
Setelah mendapat tugas baru dari direktur, Emely mulai praktek di rumah untuk memasak makanan Jepang. Ia melihat di internet cara memasaknya.
Pulang kantor, ia singgah di mini market untuk membeli bahan-bahannya.
Sampai rumah, ibunya kaget melihat Emely membeli bahan-bahan makanan.
“Mau masak?”tanya bunda Tamara.
“Iya bun. Ini buat tugas kantor.” Jawab Emely mencoba berbohong.
“Bunda baru tahu jika di kantor juga memiliki acara masak-memasak.”Tamara berbicara sambil tersenyum.
Emely membalas senyuman sang bunda. Tapi di dalam hatinya ia merasa sangat bersalah telah membohongi ibunya.
Maafkan Emely ya bun! Emely tak bermaksud membohongi bunda, tapi inilah pilihan terbaik agar bunda tak sedih dan khawatir. Gumam Emely dalam hati.
“Iya bun. Sekarang di kantor juga ada acara masak-memasak bunda. Makannya Emely beli bahan-bahan ini.”Ungkap Emely masih dalam kebohongan.
“Iya sayang. Bunda percaya kok. Memangnya Emely mau masak apa?”tanya bunda Tamara.
“Emely mau masak masakan Jepang bun. Soalnya di kantor besok ada acara untuk karyawan dalam memasak makanan ini.” Jawab Emely sambil mencari alasan agar bisa menjawab pertanyaan sang ibunda.
Tamara tampak merasa aneh dengan wajah yang di tunjukkan oleh Emely. Ia merasa jika Emely seakan menyembunyikan sesuatu. Memang batin seorang ibu yang melahirkan sangatlah kuat.
Sepertinya Emely menyembunyikan sesuatu dariku! Tapi apa ya? Mengapa wajahnya ragu dalam menjawab pertanyaanku? batin Tamara seakan curiga.
Rupanya Tamara curiga dengan Emely. Tamara yakin ada yang di sembunyikan oleh puterinya namun ia tak ingin bertanya dan mencari tahu lagi.
“Kalau begitu selamat mencoba ya!”Tamara memberi semangat
“Oke bunda.”Jawab Emely singkat.
“Kalau ada yang perlu di bantu nanti Emely bisa tanya bunda ya.”Ucap Tamara menawarkan bantuan.
Emely tersenyum tipis mendengar ucapan sang bunda.
Tamara meninggalkan Emely yang sedang mempelajari resep makanan jepang melewati internet. Ia membaca resep makanan itu dengan teliti lalu membuatnya. Emely harus bisa melakukan tugas beratnya hanya sampai hari ini waktunya. Karena besok ia harus siap untuk menyajikan makanan Jepang untuk direktur. Emely terlihat sangat serius untuk mempelajari masakan tersebut. Ia membuat beberapa masakan Jepang tapi tak pernah ada yang jadi. Sudah berjam-jam ia di dapur, tapi tak ada satupun yang selesai.
“Aku sudah sangat lelah! Sudah tiga jam aku berdiri di dapur tapi tak ada satupun yang bisa ku lakukan.”Ucap Emely yang terlihat lelah.
Tamara memperhatikan putrinya yang sudah berjam-jam di dapur. Ia merasa kasihan Emely yang tak pernah istirahat sedari tadi. Tamara kemudian menghampiri putrinya.
“Bunda lihat kamu sudah sangat kelelahan! Tinggalkan saja pekerjaanmu dan secepatnya pergi istirahat! Bunda khawatir jika terjadi sesuatu padamu.”Tamara dengan wajah khawatir.
“Iya bun. Tapi bagaimana kalau Emely gagal besok?”ucapnya tersenyum agar tidak membuat sang bunda khawatir.
Saat ini Tamara benar-benar khawatir dengan kondisi Emely yang terlihat capek. Namun Emely sebisa mungkin untuk menyembunyikan kondisinya sekarang.
“Bunda tak perlu khawatir padaku. Emely akan istirahat jika satu resep ini selesai.”Kata Emely menenangkan hati ibunya.
“Baiklah kalau begitu.Jika sudah selesai kamu langsung istirahat ya.”Ucap Tamara langsung meninggalkan Emely.
