Tuhan Jangan Ambil Dia

Tuhan Jangan Ambil Dia
Emely dan tugas barunya


__ADS_3

Natan sangat puas melihat raut wajah Emely itu yang ketakutan.


“Hahaha, apa dia benar-benar takut padaku? wajahnya terlihat sangat lucu dan menggemaskan. Aku tak menyangka masih ada gadis di dunia ini yang terlihat kaku seperti itu.”Ucap Natan sambil tertawa.


Rupanya Natan sangat menikmati permainan barunya sekarang. Ia tak sabar lagi melanjutkan tingkah jahilnya pada gadis polos itu.


“Hahahaha, aku tak sabar lagi melihat wajahnya yang membuat kesalahan dan selalu minta maaf berulang-ulang.”Berbicara pada dirinya sendiri lagi.


Natan tak ingat lagi kapan terakhir kali ia senyum.


Tapi kali ini wajah Natan sangat senang telah menemukan gadis yang membuatnya senyum-senyum sendiri.


Seperti biasa Emely pergi ke kantor. Gadis ini tak memberitahukan ibunya tentang masalahnya di kantor. Emely takut jika ibunya akan sedih nanti.


Jangan sampai bunda tahu jika aku di tempatkan bagian juru masak pribadi sang direktur! Aku tak ingin membuat bunda sedih nantinya, yang terpenting sekarang aku bisa kerja dan menghasilkan uang untuk bunda. Mudah-mudahan aku sanggup menjalani tugas baruku nanti.” Kata hati Emely menyemangati dirinya sendiri.


Emely berfikir sejenak sebelum akhirnya ke kantor. Tiba di kantor, Emely langsung ke meja kerjanya. Gadis ini tak mau terlihat sedih di depan sahabatnya.


“Pagi Nin?”Emely menyapa dengan wajah tersenyum seperti biasa.


“Pagi juga Emely.”Jawab Nina.


Kedua sahabat itu terlihat berbincang sambil menunggu jam kerja di mulai.


Asyik mengobrol, tiba-tiba ada seorang pria utusan sang direktur datang.


“Nona Emely?”tanya pria itu.


“Iya saya sendiri.”Jawabnya penasaran.


“Anda disuruh ke ruangan atas sekarang.”Kata pria itu singkat.


Emely dengan paniknya lalu secepatnya pergi ke atas.


“Nin,aku pergi dulu ya! Semoga harimu menyenangkan.”Emely pamit dan menyemangati sahabatnya.


“Emely sebenarnya ada apa?”Nina semakin bingung dengan Emely.


“Nanti aku ceritakan ya. Aku harus pergi sekarang !”jawab Emely yang terlihat buru-buru.


Ia pergi ke ruangan atas untuk menemui sang direktur.


“Ya Tuhan! Ada apa lagi yang terjadi nantinya?”gerutu Emely.


Gadis ini tampak khawatir harus bertatap wajah dengan sang direktur. Ia takut direktur itu marah-marah dan membentaknya. Walaupun begitu, Emely tetap harus pergi ke ruangan sang direktur. Jika tak pergi akan lebih bermasalah lagi. Sepanjang jalan ia berusaha menyemangati dirinya sendiri agar bisa mengerjakan tugas barunya dengan baik.


“Aku harus semangat menjalani tugas ini. Yang terpenting sekarang adalah kebahagiaan bunda. Aku tak ingin bunda sedih bila aku di pecat nanti.”Ungkapnya sambil melangkah dengan penuh semangat.


Tiba di ruangan atas,Emely melihat pintu sang direktur terbuka. Ia melangkahkan kakinya perlahan dan berhati-hati.


Belum masuk ke dalam, tiba-tiba suara direktur langsung menyuruhnya masuk. Natan seakan tahu jika Emely sudah datang.


“Ayo masuk ! jangan seperti pencuri yang mengendap-endap di sekitar kantorku.”Ucap Natan sambil melihat CCTV.


Seketika itu Emely langsung masuk ke dalam ruangan itu. Ia melangkahkan kakinya dengan rasa percaya diri.


“Permisi pak!”ucap Emely.


Natan tak menjawab sapaan Emely. Ia hanya menatap gadis itu dengan wajah yang sulit di artikan.


Emely tak tahu harus melakukan apa. Gadis ini terlihat kaku dan tak tahu harus melakukan apa. Ia tak ingin bertindak lebih dulu tanpa sebuah perintah dari bosnya.


