
Bab 21
Lampu-lampu bohlam yang bergerak semakin cepat diterpa angin kencang yang datang secara tiba-tiba. Yoga yang melihat itu memutuskan untuk mundur dan kembali kepada sahabat-sahabatnya berada. Ia berbalik dengan cepat namun kalah cepat dengan setan yang ada di dalam film tumbal jelangkung itu, Setan anak kecil itu berada tepat di depannya sekarang, Jelas berdiri di hadapannya, Dengan mata yang melotot dan tajam menatap ke arah Yoga. Bekas-bekas luka yang sama ia lihat waktu di film bahkan di jendela rumahnya itu pun nampak sangat nyata. Gerakkannya terpatah-patah dengan kepala yang hampir putus ke kanan,
Yoga panik dengan apa yang dia lihat dihadapannya, Ia lantas berteriak sangat nyaring,
"DAN!!! DANIIIIII!!!"
"TIAAAAAAAAA!!"
Yoga yang berteriak sampai kehabisan napasnya. Paru-parunya bertambah sesak karena ia berteriak kuat.
Pemukiman rumah itu satu per satu menghidupkan lampunya pertanda terganggu dengan adanya teriakan yang disebabkan oleh Yoga. Yoga meninggalkan tempat itu seakan berlari cepat menuju titik di mana mereka berpisah,
Di dalam gang yang lainnya, Tia dan Dani seakan mendengar teriakan dari sahabatnya itu langsung berlari dengan cepat menuju Yoga berada, Seiring larian mereka terdengar pula teriakan warga dengan kata "MALING!" dan kentungan hansip yang biasa di bawa. Mereka berdua saling bertabrakan di persimpangan gang itu,
"Loh, kok lo di sini? Yoga mana, Dan?" tanya Tia yang khawatir dengan keadaan Yoga.
Dani tak menjawab. Ia merasakan sama ketakutannya dengan Tia tentang keadaan Yoga. Ia langsung menarik tangan Tia menuju arah gang yang ditelusuri oleh Yoga. Semakin cepat mereka berlari begitu pula dengan Yoga yang berlari sekuat tenaga dengan keadaan fisik yang sudah sangat melemah sampai akhirnya napas ngos-ngosan itu terhenti. Di depan Yoga kini ada kedua sahabatnya yang berdiri dengan keadaan yang sama dengan Yoga. Terdiam sejenak mengambil oksigen yang berada di sekitar mereka dengan rakus.
"Gimana? Kalian nemu rumahnya?" tanya Yoga dengan napas yang kian sesak,
Tia dan Dai menggelengkan kepala secara bersamaan. Mereka segera menarik tangan Yoga untuk pergi dari sana sembari berteriak kembali nama Ki Gede.
Ketiga pemuda itu seakan-akan terjebak di dalam gang sempit layaknya labirin yang menjebak targetnya agar tidak dapat keluar. Yoga yang sempat terjatuh kala berlari lagi dan lagi. Sampai Dani langsung menarik tangannya untuk segera bangun dan kembali berlari untuk menghindari warga yang sudah terbangun.
"CEPETAN, GA!!!" kini Dani yang panik seakan dirinya yang dikejar-kejar oleh setan.
Gang sempit bak labirin itu semakin lama semain terang. Semua warga di sana dengan cepat menyalakan lampu untuk melihat keadaan luar yang sangat berisik dan mengganggu kenyamanan tidur mereka. Bahkan beberapa warga yang sempat mendengar teriakan dari penjaga malam keliling meneriaki kata maling.
__ADS_1
Dani dan Tia berhasil membawa Yoga hingga kembali ke mobil mereka yang terparkir tak jauh dari toko antok Ki Gede. Mereka bertiga langsung terduduk di bemper mobil merah itu dengan napas ngos-ngosan. Dari kejauhan terdengar kentungan mendekat ke arah mereka.
"Anj* emang tukang ojek itu! Tukang boong banget!!" ujar Tia kesal.
Yoga tiba-tiba berteriak, "Mati gue mati!!"
Terlihat dengan jelas kalau raut wajah Yoga kepanikan dan
putus asa. Tia berdiam diri sembari menggigit ibu jarinya untuk berpikir. Begitu juga dengan Dani yang tak bisa menjawab lagi. Rasa panik kini menguasai mereka bertiga sehingga mereka tidak bisa lagi untuk berpikir dengan jernih, Tapi hal itu hanya membuang waktu saja. Dani dan Tia berusaha untuk membuat Yoga mengingat kembali apa yang dikatakan oleh Ki Gede kepada dirinya.
