Tumbal Jelangkung

Tumbal Jelangkung
Bab 13


__ADS_3

Bab 13


Beberapa menit terlewatkan, kini Yoga berada di kamar yang sama seperti saat dia tinggalkan tiga jam lalu. Yoga masuk terburu-buru, Napasnya menggebu tak karuan. Dia lalu mencari spidol di dalam laci mejanya. Dia mengambil tiga spidol dan mencoba satu per satu, namun tak ada yang nyata sama sekali. Terlihat krayon di sana, langsung di ambilnya.


Yoga mengambil buku gambar A3, dia sobek selembar, lalu membuka buku jelangkung yang di dapatkannya melalui Ki Gede. Ia membaca sebentar buku itu, lalu mengalihkan pandangannya ke arah tiga benda yang ada ditangannya untuk meyakinkan kalau semua sudah lengkap tanpa kekurangan apa pun.


Yoga mengambil posisi duduk tepat berada di tengah-tengah kamarnya. Bungkusan kain putih lusuh itu perlahan di sampai terlihat jelas boneka jelangkung. Sebuah tongkat kayu berbentuk silang. Di ujung atasnya terlihat setengah batok kelapa berikut surai panjang dari ijuk hitam yang panjang. Lalu dipakaikan sebuah kain putih sehingga seperti memakai baju. Terlihat konyol kalau dilihat dalam keadaan normal. Boneka pemanggil setan yang sekilas seperti manusia itu sangat menakutkan. Seketika ada kekuatan lain yang datang dan dalam boneka itu.


Krayon hitam itu lalu Yoga ikatkan ke ujung bawah boneka Jelangkung itu dengan beberapa karet gelang. Kertas A3 ditaruh di lantai. Kini semua benar-benar siap.


Sebelum benar-benar memulai ritual itu, Yoga menyiapkan dirinya untuk memandang boneka menyeramkan itu. Tangannya mengangkat boneka Jelangkung dan dipandangnya lekat. Lalu ia memeluknya. Walaupun ada keraguan sebentar, tapi Yoga akhirnya menutup matanya dan mulai membaca mantra.


"Jelangkung... Jelangkung... datang tak dijemput pulang tak diantar...."


Keadaan di kamar itu semakin sepi.


"Jelangkung... Jelangkung... datang tak dijemput pulang tak diantar...."


Krayon yang diikatkan ke boneka itu beberapa kali menyentuh kertas namun tak membuat bentuk atau tulisan apa-apa. Hanya goresan-goresan hitam.


Setelah sekian lama hening mencekam, Yoga membuka matanya untuk menunggu apakah ada yang terjadi. Namun tak ada reaksi apa pun. Dia melihat goresan-goresan hitam di kertas yang tak akan bisa dijadikan petunjuk pertolongan dirinya.


Yoga merapal mantra itu lagi. Suaranya lebih kencang dan nadanya mengayun.

__ADS_1


"Jelangkung... Jelangkung... datang tak dijemput pulang tak diantar...."


Dua menit


Lima menit


Sepuluh menit


Tak ada reaksi dari boneka berkepala tempurung itu.


Yoga kesal dengan ritual yang menurutnya tak menghasilkan apa pun. Dia merapal sekali lagi dengan suara yang kencang dan tegas.


"JELANGKUNG... JELANGKUNG... DATANG TAK DIJEMPUT PULANG TAK DIANTAR...."


Yoga memegang lebih erat boneka Jelangkung itu. Akhirnya dia berteriak dengan penuh amarah dan sumpah serapah.


Yoga mendumel penuh dengan kata-kata kasarnya. Tanpa ia sadari dia menggenggam boneka itu sangat erat. Tiba-tiba boneka itu bergetar, mulai bergerak cepat dengan sendirinya. Berputar-putar dengan sangat cepat di atas kertas putih itu dengan tulisan kata yang diulang-ulang. Bukannya Yoga tak mau membaca tulisan yang ada di kertas itu, tali dirinya sudah terseret oleh boneka jelangkung itu untuk mengelilingi kamarnya. Kekuatan gelap sudah datang dan merasuki boneka kepala batok kelapa itu.


