
Tia yang mendengar itu pun mengusap wajahnya bingung dengan situasi yang dihadapinya. Ia kembali memandang Yoga dengan pandangan marah, kesal, panik, sekaligus sakit. Dia juga harus mendinginkan suasana yang ada dihadapannya saat ini.
"Lo tuh berhalusinasi kali ya? Efek obat Lo, Ga, atau efek sesak napas Lo." ujar Tia yang mendekatkan wajahnya ke arah Yoga
"Alah, Lo masih percaya sama dia, Ti? Itu bohongnya dia doang Tia!" sambar Dani. "BASI BANGET SI LO, GA!" teriaknya lagi tepat ke arah wajah Yoga.
Ketiga pemuda itu terdiam sejenak untuk mendinginkan suasana. Begitu pula dengan Yoga yang kali ini memang tak marah. Dia berusaha menenangkan dirinya. Suaranya terdengar lemah.
"Selama ini gue cuma gak mau kelihatan lemah di depan orang lain."
Dani dan Tia tak menanggapi. Mereka berdua hanya diam saja tanpa bersuara. Tak ayal mereka saling lirik, mempertemukan mata satu dengan yang lainnya. Rasa iba yang tiba muncul itu pun menguasai hati kedua sahabat yang berbeda lawan jenis itu. Jarang sekali mereka berdua mendengar suara Yoga selembut itu. Dani pun melunak setelah mendengar nada suara Yoga. Ia kemudian menarik napasnya dalam menatap Yoga dengan intens.
"Gue gak paham sama pikiran lo, Ga! Ini bukan di dunia komik yang biasa lo buat, ini dunia nyata!" ujar Dani mengembuskan napasnya perlahan sembari menggelengkan kepalanya.
Melihat reaksi yang diberikan oleh Dani, seketika bibir Tia ditarik ke atas, senyum telah terkembang di bibirnya yang manis itu. Cepat-cepat Tia merangkul kedua temannya itu dan mengajak mereka pulang dari tempat horror itu.
"Lo orang berdua ya kalau mau curhat jangan di sini deh!" kata Tia sambil menahan senyum yang masih terkembang di bibirnya. Kemudian ia merapatkan jaket yang dikenakannya lalu menarik lengan Dani. "Ayo pulang! Takut nih gue," ujarnya lagi seraya menatap ke arah Yoga.
"Ga, kali ini yang diomongin Dani bener. Bagusnya sekarang lo nginep di rumah gue, ayo!"
Dani dan Yoga saling menatap satu sama lain seperti biasanya mereka menurut dengan perintah tegas dari Tia. Mereka bertiga pun mulai saling bertatap-tatapan, saling menyakinkan untuk pulang sekarang. Tia menganggukkan kepala dengan pasti lalu mengajak kedua sahabatnya itu kembali ke arah mobil yang terparkir agak jauh.
__ADS_1
Dani dan Yoga pun damai dengan apa yang baru saja terjadi. Dan Yoga pun menganggukkan kepalanya namun ia diam sebentar sebelum menyusul Tia dan Dani yang melangkah lebih dulu. Beberapa detik terdiam, melihat temannya itu melangkah berdua, ia pun mengikutinya dari belakang.
Baru saja melangkahkan kaki, hawa dingin yang menyergap dirinya saat berada di dalam kamarnya seakan-akan menyapa. Menerpa kulitnya dengan sentuhan lembut nan mengerikan. Ia merasakan ada yang mengawasinya dari kejauhan. Dia melihat ke arah depan, melihat Tia dan Dani yang merapatkan jaket mereka masing-masing dan berjalan lebih cepat dari biasanya. Yoga pun sempat melihat Dani memegang tengkuknya.
Terdengar suara anak ayam melintas secara tiba-tiba di telinga Yoga membuat langkah kakinya berhenti beberapa detik. Dalam sebelah otaknya berpikir kalau ini tidak benar, dan yang lainnya bilang kalau ada makhluk gain yang datang.
