
Bab 14
Yoga langsung masuk ke dalam mobilnya tanpa rasa ragu. Mobil yang dikemudikannya langsung dipacu dengan sangat kencang, sampai di spidometernya menunjukkan angka seratus delapan puluh kilometer per jam. Tak ada pikiran lain lagi selain dirinya harus pergi dari sana untuk menyelamatkan diri.
Di tengah jalan, tiba-tiba saja radio mobil itu menyala dengan sendirinya bahkan anehnya frekuensi dari radio itu dapat berubah-ubah sendiri. Suara yang keluar dari radio itu membuat Yoga merasakan sakit di pendengarannya. Yoga semakin panik kala radio itu semakin berisik dan mengeluarkan suara berdenging. Ia terus saja menekan tombol off pada radio itu. Namun tekanan yang ia lakukan itu tak berpengaruh apa pun. Suara itu terdengar semakin tajam menusuk telinga, jeritan anak kecil yang kesakitan melengking nyaring bercampur dengan suara musik dan penyiar radio yang selalu berubah-ubah.
Yoga membanting setir ke arah jalan tikus menuju toko Ki Gede dengan cepat. Ia melewati jalanan sepi tepat di bawah jembatan penyebrangan orang yang terlihat sangat menyeramkan. Lampu jalanan yang remang-remang membuat bulu kuduk merinding seketika. Pengendara lain yang berlalu lalang tidak terlihat lagi. Namun Yoga yang memacu kendaraannya dengan cepat itu membelah perhatiannya antara menyetir dan mematikan radio yang sangat-sangat menghujam pendengaran. Tiba-tiba saja radio itu mati dengan sendirinya. Tak terdengar lagi jeritan anak kecil yang kesakitan itu. Belum sempat ia menelan bernapas lega, matanya menangkap sosok anak kecil yang berdiri di pinggir jalan.
Tanpa basa-basi lagi, Yoga menambah kecepatannya untuk menghindari tatapan dari anak kecil itu, sampai ia memastikan sosok itu menghilang dari pandangan matanya dari spion kanannya. Yoga pun langsung membuang pandangannya ke depan bermaksud untuk fokus melihat ke arah depan namun tiba-tiba seorang pria sudah berdiri di depan mobilnya.
"Aaaaaarrrrgggghhhhhhhh...."
BRAAKKK!!!!
Yoga tak melihat pria itu dengan jelas dan terlambat pula untuk menginjak rem. Pajero putih itu kini berhenti dengan sempurna. Di dalam mobil itu, Yoga tampak panik dan wajahnya pucat seketika. Kini ketakutannya bertambah karena telah menabrak seseorang. Sampai kehilangan nyawanya.
Yoga buru-buru keluar dari mobil dan langsung melihat ke arah belakang, tapi ia hanya mendapati jalanan remang yang kosong. Dia lalu berjalan ke arah depan mobilnya. Napas yang memburu dengan degupan jantung yang semakin cepat. Ia sudah memastikan tak ada apa pun di depan mobilnya.
Yoga berniat untuk mengecek bagian bawah mobilnya. Mungkin saja pria yang ditabraknya itu tersangkut di sana. Ia berjongkok dan bersiap untuk melihatnya, namun hal yang tak pernah ia duga, hal yang lebih mengerikan terjadi Dia lalu berjongkok ingin mengecek bag bawah mobil. Mungkin pria yang dia tabrak ter sangkut di sana. Pria yang ditabrak oleh Yoga tiba-tiba keluar dari kolong mobil dan menarik kaki Yoga dengan sangat cepat.
Yoga terkejut dan langsung terjatuh ke bawah, tertarik hingga ke kolong mobil. Yoga berusaha untuk melawan tarikan kuat itu, namun tangannya tak dapat menahan kekuatan yang amat besar sehingga tubuhnya langsung masuk ke dalam kolong mobil.
Gelap.
__ADS_1
Yoga tak dapat melihat apa pun.
