Tumbal Jelangkung

Tumbal Jelangkung
Bab 25


__ADS_3

"He he he," hanya terdengar suara tawa dari wanita rent itu.


Tia memutuskan untuk segera menyudahi belanjanya. Ia bergegas untuk pergi dari sana setelah mengambil bunga dan air yang baru saja dibungkus rapi oleh nenek itu.


Nenek itu menatapnya dengan sorotan penuh dengan misteri. Sedangkan Dani yang mengawasi Tia untuk menyebrang jalan ke arah mobilnya itu langsung menurunkan kaca mobil. Tia seketika menarik tuas pintu mobil dan langsung masuk ke dalam mobil. Di bantingnya bunga dan air dalam botol yang berbungkus plastik merah itu.


"Lu tau gak sih, itu nenek-nenek serem tau," ujar Tia mengeluh kepada Dani.


"Emang kenapa? Ada kejadian apa lo tadi di sana?" ujar Dani yang menstarter mobilnya dan melaju meninggalkan tempat itu.


"Masa nenek-nenek itu bilang pasti sahabatnya ya yang meninggal? Dia tanya gitu ke gue. Lo mikir gak sih dia tahu dari mana hal itu?" tanya Tia heran dengan pertanyaan yang di dapat dari nenek itu.


"Mana tau dia cuma asal nebak, Ti. Udahlah gak usah berpikiran yang aneh-aneh," ujar Dani memandang jalanan lurus yang lumayan padat itu.


Tia tidak menggubris ucapan yang baru saja diungkapkan oleh Dani, temannya itu. Ia tetap menatap jalanan lurus di depan sana sambil mengenang kepergian salah satu sahabatnya.

__ADS_1


"Ini kita bener masuk sini kan ya? Gue tiba-tiba lupa kalau jalan ke pemakaman," celetuk Dani.


Tia hanya menjawab seadanya saja dengan deheman keras.


Setelah beberapa waktu berlalu, Dani dan Tia telah tiba di pemakaman Yoga. Mereka berdua berjalan cepat menuju ke arah pemakaman.


Hari yang sudah menjelang sore itu membuat para tamu dan hanya tertinggal ibu Yoga dan ayahnya saja. Tia dan Dani bergegas menghampiri mereka berdua yang masih berlutut di atas gundukan tanah baru itu. Mama Yoga sangat terpukul dengan kepergian Yoga yang begitu cepat.


"Assalamualaikum, Tante, Om," ucap Dani dan Tia berbarengan sembari berjalan menuju ke arah gundukan tanah baru itu.


"Waalaikum salam," sahut Ayah Yoga sementara Mama Yoga tetap sesegukkan dipelukkan suaminya.


"Turut berdukacita, Om, Tante," ujar Dani.


Tia berusaha meraih tangan Mama Yoga untuk menenangkan ibu dari sahabatnya itu. "Tante, maafkan Tia dan Dani yang gak bisa nolong Yoga waktu itu. Kami berdua pun kaget," ujar Tia dengan nada yang sangat kehilangan. "Kami juga merasakan sekali kehilangan Yoga, Tante."

__ADS_1


"Mungkin ini salah, Tante. Sudah ninggalin Yoga sendirian di rumah. Padahal Tante tau kalau dia juga sakit asma. Tante juga nyesel gak suruh dia beli inhaler untuknya lagi," sahut Mama Yoga, Nadia, dengan penuh nada kehilangan.


"Ikhlaskan Yoga, Tante. Yoga akan tenang di sana. Dia akan melihat kita bahagia di sini, Tante," ujar Tia lagi sembari mengelus lengan Ibu Yoga.


Sekali lagi, Tia dan Dani yang saat itu membawa bungkusan berwarna merah, mengambil bunga lalu menaburkan seluruh bunga ke gundukkan tanah yang baru itu. Menyiraminya dengan air botol yang baru saja dibelinya beberapa menit yang lalu. Namun ada yang aneh dengan air botol itu. Air botol yang pertama mereka lihat adalah air berwarna putih kini berubah menjadi merah darah.


Refleks saja Tia berteriak dengan keras dan membuangnya ke sembarang arah sebelum ia menuangkan air dalam kemasan itu.


.


.


.


Bersambung. . .

__ADS_1


__ADS_2