
Setelah mendapat persetujuan dari kedua keluarga, akhirnya mereka akan melaksanakan pertemuan untuk membahasnya.
Lampu hijau dari Natan dan Emely membuat kedua keluarga ini sangat antusias mengurus masalah perjodohan anak mereka.
Pagi itu Bu Elvi pergi ke rumah Emely. Ia tampaknya sudah tak sabar ingin membicarakan rencana perjodohan itu.
“Assalamualaikum.”Elvi memberi salam.
“Walaikumsalam Bu Elvi. Ayo silahkan masuk bu!”jawab Tamara.
Kemudian Elvi masuk dan langsung saja membicarakan maksud dari kedatangannya.
“Bu, aku ingin kita segera mengadakan pertemuan keluarga. Jangan terlalu menunda lama. Aku ingin anak-anak kita secepatnya untuk hidup bersama.”Ucap Elvi yang nampak antusias mengurus masalah perjodohan.
“Iya Bu Elvi. Aku juga berharap demikian.”Jawab Tamara setuju dengan keputusan Elvi.
“Apa boleh malam minggu kita makan malam keluarga di restoran sambil membicarakan masalah ini ?”tanya Elvi.
Tamara tersenyum tanda setuju dengan Bu Elvi.
“Iya Bu Elvi. Aku sangat senang mendengarnya.”Jawab Tamara.
“Mana Emely?”tanya Elvi lagi.
“Ada di kamarnya.” Jawab Tamara.
“Apa Emely baik-baik saja dengan perjodohan ini?”tanya Elvi masih ingin mendengar kepastian dari Emely.
“Iya Bu Elvi. Aku sudah menyampaikan pada Emely dan dia menyetujuinya. Sebenarnya Emely sangat sungkan untuk menerima ini. Ia merasa sangat tidak pantas untuk berjodoh dengan orang kaya seperti Natan”Jawab Tamara jujur dengan perasaan Emely sekarang.
“Tolong panggilkan Emely kesini! Aku yang akan berbicara langsung dengannya. Aku khawatir ini akan jadi beban fikiran untuknya.”Elvi dengan nada khawatir.
Setelah itu Tamara langsung menuju kamar dan memanggil Emely.
“Nak, Bu Elvi ingin bertemu denganmu !”ucap Tamara.
Emely tak tahu jika Bu Elvi sekarang ada di ruang tamu. Ia tampak malu bertemu Bu Elvi.
“Ayo sayang! Bu Elvi telah menunggumu.”Ajak Tamara.
“Iya bunda.”Jawab Emely menurut.
Gadis ini mengumpulkan segala tenaganya untuk menahan malu pada Bu Elvi. Emely tak tahu harus bersikap apa ketika menghadapi situasi seperti ini.
“Eh Emely. Kamu sudah sehat nak?”tanya Bu Elvi
“Iya Bu. Besok aku sudah bisa ke kantor.”Jawabnya gugup namun masih bisa tersenyum.
“Oh iya nak, ada yang perlu ibu bicarakan padamu. Apa kamu bersedia menerima perjodohan ini?”tanya Bu Elvi serius.
Emely tertunduk dalam. Ia tak tahu harus menjawab apa. Entah senang atau malah sebaliknya. Gadis ini menarik nafas panjang dan akhirnya menjawab pertanyaan itu.
“Iya Bu Elvi. Aku bersedia menerima perjodohan ini, tapi aku merasa tak pantas berjodoh dengan Natan.”Jawab Emely jujur.
“Iya nak. Ibu sangat mengerti perasaanmu. Kami tak pernah mempermasalahkan dengan status atau kedudukan seseorang. Ibu hanya berharap anak-anak ibu bahagia.”Ucap Bu Elvi menenangkan Emely.
“Tapi Bu, apa Natan akan menyetujui hal ini?”tanya Emely lagi.
“Iya nak. Natan telah setuju dengan keputusan kami. kamu tak perlu cemas dengan Natan. Ia sebenarnya anak yang baik namun agak sedikit pemarah dan sulit untuk di dekati.”Jawab Bu Elvi.
Emely tersenyum tipis tanda bahagia di raut wajahnya. Rupanya gadis ini menerima perjodohan ini dengan senang hati.
Setelah berbicara panjang lebar, akhirnya Bu Elvi pamit pulang.
“Bu Tamara, Emely. Saya pamit pulang dulu! terima kasih atas waktunya.”Ucap Bu Elvi pamit.
“Iya Bu Elvi. Hati-hati di jalan!”jawab mereka(Tamara dan Emely).
Kemudian Bu Elvi kembali ke rumahnya dengan mengendarai mobil mewah berwarna hitam.
Setelah meninggalkan jejak rumah Tamara, tiba-tiba Pak tua keluar kamar.