Resep terakhir yang akan dibuat oleh Emely adalah makanan sederhana yang berasal dari Jepang. Nama masakan itu adalah tamagoyaki. Masakan ini resepnya sangat sederhana. Ia hanya terbuat dari telur, daun bawang,wortel,sayur, garam dan lada. Masakan ini terlihat sangat mudah resepnya. Emely memilihnya karena sudah berapa macam masakan yang ia buat tapi gagal.
Akhirnya ia mencoba buat masakan Jepang yang namanya tamagoyaki. Baru ingin membuatnya, tiba-tiba mata Emely sudah terlihat sangat lelah. Ia tak tahan lagi untuk berlama-lama di dapur. Dan akhirnya Emely memilih untuk tidur. Gadis ini meninggalkan segala aktivitasnya untuk segera beristirahat.
“Aku capek! Aku tak mampu lagi untuk bertahan lama di dapur.” Sambil melangkahkan kakinya menuju tempat tidur.
Wajar jika Emely mengantuk karena dari pulang kerja sampai malam ia belum pernah istirahat.
Esok harinya. Pagi yang cerah dan tampak matahari terlihat bersinar terang. Emely terbangun dari tidurnya dengan wajah yang masih terlihat lelah. Ia segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Emely buru-buru mandi dan segera pergi ke kantor.
“Bunda, Emely berangkat dulu ya!”pamit Emely.
“Iya sayang. Tapi kamu belum sarapan.” Tamara dengan wajah khawatir.
__ADS_1
“Iya nak. Sebaiknya kamu sarapan dulu.” Sambung Pak tua.
Terima kasih bunda. Terima kasih Pak tua. Emely sepertinya harus pergi sekarang!”Emely dengan wajah panik serta terlihat buru-buru.
Tamara dan Pak tua tampak khawatir melihat Emely yang tak sarapan pagi.
Emely pergi ke kantor dengan wajah panik karena hari ini ia harus memulai tugas barunya. Sementara dari kemarin sampai sekarang ia belum bisa membuat masakan ala Jepang. Emely takut sang direktur akan marah besar jika ia tak menyajikan masakan Jepang hari ini.
“Tamatlah riwayat pekerjaanmu Emely! Sekarang apa yang bisa kau perbuat Emely?”Emely menyalahkan dirinya.
Gadis ini terlihat sangat lesuh. Walaupun demikian ia belum terlihat menyerah. Sepanjang perjalanan Emely membuka di internet resep masakan Jepang yang mudah.
“Oh iya. Sepertinya hari ini aku menyajikan makanan Jepang tamagoyaki. Ini terlihat mudah. Hanya lima butir telur,daun bawang,wortel,dan sayuran. Aku harus mencoba menyajikan masakan ini.”Ucap Emely penuh rasa percaya diri.
Sampai di kantor ia berlari secepatnya untuk memasuki ruangan. Nafas Emely naik turun dengan cepat. Nina kaget melihat sahabatnya yang tampak kelelahan.
“Kamu dari mana saja Emely?Mengapa nafasmu tak beraturan seperti orang yang lagi main kejar-kejaran?”tanya Nina khawatir tapi sedikit menggoda Emely.
“Aku tak punya waktu Nin. Aku harus segera ke dapur dan memikirkan bagaimana aku harus memasak makanan direktur?”jawab Emely dengan nada khawatir.
“Iya aku paham. Tapi kamu harus tenangkan diri dulu. Aku jadi khawatir melihat kondisimu sekarang!”Nina masih dengan keadaan khawatir.
“Aku tak apa-apa Nin. Terima kasih,sudah perduli. Aku harus pergi sekarang! Semoga harimu menyenangkan.”Ucap Emely memberi semangat pada Nina.
Akhirnya Emely pergi ke dapur. Di dapur ada seorang wanita paruh baya yang merupakan juru masak pribadi direktur. Wanita itu ahli dalam memasak. Tiba-tiba direktur muncul di dapur. Ia menyuruh agar juru masaknya tak perlu mengerjakan tugas itu selama tiga bulan.
“Ibu tak perlu melakukan pekerjaan untuk menyajikan makanan buatku selama tiga bulan. Biarkan wanita ceroboh ini yang melakukan pekerjaan itu!”ucap direktur dengan nada datar sambil menunjuk wajah Emely.