Natan hanya menatap terus wajah gadis itu tanpa bertanya ataupun menyuruh.


Ia sengaja membiarkan wanita itu berdiri lama disitu. Natan rupanya sedang menikmati permainannya.


Dasar gadis bodoh! *M*engapa ia tak duduk dan menyiksa dirinya sendiri? apa wajahku sangat menakutkan baginya? batin Natan.


Emely pun tak ingin duduk jika direktur tak menyuruhnya. Tampaknya kaki Emely sudah sangat pegal. Ia hampir tak kuat lagi untuk berdiri lama disitu.


Melihat hal itu membuat Natan khawatir namun ia tak menampakkan.


“Duduklah! Mengapa kamu berdiri saja disitu?”perintah Natan yang seakan ingin tertawa namun berhasil ia pendam.

__ADS_1


“Terima kasih pak!”ucap Emely sambil memegang kakinya yang terasa pegal.


Tampaknya sang direktur mulai menjabarkan apa yang harus di kerjakan oleh Emely.


“Apa kamu sudah mengetahui tugas-tugasmu disini?”tanya direktur.


“Memasak pak.”Jawabnya singkat dan penuh rasa percaya diri.


Mendengar hal itu membuat Natan tak percaya apa yang di katakan gadis itu.


Mengapa ia mengatakan itu tanpa beban dan penuh rasa percaya diri? gumam Natan dalam hati.


Emely tak menyadari jika jawabannya itu membuat sang direktur merasa tertantang.


“Apa kamu bilang?Memasak?Apa kamu fikir tugasmu itu sangat mudah?”bertanya dengan nada yang sedikit terdengar tegang.


“Iya pak. Aku bisa melakukan tugas itu. Memasak juga adalah tugasku di rumah sehari-hari.” Jawab Emely dengan masih rasa percaya dirinya yang terdengar polos.


Natan semakin merasa dipermainkan oleh gadis itu. Ia merasa Emely sangat hebat dalam membuat amarahnya naik-turun.


“Wanita ini bisa membuatku kesal dan bisa juga membuatku tersenyum.Ia terlihat sangat percaya diri menerima tugas dariku.” Ucap Natan kesal.


“Kamu terlihat sangat percaya diri nona. Kamu ingat baik-baik! Aku tak ingin makan masakan kampung dan juga kotor. Makananku harus higienis! Kamu harus menyajikanku makanan yang berbeda setiap harinya. Hari pertama aku ingin makan masakan Eropa. Hari kedua masakan Jepang. Masakan ketiga Italy. Masakan hari ke empat Swiss. Hari ke lima korea dan yang terakhir Indonesia. Selama enam hari kamu harus menyajikan makanan yang sudah terdaftar. Ingat itu!” ucap direktur memaparkan daftar makanan kesukaannya.


Ya Tuhanku! Mana bisa menyajikan masakan luar negeri. Aku hanya bisa masak tempe orek, nasi pecel dan rendang. Batin Emely khawatir dengan tugas barunya.


“Dan satu hal lagi, jangan sampai aku merasa muntah dengan makanan itu! Jika itu terjadi maka kamu sudah tahu akibatnya bagi dirimu. Aku bukanlah orang yang suka mentolerir kesalahan!”Natan dengan nada peringatan.


Walaupun Emely tak memngerti dengan jenis makanan itu, ia tetap saja dengan penuh percaya diri menerima tugas beratnya itu.


“Baik pak. Aku akan melakukannya.”Jawabnya percaya diri.


Emely sengaja menyembunyikan rasa khawatirnya. Gadis ini takut pekerjaannya akan terancam. Emely tak ingin membuat ibunya sedih jika mendengar ia gagal untuk mempertahankan pekerjaannya.


Aku harus kuat demi bunda! ” ucapnya dalam hati menyemangati dirinya sendiri.


Emely pun pamit keluar dari ruangan itu.


Natan masih belum menjawab ucapan gadis itu. Ia hanya berfikir mengapa Emely bisa percaya diri begitu dalam menerima tugas darinya. Padahal Natan tahu jika Emely tak bisa memasak makanan yang ia minta.


Mengapa ia terima tugas itu? Jelas-jelas ia tak bisa melakukan tugas itu! batin Natan seakan bingung dengan kepercayaan diri Emely.