Yoga merasakan kekuatan yang besar ada di dalam boneka itu yang kini menyeret dirinya dengan marah. Dada Yoga naik-turun dengan cepat berusaha mengikuti gerakan boneka itu. Tanpa disadari kekuatan boneka itu bertambah sehingga menyeret Yoga untuk menabrakkan diri ke meja belajarnya. Barang-barang yang ada di atas meja itu berjatuhan tak karuan.


Dengan keadaan yang sakit setelah menabrakkan diri ke meja belajar, ia berusaha melepaskan boneka itu dari tangannya. Namun tangannya terus menggenggam erat boneka Jelangkung. Krayon hitamnya menyentuh semua dinding dan barang di kamarnya. Membuat kata yang menjadi pesan untuk dirinya sendiri.


Seketika semuanya telah berhenti, namun bukanlah akhir dari cerita ini.

__ADS_1


Tubuh Yoga lemah, tangannya langsung menjatuhkan boneka itu ke lantai. Yoga berputar mengitari seluruh sudut dinding yang telah tercoret. Yoga terkejut membaca kata-kata yang berada di dinding kamarnya.


M. A. T. I.


Kata itulah yang dibacanya, yang tertulis di seluruh kamarnya, bahkan di cermin yang bersih sekalipun.


Bagaikan tersambar petir, Yoga langsung mematung beberapa menit lalu tersadar dengan kepanikan yang luar biasa. Ia memundurkan badannya perlahan dengan mata yang masih menatap ke arah tulisan yang semakin jauh semakin jelas.


Tak membuang waktu, Yoga langsung berlari keluar kamar cepat menuruni anak tangga dengan membiarkan keadaan kamar yang ditinggalkannya begitu berantakan tak karuan, hingga boneka jelangkung yang baru saja digunakannya itu pun masih tergeletak di lantai.


Langkahnya terhenti seketika saat tiba-tiba lampu mendadak mati dengan sendirinya. Saat itu juga Yoga panik tak bisa melihat apa pun di sekitarnya. Kepanikan itu bertambah nyata saat otaknya tak sanggup lagi menenangkan ronta ketakutan tubuhnya. Tiga detik berselang lampu mati, tiba-tiba saja lampu itu menyala dengan terang. Napas yang bergiliran masuk ke rongga parunya seakan mengharuskan dirinya untuk menoleh ke belakang untuk memastikan tidak ada yang memerhatikan dirinya, namun itu salah. Ia baru menyadari ada seorang anak kecil yang persis di dalam film Tumbal Jelangkung itu menatap tajam dari arah jendela yang tepat di samping ia berdiri.


Anak kecil yang persis di dalam film Tumbal Jelangkung dengan tubuh hitam legam, kepalanya terlihat retak akibat terkena hantaman keras dari benda tajam. Anak kecil itu terlihat sengsara di dalam bara api yang melahap seluruh tubuhnya. Namun yang paling menyeramkan adalah bagian matanya yang tak berisi bola mata. Bagian itulah yang mengawasi gerak-gerik Yoga tanpa lelah.


Kaki Yoga tak bisa bergerak dalam beberapa detik. Tak ada lagi cairan merah yang berani mengalir bila ditatap mata anak kecil itu. Mata yang bolong hitam legam. Yoga berusaha melawan tatapan itu, dia alihkan pandangannya ke sisa anak tangga di bawahnya.


Ayo... cepatlah bergerak!


Napas Yoga menderu cepat dengan kaki kanannya melangkah turun, kemudian berlari lagi meninggalkan anak kecil yang masih menatapnya melalui jendela. Semakin cepat ia berlari menuruni anak tangga sehingga dia melewati dua anak tangga dan kehilangan keseimbangan. Dia lalu terjatuh beberapa tangga dan mencium lantai marmer yang menghiasi rumahnya itu.


Yoga terkapar beberapa detik di lantai. Lalu mencoba membuka matanya. Saat itulah dia melihat seluruh lantainya sudah berubah menjadi hitam pekat dengan hantu anak kecil yang bergerak seakan-akan melawan para pembunuhnya dahulu.


Yoga langsung berputar dan bangkit meninggalkan semua yang dia lihat. Ia tak ingin memperdulikan apa yang baru saja ia lihat dan kejadian yang menimpa dirinya.

__ADS_1


Malam itu, ini kali kedua Yoga keluar dari rumah besar nan megah itu. Ia meninggalkan semuanya di dalam kamarnya, di dalam rumahnya.


Bersambung. . .


__ADS_2