"Ga, lo inget gak apa yang disuruh oleh Ki Gede?" tanya Dani berusaha untuk menggali ingatan Yoga.
"Dia ngomong. . . ," jawab Yoga yang setengah-setengah karena napasnya mulai sesak.
"Ngomong apa lagi?" jerit Tia ke arah Yoga. Yoga yang ingin menjawab semakin sesak napas berusaha untuk mengingat pesan Ki Gede terhadap dirinya.
Yoga berusaha dengan keras memaksakan otaknya untuk berpikir dan berpikir, dan beberapa saat ia teringat dengan sebuah kendi. "Itu... Air itu! Ki Gede sempet mau ngasih gue kendi yang berisi air itu!"
"ARRRRRGHHHHH...," ujar Yoga,
Dani yang membawa bangku di belakangnya pun berteriak.
"AWAASSS!" ujar Dani. Ia berusaha menolong temannya itu untuk membukakan pintu kaca supaya pecah dan mereka dapat masuk ke dalam toko antik itu.
Yoga mundur. Ini giliran Dani. Ia langsung mengambil ancang-ancang untuk mendorong kuat bangku yang ia bawa itu.
PRANG!
Pintu kaca itu pun pecah dengan sempurna. Semua merasa takjub atau heran dengan tingkah laku mereka kali ini. Dani yang melihat itu langsung mengajak sahabatnya itu segera masuk ke dalam toko itu untuk mencari di mana barang yang dimaksud oleh Yoga.
__ADS_1
"CEPETAN MASUK!" Seru Dani untuk membuyarkan lamunan mereka sejenak.
Yoga dan Tia lebih dulu masuk ke dalam toko dan langsung menuju ke tempat rak khusus yang biasa Ki Gede menaruh barang-barang seperti botol atau kendinya. Dengan panik mereka mencari kendi yang berwarna cokelat dengan panik.
"Di mana sih?" tanya Yoga dengan paniknya.
Dani dan Tia juga berusaha untuk mencari barang itu. Tak menghabiskan bermenit-menit, Tia mendapatkan barang yang dimaksud.
"Ini dia! Ini!' ujar Tia sambil menunjuk kendi cokelat tua itu dengan pandangan ketakutan. Dia semakin takut saat hawa dingin seperti saat di pemakaman menyergap ruangan itu. Ia langsung mengambil kendi itu dan langsung menyiramkan air itu ke tubuhnya sendiri.
"Gue juga mau!" Dani langsung merebut kendi itu dan menyiramkannya ke tubuhnya.
Yoga yang mengalihkan pandangannya seketika ke luar toko itu seakan melihat bayangan anak kecil hitam legam mendekat ke arah dirinya. Ia langsung merebut kendi itu dari tangan Dani dan langsung menyiramkannya ke tubuhnya juga. Sepersekian detik mata mereka bertemu. Mata hitam legam itu tak ubahnya tetap menatap tajam ke arah mata Yoga. Namun perlahan bayangan anak kecil itu menghilang dnegan sendirinya.
Yoga sekali memandang keluar, mencari keberadaan bayangan anak kecil itu. Ia menatap lekat untuk meyakinkan kalau anak kecil hitam legam itu benar-benar hilang dari pandangannya.
Tepukan tangan di bahu Yoga menyadarkannya bahwa anak kecil itu memang sudah menghilang.
"Lo gak papa?" tanya Dani yang menatap ke arah Yoga.
Yoga hanya berdiam, seakan menganggukkan kepalanya memberitahu kalau dirinya sudah tidak apa-apa.
Kedua sahabatnya itu memahami perasaan Yoga saat ini. Hawa dingin yang terus mereka rasakan itu belum seberapa bila dibandingkan dengan Yoga alami malam itu. Ketegangan berangsur membaik untuk beberapa waktu ke depan, namun tidak ada yang memastikan Yoga akan aman dan terhindar dari apa yang telah ia lakukan.
Mereka bertiga saling berpandangan antara satu sama lainnya. Apa yang akan mereka lakukan selanjutnya?
.
.
__ADS_1
.
Bersambung . . . .