
Yoga sampai ke titik terang yang dia tuju. Sebuah halte bus yang usang tak terpakai entah sudah berapa tahun lamanya. Ia duduk di sana dengan keadaan yang kotor dan sepi. Ia tak bisa melanjutkan perjalanannya lagi, pasrah dengan keadaan.
Rasa dingin yang tadinya tidak ada, kini kembali menyergap di keheningan malam itu. Yoga merasakan ada mata yang mengawasinya dari kejauhan. Ia merasa semakin lama semakin dekat untuk mengawasi dirinya. Yoga menengok ke kanan ke kiri memastikan dalam bayangan hanyalah bayangan. Perasaan takut tiba-tiba menghilang sepenuhnya dari dalam dirinya. Yoga sadar kalau dia saat ini tidak takut mati dengan apa pun yang mengancamnya. Ia lebih takut kalau kedua temannya tetap tidak percaya dengan dirinya.
Gundah gulana Yoga dapat dirasakan oleh Dani dan Tia. Namun Tia merasakan kalau hati temannya ini sudah melunak. Rasa sayang kepada sahabatnya itu tak akan pernah hilang.
Suara Tia melembut. "Saat Lo dimusuhi temen sekelas Lo waktu SMP, siapa yang tetep temenan sama Lo?" Tia bertanya seraya menatap Dani. Ia melengos ke depan lagi. "Pas W dilabrak sama senior-senior alay, siapa yang datang belain gue pas SMA?" tanyanya lagi. "Semua itu Yoga. Kalau bukan dia siapa lagi, Dan?" Tia menatap ke arah Dani sekali lagi menatap wajahnya yang memegang erat kemudi mobilnya.
"Tapi dia udah gak waras, Tia!"
"Elo yang lebih gak waras ninggalin sahabat Lo bengek di tengah jalan!" ujar Tia berteriak menyadarkan Dani.
"Jadi sekarang Lo percaya sama semua omongan dia?"
Tia menelan ludahnya kasar. Sebenarnya ia antara percaya dan tidak percaya, namun apa yang terjadi beberapa waktu ke belakang saat di pemakaman, itu tidak masuk kelogisan di dalam pikirannya.
"Sekarang gue tanya, kenapa alarm mobil Lo tadi bunyi sendiri dan tiba-tiba mati sendiri? Apa jangan-jangan Lo juga ngerasa kalau ada hawa dingin yang nyamperin kita?"
Dani terdiam kembali.
"Gini, deh, Dan. Kalo Yoga bohong lagi, lo cuma kehilangan nonton bola doang. Tapi kalo ternyata Yoga bener, kita kehilangan sahabat! Sekarang, ya terserah lo," ujar Tia menatap ke arah Dani.
Kalimat Tia yang terakhir membuat Dani mencengkeram setir kemudinya semakin kencang. Kali ini cengkeraman itu bukan menandakan ia marah tapi itu merupakan kepastian hati.
"Pegangan Ti!"
__ADS_1
Tia yang mendengar itu langsung berpegangan erat di dashboard mobil. Senyumnya tersungging kembali di bibirnya. Terdengar decitan menyakitkan telinga dari gesekan ban dengan aspal saat mobil Dani berputar secara mendadak. Mobil merah itu kembali untuk menjemput sahabat mereka.
Butuh beberapa waktu untuk menemukan keberadaan Yoga yang sedang kesusahan bernapas di halte kosong itu. Raut wajah Yoga yang pucat kembali mulai bersinar ketika melihat mobil Dani berhenti tepat di depannya.
Tia langsung turun menemui Yoga. Ia berlutut untuk meyakinkan kalau sahabatnya ini tak apa-apa.
"Naik ke mobil yuk...," ajak Tia membuka suaranya pelan dengan nada mengajak. Yoga terdiam, tak ingin menjawab. Dia ragu menerima ajakan Tia. Dia melirik ke arah Dani yang masih diam di dalam mobil melihat reaksi antara Tia dan Yoga. Tia mendongakkan kepalanya dan menengok ke arah Dani. Dia memberi sebuah tanda agar Dani mau turun bergabung bersama mereka.
