Tumbal Jelangkung

Tumbal Jelangkung
Bab 16


__ADS_3

Bab 16


Tia yang awalnya diam, akhirnya marah terhadap Yoga. Dia melihat ke arah ponselnya, jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam yang berarti hari sudah berganti ke hari Jumat.


"Tau ah, Ga! Lo sendiri yang buat kita gak bisa percaya sama Lo lagi!" Nada kesalnya itu sangat kentara. Tia melipat kedua lengannya ke atas perutnya.


Dengan gerakan tiba-tiba, Dani langsung memasukkan persneling mobilnya. Ia bersiap untuk menjalankan mobilnya lagi.


"Sekarang gue pengen liat yang elo omongin ke kita itu bener atau cuma akal-akalan Lo lagi!"


Mobil itu mendadak digas, dan di dalam mereka terlonjak kaget, tapi tidak ada yang memperdulikan keterkejutan mereka.


"Inget ya, Ga! Sampai Lo boongin kita lagi, gue Gak mau liat muka Lo lagi di depan gue!" teriak Dani tiba-tiba.


Yoga tak bergeming sedikit pun, ia diam seribu bahasa. Sama seperti kedua sahabatnya kini yang bersama dengan dirinya. Rasa takut kehilangan antara mereka bertiga tiba-tiba saja mencuat ke permukaan menyelinap ke dalam keadaan yang menegangkan ini.


Tiga sahabat itu terhenti di sebuah pemakaman umum yang berada di tengah ibukota. Di situ Dani ingin Yoga membuktikan semua omongan yang baru saja di dengar olehnya. Mobil merah itu berhenti tepat di bawah pohon beringin.


Tia sungguh kesal dengan tingkah kedua sahabatnya itu. Kekonyolan yang menyelimuti kedua sahabatnya itu menimbulkan sebuah ketegangan yang terpancar di raut wajah Yoga dan Dani.


"Sumpah ya! Lo berdua baru kali ini kelihatan tholol*nya kalau udah sama-sama ego!" ujar Tia berteriak di dalam mobil itu.


Kegelapan yang menyelimuti malam itu hanya disinari terangnya bulan purnama, membuat Tia was-was melihat ke arah kanan dan kiri memastikan tidak ada apa pun dalam jarak seratus meter ke depan kecuali bayangan-bayangan nisan yang tertajak di sana.


"Lu orang berdua ege ya, ngapain sih ke tempat kaya gini?! Gak lucu Dan!" teriak Tia lagi seraya menoleh ke arah Dani yang bersikap cuek.


Dani lalu membuka pintu mobil dan segera turun dari sana. Bau tanah yang lembab dan bunga Kamboja menyeruak masuk seakan-akan langsung menusuk hidung bagi yang menghirupnya. Dani tetap berusaha tidak peduli dengan apa yang menyeruak masuk menusuk hidungnya, ia segera berjalan ke pintu penumpang di mana Yoga duduk. Ia menarik paksa Yoga untuk turun dari mobil.

__ADS_1


"Mana yang Lo bilang? Tunjukin sama gue!"


Mendengar itu Yoga menjadi gelagapan sendiri. Dani pun langsung menarik tubuh Yoga untuk masuk mengikuti langkah kakinya ke area pemakaman, sedangkan Tia yang duduk di dalam mobil menyaksikan itu. Ia tak dapat berbuat apa pun untuk menolong Yoga.


Pandagan Tia tak ubahnya menatap kepergian kedua sahabatnya itu menjauh dari mobil. Ia bingung dengan keadaan itu, apakah ia harus turun atau menunggu di dalam mobil. Bunga Kamboja yang sedari tadi menusuk hidungnya membuat Tia menyusul kedua temannya itu. Dia bergegas mencari senter di laci dashboard lalu turun mengikuti Dani dan Yoga.


Tia berlari kecil sambil berteriak kecil. Bagaimanapun di tempat sepi itu, tidak ada orang lain selain mereka bertiga, sekecil apa pun suara pasti terdengar.


"Dan, Lo jangan gila deh! Balik sekarang gue bilang!" teriak Tia dari belakang. "Mau Lo apa sih tengah malem di sini?!"


Dani tak menggubris teriakan Tia. Ia berjalan terus sambil memegang bahu Yoga seakan mengarahkan jalan. Mereka terus berjalan sampai ke tengah area pemakaman. Tia beberapa kali menarik tangan Dani untuk menghentikan aksi gilanya itu. Namun tangan sahabat ceweknya itu langsung dihempaskan ke udara.


