Tuhan Jangan Ambil Dia

Tuhan Jangan Ambil Dia
Hadiah yang dijanjikan


__ADS_3

Natan dan Kim adalah teman baik sewaktu kuliah. Mereka sama-sama berkuliah di korea.


Kala itu Natan masih tinggal disana. Kedua pria tampan itu terkenal cukup dekat. Kim adalah salah satu bintang pria pada masanya.


Ia juga sangat dekat dengan Natan.


Tak disangka kedua sahabat lama itu akhirnya dipertemukan kembali. Sungguh suatu hal yang tak terduga.


Kim sangat senang akhirnya bisa bertemu dengan Natan. Ia tak menyangka bisa melihat wajah sahabat lamanya itu.


Pertemuan kedua pria tampan itu membawa berkah tersendiri bagi Emely dan juga Nina.


Kemungkinan besar tugas mereka akan lebih mudah.


Nina dan Emely masih tak menyangka jika kedua pria tampan itu adalah sahabat lama.


“Rasanya dunia ini begitu sempit.”Ucap Nina sambil menarik nafas.


“Ya begitulah Nin. Aku saja sampai tak pernah berfikir jika mereka berdua saling mengenal dan tampaknya terlihat akrab.”Jawab Emely membenarkan kata sahabatnya.


“Iya Emely.Tapi aku juga bersyukur karena mereka berdua ternyata adalah sahabat.”Nina merasa lega.


“Loh kenapa Nin?”Emely masih dengan penuh tanya.


“Itu kan kita bisa mengambil keuntungan dengan pertemuan keduanya.”Jawab Nina masih dengan nada menjelaskan.


“Maksud kamu apa?Aku tak mengerti dengan ucapanmu barusan!”masih dengan wajah penasaran.


“Apa kamu benar-benar tak tahu keuntungannya buat kita?”tanya balik Nina.


“Iya. Aku benar-benar tak mengerti maksud kamu Nin.”Emely dengan nada polos.


“Aku jelasin yah; jika mereka memang bersahabat,tentu tuan Kim akan mempermudah pekerjaan kita.Tugas kita selesai dan hadiah yang dijanjikan akan segera menanti kita.”Jawab Nina dengan raut wajah yang gembira.


“Maksud kamu hadiah liburan itu!”masih dengan wajah penasaran.


“Iya sayang. Jadi hadiah apalagi kalau bukan liburan ke jepang.”Nina masih terlihat menjelaskan.


“hahahaha. Aku sampai lupa tentang hadiah itu Nin.”Emely tersenyum.


“Itu kan kamu cepat lupa. Belum tua sudah pikun. Gimana kalau tuanya nanti.”Nina dengan nada menggoda.


“Hmmmm...mulai lagi kamu ya.”Emely dengan wajah tersenyum.


“Aku membayangkan kita sekarang lagi di korea.”Ucap Nina seakan tak tahan ingin pergi berlibur.


“Kamu yang sabar Nin. Kita pasti akan segera kesana.”Emely meyakinkan sahabatnya.


Setelah terlibat percakapan yang cukup panjang. Tiba-tiba sang manager tegas datang ke ruangan mereka.


“Pagi semua?”ucap Delia dengan wajah datar.


“Pagi juga bu?”semua membalas sapaan sang manager dengan wajah yang tegang.


“Bagaimana perkembangan proyek yang kalian tangani?”tanya Delia pada Nina dan Emely.


“Semua berjalan dengan lancar sesuai dengan perencanaan.”Jawab Emely singkat.

__ADS_1


“Bagus kalau begitu. Aku sangat mengharapkan kalian untuk kesuksesan proyek ini. Mohon kerja-samanya dan juga terima kasih telah menangani proyek ini dengan baik.”Delia memuji keduanya meski dengan wajah yang datar.


“Terima kasih bu. Kami akan berusaha melakukan yang terbaik.”Jawab Nina tegas.


“Bagaimana dengan sang model?Apa kalian sudah mencatat setiap bagian keseharian tuan Kim doong woon?”tanya Delia lagi.


“Iya bu. Kami telah mengikuti aktivitasnya beberapa minggu ini. Semua kegiatan tuan Kim sangat positif dan kami tak pernah menemui hal aneh darinya.”Jawab Emely menjelaskan.


“Baguslah kalau begitu. Tetap ikuti kegiatan tuan Kim dan pastikan buat dia merasa nyaman.”Ucap Delia menaruh harapan.


“Baiklah bu.Kami akan berusaha semaksimal mungkin.Terima kasih atas kepercayaannya.”Jawab keduanya.


“Setelah proyek ini, kalian akan mendapatkan hadiah yang dijanjikan oleh perusahaan.Maka berusahalah semaksimal mungkin.”Ucap Delia sambil meninggalkan ruangan itu.


Nina dan Emely sangat senang mendengar kabar dari sang manager.


“Ayo kita bekerja lebih giat lagi!”ucap Emely.


“Siap Emely. Ayo kita berburu hadiah!”jawab Nina menggoda sahabatnya.


“Hahahaha. pastinya Nin.”Tambah Emely.


Kedua gadis cantik itu langsung keluar dalam ruangan. Mereka bergegas menuju kediaman sang model.


Baru beberapa menit menuju keluar,tiba-tiba cowok tampan berjas hitam dengan tampilan yang terlihat perfect muncul dihadapan kedua gadis itu.


