Tuhan Jangan Ambil Dia

Tuhan Jangan Ambil Dia
Perjodohan 1


__ADS_3

Kecelakaan Emely membawa kesan tersendiri bagi kedua keluarga ini. Mereka sekarang terlihat sangat akrab.


Emely menjadi lebih dekat dengan Natan dan juga Stevani. Gadis ini merasa beruntung mengenali keluarga Pak Daniel yang sangat baik hati.


Masalah perjodohan antara Emely dan Natan akan segera di bahas setelah kondisi Emely membaik total.


Masalah Natan itu adalah urusan Pak Daniel.


Walaupun sudah kembali dari rumah sakit, namun Natan belum mengizinkan Emely untuk bekerja sebelum sembuh total. Pria ini masih merasa khawatir dengan kondisi Emely.


Sudah dua hari semenjak pulang dari rumah sakit, tampak Emely belum bisa melakukan aktivitas seperti biasa.


Tamara masih melarang putrinya untuk bekerja.


“Kamu jangan dulu pergi kerja. Bunda tak ingin terjadi sesuatu padamu. Untuk saat ini berdiamlah diri dulu di rumah.”Ucap Tamara menasehati.


“Iya bunda. Emely akan selalu ingat pesan dari bunda.”Jawabnya meyakinkan ibunya.


Emely sudah tak tahan berada lama-lama di rumah. Sebenarnya ia merasa sudah bisa pergi bekerja. Namun ketika ia menyampaikan hal itu pada Natan,terlihat jika pria ini belum mengizinkan Emely beraktifitas.


Natan khawatir Emely akan banyak berfikir dengan segala pekerjaannya. Ia takut segala aktifitas Emely akan mengganggu kesehatannya.


Kedua anak muda ini nampak sudah saling perhatian satu sama lain. Natan sekarang merindukan saat-saat ia berada di rumah sakit bersama gadis itu. Emely yang terlihat polos dan pemaaf membuat Natan selalu memikirkannya.


Sampai Natan tak sadar pergi ke rumah sakit pada saat pulang kantor. Ia merasa seakan Emely belum kembali dari rumah sakit.


Seketika itu Natan tersadar dari hayalannya.


Rupanya sekarang mobil Natan menuju arah rumah sakit tempat Emely di rawat.


“Apa yang ku lakukan? Mengapa aku berada di depan rumah sakit tempat Emely di rawat? Jangan-jangan aku memang sudah gila.”Ucap Natan bingung dengan sikapnya.


Pria tampan ini tersenyum sendiri. Natan baru sadar jika sedari tadi tampaknya ia memikirkan Emely.


Hingga Natan harus membawa mobilnya ke arah rumah sakit tempat Emely di rawat kemarin.


Untuk membuat hatinya tenang, akhirnya Natan pergi langsung ke rumah Emely.


Ia tak ingin seperti orang gila yang hanya memikirkan gadis itu.


Sepertinya aku harus ke rumah Emely. Mengapa sekarang aku sangat merindukan wajahnya? Natan bertanya dalam hati.


Akhirnya setelah beberapa menit perjalanan, Natanpun sampai di rumah gadis itu.


Ia seakan merasa malu tak tahu apa yang harus ia katakan pada gadis itu.


Apa alasanku jika ke rumah gadis itu? batinnya bertanya lagi.


Walaupun merasa bingung, tapi Natan tetap saja pergi ke rumah Emely.

__ADS_1


Baru saja ingin mengetuk pintu, tiba-tiba bunda Tamara keluar dari rumah. Tamara saat ini ingin ke apotek untuk membeli obat untuk Emely.


“Eh nak Natan? Ayo silahkan masuk nak!”ajak Tamara.


“Terima kasih bu.”Jawab Natan singkat.


“Oh iya, ada yang bisa ibu bantu?”tanya Tamara lagi yang tak tahu jika Natan ingin bertemu Emely.