Dia sudah mempunyai juru masak tapi mengapa masih menyuruhku melakukan tugas ini? gumamnya dalam hati.
Rasanya Emely ingin mengatakan langsung pada sang direktur itu. Namun ia tak berani untuk mengungkapkannya secara langsung.
“Apa yang kamu khayalkan? Jangan banyak berfikir dan cepat pelajari tugasmu! Aku ingatkan kembali, jika aku adalah orang yang tak bisa mentolerir kesalahan!”Natan mengingatkan.
Gadis itu tak berani menatap mata direktur. Ia tak bisa melihat tatapan tajam itu yang seakan membunuhnya.
“Aku minta maaf.”Ucap Emely tak sadar jika kata itu membuat direktur sangat bosan mendengarnya.
“Apa kamu tak belajar dari kesalahanmu?
Awas saja jika aku mendengarmu masih mengucapkan kalimat yang tak ingin ku dengar! Kata maaf itu tak akan bisa menyelesaikan masalah. Berfikir gunakan otakmu.”Ucap direktur dengan nada tinggi.
Emely tertunduk dan tak bisa berkata-kata lagi. Ingin meminta maaf tapi sepertinya itu tak akan mungkin ia lakukan. Sang direktur sangat membenci kata itu.
“Jam makan siang kamu harus menyajikan aku makanan Jepang! Awas saja jika salah!” ucap sinis direktur.
“Baik pak.”Jawab Emely dengan nada perlahan.
Seketika itu sang direktur meninggalkan Emely di ruangan dapur dengan segala macam peringatan yang ia tinggalkan bersama gadis itu.
Juru masak sang direktur kini tak lagi turut serta membantu Emely. Ia takut nanti akan di marah oleh direktur.
“Maaf nona, saya permisi dulu ! saya benar-benar tak bisa membantu pekerjaan nona !”ucap juru masak sambil meninggalkan ruangan dapur.
Emely hanya tertunduk dan berdiam diri. Ia memikirkan cara agar bisa membuat makanan Jepang yang simpel dan mudah di pelajari.
Aku harus mencoba masakan Jepang tamagoyaki. kelihatannya resep itu yang paling mudah dibuat dari pada masakan Jepang lainnya. Batin Emely yakin.
Gadis itu berdiri dari tempatnya, Ia segera mengerjakan apa yang sudah dalam bayangannya. Emely memulainya dari pukul 09.00 pagi hingga pukul 11.00 menjelang siang. Namun berulang kali ia membuatnya tak ada satu pun yang sesuai harapan. Emely ingin membuatnya lagi dan mencari bentuk yang lebih bagus dan menarik, namun waktu sudah tak cukup lagi.
Ya Tuhan ! apa yang harus ku lakukan? waktuku tak lama lagi. Batin Emely gugup.
Wajah Emely tampak lesuh. Ia sepertinya sudah siap menerima konsekuensinya nanti.
Waktu jam istirahat sudah di depan mata. Emely tak punya cukup waktu untuk membuat makanan yang baru lagi. Gadis ini dengan sangat terpaksa harus menyajikan makanan Jepang yang alakadarnya dengan bentuk yang aneh dan tak dikenali.
__ADS_1
Jam istirahat pun telah tiba. Ia segera ke ruangan direktur untuk mengantarkan makanan. Ia melangkahkan kakinya dengan perlahan. Wajah Emely tampak gugup. Gadis ini tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi nanti. Ia pun berfikir sepanjang jalan menuju ruangan.
Ya Tuhan ! cacian dan hukuman apalagi yang harus ku terima nanti. Hati Emely berkata seakan membayangkan kenyataan yang akan terjadi nanti.
Sampai di depan ruangan, ia masih berdiri beberapa menit di depan pintu. Gadis ini menarik nafas untuk mengumpulkan segala kekuatan dalam menghadapi sang direktur.
Emely tak tahu jika di dalam ruangan direktur ada CCTV.
Tanpa sengaja direktur melihat Emely yang terlihat sedang memikirkan sesuatu di luar sana. Tiba-tiba suara besar terdengar dari dalam menyuruhnya masuk.
“Cepatlah masuk! bawa makan siangku kesini!”teriak direktur.
