Tumbal Jelangkung

Tumbal Jelangkung
Bab 6


__ADS_3

Bab 6


Di sepanjang jalan Gondangdia, terlihat toko kecil khusus menjual barang-barang antik dan autentik. Dari luar terlihat sekali aura yang berbeda dari toko itu, seperti ada mistik yang menyelimuti toko itu. Toko yang di penuhi barang-barang yang berdebu di mana karena jarang sekali di bersihkan oleh pemilik toko. Banyak kotak-kotak piringan hitam jaman dulu bertumpuk dalam satu wadah, gramafon untuk memutar piringan hitam, rak-rak yang berjejer tinggi, dan kumpulan komik-komik tua, bahkan ada kotak kaca yang berisi keris terlihat di dinding atas, tepat di sebelahnya terlihat counter kecil di suatu sudut.


Terlihat seseorang lelaki yang sudah berumur di atas empat puluh tahun, duduk di balik counternya yang kecil itu. Ki Gede yang sudah dikenal orang sekitar dan pelanggannya memiliki penampian yang tak kalah eksentrik seperti dukun jaman-jaman Majapahit. Raut wajah yang tegas, sedikit seram namun memiliki sinar mata yang menyiratkan kebaikan hati dan di penuhi dengan lika-liku kehidupan yang telah dilaluinya. Rambut yang berwarna putih silver mengkilap serta janggut yang dibiarkan panjang berantakan.


Ki Gede yang sekarang sedang melebarkan matanya kepada seorang gadis tepat berada di depannya itu sedang memegang piringan hitam yang terjatuh di lantai. Gadis itu terkejut dengan sikap yang takut-takut memungut kembali piringan hitam yang jatuh itu. Ki Gede yang berpenampilan seperti dukun santet itu pun langsung bergegas merebut piringan hitam dari tangan gadis yang berhasil mengambil dari lantai dengan keberanian hanya sekitar lima puluh persen.


"Kalau kamu gak bisa pegang piringan hitam ini, jangan masuk ke toko saya!" bentak Ki Gede kepada gadis itu.


"Tapi, Ki saya kan mau beli piring hitam itu, Ki," pinta gadis itu masih dengan raut wajah yang takut-takut.


"Jangan asal ngomong kamu! Asal kamu tahu ya, ini piringan hitam ini lebih tua dari kakek buyut kamu, tahu!"


Ki Gede yang langsung saja memasukkan piringan hitam itu kembali ke dalam kotaknya semula. Si gadis yang mendengar hal itu memutuskan untuk tidak melanjutkan keinginannya dan langsung memutuskan keluar dari toko antik itu. Saat dirinya menarik daun pintu untuk keluar dari toko tu, nyaris saja dirinya menabrak tiga orang di depannya yang ingin masuk ke dalam toko itu juga.


Yoga, Tia, dan Dani tidak nampak heran melihat gadis yang baru saja keluar dari toko itu. Berbeda dengan Tia yang mengernyitkan sebelah alisnya. Tak heran dengan peraturan yang dimiliki toko ini yang membuat para pembelinya memutuskan untuk kabur dan menarik diri untuk keluar dari toko ini selain pemiliknya yang galak dan barang yang ada di toko ini memiliki keunikan dan umur yang sudah berabad-abad lamanya.


Tia yang melihat Ki Gede yang berdiri di dekat tumpukan kotak khusus piringan hitam itu menyapa seolah-olah dirinya akrab dengan pemilik toko itu. Namun berbeda dengan Ki Gede yang memiliki wibawa hanya menanggapinya dengan deheman saja.

__ADS_1


"Ki, pesanan saya yang kemarin udah datang, kah?" tanya Tia lagi.


Ki Gede yang mendengar hal itu, menganggukkan kepalanya tanda barang itu telah ada dan langsung menunjukkan jempolnya ke arah sebuah rak yang berada di sebelah konternya. Tia langsung saja menuju ke arah yang ditunjuk oleh Ki Gede. Sementara Dani yang langsung berlari ke tempat buku-buku lawas sambil membaca sekilas.


Sementara Yoga yang memiliki agenda lain itu langsung mendekatkan diri ke konter Ki Gede di mana Ki Gede sendiri sedang beberes mejanya yang kecil itu.