Ia melihat Emely dan ibunya sedang terlihat senang. Pak tua akhirnya menghampiri mereka.
“Ada apa? Kok, senyum-senyum.”tanya Pak tua.
“Iya pak. Akhirnya Emely di lamar oleh keluarga Pak Daniel.”Jawab Tamara senang.
“Syukurlah nak! Bapak akan berdoa semoga berjalan dengan baik.”Ucap Pak tua tulus.
“Iya Pak. Terima kasih, atas doanya ya.”Jawab Emely.
“Bunda tahu,kamu menyukai Natan kan?”tanya Tamara menggoda putrinya.
Emely tersipu malu mendengar pertanyaan sang bunda.
Ia seakan merasakan bahwa putrinya jatuh hati pada Natan.
“Bunda apaan sih. Emely tak ingin membahasnya.”Jawab Emely dengan wajah merah merona.
Tamara mengerti jika Emely malu untuk mengungkapkan padanya.
“Emely ....Emely.... kamu memang gadis yang menggemaskan!”puji Tamara.
Emely pergi ke kamar karena menahan malu pada ibunya. Gadis ini tak ingin ibunya tahu jika ia sebenarnya sangat nyaman dengan Natan semenjak di rumah sakit.
Sungguh kecelakaan yang menimpa Emely membawa berkah tersendiri.
Ia tak pernah membayangkan akan menikahi seorang direktur muda dan tampan seperti Natan.
Jika saja teman-teman kantornya tahu mengenai hal ini, mungkin mereka akan iri padanya karena memiliki calon suami kaya dan tampan seperti Natan.
Emely sebisa mungkin akan menutupi kebenaran antara dirinya dan sang direktur.
Gadis ini tak ingin menjadi bahan gosip orang sekantor.
Keesokan hari, gadis ini mulai melakukan aktivitasnya sepertu biasa.
Pagi ini Emely masuk kantor. Ia sudah tak sabar ingin bertemu sahabatnya Nina.
Apalagi sudah dua minggu ia cuti dari kantor.
Nina tak tahu jika Emely akan datang bekerja. Ia juga tak tahu jika Emely mengalami kecelakaan mobil baru-baru ini.
Nina sangat kaget bercampur senang karena melihat sahabatnya itu telah datang bekerja.
Emely langsung menyapa Nina.
__ADS_1
“Pagi Nina?”sapa Emely tersenyum semangat karena kembali lagi beraktivitas.
“Pagi juga Emely. Aku sangat merindukanmu Emely! Kamu sudah dua minggu tak pergi ke kantor.”Jawab Nina penasaran dengan keberadaan Emely selama dua minggu ini.
“Ada sesuatu yang ku kerjakan Nin.”Ucap Emely singkat namun tetap senyum.
“Kata direktur ;kamu disuruh melakukan perjalanan bisnis ke Jepang.”Nina dengan nada polos.
Emely terkejut dan merasa bingung dengan ucapan Nina. Ia berfikir sejenak.
Apa dia mengatakan hal itu pada teman-teman kantor untuk melindungiku ?tapi mengapa ia melakukan hal itu ? entahlah, yang penting sekarang aku bisa bekerja lagi dan bertemu teman-teman kantorku. Gumamnya dalam hati dan mengabaikan kebingungannya.
“Kamu hebat Emely! Bisa melakukan perjalanan kantor sampai ke Jepang. Kamu terlihat sangat bahagia karena sudah liburan.”Ucap Nina menggoda.
“Liburan apa Nin. Aku disana kerja bukan pergi liburan.”Emely mencoba berbohong.
“Ih,yang jelasnya kamu ke Jepang. Aku iri padamu.”Jawab Nina masih menggoda sahabatnya itu.
Kecelakaan yang baru menimpa Emely benar-benar tak ada yang tahu, termasuk Nina.
Maafkan aku Nin! Aku terpaksa berbohong padamu. Ungkapnya dalam hati yang merasa bersalah pada sahabatnya.
“Ya sudah, tak perlu dipermasalahkan. Aku senang bisa bertemu lagi denganmu.”Ucap Nina tersenyum.
Kemudian mereka berdua seperti biasa makan siang bersama di belakang kantor.
Tampak dua gadis muda ini sangat menikmati makanan siang mereka.
Emely yang kala itu tak sadar jika sang direktur mencarinya kemana-mana.
Akhirnya ia ditemukan di belakang kantor bersama sahabatnya.
Natan menyapa mereka dari belakang.
Emely dan Nina terkejut melihat sang direktur telah berada disitu menyaksikan mereka makan.
“Maaf pak!”Emely menyapa sambil menundukan kepala.
Rupanya gadis ini sedang mengunyah makanan.
Emely tampak terlihat lucu ketika tiba-tiba kaget.
