
Bab 8
Senja di Ibukota hari ini lebih merah jingga daripada biasanya. Sang mentari mulai terbenam di ufuk barat, di mana bulan purnama sudah siap menyingsing di ufuk timur menggantikan cahayanya untuk menyinari kegelapan di malam hari.
Di jalanan Ibukota yang biasanya padat merayap dengan adanya kemacetan kendaraan seiringnya bersamaan dengan pulangnya jam-jam kerja. Rutinitas berjalan terus-menerus seakan tak ada habisnya. Mobil-mobil yang merayap secara perlahan di jalanan itu, pulang dari kantor menuju rumah mereka yang nyaman. Tak sedikit mereka yang memutar radio atau musik untuk menemani pengendara agar tak mengantuk dan tak mengalami stress di dalam kemacetan yang setiap hari tiada henti.
Sementara pengendara berjuang dalam kemacetan untuk melintasi dan agar cepat sampai ke rumah mereka yang nyaman. Dan Yoga masih terlelap tidur di atas kasurnya yang empuk di dalam kamarnya. Saat matahari benar-benar tak lagi menampakkan sinarnya, Adzan maghrib pun berkumandang saat itu juga dirinya baru bangun dari tidur nyenyak.
Matanya yang masih setengah sayup, melihat ke arah jam digitalnya yang berada di atas nakas yang menunjukkan pukul enam sore. Dia segera bangkit dan bangun sepenuhnya. Ia lalu berdiri dari tempat tidurnya, kemudian melangkahkan kaki menuju ke kamar mandi untuk mandi. Ia menutup pintu kamar mandi dan menyalakan shower untuk membasahi tubuhnya. Tak lupa Yoga bernyanyi kecil dengan nada sumbang. Tangannya menggosokkan sabun di semua tubuhnya lalu membilasnya hingga bersih. Harum dari sabun mandi yang melekat di tubuhnya menggantikan semua kelelahan yang baru saja tanggal dari tubuhnya.
Tubuhnya merasakan kesegaran yang menyenangkan sehingga Yoga tak merasakan ketegangan yang merambat turun dari lubang ventilasi udara, lalu masuk dari sela-sela jendela menuju kamar mandi yang mengintai dirinya. Yoga telah selesai dengan acara mandinya, lalu mengerjakan rutinitas-rutinitas biasa yang ia lakukan. Ia pergi ke wastafel, bercukur lalu bercermin memastikan bahwa tak ada rambut-rambut yang tertinggal di dagu bahkan di bagian kumisnya. Setelah itu ia menyikat giginya untuk mendapatkan kesegaran di dalam mulut.
Saat Yoga menyikat giginya, dia tak sadar bahwa ada hawa aneh yang kini merasuki dirinya. Seketika Yoga tersentak. Ia menghentikan aktivitas menyikat giginya. Merasakan hawa aneh yang seakan-akan nyata membuat bulu romanya seketika berdiri. Ia merasakan ketegangan yang menyergap di seluruh ruangan kamar mandi itu. Tetesan air dari keran membuat suasana semakin dingin dan mencekam. Tanpa berpikir panjang ia meludahkan sisa busa odol di mulutnya dan segera berkumur-kumur dengan air keran. Ia bergegas dengan gerakan terburu-buru keluar dari kamar mandi. Sekilas dirinya bercermin sebelum benar-benar keluar dari kamar mandi. Terdengar suara pintu yang dibanting dengan keras menggema di penjuru rumah itu.
Namun ada yang aneh dengan cermin itu seakan meninggalkan refleksi dirinya yang tertinggal di dalam cermin dengan menampilkan wajah Yoga yang biru lebam dengan urat-urat yang timbul di sekujur tubuhnya, bahkan darahh yang keluar dari hidung, mulut, dan telinga tak pernah berhenti. Mata yang berubah menjadi warna merah darah seperti ingin keluar dari kerangkanya. Bayangan yang ada di dalam cermin itu memberontak ingin keluar dari cermin dan memberitahu tubuhnya yang ada di dunia nyata agar tidak sombong dengan tindakan yang ia lakukan di mana pun itu. Namun perlahan bayangan itu pun menghilang dengan sendirinya.
Masih di kondisi yang sama, Yoga berlarian kecil untuk segera sampai ke kamarnya lalu menguncinya dengan segera. Ia tak peduli dengan keadaannya yang bertelanjang dada dan hanya mengenakan handuk di pinggangnya.
