
Bab 20
Dani memanggil Yoga dan Tia dengan lambaian tangan, Tia dan Yoga saling pandang lalu mengarahkan pandangan ke arah Dani. Lalu mereka berdua berdiri dan berjalan ke arah Dani.
"Gimana?" ujar Tia saat ia berada di tempat yang sama dengan Dani.
Dani menunjuk ke arah tukang ojek yang sudah bersiap untuk mengantarkan mereka.
Lalu dengan tidak membuang-buang waktu, Dani meminta Tia naik ke motor yang satunya sedangkan dia dan Yoga menaiki motor yang sama.
"Ayo Ga, lo di belakang gue! Si Tia biar sama abang yang ini aja."
Motor yang membawa mereka pun berjalan di kegelapan malam. Sedangkan motor Tia yang berada di belakang mengikuti mereka. Setelah beberapa menit, ketiga pemuda ini telah sampai ke sebuah mulut gang kecil yang tak jauh dari toko milik Ki Gede. Gang itu merupakan jalan masuk menuju perkampungan padat nan kumuh.
"Lo orang masuk aja. Di depan sana ade warung ye,lo tanya aja!" suruh si tukang ojek yang membonceng Dani dan Yoga. Mereka menganggukkan kepalanya tanda setuju, lalu turun dari motor dan langsung masuk ke dalam gang sempit itu.
"Eh, duitnya mana?" tegur si tukang ojek itu lagi.
Dani langsung merogoh koceknya dan mengambil selembaran uang lima puluh ribuan lalu ia memberikan semuanya ke tukang ojek itu. Dua tukang ojek itu langsung pergi setelah mendapatkan uang dari pelanggannya.
Yoga dan Tia yang masuk ke gang kecil itu duluan. Dani yang berada di belakang segera menyusul kedua sahabatnya itu hingga k tengah jalan gang itu. Cahaya remang-remang dari bohlam-bohlam kuning yang digantung di plafon rumah itu menambah suasana menjadi amat mengerikan. Kadang secercah cahaya yang ada di dalam rumah sangat membantu. Jarak rumah dengan rumah seberang sangat sempit. Mirip dengan jalan setapak yang tak bisa dilalui oleh dua orang yang berjalan beriringan. Mereke semua harus berjalan dengan berbaris ke belakang. Got kecil di antara jalan itu, yang tak terlihat bahkan tak mengalir lancar membuat gang sempit itu mengeluarkan aroma yang tak sedap.
Tia berjalan di tengah-tengah mereka, antara Yoga dan Dani. Sementara Tia sembari memegang ujung kaus Dani agar dia tidak kehilangan arah. Yoga yang berjalan pelan di belakang mereka sehingga beberapa kali agak tertinggal. Sebenarnya Yoga sudah tidak sanggup bernapas tetapi ia melihat kegigihan kedua sahabatnya ingin membantu dirinya untuk menyelesaikan masalah ini, ia pun berusaha untuk lebih keras lagi untuk tidak pingsan di gang kecil nan sempit itu.
Ketiga pemuda itu berjalan bagaikan maling yang melakukan aksinya. Mengendap-endap perlahan agar tak membangunkan warga sembari mencari warung yang dimaksud oleh tukang ojek tadi. Namun sampai lebih dari seratus meter dari depan gang itu mereka tak mendapatkan satu pun warung yang dimaksud oleh tukang ojek itu
Tia yang ada di belakang Dani mulai gelisah. Ia menanyakan keberadaan warung yang dimaksud.
"Mana, Dan? Kita udah jauh jalan ke dalem, tapi gak nemu-nemu," ucap Tia dengan nada menuntut.
__ADS_1
"Sabar!" sahut Dani.
Dua pemuda dan satu pemudi itu pun melanjutkan perjalanan mereka lagi lebih kurang dari sepuluh meter lag ihingga mereka menemukan warung kecil yang sudah dalam keadaan tutup. ******* kesal keluar dari mulut mereka semua.
"Permisi! Permisi...," teriak Dani.
Yoga yang berada di belakang datang mendekat untuk membantu temannya itu. Ia mengetuk papan warung yang sudah tertutup rapat.
Tok
Tok
Tok
Lima menit waktu yang terbuang di sana untuk mencari pemilik warung namun tak ada tanggapan dari pemilik warung itu. Raut wajah Tia dan Yoga kembali kecewa. Dani yang masih tak putus asa menggedor papan itu. Gedorannya semakin kencang.
Ada rasa iba yang sangat mendalam ketika Dani dan Tia melihat ke arah Yoga. Raut wajah Yoga semakin pucat dari yang tadi. Dani berusaha memutar otaknya.