“Kalian mau ke rumah Kim?”tanya Natan.


“Iya tuan.Jawab Nina dengan perasaan deg-degan.


Nina terlihat sedang terlibat percakapan dengan sang direktur.


Emely sangat kesal dan mengharapkan agar sang direktur untuk menyapanya.


Dasar pria sombong. Bukankah ia sudah lupa jika aku ini adalah tunangannya.Batin Emely merintih.


Wajah Emely sesekali terlihat sangat kesal. Ia beberapa kali mengernyitkan bibirnya karena menahan kekesalan.


Natan sadar jika tingkahnya sangat membuat Emely kesal.


Aku ingin tahu seberapa marahnya dia terhadapku.Batin Natan seakan sengaja membuat kekasihnya kesal.


“Bagaimana jika kita ke rumah Kim bersama-sama?”ucap Natan menawarkan.


Nina tak tanggung-tanggung,ia langsung menyetujui ajakan dari sang direktur.


“Iya tuan. Kami mau.”Jawab Nina sambil tersenyum manis.


“Apaan sih Nin. Kita naik taxi saja. Rese ah.”Ucap Emely dengan nada perlahan.


“Kok ditolak sih. Kan kita juga yang di ajak. Kalau ditolak nanti sang direktur akan merasa tersinggung.”Jawab Nina perlahan.


Rupanya kata-kata Nina mampu menghipnotis fikiran dari Emely. Ia menyetujui untuk berangkat bersama Natan.


“Ayo masuk!Jangan kelamaan. Nanti bisa-bisa aku berubah fikiran.”Ucap Natan sinis.


“Iya tuan. Maaf!”jawab Nina.

__ADS_1


Emely tambah kesal mendengar ucapan dari Natan yang terdengar sangat narsistik.


Siapa juga yang mau se-mobil denganmu?Jelas-jelas dia yang menawarkan. Dasar pria paling narsistik se -jagad raya. Batin Emely mengeluh.


Walaupun dalam keadaan kesal,namun Emely tetap mengikuti ajakan dari Natan.


Mereka berdua akhirnya berangkat se-mobil dengan sang direktur. Di dalam mobil terlihat sangat hening. Tak ada satupun yang terlibat percakapan.


Emely masih dengan wajah yang kesal. Natan sesekali melihat wajah cemberut Emely di kaca mobil. Pria itu rasanya ingin tertawa ketika melihat ekspresi wajah Emely yang sedari-tadi terlihat sangat kesal.


Kemudian Natan mulai membangun percakapan duluan agar suasana dalam mobil tak terlalu menegangkan.


“Rupanya kalian berdua terlihat sangat senang mendapatkan tugas ini.”Ucap Natan datar.


“Iya pak. Kami sangat senang bisa mendapatkan kesempatan ini.Iya kan Emely?”Nina dengan nada bertanya.


Emely hanya mengangguk dan membenarkan ucapan dari sahabatnya itu.


Apa dia se-gembira itu?Aku harus lebih sering berada di sampingnya. Aku ragu pesona Kim akan membuat hati Emely berbunga-bunga.Batin Natan khawatir.


Natan masih terlarut dengan sejuta pertanyaan yang ada dalam benaknya.


Sementara Emely hanya terdiam di tempat duduknya.


Sesekali Natan memandangi wajah gadis cantik itu.


Mengapa ia tak bicara sama sekali?Apa kehadiranku membuatnya tak nyaman? masih bertanya-tanya dalam hati.


Natan tak ingin larut dalam fikirannya.Akhirnya ia memberanikan diri untuk menyapa Emely.


“Mengapa anda terlihat murung nona Emely?Apa ada sesuatu hal yang membuat anda tak nyaman?”tanya Natan mencoba ingin mencari tahu.


Emely tersenyum karena tak menyangka Natan akan menegurnya duluan.


“Aku baik-baik saja tuan.”Emely dengan nada bicara formal.


“Baguslah kalau begitu.”Jawab Natan singkat.


Mengapa ia berbicara sangat formal terhadapku?Aku ini adalah tunangannya.Apa dia lupa? batin Natan masih penasaran.


Mereka tak sadar jika Nina memperhatikan tingkah aneh keduanya.


Sepertinya ada sesuatu yang aneh!Aku bingung ada drama apalagi.Tingkah mereka sungguh membuatku curiga! Nina terlihat bingung dengan keadaan ini.


Rupanya Emelypun merasakan hal yang sama.Gadis cantik ini tak bisa melukiskan perasaan yang ia rasakan saat ini.


Ada rasa bahagia dan rasa canggung terhadap sang direktur.


Pesona Natan sungguh membuat Emely jatuh cinta. Walaupun demikian, gadis ini tak berani mengungkapkannya secara langsung.


Ia takut akan terlihat aneh jika melakukan hal itu.


Mereka telah sampai di rumah tuan Kim untuk melaksanakan tugas dari kantor.


Sementara Natan mengikuti mereka berdua. Pria ini tak ingin meninggalkan Emely untuk berbicara dengan pria lain.


Ia tak ingin pesona tuan Kim akan membuat sang tunangan bepaling darinya.

__ADS_1


Nina dan Emely memang cukup antusias mengurus pekerjaan ini.


Hanya satu alasan saja yang membuat mereka berusaha sekuat tenaga. Alasan itu adalah sebuah hadiah liburan yang mereka idam-idamkan.


__ADS_2