Mengapa dengan wanita ini? Kenapa ia terlihat sangat formal denganku? Apa dia sudah lupa siapa yang mengurusnya di rumah sakit ? Gumam Natan kesal.
Nina juga langsung memberi salam pada sang direktur.
“Selamat siang pak?”sapa Nina.
Natan hanya menunjukkan wajah datarnya pada kedua gadis itu.
Aku tak percaya ada gadis yang kaku seperti mereka berdua. Jika mau makan silahkan saja. Tak perlu merasa kehadiranku bagaikan hantu. Ungkapnya dalam hati yang penuh dengan omelan.
“Oh iya. Kamu boleh pergi. Aku ada urusan dengan gadis ini.”Ucap direktur menyuruh Nina pergi.
Wajah Emely semakin salah tingkah. Jantungnya deg-degan tak beraturan.
Ia tak tahu apa yang akan dilakukan oleh direktur sekarang.
Apa yang akan dilakukannya sekarang? apa dia akan memarahiku karena masalah perjodohan itu? Emely bertanya-tanya dalam hati.
Kemudian Natan mendekati Emely dengan tatapan tajam. Ia ingin melihat reaksi gadis itu.
Ya Tuhan, apa yang akan ku lakukan sekarang? Direktur sekarang berada dekat di depanku. Rintihnya dalam hati.
Melihat hal itu membuat sang direktur ingin tertawa lebar. Ia merasa masih ada juga gadis polos yang hidup di dunia ini.
Dasar wanita polos. Apa yang perlu ia takutkan? apa dia tak tahu tentang perjodohanku dengannya? hatinya bertanya-tanya.
Natan kemudian menarik tangan gadis itu untuk duduk di sampingnya.
“Ayo duduk!”ucap Natan.
“Iya pak.”Jawabnya singkat dan terlihat gugup.
Emely sungguh tak nyaman dengan keadaan ini, namun ia berusaha rilex dengan posisinya sekarang.
“Apa kamu tahu dengan posisi kita sekarang?”tanya Natan mencari tahu.
Emely tak menjawab, ia hanya tertunduk dalam dan tak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan dari sang direktur.
Ya Tuhan, apa yang harus ku lakukan? ucapnya dalam hati merasa bingung.
“Hei gadi bodoh. Tatap aku dan jawab pertanyaanku !”direktur dengan nada datar.
“Iya Pak. Aku tahu sekarang yang terjadi diantara kita.”Jawab Emely jujur.
“Apa jawabanmu mengenai hal itu ?”Natan bertanya penasaran.
Emely sungguh bingung mendapat pertanyaan seperti itu.
Bilang iya atau tidak saat ini susah baginya untuk mengatakan.
Melihat Emely berfikir terlalu lama membuat Natan langsung menyampaikan keinginannya langsung pada Emely.
“Apa kamu mau menerima perjodohan ini?”tanya Natan lagi dengan wajah serius.
Natan memegang tangan Emely layaknya seorang kekasih yang ingin melamar pacarnya.
Ya Tuhan! Apa dia sedang melamarku?gumamnya dalam hati masih tak percaya kejadian ini.
“Cepat jawab! Aku paling tak suka menunggu lama. ”Natan berbicara dengan nada datar.
Emely saat itu yang merasa gugup, akhirnya secara spontan ia menjawab pertanyaan direktur.
“Iya aku mau.”Jawabnya sambil tertunduk malu.
Mendengar jawaban itu membuat Natan tersenyum tipis dan langsung meninggalkan Emely. Pria ini tak mengatakan apa-apa lagi.
Kata persetujuan dari bibir Emely yang ingin ia dengar secara langsung.
Setelah direktur meninggalkannya, Emely berlari ke ruangan dalam keadaan malu.
Rupanya Nina sudah menunggu. Ia tak sabar lagi mendengar apa yang terjadi antara Emely dan direktur tadi.
“Ayo cerita Emely! Sebenarnya apa yang terjadi?”tanya Nina dengan rasa penasaran.
“Tak apa-apa Nin. Suatu saat kamu pasti tahu Nin.”Jawab Emely santai namun wajahnya masih terlihat merah merona.
__ADS_1
“Aku curiga!”Nina menggoda Emely.
“Kamu kok buat aku takut Nin. Pertanyaanmu bikin geli.”Ucap Emely tertawa tipis.
“Ya sudah kalau tak mau bilang. Nanti aku akan cari tahu sendiri.”Jawab Nina tersenyum penasaran.
Akhirnya jam kerjapun berakhir. Mereka berdua pulang seperti biasanya. Namun kali ini berbeda, Natan langsung menjemput Emely dan mengantarnya pulang.
Mereka berdua kaget dengan kedatangan sang direktur. Ia membuka pintu mobil itu dan menyuruh Emely masuk.
“Ayo cepat masuk!”nada datar.