Saat ia memicingkan matanya, dua mata pria yang baru saja ditabraknya itu melotot menatap matanya. Wajah pria yang ada dihadapannya saat ini terlihat sangat pucat yang menandakan bahwa ia sudah lama mati. Dari mulutnya terlihat cairan merah yang terus\=menerus keluar. Tetesan cairan itu mengenai wajahnya. Yoga bisa merasakan hangat dan bau busuk dari cairan merah itu.
Yoga berteriak sekencang-kencangnya, memberontak agar ia bisa melepaskan diri dari sana. Pajero itu ikut bergoyang dengan hebatnya. Terdengar benturan dari bawah kolong mobil itu. Yoga menendang kakinya ke atas sehingga orang yang berada di atasnya itu tiba-tiba saja menghilang. Ia berusaha keluar dari bawah kolong mobil dengan merangkak dengan cepat.
Terlepas dari itu, Yoga berlari keluar menyelamatkan diri menuju tangga sempit lalu terus naik ke atas jembatan penyebrangan orang. Yoga meninggalkan mobilnya. ia biarkan begitu saja di sana. Ia kemudian berjalan dengan memanfaatkan sisa-sisa napasnya yang bisa ia raup sebanyak mungkin.
Yoga mendapati sebuah warung kopi kecil di pinggir jalan itu, lalu ia masuk ke dalam sana. Warung kopi yang lusuh tertutup dengan spanduk bekas yang mulai usang. Di dalamnya hanya ada tiga orang saja, si pelayan dan pelanggannya yang asyik mengobrol. Obrolan mereka terhenti saat melihat Yoga masuk ke dalam warung kecil itu. Mereka memandang wajah Yoga yang pucat.
"Mau pesen apa, Mas?" tanya si pelayan itu.
Yoga refleks memegang kantong celananya, menyadari bahwa ia tak membawa dompet ataupun uang sepeser pun. Yoga lalu menggelengkan kepalanya pelan tanda ia tak ingin memesan apa pun. Namun si pelayan warung itu memandang dirinya dari bawah ke atas. Ada rasa tak tega di dalam hati pelayan itu, ia pun segera mengambilkan segelas air putih untuk Yoga.
"Gratis kok, Mas," ujar si pelayan mempersilakan Yoga untuk minum.
Yoga tersenyum dan langsung meminumnya. Setelah itu dia diam lagi tanpa ada suara. Ia bersyukur masih membawa ponselnya. Ia memandang ponsel itu sejenak, terlihat bayangan mamanya di sana. Dengan segera ia melakukan panggilan telepon.
tersambung dan diangkat langsung oleh mamanya.
"Halo, Iya, Ga... Kenapa?" suara lembut itu menegur Yoga yang berada di seberang telepon.
Yoga yang tak bisa menjawab pertanyaan dari mamanya itu langsung meneteskan air matanya.
__ADS_1
"Ga, halo?"
hening.
"Yoga!" kini suara mamanya mulai khawatir diujung telepon sana.
"Ya, Ma...," rengek Yoga manja.
Tapi sayangnya balasan dari Yoga tak langsung dijawab sang mama. Ada suara Rani yang terdengar di ujung sana.
"Kamu kenapa, Sayang? Udah dibeli inhalernya?" pertanyaan itu diiringi oleh rengekan Rani yang berubah menjadi tangisan. "Duh Rani, sebentar dong!"
Terdengar ucapan sang mama yang meminta Rani untuk diam sejenak. Namun Yoga tak kunjung menjawab pertanyaan mamanya.
Mamanya kesal dengan sikap Yoga, "Aduh, Yoga... Kamu jangan bercanda ya. Jangan ngerjain mama lagi!"
Diam. Yoga hanya mendengarkan saja.
"Besok pagi, mama telepon. Sekarang kamu beli inhaler terus pulang! Rani lagi ribet sama Hani!" suara itu terdengar lagi.
Yoga mengusap air matanya yang nyaris saja terjatuh ke pipinya. Yoga diam sejenak, seandainya ia ceritakan semua keadaannya, apakah mamanya akan percaya? Yoga terkesiap kala mendengar tangisan Rani semakin kencang.
Ditambah lagi sambungan telepon terputus dari sana. Yoga langsung menatap ke arah layar ponselnya.
__ADS_1
bersambung . . . .