
Beberapa hari di rawat, akhirnya Emely sudah bisa pulang ke rumah.
Hari ini Emely di jemput oleh keluarga Natan.
Pak Daniel dan keluarganya sudah siap untuk menjemput Emely dan mengantarkan pulang.
Tiba di rumah sakit, Pak Daniel bersama Bu Elvi langsung ke ruangan Emely. Sementara Natan telah berada disitu duluan. Pria ini tampak membayar uang administrasi dan pengobatan Emely selama berada di rumah sakit.
“Pak, Natan mau bayar uang administrasi Emely ya.”Ucap Natan sambil pergi meninggalkan ruangan itu.
Tamara dan Elvi terlihat sedang mengatur barang-barang Emely. Stevani dan Emely masih terlihat asyik mengobrol. Mereka nampak akrab satu sama lain. Pak Daniel sangat senang melihat anaknya yang jarang bergaul itu bisa akrab terhadap Emely. Ia tak menyangka jika kehadiran Emely bisa merubah sikap anak-anaknya yang terlihat kaku. Sekarang Natan dan Stevani bisa berubah menjadi ramah seperti itu.
Dulu Stevani adalah anak yang jarang berbicara di rumah. Ia lebih senang menghabiskan waktunya berdiam diri di kamar. Gadis itu tak pernah terlihat bergaul ataupun berbicara seakrab itu dengan orang lain. Bahkan di rumah pun ia jarang berbicara.
Setelah kepergian Natan di korea, Stevani terlihat murung. Gadis ini merasa sunyi berada di rumah yang besar namun seakan tak berpenghuni. Biasanya jika ada Natan, ia akan bermain bersama adiknya itu.
Mungkin karena kondisinya seperti itu, Stevani sudah merasa terbiasa untuk tinggal sendiri. Di tambah lagi saat kedatangan adiknya dari korea, mereka tampak tak pernah mengobrol bebas layaknya seorang saudara.
Natan yang berubah menjadi pendiam dan acuh bila berada di rumah.
Stevani ingin sekali bicara banyak pada adiknya,namun mereka tak pernah punya waktu untuk membahasnya.
Dengan adanya Emely, sekarang keluarga mereka terlihat nampak dekat satu sama lain. Apalagi sekarang Stevani sudah mulai berkomunikasi dengan baik bersama orang lain.
Setelah membayar administrasi, Natan segera kembali ke ruangan. Wajah pria ini terlihat sangat senang karena sudah merawat Emely hingga sembuh.
Apalagi sekarang Natan mulai merasakan hal yang beda pada sosok Emely. Ini mungkin karena kedekatan mereka selama Emely di rumah sakit.
Natan diam-diam mengagumi gadis itu. Ia seperti menemukan kedamaian jika berada di dekat Emely.
Hal yang tak terdugapun dirasakan oleh Emely. Gadis ini masih terlalu malu untuk mengungkapkan hal itu dan begitupun dengan Natan.
Selesai mengemasi barang-barang Emely,akhirnya kedua keluarga ini pulang bersama-sama. Mereka menggunakan dua mobil. Emely semobil dengan Natan dan juga Stevani. Sementara Bu Tamara dan orang tua Natan mereka semobil bertiga.
Kedua keluarga ini terlihat sangat akrab. Mereka sudah seperti keluarga dekat.
__ADS_1
Tiba-tiba Pak Daniel berfikir untuk menjodohkan Natan dan Emely. Ia senang bila melihat anak-anaknya kembali tersenyum karena kehadiran Emely.
Pak Daniel tak ingin menjauhkan Emely dari kedua anaknya itu. Ia merasakan pengaruh Emely sangat kuat untuk kedua anaknya. Emely membawa aura positif bagi Natan dan Stevani. Pak Daniel meminta persetujuan dari Tamara untuk menjodohkan Emely dan Natan. Pak Daniel tak pernah mempermasalahkan tentang kedudukan ataupun kekayaan. Ia hanya ingin melihat anak-anaknya bahagia.
“Bu Tamara, bagaimana jika kita jodohkan Natan dan Emely? Apa ibu setuju?”tanya Daniel.
Mendengar ucapan suaminya membuat Bu Elvi tersenyum. Ini menandakan jika Bu Elvi sangat setuju dengan keputusan suaminya.
“Iya Bu Tamara. Aku juga setuju jika anak-anak itu di jodohkan.”Sambung Elvi.
Tamara terdiam sejenak, ia tak tahu harus menjawab apa. Saat ini Tamara merasa bahagia karena keluarga Pak Daniel begitu baik pada Emely. Tak ada yang perlu diragukan dengan keluarga itu. Mereka semua terlihat perduli pada putrinya.
Setelah lama berfikir akhirnya Tamara menjawab pertanyaan dari Pak Daniel dan Bu Elvi.
