
Setelah kejadian itu.
Sepeninggalan Yoga, Nadia, mama Yoga sangat bersalah dengan apa yang ia lakukan dengan putra satu-satunya itu. Andai saja ia mengajak Yoga ikut malam itu, mungkin ini tidak akan terjadi.
"Sudahlah, Mah. Ikhlaskan Yoga. Biarkan ia tenang di alam sana. Kalau mamah terus menangis dan berkabung, Yoga juga akan sedih dan gak rela untuk pergi ninggalin kita," ujar Papa Yoga sembari memeluk Nadia di depan makam puteranya.
Sedangkan Rani tidak ikut ke pemakaman abangnya, ia dititipkan di rumah Pak RT sementara waktu sembari menunggu selesai acara pemakaman itu.
Semua warga yang berada di komplek itu tahu akan sifat Yoga yang sering kali berbohong tentang hantu namun mereka tidak menyangka kalau Yoga bisa pergi terlebih dahulu sebelum mereka.
Sementara pihak kepolisian yang memeriksa semuanya tidak menemukan hal janggal yang berupa hal gaib yang telah diterangkan oleh kedua sahabat Yoga, Dani dan Tia. Tim Forensik yang memeriksa itu pun mengatakan bahwa itu bukanlah sesuatu di luar nalar, namun itu adalah trauma psikis yang dialami Yoga.
Dani dan Tia keluar dari ruangan polisi sehabis mereka dilakukan tanya jawab. Tak ada yang salah dan mereka tidak di penjara atau bahkan melakukan kesalahan. Kejadian yang menimpa Yoga merupakan kejadian trauma psikis, maka kasus pun di tutup.
"Ke acara pemakaman Yoga, Dan," ujar Tia.
Dani yang menatap Tia dengan pandangan sedih itu pun menganggukkan kepalanya setuju. Dani masuk ke dalam mobilnya begitu juga dengan Tia yang menyusul langkah Dani.
Mobil pun perlahan dijalankan dan melaju meninggalkan kantor polisi yang baru saja meminta mereka menjadi saksi atas kejadian yang menimpa Yoga.
__ADS_1
"Gue gak nyangka bisa kaya gini akhirnya," celetuk Tia yang meraih sabuk pengaman dan memasangnya. "Andai aja gue yang ambil inhelernya dia, gak akan kejadian kaya gini," ujarnya lagi.
"Jangan kaya gitu. Mungkin aja ini emang udah takdirnya, Tia. Apa yang bisa kita lakukan selain mengikhlaskan kepergiannya?" ungkap Dani yang memandang jalanan lurus ke depan.
"Gue, merasa bersalah aja waktu itu, Dan. Dan bodohnya lagi, kenapa gue gak ikutin dia?"
"Udahlah. Semua udah terjadi. Gue udah bilang apa sama lu, ikhlasin dia, Tia," ujar Dani lagi dengan tegas.
Tia terdiam penuh dengan rasa sesal di dadanya. Ia mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela yang melihat ada nenek-nenek tua yang menjual kembang untuk ziarah.
"Dan, berhenti di sini, Dan!" pinta Tia.
Dani yang refleks menginjakkan kakinya dengan rem itu, mobil mendadak berhenti.
"Kita beli bunga dan air dulu, Dan. Tuh ada nenek-nenek yang jual di sana. Kasian tahu dia," ujar Tia sembari menunjukkan jarinya ke arah nenek-nenek tua itu.
"Ya udah. Lo sendiri atau gue temenin juga?" ujar Dani.
"Gue sendiri aja deh. Lo di mobil aja ya," seketika itu Tia meraih tasnya dan membuka tuas pintu mobil dan keluar dari mobil.
__ADS_1
Perlahan ia menyebrangi jalan menuju nenek-nenek penjual bunga tujuh rupa itu. Sampainya di sana dirinya langsung memberi bunga dan air yang ia butuhkan.
"Bunganya, Neng..," ujar Nenek penjual itu.
"Iya, Nek. Bungkus dua ya," sahut Tia.
"Siapa yang meninggal, Neng?" tanya nenek itu lagi. "Sahabatnya ya?"
Sontak saja Tia terkejut mendengar ucapan sang nenek kalau yang meninggal itu sahabatnya.
Apakah nenek ini bisa baca pikiran gue ya? Gumamnya sendiri dalam hati.
"Kok nenek bisa tahu?" tanya Tia penasaran.
Namun . . .
.
.
__ADS_1
.
Bersambung . . .