Yoga terdiam di tempatnya itu. Instingnya mengatakan bahwa ada tatapan tajam yang mengarah ke arah dirinya dengan tatapan marah. Ia pun memutuskan memutar tubuhnya untuk melihat sekitar. Pandangan matanya berusaha menangkap bayangan di kegelapan malam. Ia tak melihat ada sesuatu yang mencurigakan. Tak ada bayangan hitam melintas atau asap-asap mencurigakan seperti yang ada pada film. Yoga lalu memandang ke arah atas tepat ke arah dahan pohon yang kokoh nan rimbun itu.
Dalam pandangannya, Yoga menangkap sosok wanita berambut putih berantakan nan panjang yang sedang duduk di atas dahan pohon yang kokoh itu dengan pandangan melotot ke arahnya. Desiran-desiran dari tatapan itu membuat aliran darah Yoga langsung membeku seketika. Terlempar pada masa lalu yang sama persis pada sosok waktu itu. Sosok kuntilanak yang suka menculik anak-anak yang nakal.
Udara yang ada di sekitar Yoga seakan-akan kering kerontang, tak merasakan adanya udara yang melintas bagaimana pun ia berusaha untuk meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Ia mengalami sesak tiba-tiba. Namun ia berusaha untuk mengaturnya kembali dengan normal. Yoga memutuskan berbalik arah dan berlari sekencang-kencangnya menuju kedua temannya yang berjalan menjauh meninggalkan dirinya di belakang.
"Dan! Tia!!" teriak Yoga dengan keras.
"TIAAAAAA!!!" Jerit Yoga histeris.
Kali ini kedua temannya yang ada di depannya itu mendengar jeritan yang dihasilkan dari suara Yoga. Mereka berdua menengok ke arah Yoga secara bersamaan dengan tatapan bingung yang melihat Yoga berlari melintasi mereka berdua dengan cepat. Dani dan Tia langsung tersadar kalau Yoga tidak sedang bercanda. Mereka tak menyadari kalau kuntilanak yang mengejar Yoga sudah bertengger di dahan pohon di atas mereka.
Hawa dingin terasa kembali, kali ini hawa dingin ini berkali-kali lipat dingin daripada yang tadi. Tak ada waktu lagi, Dani dan Tia langsung berlari dengan cepat mengikuti langkah Yoga yang suda berada di depannya. Sedangkan mobil Dani yang terparkir masih berada tiga puluh meter di depan. Mereka bertiga sama-sama berpikir kalau mereka akan selamat setelah masuk ke dalam mobil itu. Taj dapat dipungkiri kalau mereka berlari sempat tersandung baru atau akar pohon yang menjalar di antara tanah-tanah namun itu tak dapat membuat mereka melambatkan larian.
Yoga yang paling depan pun lebih dulu sampai ke mobilnya Dani tepat di bawah pohon beringin besar. Dia meraih gagang pintu mobil dan menariknya untuk segera masuk ke dalam mobil, namun sialnya tak bisa terbuka karena masih terkunci, Dani menyusul keberadaan Yoga yang sudah sampai di mobilnya itu, dan langsung meraih kunci mobil dan membukanya.
__ADS_1
Clek
Pintu terbuka, Yoga segera masuk ke dalam mobil di susul dengan Dani, Tia yang masih berlari pun akhirnya sampai di mobil dan langsung masuk ke dalam mobil itu. Dengan kesal Tia membanting pintu itu dan langsung berteriak di kuping Dani.
"Gue bilang juga apa? Cepetan balik! SEKARANG!!!"
Namun mobil mereka terjebak di bawah pohon itu. Mobil itu tidak bisa hidup walaupun Dani sudah berusaha untuk menghidupkan mobilnya beberapa kali. Tangan Dani gemetar saat menghidupkan mesin mobil sampai-sampai keringat dingin yang sedari tadi sudah memenuhi sekujur tubuhnya membuatnya semakin panik.
Sekali
Dua kali
Tetap tidak bisa menyala. Dani memukul setir kemudinya dan langsung mencobanya lagi.
Sementara itu di kursi belakang, Yoga yang berusaha menenangkan napasnya yang mulai sesak. Tangan kanannya memegang dadanya lalu mengurutnya dengan pelan untuk melancarkan udara yang ingin masuk ke dalam rongga paru-parunya.
Keadaan di dalam mobil itu semakin tegang dengan tiba-tiba saja alarm mobil berbunyi dengan sendirinya.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung . . .