
Bab 18
Keadaan semakin kacau kala alarm mobil berbunyi sendiri dengan lampu-lampu mobil yang menyala dan nada yang melengking membuat semua yang ada di dalam mobil panik dan menutup kupingnya masing-masing. Dani semakin panik dengan keringat dingin yang membanjiri kening dan tubuhnya. Yoga melihat ke belakang mobil, mengitari pandangannya ke sekeliling tempat yang gelap itu dengan wajah yang ketakutan. Tia yang memastikan keadaan Yoga yang berada di bangku belakang tak mengalami apa pun, namun yang di dapatnya wajah Yoga semakin pucat dalam ketakutan yang luar biasa.
"Dan, buruan! Dan!!!" jerit Tia.
Kuntilanak itu kini seakan-akan ingin menyerang mereka bertiga. Dia duduk di dahan pohon beringin dan menatap tajam ke arah pemuda yang ada di dalam mobil itu terutama kepada Yoga.
Yoga mendekat ke Dani lalu memukul-mukul bahu Dani beberapa kali.
"Ayo Dan, cepetan...!!"
"Arrrrghhhh!!!" Dani menyalakan mobil dengan emosi. Dia sendiri panik dan kacau dengan keadaan mobil dan sahabatnya yang histeris.
Yoga tak ingin membuka matanya sedangkan Tia menutup telinganya dengan kedua tangannya. Satu kali sentakan kunci mobil dinyalakan, akhirnya berhasil juga. Tiba-tiba saja alarm yang berbunyi pada mobil langsung berhenti dengan sendirinya. Yoga yang memutuskan membuka matanya dan melihat ke dahan pohon beringin di depannya, namun ia tak mendapati sosok mengerikan itu berada di sana. Baru saja Yoga ingin menarik napas lega, naluri Yoga menyuruhnya untuk melihat ke arah belakang, dan mendapati Kuntilanak itu sudah ingin menerjang mobil merah itu.
"CEPAT PERGI DAAAAANNNN!!!!!" Tanpa bak-bik-buk Dani langsung menancap gas tanpa ragu meninggalkan tempat pemakaman yang gelap gulita itu.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah satu malam, mobil Yaris itu sudah melaju kembali di jalan raya Ibukota yang terang. Ketiga sahabat yang berada di dalam mobil itu tak sanggup untuk berbicara satu sama lain. Menenangkan diri masing-masing dari kejadian yang baru saja di alami oleh mereka semua.
Ketegangan itu menghilang saat Dani mendadak menghentikan mobilnya. Dani membalikkan badannya ke belakang kursi penumpang. Dia menatap keadaan temannya yang sudah terkapar lemah di kursi penumpang.
"Lo selalu bikin masalah, Ga! Dan kita berdua yang harus turun tangan buat Lo!"
Yoga terkejut saat mendengar suara Dani yang membentak dirinya. Ia langsung menegakkan tubuhnya di kursi belakang.
Sementara Tia kembali menghela napas panjang. Kemarahannya kini sudah sampai di batas kesabaran manusia.
"Lo berdua emang harus berantem terus, ya? Mendingan Lo antar gue balik dulu aja deh. Habis itu terserah Lo berdua!"
Yoga yang tak peduli dengan temannya itu balas berteriak ke Dani. "Lo gak ngerasa seperti gue! Diteror MATI sama boneka Jelangkung!"
__ADS_1
Dani dan Tia kini terkejut dengan ungkapan yang baru saja dilontarkan oleh Yoga. Seketika raut wajah mereka berubah menjadi takut.
"Jelangkung?" tanya Dani tak percaya.
"LO MAIN JELANGKUNG?!" tanya Tia lemas. Dia tak percaya dengan Yoga yang berani memainkan hal gaib seperti itu. "Ada-ada aja sih lo, Ga...," ucapnya lemah sampai-sampai hanya dia yang bisa mendengar ucapannya itu.
Dani mengusap wajahnya yang shock, bingung dengan kelakuan Yoga. Ia merasa dipermainkan oleh Yoga. Lalu ia menarik napas dan mengembuskan napas kembali. Ia membuka pintu mobil lalu berjalan menuju ke pintu mobil belakang di mana Yoga berada. Ia membuka pintu mobil dengan lebar-lebar.