“Aku akan pulang bersama Nina.”Mencoba untuk menolak.
“Ini perintah! Cepat naik!”nada datar lagi.
“Boleh aku ajak temanku untuk pulang sama-sama?”Emely bertanya.
“Cepat kalian masuk sebelum aku berubah fikiran.”Jawabnya ketus.
Akhirnya Emely dan Nina masuk ke dalam mobil mewah itu.
Nina terlihat sangat senang bisa menaiki mobil mewah sang direktur.
Ini seperti mimpi bagiku bisa semobil bersama direktur. Batin Nina seakan merasa tak percaya.
Emely terlihat tak berbicara apa-apa. Gadis ini hanya terdiam memikirkan nasibnya nanti.
Natan mengantar Nina lebih dulu sebelum akhirnya mengantarkan Emely pulang.
Perjalanan merekapun sampai. Nina turun dengan wajah tersenyum.
“Aku duluan ya!”ucap Nina pada Emely.
Mobil itu kemudian melaju meninggalkan tempat Nina.
Di dalam mobil tinggal.mereka berdua.
Emely terlihat kaku saat menghadapi situasi semacam ini.
“Ada apa denganmu?”tanya Natan santai.
“Aku hanya pusing pak.”Jawab Emely singkat.
“Pusing kenapa?Apa kamu memikirkanku?”ucap Natan menggoda Emely.
“Tidak Pak. Aku mana mungkin berani memikirkan orang yang seperti bapak.”Jawab Emely berbohong.
“Memang apa yang salah jika memikirkanku?”Natan bertanya lagi masih dalam keadaan santai.
Spontan saja gadis itu menjawab dengan jujur dan polos atas pertanyaan direktur.
“Aku tak berani memikirkan bapak, apalagi anda adalah seorang direktur yang sangat pemarah,kejam dan cuek.”Jawab Emely jujur.
Mendengar jawaban jujur Emely membuat sang direktur tersontak kaget.
“Apa aku orang yang seperti itu?”tanya direktur merasa gemas pada Emely.
Emely hanya tertunduk dan menganggukkan kepalanya.
Hah,aku tak percaya ia mengatakan hal seperti itu di depanku. Gumamnya dalam hati.
Walaupun demikian,ia sangat menyukai kejujuran gadis itu.
Tak terasa mereka telah sampai di depan rumah Emely.
“Silahkan turun !”perintah direktur.
“Baik Pak. Terima kasih.”Jawab Emely.
Baru saja mengatakan hal itu, tiba-tiba mobil Natan langsung melaju dengan cepat meninggalkan rumah Emely.
“Apa dia tersinggung dengan ucapanku?”ucap Emely sambil menyalahkan bibirnya.
Sampai di rumah Emely langsung memeluk ibunya.
“Bun, Emely rindu karena seharian tak melihat bunda.”Ucapnya menggoda.
“Kamu ini seperti anak kecil. Sebentar malam kita adakan pertemuan dengan keluarga Natan.”Ucap Tamara.
“Untuk apa bunda?”tanya Emely penasaran.
“Membicarakan masalah perjodohan kalian. Bunda harap kamu tak keberatan dengan acara ini!”Tamara berharap.
“Iya bunda. Emely serahkan semua sama bunda tentang masalah ini. Emely hanya ingin bunda bahagia.”Jawaban Emely dengan penuh ketulusan.
“Terima kasih ya sayang.”Ucap Tamara bahagia.
Akhirnya malam telah tiba. Emely dan ibunya sedang bersiap-siap untuk ke restoran.
Emely berdandan biasa namun tetap terlihat cantik.
Rupanya Pak Daniel telah menyuruh supir untuk menjemput mereka.
Mobil jemputan telah datang. Emely dan ibunya langsung disuruh naik oleh supir.
“Silahkan naik !”ucap supir.
Mereka berdua akhirnya naik dan diantar langsung ke restoran tempat keluarga Pak Daniel menunggu.
Tak lama kemudian, mobil itu sampai dengan selamat.
Keluarga Pak Daniel sangat senang menyambut Emely dan Tamara.
“Ayo silahkan duduk!”ucap Bu Elvi.
Natan terlihat sangat tampan menghadiri acara pertemuan kedua keluarga ini.
Emely juga tak kalah cantik. Ia berdandan seadanya namun tak menutupi kecantikannya.
Natan sangat suka melihat penampilan Emely sekarang.
Gila! Dia cantik sekali. Puji Natan dalam hati.
Emelypun sebaliknya. Gadis ini sangat kagum dan menyukai penampilan Natan.
Kedua anak muda ini saling menutupi perasaan satu sama lain.
__ADS_1
Acara perjodohan antara keduanya akhirnya dibahas malam ini.
Mereka berdua terlihat tak memberikan komentar apa-apa tentang keputusan itu.