“Iya pak. Aku juga senang bila mereka dijodohkan. Apalagi Natan adalah pria yang begitu baik dan perduli pada Emely. Tak ada alasanku untuk menolak niat baik keluarga Pak Daniel dan Bu Elvi. Hanya saja bagaimana dengan perasaan Natan dan Emely? Apa mereka saling menyukai atau malah sebaliknya?”jawab Tamara bimbang dengan perasaan keduanya.
“Iya Bu Tamara. Saya sangat mengerti apa maksud ibu. Saya yakin seratus persen mereka akan menyukai satu sama lain jika sudah hidup bersama. Apalagi Natan adalah orang yang pemarah dan pendiam. Ia hrus membutuhkan pendamping seperti Emely untuk merubahnya.”Jawab Elvi meyakinkan keraguan Tamara.
Mendengar jawaban Elvi membuat Tamara lega karena mendapat dukungan penuh dari kedua orang tua Natan. Tinggal bagaimana mereka akan menjelaskan pada putra-putrinya.
Natan dan Emely tak tahu jika sepanjang perjalanan orang tua keduanya membahas masalah perjodohan.
Entah tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi yang jelasnya untuk saat ini keduanya merasa nyaman jika selalu bersama.
Tak terasa perjalanan mereka telah sampai di tempat tujuan.
Nampaknya Pak tua telah menyambut kedatangan Emely. Ia merasa sangat senang karena gadis yang berhati malaikat ini masih dalam keadaan selamat.
“Assalamualaikum Pak.”Ucap Tamara.
“Walaikumsalam Bu Tamara. Bagaimana dengan kondisi Emely?”tanya Pak tua yang terlihat khawatir.
“Emely sudah sembuh Pak. Terima kasih, atas doanya ya Pak.”Jawab Tamara merasa senang dan bahagia karena Emely telah kembali ke rumah.
“Syukurlah, kalau begitu bu. Bapak disini selalu mendoakan kesembuhan Emely.”Ucap Pak tua.
__ADS_1
“Iya Pak. Sekali lagi terima kasih, atas doanya.”Jawabnya singkat.
Tiba-tiba Emely muncul bersama Natan dan keluarganya. Natan merasa bingung mengapa ada orang lain yang tinggal bersama mereka.
Yang tak lain adalah Pak tua itu.
Ternyata Emely tinggal bertiga dengan seorang kakek tua. Batin Natan penasaran.
“Selamat datang nak ! silahkan masuk !”ucap Pak tua menyuruh mereka masuk.
Akhirnya Natan bersama Emely dan juga keluarganya langsung masuk ke dalam rumah.
Kondisi rumah Emely terlihat sederhana namun tertata dengan rapi. Halaman rumahnya bersih dan indah di pandang.
Benar-benar gadis yang bersih dan rapi. Puji Natan setelah melihat halaman rumah Emely yang bersih.
Emely dan Pak tua terlihat sedang berbicara. Rupanya pak tua sangat merindukan Emely yang sudah beberapa hari ini berada di rumah sakit.
“Bapak sangat merindukanmu nak! Jika ada kamu suasana rumah ini terlihat ceria.”Ucap Pak tua yang terdengar jujur.
“Iya Pak. Emely juga sangat merindukan bapak dan juga suasana rumah ini.”Jawab Emely bahagia.
Untuk menjawab rasa penasaran, akhirnya Natan bertanya langsung pada Emely tentang hubungannya dengan Pak tua.
“Maaf sebelumnya! Apa Pak tua ini saudara kamu?”tanya Natan yang terlihat bingung.
“Iya benar. Pak tua adalah keluarga kami.”Jawab Emely spontan.
Tiba-tiba Pak tua menjelaskan yang sebenarnya terjadi padanya hingga sampai berada di rumah Emely.
“Begini nak. Sebenarnya bapak ini hanyalah seorang pengemis di jalan. Kemudian nak Emely menemukan bapak dalam keadaan sakit dan lapar saat itu. Jadi, Emely langsung menawari bapak untuk tinggal disini. Emely prihatin terhadap kondisi bapak. Ia tak ingin bapak harus mengemis di jalan dalam keadaan sakit. Apalagi bapak tak memiliki anak, jadi Emely dan Bu Tamara yang merawat bapak selama ini.”Ucap Pak tua yang terlihat sedih bercampur haru.
“Bapak tak perlu mengangap Emely seperti orang lain. Sekarang bapak sudah menjadi keluarga Emely.”Jawab gadis itu yang terdengar polos namun tulus di ucapkan.
Mendengar cerita Pak tua membuat Natan semakin mengagumi sosok Emely.
__ADS_1
Ia semakin lama banyak menemukan sikap baik dan tak terduga dari gadis itu.
Sekarang mereka berdua lagi mempunyai perasaan saling mengagumi satu sama lain.