__ADS_1
Yoga menyadari ada yang salah dengan kamarnya. Ia merasakan keanehan dengan hawa dingin seperti yang ia rasakan di kamar mandi yang membuat bulu roma nya merinding seketika. Ia kemudian melihat ke seluruh penjuru kamarnya yang nampak menyeramkan. Semua yang menempel pada dindingnya bahkan karakter-karakter yang terpajang di lemarinya seakan-akan bernyawa dan memiliki mata yang selalu mengawasinya dengan tajam. Seperti menghakimi dirinya.
Yoga langsung membalikkan tubuhnya ke arah pintu. Slot lubang kecil di pintunya tampak terbuka. Ia kemudian mendekat,, memastikan apakah ada sesuatu di slot lubang itu. Bahkan dirinya bertanya-tanya sendiri dengan keheranan menyergap dirinya dengan fakta bahwa slot lubang itu bergeser. Ia teringat bahwa Rani juga ikut pergi dengan mamanya ke acara hajatan di rumah Om Win.
Sekali lagi Yoga ingin memastikan tak ada seorang pun yang mengawasi dirinya dari luar. Namun kedua matanya yang kurang awas. Dalam sepersekian detik ada sekelebat bayangan hitam yang melintas dengan sangat cepat. Gemuruh yang ada di langit tiba-tiba menggema membuat siapa saja dalam keadaan itu merinding mendengarnya. Bayangan itu kini mendekatinya, bergerak semakin cepat ke arah pintu kamar Yoga. Target tepat menuju ke dua mata Yoga yang sedang mengintip di sana.
Yoga beruntung. Dia langsung menutup slot lubang di pintu sebelum kelebat hitam itu menghampiri dirinya. Ia menarik napasnya dalam untuk menenangkan dirinya. Detak jantungnya berpacu cepat. Otaknya menyuruh seluruh anggota tubuhnya untuk tetap tenang.
Di sini aman! Gak ada apa-apa!
Tenang!
Tenang, Yoga!
Namun oksigen yang bertebaran itu menolak untuk masuk ke dalam paru-parunya. Ia berteriak di dalam pikirannya untuk menenangkan dirinya sendiri.
TENANG, YOGA!!!
__ADS_1
Ia kemudian berjalan ke arah lemari, membukanya dengan kasar. Saat dirinya membuka pintu lemari itu seakan-akan ada sepasang mata merah yang mengintip dirinya di sela-sela baju yang tergantung di lemarinya. Rasa takut yang telah mengambil alih seluruh jiwa raganya untuk bertindak, dirinya memberanikan diri untuk mendekat dan melihat ada apa di sana. Ia masih berpikir ini adalah salah satu kerjaan Rani untuk mengerjai dirinya untuk membalas kejahilan dirinya kepada adiknya itu.
Yoga mengarahkan tangannya untuk menyibak semua baju-baju yang menggantung, namun yang di dapatnya hanya ada dinding kayu. Ia meraba-raba dinding itu, tak menemukan apa pun di sana kecuali permukaan yang datar. Yoga tanpa berpikir panjang dirinya langsung mengambil sebuah kemeja dan menutup kembali lemari itu.
Yoga tak percaya kalau dirinya ketakutan dalam rumahnya sendiri. Ia langsung mengenakan kemejanya dan menyemprotkan body cologne. Tak sengaja cipratan dari body cologne mengenai matanya.
"Anjiirrr!" umpatnya kasar.
Yoga mengucek matanya yang perih. Sementara botol body cologne yang digunakannya terjatuh dan bergulir masuk ke bawah kolong ranjangnya.
Yoga memejamkan matanya sejenak agar pandangan matanya membaik dan kembali normal. Ia mengedipkan matanya sambil mengeluarkan air matanya untuk menetralisir perih yang ia rasakan. Sesaat pandangannya kabur, tiba-tiba sekelebat bayangan hitam keluar dari lemarinya berpindah tempat. Yoga kembali memfokuskan pandanganya merasa tak yakin dengan apa yang baru saja dilihatnya.
"Tak ada apa-apa, Yoga! Lo ngaco emang kalau udah takut! Anjir deh ah!" gumamnya sendiri untuk memberanikan dirinya yang masih diselimuti rasa takut.
Ia melihat ke arah pintu lemari yang masih tertutup rapat, dan berbalik sesaat memastikan kalau slot kecil yang ada di kamarnya juga masih tertutup. Dilihatnya sekeliling kamarnya yang penuh dengan hiasan dinding, masih seperti semula, tak ada yang aneh.
...****************...
__ADS_1
Bersambung...