
Bab 10
Entah mengapa malam ini rasanya jalanan begitu sepi, hanya ada mobil Yoga yang berhenti di lampu merah. Yoga mulai gelisah dengan kesadarannya di dalam mobil, perasaannya tidak enak, seperti ada sesuatu yang mengikuti dirinya. Sampai-sampai Yoga berdoa di dalam hati agar ada satu atau dua kendaraan yang menemaninya menunggu lampu merah itu menjadi hijau. Ia melihat ke arah spion tengah, ternyata ada mobil lain yang menunggu di lampu merah.
Perlahan mobil itu mendekat, menyamakan posisi sejajar dengan mobil Yoga. Terdengar suara musik yang begitu kencang dari arah mobil samping kirinya. Ternyata mobil itu di kendarai oleh sepasang kekasih, menikmati alunan musik yang mereka dengar dari soundsystem di dalam mobil. Yoga refleks melihat ke arah kiri, dan melihat gerakan keduanya saat menikmati musik itu. Tak terasa Yoga pun mengikutinya, semakin lama semakin ia terbiasa dengan alunan musiknya. Namun saat Yoga memalingkan wajahnya kembali ke arah kiri, cowok yang memegang setir, menatap mata Yoga dengan tatapan tidak suka dan tajam Bahkan perlahan-lahan matanya seperti melotot ke arah Yoga. Sekelebat bayangan hitam pun terlihat bahkan anak kecil yang ada di film Tumbal Jelangkung pun terlihat di sana.
Tanpa basa-basi, Yoga langsung membuang muka dan menancapkan gas, menerobos lampu merah yang belum berganti menjadi hijau. Mobilnya nyaris saja menabrak mobil Avanza yang baru melintas dari arah berlawanan. Napas Yoga seakan-akan semakin memburu seperti halnya dengan mobil yang ia kendarai. Bayangan hantu yang di tontonnya saat di film Tumbal Jelangkung itu seperti menghipnotis dirinya.
Anak laki-laki kecil dengan tubuh yang kurus kerempeng, terlihat di bagian kepalanya penuh dengan bekas bacokan-bacokan benda tajam dari para warga, serta tubuh yang hitam legam seperti habis di bakar. Matanya menatap tajam ke arah Yoga. Benar! Anak kecil itu yang telah dijadikan korban tumbal oleh warga Alas Ruban.
Akhirnya Yoga menepikan mobilnya di sebuah warung kecil untuk beristirahat sejenak. Tidak tahan dengan apa yang sudah terjadi terhadap dirinya. Ia langsung saja mendatangi si penjual yang ada di sana.
"Bang, Teh botol Sosro-nya satu. Yang dingin, ya," ujar Yoga.
"Ini, Bang," sahut si penjual sembari memberikan sebuah teh botol yang sudah di buka kepada Yoga. "Kenape, Bang? Abis nabrak?"
Yoga yang sadar pertanyaan itu tertuju untuk dirinya, ia segera saja menggelengkan kepalanya. Dalam sedetik saja dirinya sudah menghabiskan teh botol itu. Ia langsung memberikan uang kepada si penjual. Dirinya teringat dengan sahabat satunya lagi. Dengan segera ia merogoh ponsel di saku celananya dan menekan tombol dial.
Memanggil ...
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, sambungan langsung terhubung.
"Eh, kebetulan banget Lo telepon gue. Baru aja gue pengen telepon Lo. Balikin kaset gue, Ga....,!!!" suara Kristia yang berteriak terdengar.
"Tia, gue mohon sama Lo, dengerin gue dulu. Gue bakal balikin kaset Lo. Tenang aja, sih. Tapi, please... Dengerin gue! Cuma Lo satu-satunya yang bisa gue harapin," ujar Yoga yang langsung memotong cepat omongan Tia sebelum dirinya mengoceh panjang lebar. Yoga lalu bercerita sedetail mungkin dengan Tia.
Sambil meninggalkan warung kecil itu, Yoga masih bercerita sampai dirinya mengemudikan mobilnya kembali. Sayangnya cerita yang dilontarkan oleh Yoga, dijawab dengan ketidakpedulian Tia.. Temannya tahu bahwa Yoga hanya mengarang cerita.