Emely masih duduk menunggu kata persetujuan dari sang direktur. Gadis ini sudah sangat gerah berada lama-lama di ruangan itu. Ia khawatir jika direktur akan menyuruhnya melakukan pekerjaan lain yang tidak sesuai dengan bidangnya lagi.


Emely salah tingkah harus berhadapan langsung dengan sang direktur. Ia tak tahu harus menatap ke arah mana.


Natan benar-benar pusing dan sangat bingung di buat oleh gadis ini.


Namun Natan kembali berfikir bahwa tak akan ada hal yang mustahil di dunia ini.


Bisa saja hal yang tidak mungin bisa menjadi mungkin.


“Mengapa kamu sangat kaku seperti itu? Apa aku terlihat seperti hantu yang akan memakanmu?”ucap Natan sambil mendekati Emely.


“Maaf pak!”Emely menundukkan wajahnya dengan perasaan khawatir.


“Maaf,maaf dan maaf! Apa tak ada kata lain selain maaf? Rupanya hobimu mengucapkan maaf ya? Aku kan sudah berkali-kali bilang, jika kata maaf itu tak akan bisa menyelesaikan masalah. Kamu paham!”dengan wajah kesal.


“Iya pak. aku...!”ucap Emely tapi langsung terputus. Gadis ini baru saja ingin melakukan kesalahan lagi. Namun ia langsung segera menghentikan ucapannya.


“Pasti ia mau minta maaf lagi. Dasar wanita aneh! Apa tak capek ia mengatakan hal yang membosankan itu?”gerutu Natan dalam hati.


“Pasti mau minta maaf lagi. Sudah pergi sana! Aku tak ingin melihat wajahmu lebih lama lagi!”Natan dengan nada tinggi.


“Baik pak. Terima kasih.”jawab Emely langsung pergi namun di cegah oleh Natan.


“Eh, tunggu sebentar gadis peminta maaf! Mulai besok kamu harus mulai pekerjaan baru ini.”Natan menambahkan lagi.


“Iya pak. Akan ku lakukan tugasku.”Jawabnya dengan wajah yang penuh dengan rasa khawatir.


Emely segera meninggalkan ruangan itu. Ia sangat berfikir keras mengenai tugas barunya. Apalagi ia hanya mempunyai waktu besok untuk memulai pekerjaannya.


“Besok kan aku harus menyajikan makanan Jepang. Karena besok adalah hari kedua. Ya Tuhan, aku harus bagaimana?”gumam Emely khawatir.

__ADS_1


Ia melangkahkan kakinya dengan sangat berat karena memikirkan hal itu. Tapi Emely tak ingin mudah menyerah. Gadis ini yakin nanti akan ada pertolongan tuhan.


Aku harus semangat! Aku yakin Tuhan akan menolongku! batin Emely bersungguh-sungguh.


Sepanjang perjalanan menuju ruangannya, Emely tampak tersenyum. Ia tak lagi memikirkan hal yang membuatnya terganggu. Sampai di ruangan, tiba-tiba Nina menyapa.


“Kok lama sih. Apa yang kamu lakukan di atas sana?”tanya Nina.


Emely menarik nafas sejenak kemudian menjawab pertanyaan sahabatnya.


“Aku mendapatkan tugas baru dari sang direktur.”Jawab Emely tersenyum.


Nina semakin penasaran dengan ucapan Emely.


“Maksudmu tugas apa?”tanya balik Nina dengan wajah penasaran.


Karena tak ingin membuat Nina penasaran akhirnya ia menjelaskan pada sahabatnya itu.


“Aku jadi juru masak pribadi direktur.”Ucap Emely singkat.


Nina seakan tak percaya dengan ucapan sahabatnya barusan.


“Apa...? Kamu jadi juru masak pribadi direktur? wah, kamu sangat hebat bisa dekat langsung pada sang direktur!”ucap Nina memuji.


“Hebat gimana Nin?Aku sekarang malah tambah pusing mikirin tugas itu.”Jawab Emely.


“Mengapa pusing Emely? semua wanita disini pasti ingin dapat tugas itu.Tapi kamu malah sebaliknya? Aku juga ingin di beri tugas pribadi oleh sang direktur tampan itu.”Ucap Nina menggoda Emely.


“Nin,aku tak pernah berharap dapat tugas itu!Apalagi harus sampai terlibat langsung pada direktur kita. Cuma saja aku tak punya pilihan lain untuk menerima pekerjaan itu. Jika aku tak mau maka nasib pekerjaanku akan hilang!”jawab Emely mencoba buat Nina mengerti dengan kondisinya.


