
Bab 9
Tak ada suara satu pun di dalam kamar Yoga, yang ada hanya sunyi yang menemani dirinya. Ah, mungkinlah. Mana ada jaman sekarang hantu. Gak percaya gue. Pikirnya. Ia lantas teringat dengan botol body cologne yang jatuh bergulir ke kolong di bawah ranjangnya. Ia mencoba merogoh tangannya ke dalam tetapi tak mendapatkan botol yang ia car. Ia lantas menengok ke bawah tetapi gelap tak terlihat apa pun.
Yoga memutuskan untuk berdiri dan mengambil senter yang ada di meja belajarnya. Kemudian ia berjongkok lagi, siap untuk menyoroti bawah ranjang yang gelap.
Bunyi botol yang bergulir tepat berhenti di depannya seakan mengalihkan atensinya untuk melihat ke arah botol itu. Aneh. Kenapa bisa botol yang ada di bawah kolong tempat tidurnya bisa keluar dengan sendirinya. Pertanyaan itu muncul seketika dan ia mencoba mengaitkan dengan teori-teori yang telah dipelajarinya selama ia menuntut pendidikan, namun teori yang diingatnya tidak ada satu pun yang bisa menjelaskan mengapa botol itu bisa bergulir dengan sendirinya.
Yoga penasaran. Ia lantas saja menghidupkan senter yang baru saja diambilnya dari meja belajarnya dan menghidupkannya. Ia berjongkok dan mulai menyoroti senter yang telah menyala itu dari ujung kolong ranjangnya. Tidak ada apa-apa, hingga di suatu titik ia menyoroti wajah yang tersenyum mengerikan dengan tangan yang siap menerkam Yoga dengan kuku-kuku panjangnya.
"Aaarrrghhhhhhhh....," Yoga berteriak sekuat tenaga, tak sengaja dirinya menjatuhkan senter yang ada di genggamannya.
Apa yang baru saja dilihatnya membuat dirinya kembali ke saat di mana dirinya di rawat di rumah sakit yang sunyi sembilan tahun yang lalu. Keadaan itu membuat dirinya menyadari betapa mengerikannya sosok itu. Berwajah seram dengan mata yang melotot ke arah dirinya, pupil mata yang memutih keseluruhan seakan sosok itu memiliki dendam pribadi dengan Yoga. Mencekik dengan tangan yang penuh dengan urat yang keluar bak akar-akar pohon, bahkan kuku-kuku tajam yang menghitam, sehingga dirinya kehilangan pasokan udara untuk dihirup.
Langsung saja, tanpa pikir panjang, Yoga berlari cepat keluar untuk menyelamatkan dirinya. Bahkan ia sudah tak peduli dengan kondisi pintu yang dibanting keras olehnya. Ia pun sampai tak menyadari bahwa kemeja yang dikenakannya masih tak terkancing dengan sempurna bahkan celana yang dikenakannya pun apa adanya.
Blup
Senter yang masih menyala saat terjatuh dari genggamannya pun tiba-tiba saja mati dengan sendirinya.
Yoga yang terus berlari menuruni anak tangga dengan cepat tak peduli dengan apa yang terjadi di belakangnya. Ia hanya berpikir keluar dari rumahnya sendiri dan mencari orang lain untuk menolongnya saat ini. Sudah sampai di luar rumah, Yoga mendengar suara mobil yang baru saja dinyalakan. Sinar kuning lampu pada mobil yang menjorok melewati pagar rumahnya itu pun membuat Yoga berlari ke arah sana untuk memastikan memang ada orang lain saat itu.
Benar saja yang dilihatnya, sebuah mobil milik Pak RT yang siap untuk pergi. Yoga mendekat ke arah mobil itu lalu mengetuk kaca mobil itu.
Tuk
Tuk Tuk...
Pak RT yang ada di dalam mobil itu terkejut dengan adanya Yoga. Ia segera menurunkan kaca mobilnya dan mendapati wajah Yoga yang pucat pasi.
"Ada apa, Ga?" Pak RT yang ikutan panik dibuat Yoga seakan bersimpati terhadap Yoga.
__ADS_1
"Om... Percaya gak percaya, Om harus percaya sama saya!" ujar Yoga yang terengah-engah habis berlarian. "Ada..., ada hantu, Om di rumah saya," lanjut Yoga lagi terbata.
Pak RT lantas memandang Yoga dengan pandangan bingung. "Jangan mengada-ngada kamu!"
"Pak, demi Tuhan, Pak! Saya gak bohong! Dari kolong ranjang saya, Pak!" ujar Yoga yang napasnya masih terengah-engah bercampur dengan ketakutannya.