"Ga... Mendingan Lo udahan, deh. Gak lucu dengan cerita basi Lo. Lagian ngapain si Lo mau bohongin kita mulu," sahut Tia dari seberang telepon.
Yoga yang mendengar itu menjadi kesal. Bagaimana dirinya gak kesal, satu lagi manusia tak percaya dirinya.
"Gimana gue mau percaya sama Lo? Tiap kali gue percaya, Lo malah nipu kita-kita orang. Lo pikir kita gak sakit hati?"
Apa yang dikatakan oleh Tia memang ada benarnya. Tetapi Yoga memohon untuk kali ini saja, "Tia.. Gue serius, Ti! Itu setan yang nyamperin gue sama persis seperti yang di film Tumbal Jelangkung," ujar Yoga lagi.
Namun Tia yang mendengar itu langsung tertawa nyaring, "Ha ha ha! Canda Lo garing, Ga!"
"Ti, Sekali lagi gue bilang gue serius, Tia! kali ini Yoga mengingat sesuatu saat ia menonton film di bioskop itu. "Ti..., Lo ingatkan, Lo ingatkan dengan kursi itu? Yang gue duduk-in itu, Tia... Yang seperti Lo bilang...," lanjut Yoga panik mengingat apa yang tadi pagi dialaminya.
__ADS_1
"Ha ha, Lo ngayal aja sih kerjaannya? Ya gak mungkin kali! Lo ingat, kan yang Lo bilang? "I T U C U M A K U R S I D O A N G!" ujar Tia mengingatkan dengan cara mengejanya. Akhirnya Kristia mematikan sambungan teleponnya. Yoga yang kesal pun mengingat sesuatu dan langsung menuju lokasi yang ingin ditujunya, yaitu cinema XXI yang ada di Jakarta Selatan.
Mobil pun bergerak melaju di jalanan yang sepi itu.
Sesampainya ia di mall itu, ia memarkirkan mobilnya di parkiran mobil basement. Yoga berlari masuk ke dalam mall dan langsung menuju ke lantai tiga di mana Cinema XXI itu berada. Tak ingin mengantri panjang, dirinya langsung masuk menerobos ke lobi bioskop itu yang lebih penuh di bandingkan pagi tadi dirinya menonton. Tak peduli tubuhnya yang berdesak-desakan saling dorong untuk bisa masuk menuju bioskop itu.
"Oi..., Mas, ngantri dong...! Apaan sih, main dorong-dorong!" teriak seseorang yang kesal dengannya.
"Dasar manusia gak tahu aturan!" sahut yang lainnya ikut kesal dengan kelakuannya.
Saat dirinya mendengar caci maki dari beberapa orang yang kesal, ia melengos pergi melanjutkan misinya untuk masuk ke dalam theater. Saran dari sahabat perempuannya terngiang di dalam kepalanya dengan kata-kata "tanya aja sendiri dengan yang buat," maka dari itu dirinya berada di sini dengan penuh orang-orang yang mengantri.
Di sinilah dirinya berada. Ia masuk ke dalam theater yang sedang memutar film dengan penonton yang membeludak. Film tersebut sudah di putar beberapa menit yang lalu, namun dirinya tetap berjalan menaiki tangga menuju kursi yang tadi pagi didudukinya.
Benar saja kursi yang ada di sana masih kosong dan tak ada seorang pun yang berani menduduki kursi itu. Betapa mirisnya hanya Yoga seorang yang berani menduduki kursi keramat itu. Dia semakin mendekat ke kursi itu, namun tangannya keburu di pegang oleh seseorang dengan tangan yang besar.
Dia langsung diseret keluar dari theater dan dibawa ke arah kantor pengelola bioskop itu terkait dengan apa yang telah dilakukannya itu. Yoga tak tinggal diam. Ia memberontak berusaha untuk melepaskan tangannya.
"Pak, lepaskan saya, Pak! Saya gak salah, Pak! Setan itu ngejar saya, Pak. Lepaskan saya, Pak...!!" ujar Yoga meronta-ronta.
__ADS_1
Bersambung ....