"Keluar, Ga!"
Yoga hanya bisa bergeming.
Dani tak kuasa langsung menarik tubuh Yoga dengan kasar. "KELUAR!"
Yoga pun keluar dari mobil merah itu. Ia berusaha mengambil
napas sebisanya, tetapi makin sesak. Dani membanting pintu dengan sangat keras.
"Dan! Lo udah gila ya? Apa-apaan si Lo?"
"Kristia Ningsih," sahut Dani mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah Yoga dengan jari telunjuknya, "DIA MAIN JELANGKUNG, TIA! Dia yang main, ya dia yang selesain sendiri!! Kalo Lo mau nemenin dia, terserah Lo! Gue gak mau ikut-ikut!"
Dani melihat ke arah Yoga dengan kesal, "T** Lo!" Dani berjalan lagi masuk ke dalam mobilnya.
Yoga yang tak bisa berbuat apa pun, memasrahkan dirinya dan hanya memegang dadanya yang sesak. Tia sangat bingung dengan kondisi saat ini. Ia sungguh kehabisan kata-kata. Dia menatap Yoga dengan pandangan iba lalu memandang Dani yang duduk diam di belakang kemudi.
"Dan...," suara Tia lemah memohon, namun Dani tetap tak bergeming.
Tubuh Tia seakan gemetar, ia memundurkan tubuhnya menjauh dari Yoga berdiri. Dia semakin dekat dengan mobil Dani. Dengan keadaan yang terpaksa, ia lalu masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Dani.
Dari jendela mobil, Tia menatap Yoga dengan pandangan meminta maaf dan berjanji kalau dia akan datang lagi. Yoga mengalihkan pandanganya ke aspal, menatap sepatunya. Dia tak ingin menatap mata Tia yang penuh dengan rasa belas kasihan terhadap dirinya. Yoga tak ingin memandang kepergian kedua sahabatnya itu.
__ADS_1
Selama lima menit, Yoga tetap berdiri di tempatnya, terpaku beku di sana. Seolah-olah waktu berjalan sangat lambat. Dia tak bisa berpikir jernih, mati rasa seketika di kala sahabatnya meninggalkannya seorang diri. Ia berjalan lunglai tanpa arah tujuan yang pasti, mencari sebuah titik terang. Perlahan berjalan di bawah sinar remang-remang dengan pandangan kosong menatap setitik cahaya di depan. Dalam diamnya ia ingin menyerah dengan hal yang menimpanya sebelum bulan purnama tenggelam di ufuk barat.
Sementara itu, di dalam mobil waktu pun tak kalah lambat. Dani memacu mobilnya dengan cepat dalam keheningan di antara dua orang yang berada di dalamnya.
Tia terus saja memandang ke arah luar jendela, melihat pekatnya malam. Dani menyetir mobilnya ke lain jalan, ia tak membelokkan mobilnya ke arah rumah Tia atau rumahnya sendiri. Tia yang melihat seseorang yang berjalan di tengah kegelapan malam. Seketika hatinya perih meninggalkan sahabatnya itu.
"Kita harus jemput Yoga, Dan," ujar Tia memecah keheningan antara mereka berdua.
"He?! Mendingan gue nonton bola deh!"
Terdiam.
Tia bisa merasakan kecepatan mobil yang ditumpanginya itu menurunkan kecepatannya.
"Dan! Kita gak bisa ninggalin dia gitu aja!"
Jeda yang panjang hingga Dani menjawab, "Lo mau nanggung akibatnya gara-gara dia main Jelangkung? Iya kalo bener mainnya, kalau enggak?"
Dani diam tak melanjutkan. Ada rasa sakit hati yang mengikuti kalimat berikutnya yang diucapkan Dani. "Lo gak bosen apa dibohongin Yoga terus?"
Tia menghela napas panjang. "Dan, kalau dia terusan boong sama kita, gak mungkinlah kita temenan terus dari SMP."
Dani terdiam lagi. Sakit hatinya terasa berkurang sedikit. Ia mencoba mengingat masa-masa dulu bersama dengan Yoga.. Yoga yang telah ditinggalkannya sendirian di tepi jalan yang gelap gulita.
.
.
.
bersambung. . .
__ADS_1