"Kalo Lo gak suka mending tunggu di mobil!" ujar Dani keras.


Tia langsung memicingkan matanya sebal ke arah Dani. Tapi ia memutuskan tetap mengikuti temannya itu. Tia menyalakan senter yang dipegangnya. Yoga yang sedari tadi berdiri di sana sudah tak sabar dengan perdebatan dua orang itu.


"Dan, gue gak punya banyak waktu buat main-main! Ki Gede bilang kalau sebelum matahari terbit gue..."


"Kalo Lo bisa buat gue percaya dengan omongan Lo itu, gue bakal anterin Lo ke mana pun yang Lo mau!" ujar Dani.


Dani, Yoga, dan Tia terus saja berjalan terus semakin menjauh dari letak mobil yang mereka parkir. Dalam kegelapan itu hanya ada satu sumber cahaya yang menemani mereka, yaitu dari senter yang Tia genggam. Dani yang merasa dingin itu pun berinisiatif untuk menyalakan rokoknya sambil berjalan mengikuti Yoga yang memimpin dalam perjalanan itu. Yoga bimbang dengan apa yang dikatakannya. Ia bimbang akankah mereka menampakkan diri agar kedua sahabatnya itu percaya terhadap dirinya atau bahkan sebaliknya. Entah ia berdoa akan ada sesuatu hal yang gaib terjadi di dalam benaknya atau tidak.


Ketiga pemuda itu sampai di sebuah perempatan jalan dalam pemakaman yang gelap itu. Persimpangan jalan setapak yang menghubungkan empat blok pemakaman. Tia yang memainkan sinar senter ke arah yang berbeda sehingga terlihat jelas nisan-nisan yang tak beraturan di sana. Nisan yang masih terawat pun terlihat di sana dan ada pula yang banyak ditumbuhi ilalang tak beraturan.


Pekatnya malam makin menusuk, hawa dingin tiba-tiba menyergap ketiga pemuda itu. Tak ada satu patah kata pun yang keluar dari masing-masing mereka, hanya suara embusan angin malam yang terdengar menerpa kulit wajah mereka, embusan asap rokok dari mulut Dani yang sengaja ditiupkan ke arah Yoga.


Tia yang berada di belakang Dani langsung melangkah mendekat ke arah pemuda itu. Ia merasakan hawa dingin yang aneh yang membelai lehernya dengan lembut.

__ADS_1


"Bangs emang Lo, Dan! Ngapain sih lu mau uji nyali di sini? Geblek!" makinya pelan.


Namun Dani tetap cuek dan tak peduli dengan makian temannya itu. Dia tetap mengisap dalam rokoknya berusaha tak mengindahkan hawa aneh yang mulai merayap melalui kakinya. Asap rokok itu dengan sengaja dia tiup ke wajah Yoga sekali lagi dan benar saja Yoga langsung terbatuk kencang. Sementara Dani langsung menarik kerah kemeja Yoga.


"Eh, anj**! Mulut Lo itu isinya sampah doang ya, Ga!? Mana?"


tangan Dani mencengkram kerah kemeja Yoga sementara Yoga sendiri menahan tangan Dani sambil terbatuk-batuk.


Tia mengalihkan pandangan dari dua sahabatnya itu yang tiba-tiba menjadi semacam orang-orang jaman dahulu di penglihatannya.


Yoga menghempaskan tangan Dani yang mencengkram kerahnya. Langsung saja ia membuka kerahnya dan menunjukkan luka di lehernya.


"Lo liat leher gue! Lo liat ini! Luka ini dari tangan setan yang nyekek leher gue pas kecil."


Dani yang masih berdiri di dekat Yoga pun melihat luka itu dengan pandangan yang sinis.


"Heh, Lo bilang itu gara-gara jatoh pas SD," sahut Dani melemparkan senyum smirk nya.


Tia tak mau ketinggalan. Ia pun langsung mendekat ke arah Yoga. Melihat luka yang ditunjukkan oleh Yoga.


"Bukannya itu gegara ngelawan maling?!" ujar Tia menimpali.


Yoga yang tadinya ingin marah langsung menurunkan egonya, "Kalau gue ngomong yang sebenarnya apa kalian berdua bakalan percaya gue? Gak bakal kan?" sahut Yoga lagi dengan nada yang lemah.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung. . .


__ADS_2