"Ya udah, kita jalan lagi aja! Kali aja warung yang lainnya buka," ajak Tia yang menuntun kedua sahabatnya untuk melanjutkan perjalanan mereka.
Yoga setuju begitu juga dengan Dani. Tapi sialnya, semakin dalam mereka berjalan semakin berkelok-kelok juga gang itu. Tak ada warung satu pun yang mereka temui di sepanjang gang itu. Terdengar suara ketukan oleh hansip di tiang listrik sebanyak dua kali yang menandakan kalau jam sudah menunjukkan pukul dua pagi. Dani melihat ke arah pergelangan tangannya yang dilingkari oleh jam tangan.
"Mendingan kita mencar aja, gimana?" usul Dani yang menatap ke arah Tia dan Yoga.
Namun Tia menatap tak setuju dengan adanya usulan dari Dani. Yoga pun nampak tak yakin dengan apa yang temannya usulkan itu.
"Ya, mau gimana lagi? Kita cari orang yang bisa ditanya masalah Ki Gede! Atau kita panggil aja namanya," ujar Dani tetap kekeuh dengan usulannya.
Tia dan Yoga saling bertatapan. Dani lalu menunjukkan arlogi yang ada di tangan kirinya. Itu merupakan tanda kalau waktu semakin mepet.
__ADS_1
"Ti, lo ke kanan, gue ke kiri, dan Yoga lurus aja ke depan," ujar Dani lagi membagikan arah untuk mereka berpencar.
Yoga memandang gang yang ada di depannya. Lampu gang yang remang-remang, gang yang sempit. Mau tidak mau ia pun menyetujui ide dari Dani.
Yoga, Tia, dan Dani akhirnya benar-benar melakukan usulan dari Dani untuk berpencar mencari rumah Ki Gede. Mereka nekat berpencar di gang yang sempit nan rumit yang tak pernah mereka lewati.
Tia memulai dengan suara cemprengnya untuk memanggil-manggil Ki Gede dengan nada yang tertahan. Ia ragu dengan apa yang dilakukannya ini akan berhasil atau tidak. Sesekali ia mengetuk pelan pintu rumah warga yang ada di sana. Ketukan-ketukan pean yang kadang dijawab dengan erangan pelan para penghuni pemukiman itu menandakan kalau mereka telah terusik dengan ketukan dan nada berisik itu.
Sebaliknya yang dilakukan oleh Dani. Ia berjalan melewati gang itu dengan yakin tanpa putus asa. Dengan pasti dia menggedor pintu rumah ke rumah sambil berteriak memanggil nama Ki Gede. Teriakan-teriakan yang dilontarkan oleh Dani mendapat balasan sumpah serapah dari penghuni rumah yang sama terganggunya dengan teriakan itu. Beberapa pintu juga terbuka mencari asal suara. Namun kaki Dani lebih cepat melangkah meninggalkan rumah yang diketuknya dalam keremangan gang sempit tersebut.
Yoga yang berjalan sendiri di dalam gang sempit itu dengan sisa-sisa tenaganya. Gang yang dilewatinya itu lebih sempit dibandingkan gang yang dilewati Dani dan Tia. Dia hanya sesekali memanggil nama Ki Gede dalam gang sempit itu dikarenakan napasnya sesak. Ia berjalan tanpa henti di gang sempit tersebut. Lampu-lampu neon yang bergantung untuk menerangi gang sempit itu semakin sedikit. Dia berjalan menuju ke sudut yang gelap tanpa tahu apakah gang itu buntu atau gang yang bercabang.
Ia tetap berjalan sembari melawan rasa ketakutan yang muncul. Dini hari itu mengembuskan angin yang kencang yang dapat menggoyangkan lampu-lampu bohlam yang bergantung, membuat langkah Yoga yang berani itu terhenti seketika. Dia memicingkan matanya untuk melihat apa yang ia hadapi di ujung gang itu.
Embusan angin membelai seluruh kulit Yoga, bias sinar lampu kuning yang bergoyang membuat pandangannya kabur. Dia mengerjapkan matanya sesaat. Sekelebat Yoga melihat anak kecil yang persis dengan yang ada di dalam film tumbal jelangkung yang ia tonton siang tadi bersama dengan kedua sahabatnya. Seketika bayangan anak kecil itu semakin nyata dalam pandangan Yoga. Bulu kuduknya berdiri saat itu juga. Napasnya semakin cepat diiringi dengan suara degup jantung yang beradu dengan sesak napasnya. Yoga yang mengerjapkan matanya sekali lagi untuk memastikan apakah benar penglihatannya. Namun saat ia membuka matanya tak ada anak kecil yang baru saja dilihatnya.
"DAN! DANIIIII!"
"TIA!"
.
.
.
.
Bersambung . . .
__ADS_1