannya pada pria itu.


Saat ini Natan merasa ada sesuatu yang beda. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia tak tahu apa yang sekarang dirasakan.


Mengapa aku merasa deg-degan dekat wanita ini ? Natan bertanya dalam hati.


“Mengapa bisa seorang gadis mempunyai berat badan seperti ini ?”ucap Natan menggoda Emely.


“Apa aku terasa berat ya ? aku yakin bapak pasti bisa melakukan ini hingga akhir !”jawab Emely penuh semangat.


“Iya kamu berat. Tubuh gadis yang belum menikah itu tak berat seperti ini.”Jawab Natan spontan.

__ADS_1


“Maafkan aku pak !”Emely


bersungguh-sumgguh.


Mendengar kata maaf membuat Natan kesal. Ia menarik nafas panjang tanda tak suka.


“Aku sudah bilang berulang kali. Kata maaf itu tak akan bisa menyelesaikan masalah.”Jawab Natan ketus.


Emely benar-benar lupa dan tak sengaja mengatakan hal itu. Gadis ini hanya terdiam mendengar ocehan Natan.


Setelah tiba di halaman rumah sakit, Emely duduk di dekat taman dan menghirup udara menjelang sore hari.


Natan hanya menatap Emely yang sedang menikmati suasana di luar. Ia menjaga gadis itu dan berada di samping Emely.


Gadis ini terlihat bahagia. Wajahnya begitu polos. Aku merasa seakan mulai nyaman berada di sisinya seperti ini. Jiwaku seakan mengatakan ingin menjaga gadis itu. Batin Natan seakan ingin berada di samping gadis itu.


“Apa kamu senang sekarang ?”tanya Natan.


Emely tersenyum mendengar pertanyaan dari Natan.


“Iya pak. Terima kasih sudah mau mengantarku keliling halama.”Jawab Emely.


“Jangan terlalu lama di luar. Kondisimu belum terlalu membaik.”Ucap Natan memberi nasehat.


“Iya pak. Sekali lagi terima kasih sudah mengingatkanku. Ayo kita kembali ke ruangan !”ajak Emely.


“Masih ingin di gendong ?”tanya Natan menggoda.


“Iya pak. Aku nyaman di gendong sama bapak.”Jawab Emely polos.


Mendengar ucapan Emely membuat Natan tersenyum. Ia merasa baru kali ini lagi memanjakan seorang wanita.


“Aku tak menyangka baru kali ini kamu terdengar manja padaku. Biasanya kamu terlihat kaku jika dekat denganku.”Ucap Natan sambil mengernyitkan bibirnya.


Emely hanya tersipu malu dan tak menjawab ucapan dari Natan. Memang Emely tak pernah melakukan hal ini sebelumnya terhadap Natan.


Tapi akhir-akhir ini karena sering bersama, jadi Emely memberanikan diri untuk berbicara dan bersikap manja pada Natan.


Emely merasa sangat nyaman dan bahagia bila berada di samping pria pemarah itu.


Tapi di balik itu ternyata Natan mempunyai sikap yang hangat terhadap orang lain.


Itu yang sekarang Emely baru rasakan.


Aku ingin berlama-lama di rumah sakit. Aku senang bila direktur sangat baik padaku. Jika nanti di kantor dia akan berubah menjadi orang pemarah dan sangat menakutkan. Gumam gadis itu.


Setelah sampai dalam ruangan, Emely pun langsung istirahat. Ia tak tega melihat Natan tidur di kursi untuk menjaganya. Akhirnya Emely menawarkan agar Natan tidur di dekatnya. Tempat tidur di rumah sakit agak sedikit luas dan cukup untuk dua orang.


“Jika tak keberatan bapak tidur saja disini.”Emely menawarkan.


“Apa kamu serius aku bisa tidur disitu ?”tanya Natan menatap dalam Emely.


“Iya pak. Aku serius. Bapak kan sudah mengurusku dengan baik, jadi tak masalah jika aku berbagi tempat tidur.”Jawabnya polos.


Natan kemudian tidur di samping Emely. Pria ini merasa deg-degan berdekatan dengan Emely. Ia tak tahu perasaan macam apa yang sedang ia rasakan. Yang jelasnya Natan merasa nyaman di sisi gadis itu.


Selama ini Natan sudah cukup lama menutup hatinya untuk seorang wanita. Ia sampai berfikir tak lagi menjalani suatu hubungan, karena menurutnya itu sangat menyakitkan.


Sampai akhir ia bertemu Emely. Kini perasaan Natan kembali hidup dan merasakan getaran cinta pada gadis itu. Hingga saat ini Natan ataupun Emely belum menyadari akan hal itu.


Mereka sekarang tidur seranjang di rumah sakit. Emely merasa seperti mimpi bisa tidur dekat dengan sang direktur. Emely tak menyadari jika Natan juga merasakan hal yang sama.


Mereka berdua diam-diam mengagumi satu sama lain.

__ADS_1


__ADS_2