Seketika itu Pak RT teringat akan kebohongan Yoga yang pernah dilakukannya dahulu, yang mengatakan kalau taman komplek depan pas di ayunan itu ada sosok kuntilanak. "Yoga!! Jangan mengada-ada kamu, ya! Berani bohong lagi kamu! Kamu gak ingat betapa malunya saya sampai satu komplek nyuruh saya memanggil dukun untuk mengusir kuntilanak yang ada di ayunan taman komplek?! Nyatanya tidak ada sama sekali hantu di sana!" bentak Pak RT yang geram dengan tingkah Yoga saat ini.
Tak berani membantah akan ucapan yang diucapkan oleh Pak RT, justru Yoga terkejut dengan bentakan Pak RT. Kali ini dirinya menyesali kenapa dahulu ia senang sekali berbohong. Saat ini tak ada yang percaya pada dirinya. Bukan itu yang diinginkan Yoga saat ini, ia ingin seseorang yang memercayai dirinya. Tak berhenti di situ saja, Yoga tetap memohon kepada Pak RT yang perlahan-lahan menaikan kaca mobilnya dan ingin menginjakkan pedal gas.
"Pak, kali ini saya serius, Pak. Saya gak berbohong!" ujarnya lagi.
Sayangnya, Pak RT tak mempercayai Yoga dan pergi meninggalkan Yoga. Tak peduli kalau Yoga di belakangnya mengejar mobil yang baru saja pergi itu. Tak bisa mengejar mobil itu akhirnya dirinya membungkuk, mengambil oksigen dan mengatur napasnya yang terengah-engah.
"SIALAANNN!!!" akhirnya ia menumpahkan kekesalannya dengan berteriak kuat di tengah jalan.
Yoga berbalik arah, menimbang ke mana ia harus pergi. Namun ia berpikir tak akan mungkin ia kembali ke rumah itu sementara ada hantu yang mengintai dirinya. Kekecewaan menyelimuti dirinya, namun sesaat kemudian dirinya tak sengaja memasukkan tangannya ke dalam saku celananya. Di dapatnya sebuah ponsel di sana.
Ia berjalan cepat menuju ke arah mobilnya, namun ia teringat sesuatu. Kunci mobil yang seingat dirinya ia mencabutnya dan membawa ke kamarnya. Tak ingin memikirkan hal itu, ia berjalan cepat untuk mengecek apakah benar ingatannya. dan kali ini dirinya beruntung dengan adanya kunci yang masih tergantung di tempatnya. Ia bersyukur atas hal itu. Yoga langsung saja menancapkan gas untuk lari dari rumahnya yang sekarang nampak seram.
Terdengar suara penyiar yang berkumandang menceritakan beberapa kisah untuk para pendengarnya.
"By the way, Lo tau gak sih, Tumbal Jelangkung ini memang fenomenal banget. Bayangin aja, di seluruh bioskop pada ngantri buat nonton. Yang belum nonton, mending cepetan nonton, sebelum tiketnya kehabisan," ucap si penyiar radio.
Klik!
Yoga yang mendengar penyiar radio menyuarakan tentang film Tumbal Jelangkung.
"Jelangkung melulu, dah! Memangnya kenapa sih dengan film itu? Biasa aja lagi!" ujarnya geram yang hanya bisa di dengarnya seorang diri di dalam mobil itu.
Yoga yang teringat dengan ponselnya segera saja mengeluarkan dari saku celananya dan langsung mencari nama Petrus di daftar kontaknya. Di tekannya tombol memanggil.
__ADS_1
Terdengar sambungan dari seberang sana. Lalu tak berselang lama, sambungan telepon itu tersambung.
"Halo?" sahut orang yang berada di seberang telepon dengan suara terpaksa.
"Dani Petrus Sanjaya..., lo harus dengerin gue! Gue dikejar setan, Dan!"
Yoga berkata dengan panik. Namun tak ada jawaban satu pun dari seberang sana. Ia lantas melihat layar teleponnya dan masih tersambung.
Yoga lalu memanggil nama Dani berulang kali, "Dani! Dengerin gue!"
"Apaan sih, Ga! Gue mau nonton Intermilan malam ini. Gak ngertiin banget sih, Lo...," ujar Dani yang kesal dengan Yoga. Ia lantas memutuskan sambungan teleponnya.
Yoga yang melihat layar ponselnya yang menandakan panggilan itu terputus, langsung menghentikan mobilnya bertepatan lampu merah yang menyala, yang mengharuskan semua kendaraan harus berhenti. Dengan perasaan yang bingung, ia menoleh ke kanan dan ke kiri, namun jalanan nampak sepi tak seperti biasanya.
Tak ada yang percaya dengan perkataannya. Tadi Pak RT dan sekarang, sahabatnya sendiri.
Bersambung...,
Bonus visual tokoh
...Yoga Indra Ramdanis
...
...Kristia Ningsih...
__ADS_1
...Dani Petrus Sanjaya...
Jadi lu orang gak usah pusingin nama. W kasih yang sejelas2nya. Komen Mulu, kek lu punya karya perfect aja. Thanks.