“Tak ada bu. Aku ingin bertemu Emely dan memastikan kondisinya saja. Soalnya teman satu kantornya titip salam untuk Emely.”Ucap Natan mencari alasan agar tak malu.


“Oh iya nak. Emely sekarang sudah agak membaik. Hari ini ibu belum mengizinkan Emely kerja karena ibu masih khawatir dengan kondisinya.”Jawab Tamara masih terlihat khawatir.


“Iya bu. Untuk sekarang Emely jangan dulu pergi ke kantor. Keadaannya sekarang belum sembuh total.”Ucap Natan yang mendukung keputusan Bu Tamara.


“Tapi ibu merasa khawatir dengan pekerjaannya, nanti Emely akan sedih jika di pecat.”Jawab Tamara dengan nada khawatir.


Sampai saat ini Tamara tak tahu jika direktur tempat Emely bekerja adalah Natan sendiri.


Natan bertanya-tanya dalam hati. Ia melihat ibu Emely memang tak tahu jika Natan adalah bos dari tempat putrinya bekerja.


Rupanya Emely belum memberitahu ibunya bahwa aku adalah direktur utama tempatnya bekerja. Gumamnya dalam hati.


Untuk menghilangkan rasa khawatir Bu Tamara, akhirnya Natan memberitahu yang sesungguhnya agar Bu Tamara tak jadi beban fikiran.


“Ibu tak perlu khawatir. Emely adalah karyawan di perusahaan kami. Aku sebagai direktur perusahaan sangat memaklumi kondisi Emely sekarang. Apalagi kecelakaan itu disebabkan olehku.”Ucap Natan jujur.


Tamara kaget dan tak percaya jika direktur utama tempat Emely bekerja adalah Natan sendiri. Tamara seakan tak percaya karena Emely tak pernah mengatakan sebelumnya.


“Aku tahu ibu pasti kaget mendengarnya. Aku menyampaikan ini agar ibu tak perlu khawatir dengan masalah pekerjaan Emely di kantor.”Ucap Natan meyakinkan.


“Terima kasih nak. Ibu sangat lega sekarang mendengar kebenaran ini.”Tamara berbicara lega.


“Tapi ibu jangan bilang pada Emely jika aku yang memberitahu pada ibu.”Natan berbicara lagi.


“Iya nak. Ibu akan jaga rahasia ini. Kamu tak perlu khawatir. Ada sesuatu yang ingin ibu ceritakan padamu!”ucap Tamara.


“Tentang apa bu?Natan dengan wajah penasaran.


“Beberapa hari yang lalu Emely mendapatkan tugas kantor memasak makanan Jepang. Ia mulai mengerjakan tugas itu dari pulang kantor sampai larut malam. Hingga pagi ia terbangun tak ada satupun makanan Jepang yang bisa ia sajikan dengan bentuk yang baik. Waktu itu ibu ingin sekali membantunya namun Emely menolak. Ibu berfikir jika tak bisa melakukan hal itu Emely akan di pecat dari pekerjaannya.”Tamara menceritakan putrinya sambil tersenyum tipis.


Mendengar hal itu membuat Natan merasa sangat bersalah sudah mengerjai Emely sampai ia harus tidur larut malam. Natan mencoba berbohong agar Bu Tamara tak tersinggung jika Natan sendirilah yang menyuruh Emely melakukan hal itu.


“Iya bu. Waktu itu ada tugas kantor yang mengharuskan untuk menyajikan makanan Jepang. Nanti lain kali ia tak akan melakukan hal itu lagi. Soalnya kemampuan masaknya sangat buruk.”Jawab Natan tersenyum karena mengingat Emely yang kala itu menyajikan makanan aneh padanya.


“Iya nak. Emely memang tak pandai memasak. Ia bisa melakukan apa saja untuk membantu ibu asalkan jangan menyuruhnya memasak. Rasanya akan sangat buruk jika dia yang masak.”Ucap Tamara sambil tertawa kecil.