"Ki, lihat keris yang di dalam kotak itu dong?" pinta Yoga seraya menunjuk keris di mana keris itu di pajang.


Ki Gede mengikuti telunjuk yang mengarahkan pandangannya ke arah keris yang di pajang di dalam kotak kaca. "Ah, kamu gak sanggup beli itu, Yoga. Cari yang lain saja," senyuman Ki Gede tersungging sembari memandang ke arah Yoga.


Senyuman yang baru saja di bagi oleh Ki Gede seakan-akan menghilang ketika dirinya menatap anak muda yang berdiri tepat di depannya. Ia tahu ada sesuatu dengan pemuda itu. Dirinya tahu bahwa Yoga tak menyadari ada yang salah terhadap dirinya sendiri.


"Huh?" Yoga bingung dengan pertanyaan yang keluar dari Ki Gede. Tak biasanya Ki Gede bertanya sesuatu seperti ini, pikirnya.


Ki Gede tak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari Yoga. Ia menatap tajam dengan matanya yang hampir keluar. Menyadari hal itu, Yoga merasa takut menyelimuti dirinya secara mendadak. Segera saja Yoga tersadar dengan senyuman yang garing terbit di bibirnya.


"Kita habis nonton film di Cinema XXI, kok.., gak ngapa-ngapain," ujar Yoga sedikit santai menanggapi lelaki paruh baya yang ada di hadapannya itu.


Ki Gede yang masih memandangi Yoga dengan tajam seakan tak puas dengan jawaban yang diberikan oleh Yoga. Ia menekankan keadaan agar Yoga jujur terhadap dirinya apa yang baru saja dilakukan oleh pemuda berwajah indo itu. Segera saja Yoga menyadari lagi dan langsung mengalihkan pembicaraan yang tak ingin membuat dirinya ketakutan.

__ADS_1


Yoga mengalihkan pandangannya ke arah keris yang terpajang itu lagi, "Ayo dong, Ki..., Saya cuma pengen liat aja, Kok. Gak akan jatoh, janji deh," bujuk Yoga. "Lagian saya lagi cari inspirasi."


Ki Gede tak menggubris bujukan Yoga. Dirinya tetep memandang ke arah Yoga tanpa kedipan mata. Ia melihat sesuatu yang tak bisa dilihat oleh orang biasa. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa melihat hal-hal yang seperti itu. Dalam penglihatannya, perlahan-lahan wajah Yoga memucat seperti mayat hidup yang sebentar lagi akan kaku, kemudian terdapat darah yang keluar dari hidungnya perlahan-lahan menetes yang semakin lama semakin deras. Raut wajah Yoga semakin lama semakin membiru dengan urat-urat yang nampak jelas di wajahnya. Matanya yang semula berwarna cokelat terang perlahan berubah menjadi merah darah dengan pupil yang mengecil hingga seperti setitik tinta hitam di lautan darah. Ia tak mengalihkan pandangannya untuk beberapa saat sementara pemuda yang berdiri tepat di depannya itu masih mengoceh dengan gayanya.


"YOGA!" Panggil Ki Gede yang mengagetkan semua orang yang ada di dalam toko kecil nan berdebu itu. "Saya tanya serius sama kamu... ngapain aja kamu? Apa yang kamu lakukan tadi?"


Seketika Tia yang masih asyik mencari piringan hitam pesanannya di rak belakang, mencuri dengar apa yang baru saja dikatakan oleh Ki Gede.


"Ga?" panggil Tia mengarahkan pandangannya ke arah Yoga.


Seketika itu juga Dani pun terlihat bingung dengan apa yang terjadi sebenarnya dengan Yoga. Ia menatap ke arah Tia dan bertemu pandang, kemudian dialihkannya lagi ke arah Yoga. Yoga yang menyadari teman-temannya memandangi dirinya lantas mengangkat kedua bahunya bingung dengan tingkah Ki Gede.


Yoga mengarahkan pandangannya ke arah Ki Gede lagi, melihat ada sesuatu benda ditangan Ki Gede. Sebuah kendi yang berwarna cokelat yang dibuat dari tanah liat dan itu terlihat cukup tua. Ki Gede langsung menyodorkan kendi itu ke arah Yoga.


"Ambil kendi ini. Kamu pasti butuh ini!" ujar Ki Gede.


...****************...


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2