Dani menatap Tia ragu. Namun akhirnya ia pun memutuskan untuk turun dari mobilnya dan menemui Yoga. Kini Dani berada tepat di hadapan Yoga. Berdiri dan tanpa suara. Kedua mata mereka bertemu seperti mengatakan permintaan maaf melalui batin, Dani mengulurkan tangan kanannya ke arah Yoga. Tanpa ragu Yoga pun lekas menerima tangan itu. Akhirnya yang ditunggu-tunggu oleh Tia terjadi juga. Kedua sahabatnya yang bersitegang itu pun akhirnya damai dengan salaman yang terpaut. Dengan senang hati, Dani menarik tubuh Yoga untuk bangkit dari duduknya.
Tia menyunggingkan senyumannya lebar. Tak ada yang lebih membahagiakan selain melihat kedua sahabatnya kembali bersahabat. Tak ada pertengkaran di antara mereka. Dia membukakan pintu untuk Yoga dan mempersilakan Yoga masuk ke dalam mobilnya. Yoga pun dengan senang hati masuk ke dalam mobil.
Ketiga pemuda yang ada di dalam mobil itu kini sama-sama tersenyum, Semua mendadak terdiam dan teringat sesuatu. Masalah Yoga belum selesai sepenuhnya. Mereka harus mengejar waktu di mana bulan purnama akan berpindah tempat.
Mobil yang dikendarai oleh Dani melaju kencang di jalanan yang lenggang untuk menebus waktu yang hilang. Tia menengok ke arah Yoga duduk. Pemuda itu masih terlihat sangat lemas. Bibirnya yang pucat dan bengek semakin terdengar jelas.
Yoga menganggukkan kepalanya membenarkan apa yang ditanya oleh Tia.
"Kalau gitu, kita harus ke sana lagi!" sembari menatap ke arah Dani.
Dani yang mengemudikan mobilnya itu pun menganggukkan kepala setuju. Ia memacu mobilnya semakin cepat tak terbatas, bahkan ia sudah melanggar lalu lintas dengan menerobos empat lampu merah yang bisa menghambat mobil mereka melaju kencang. Keberuntungan seakan-akan ada pada Yoga. Tak ada hambatan untuk sementara waktu sampai mereka berada di toko antik Ki Gede.
Kekecewaan hadir saat ketiga pemuda itu berdiri tepat di depan toko antik yang sudah tutup. Gelap, tak ada cahaya lampu dari dalam sana yang menandakan kalau toko itu tutup sempurna sepert toko yang lainnya. Mereka bertiga mengintip dar luar, memastikan apa yang mereka lihat itu salah. Namun harapan tinggal harapan, toko itu tetap gelap tak ada tanda-tanda kehidupan di sana.
"Ki.... Ki Gede...," panggil Tia untuk memastikan kalau di dalam toko itu masih ada Ki Gede yang belum pulang. Teriakan Tia diiringi ketukan jendela dari Dani.
__ADS_1
"Kayanya dia gak tinggal di sini deh," ujar Tia sehabis ia meneriaki nama pemilik toko itu.
Tia dan Dani mendekat ke arah Yoga yang duduk di bangku kayu yang ada di depan toko Ki Gede. Raut wajah mereka sangat kentara kalau mereka sangat kecapekan. Yoga yang duduk di bangku itu tak banyak bicara. Ia tetap merasakan rasa sesak di dadanya.
"Tenang, Ga! Kita cari rumahnya aja," usul Dani yang sudah berada di sampingnya.
Dari tempat duduk mereka bertiga, terlihat dua orang tukang ojek yang sedang makan nasi goreng di seberang bersama dengan gerobak dorong nasi goreng. Dani memutuskan untuk mendekati tukang ojek itu.
"Malem, Bang," sapa Dani ramah, "tau rumah orang yang punya toko antik itu gak?" lanjutnya bertanya tanpa ragu.
"Oh, Ki Gede?" tanya seorang tukang ojek berjaket tebal.
Dani menganggukkan kepalanya. Terpancar raut wajah yang penuh dengan harapan.
"Oh, itu. Tau sih, Gak jauh kok dari sini! Tapi...," lalu ada sesuatu yang dilihat oleh Dani dari tukang ojek itu.
"Udah malem banget ini," ujar tukang ojek yang lainnya.
Dani menengok ke arah dua sahabatnya yang duduk lesu di bangku kayu untuk beberapa menit.
"Tenang, Bang! Entar ditambahin!" nego Dani terhadap tukang ojek itu.
.
.
__ADS_1
.
bersambung. . .