Natanpun ikut tertawa mendengar cerita Bu Tamara.


“Aku tak menyangka jika Emely tak bisa memasak sama sekali. Pantas saja di kantor aku mencicipi masakan Jepang yang dia buat itu rasanya sangat asin.”Natan masih berbicara lagi tentang Emely.

__ADS_1


“Iya nak. Ibu setuju denganmu. Jika tak ingin makan masakan aneh maka jangan menyuruh Emely untuk memasak.”Bu Tamara berbicara jujur dan masih asyik tertawa.


Natan rasanya sudah tak kuat lagi untuk tertawa lebar. Apalagi waktu mengingat wajah polos Emely yang seringkali minta maaf padanya.


Asyik mengobrol, akhirnya Natan pamit pulang tanpa bertemu Emely dulu.


Ia lega karena Emely sekarang sudah membaik.


“Ibu, Natan permisi pulang dulu.”Natan pamit.


“Iya nak. Hati-hati di jalan ! jika ada waktu berkunjunglah kesini.”Jawab Bu Tamara.


“Iya bu. Natan akan kesini jika punya waktu.”Ucapnya sambil meninggalkan rumah Emely.


Sepertinya dia laki-laki baik. Tak ada salahnya jika orang tuanya menjodohkan dengan Emely. Aku sangat tenang jika Emely hidup bersama dengan keluarga Pak Daniel. Batin Tamara mendukung keputusan Elvi.


Tamara kemudian langsung pergi ke apotek terdekat untuk membeli obat Emely.


Sampai di rumahnya, Natan langsung di panggil oleh orang tuanya. Pak Daniel dan Bu Elvi sepertinya ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting.


Natan semakin bingung. Tak biasanya orang tuanya memanggilnya seperti itu.


Ada apa ya? Aku sangat bingung dengan sikap mama dan papa sekarang! batin Natan penasaran.


“Begini nak. Kamu jangan tersinggung ya. Mama sama papa menginginkan kamu untuk menikahi Emely. Kami ingin wanita itu bisa tinggal di rumah ini dan hidup bersama kita. Papa sangat yakin kalau dia adalah wanita baik dan penyayang !”Ucap Pak Daniel.


“Iya nak. Mama jug berfikiran seperti itu. Mama akan bahagia jika Emely jadi keluarga kita sekarang.”Sambung Bu Elvi membenarkan ucapan suaminya.


Natan masih bingung dan tak percaya dengan keputusan orang tuanya yang secepat itu. Mereka tak menanyakan apa ia suka atau tidak pada Emely. Mereka sekarang terdengar seakan menyuruhnya untuk menikahi Emely.


Walaupun begitu, Natan sangat mengerti dengan keputusan orang tuannya.


Pria ini tak ingin membuat mereka kecewa jika ia langsung menolak.


Akhirnya tanpa berfikir panjang, Natan menyetujui permintaan orang tuanya.


“Iya, Natan akan melakukannya seperti kemauan mama dan papa.”Jawabnya singkat dengan nada datar.


“Terima kasih atas pengertianmu nak.”Ucap Pak Daniel senang.


“Kalau begitu Natan ke kamar dulu mau istirahat!”ucap Natan pamit.


“Iya nak. Kamu pergi istirahat dulu.”Jawab Bu Elvi bahagia dengan keputusan Natan.


Setelah mendapat persetujuan dari Natan. Bu Elvi tak sabar ingin menyampaikan kabar baik ini pada Tamara besok.


Natan telah setuju untuk di jodohkan dan sekarang Emely sendiri yang belum tahu tentang rencana besar kedua keluarga ini.


Di kamar Natan berfikir apakah ia sudah bisa melupakan cintanya yang lama. Sejauh ini ia belum pernah mengenal gadis manapun lagi.

__ADS_1


Apakah aku bisa mencintai Emely nantinya? Natan bertanya dalam hati.


Walaupun demikian, ia sudah terlanjur menerima perjodohan itu.


__ADS_2