“Iya, iya. Aku tahu kok. Tadi itu aku cuma bercanda. Maafkan aku ya!”Nina mengucapkan itu sambil tersenyum.


“Iya Nina. Aku tak pernah marah padamu. Kamu kan sahabatku yang paling cantik dan baik.”Emely memuji sahabatnya itu.


“Kamu bisa saja.”Nina tersipu malu.


Kedua gadis itu terlihat sedang keluar makan siang. Mereka tampak pergi ke belakang kantor untuk menyantap makan siang yang di bawa. Pada saat makan, mereka terlibat perbincangan satu sama lain.


“Maaf ya Emely ! aku boleh tanya?”ucap Nina.


“Iya Nin. Tentu boleh.”Jawab Emely singkat.


“Mengapa sampai direktur menempatkanmu di bagian juru masak? Itu kan bukan keahlianmu?”tanya Nina masih penasaran dengan Emely.


Emely tersenyum mendengar pertanyaan dari Nina. Ia ingin menjelaskan yang sebenarnya pada Nina agar sahabatnya itu tak penasaran lagi.


“Ceritanya sangat panjang Nin.Tapi aku akan jujur sama kamu dengan apa yang terjadi. Waktu pertama kita pulang sama-sama dari kantor,apa kamu masih ingat?”tanya Emely yang mencoba mengingatkan awal kejadian pada Nina.


“Iya Emely. Aku masih sangat mengingatnya.”Jawab Nina dengan wajah yang terlihat penasaran.


“Disitulah awal kejadiannya Nin. Aku menabrak sang direktur dan dia tak memaafkanku dengan kejadian waktu itu.


Dan yang kedua kalinya aku membuat masalah di rumah direktur.”Emely menjelaskan pada Nina dengan wajah serius.


“Hah, di rumah pak direktur?Kok bisa kamu sampai di rumahnya?”Nina masih dengan segala pertanyaan.


Nina terlihat tambah penasaran dengan cerita Emely.


“Aku juga tak tahu jika itu rumahnya direktur. Ibuku bekerja sebagai pembantu di rumah mereka. Waktu kemarin aku memutuskan untuk membantu ibuku buat bersih-bersih di rumah keluarga mereka. Kami terlibat percakapan yang heboh dengan kakak perempuan direktur. Tiba-tiba ia datang dan memarahiku karena suaraku sangat besar kala tertawa saat itu. Ia terlihat marah dan tak memaafkanku. Apalagi ia tahu jika aku bekerja di kantornya sekarang. Kalau aku tak mau jadi juru masaknya, dia akan memecatku.”Emely menjelaskan panjang lebar pada Nina agar sahabatnya tak berfikiran yang aneh-aneh.


Mendengar hal itu membuat Nina turut prihatin dengan kondisi Emely sekarang.


“Aku minta maaf ya! Emely. Aku tak menyangka jika kejadiannya akan seperti itu. Kamu yang sabar menghadapi direktur dan tugas barumu itu ya!”ucap Nina yang terlihat sedih dengan masalah Emely.


“Iya Nin. Terima kasih kamu sudah mengerti posisiku sekarang.”Jawab Emely dengan memberikan senyuman pada Nina.


“Iya sama-sama Emely.”Balas Nina.


Waktu tak terasa sudah menunjukkan jika jam istirahat telah selesai. Kedua gadis ini terlihat buru-buru untuk segera masuk ruangan mereka. Dalam perjalanan menuju ruangan, tiba-tiba kedua gadis ini berpapasan dengan sang direktur. Emely membuang pandangannya. Ia tak ingin melihat wajah tegang sang direktur. Nina hanya memperhatikan tatapan mata di antara keduanya. Direktur dan juga Emely tak terlibat percakapan sama sekali. Emely yang salah tingkah dengan posisinya sekarang, dan sang direktur hanya menatap dingin gadis yang ada di depannya. Mereka terlihat seperti tak parnah bertemu sebelumnya.


Nina yang mengetahui apa yang terjadi di antara mereka ia pun bertanya dalam hatinya sendiri.


Mereka terlihat seperti orang yang saling membenci satu sama lain! Aku sangat yakin suatu saat pasti mereka akan bersama! batin Nina menduga-duga.

__ADS_1


__ADS_2