Seketika gadis itu langsung masuk ke dalam. Raut wajahnya terlihat gugup. Tubuhnya seakan kaku berhadapan dengan direktur.
Ya Tuhan! Apa yang harus ku lakukan sekarang? Makanan yang ku sajikan ini sangat terlihat buruk. Kata hati Emely seakan khawatir.
“Awas saja jika makanan ini tak sesuai dengan seleraku! ”ucap direktur sambil menatap sinis Emely.
Gadis itu tak berani melihat ke arah direktur. Ia seakan tak sanggup melihat tatapan tajam sang direktur yang seakan ingin membunuhnya.
Gadis itu kemudian menyajikan makanan itu di atas meja sang direktur.
Alangkah terkejutnya sang direktur. Ia sampai tak mengenali jenis makanan apa yang telah Emely sajikan.
Makanan jenis apa yang wanita ini sajikan? aku tak pernah melihat ada jenis makanan Jepang seperti ini. Natan merintih dalam hati.
Kemudian gadis itu mempersilahkan sang direktur untuk mencicipi makan siang buatannya.
“Silahkan di makan pak!”ucap Emely.
Tiba-tiba tatapan tajam direktur mengarah kepada gadis itu dan menanyakan jenis makanan apa yang di sajikan oleh Emely.
“Jenis makanan apa yang kamu sajikan di depanku?” tanya direktur dengan nada datar dengan wajah yang tak suka.
“Ini makanan Jepang pak. Namanya tamagoyaki. Aku yang membuatnya sendiri.” Jawab Emely polos.
“Apa kamu ingin meracuniku hah?Kamu sengaja memberiku makanan aneh seperti ini.”Direktur masih dengan nada datar.
“Bapak coba makan dulu! Mungkin rasanya tak seburuk dari tampilannya.”Jawab Emely menahan gugup.
Tiba-tiba sang direktur tanpa membantah, ia mencoba untuk mencicipi makanan itu.
Tapi sayang sekali. Rupanya rasa makanan itu sangat asin. Direktur tampak kesal dengan penyajian makan siangnya.
“Apa kamu gila memberiku makan yang rasanya asin seperti ini?” direktur marah dan membentak Emely
Gadis itu tertunduk dalam. Ia tahu telah berbuat kesalahan yang sangat fatal. Emely tak berani menjawab sepatah katapun dengan ucapan direktur.
Sepertinya aku akan di pecat sekarang. Direktur terlihat sangat marah. Emely menduga-duga dalam hati.
“Mengapa kamu sangat bodoh? Membuat seperti ini saja kamu tak bisa. Bagaimana bisa orang sepertimu di terima bekerja disini?Makanan Jepang tamagoyaki tak seperti ini bentuknya.”Ucap direktur dengan nada tinggi
Emely rasanya sudah ingin menyerah dengan posisinya sekarang. Tapi ia kembali berfikir bahwa ini adalah awal ujian dari pekerjaanya.
Ya Tuhan! Sepertinya aku harus banyak bersabar dengan ujian ini.” Ungkapan hati Emely.
Gadis ini ingin meminta maaf tapi ia mengingat bahwa sang direktur tak ingin mendengar kata-kata itu lagi. Emely hanya menerima segala amarah sang direktur.
“Bawa makanan aneh ini ke dapur ! aku tak kuat lagi mencium aromanya. Rasanya aku mau muntah. Awas saja jika besok masih membawakan aku makanan aneh seperti ini lagi! Kerjakan tugasmu dengan baik mulai besok!”ucap direktur dengan nada tinggi.
Rupanya sang direktur masih punya belas kasihan pada Emely. Ia masih mau memberikan kesempatan pada gadis itu untuk melakukan yang terbaik.
“Baik pak. Terima kasih. Saya akan berusaha dan lebih giat lagi belajar memasak.”Jawab Emely yang terlihat senang.
Gadis ini bersyukur karena tidak di pecat dari pekerjaannya.
__ADS_1
Ya Tuhan, terima kasih atas kebaikanmu! Aku tak menyangka pria menakutkan ini masih ada juga sisi baiknya.” Ucapnya dalam hati sambil tersenyum.
Tak ingin berlama-lama di ruangan, gadis itu kemudian membawa kembali makanan direktur ke dapur.