Tumbal Jelangkung

Tumbal Jelangkung
Bab 23


__ADS_3

Dilihatnya kembali ranjang tempat tidur itu, tidak ada boneka jelangkung yang bergerak liar di sana.


Sial!!!


Yoga memutar tubuhnya untuk mencari di mana boneka jelangkung itu berada. Di dapatinya kalau boneka jelangkung itu tergeletak di bawah ranjangnya. Ia langsung mengambil boneka jelangkung itu dan langsung membantingnya dengan kasar. Seketika kepala boneka itu menggelinding ke arah kolong bawah ranjang karena terpisah dari raganya.


Yoga tak peduli di mana dirinya berada, ia langsung berteriak kuat!


AAAARRRGHHHHH!!


Teriakan yang menggema dari kamar Yoga seketika membuat Tia dan Dani yang berada di ruang tengah langsung berdiri dan saling pandang. Raut wajah mereka berdua itu menampakkan ke khawatiran. Tia dan Dani langsung berlari menuju tangga yang menghubungkan kamar Yoga. Tia sampai tersandung anak tangga yang lain saking buru-buru.


Saat mereka sampai di depan kamar Yoga, gantungan nama yang ada di depan kamarnya itu bergoyang tak karuan dengan keadaan pintu yang tertutup rapat, lebih tepatnya terkunci. Daun pintu yang terlihat itu bergetar seakan-akan ada seseorang yang mendorong-dorong dari arah dalam kamar itu.


Dani berteriak memanggil nama sahabatnya itu. "YOGA! GA!"


Tak ada jawaban dari dalam kamar itu. Namun sebuah erangan yang mereka dengar dari dalam sana semakin menjerit.


AAARRGHHHHHH


Dani lalu memandang ke arah Tia seakan meminta persetujuan untuk mendobrak pintu kamar Yoga. Sebuah anggukkan kepala tanda setuju mengawali Dani untuk meraih daun pintu itu dan mendorongnya dengan kuat. Namun nihil.


"AWAS, TIA!" ujar Dani lagi yang memundurkan tubuhnya untuk mendobrak pintu itu.


Tia mundur menjauh dari pintu kamar Yoga.


Di balik pintu itu, Yoga yang terjebak di dalam kamar rumah sakitnya sembilan tahun yang lalu. Setelah ia membanting habis boneka jelangkung itu, ia memutar tubuhnya dan melihat siluet hitam yang semakin mendekat ke arah dirinya. Semakin jelas kalau itu adalah setan anak kecil yang ada dilihatnya. Mata hitam legam yang menatapnya dengan tajam tak lepas dari matanya.


Terdengar jeritan Yoga yang semakin histeris. Ia mundur ketakutan ke arah dinding saat anak kecil itu mendekat, namun tiba-tiba bayangan itu hilang. Ia memastikan kalau memang bayangan itu sudah tidak ada. Namun setelah ia memastikan itu bukan anak kecil hitam legam yang ada di depannya, namun tangan seram dengan kuku hitam panjangnya yang mencekik lehernya.


Yoga yang melihat itu bertambah menjerit dengan sisa-sisa napas yang ada, memanggil kedua sahabatnya untuk menolongnya. Ia sempat mengarahkan tatapannya ke arah pintu sambil ingin menggapai pintu kamarnya.


"Daniiii!!! Tia.....!"


Namun . . .

__ADS_1


Di luar kamar, Tia dan Dani semakin panik dengan apa yang terjadi di dalam kamar Yoga.


"Ga!" teriak Tia yang takut dengan apa yang terjadi dibalik pintu itu. "Cepetan Dan!" rengek Tia.


Dani yang berusaha untuk membuka pintu kamar itu. Dani akhirnya berusaha mendobrak slot lubang kecil di pintu kamar itu. Dan akhirnya berhasil. Dani meraih kunci kamar yang menggantung di lubang kunci itu. Namun kuncinya malah macet dan terjatuh.


"Anj***!"


Yoga tak dapat melepaskan cekikan tangan yang mengerikan itu. Ia berusaha melawan namun tubuhnya tak memiliki tenaga lagi. Pandangannya memudar, udara yang berada di sekitarnya seakan-akan menguap entah ke mana. Ia hanya melihat bayangan tangan yang mencekiknya itu semakin kuat. Wajah setan mengerikan itu semakin mendekat ke arah wajah Yoga. Luka yang ada di lehernya sembilan tahun silam kembali mengalir, cairannya merembes sampai menggenangi lantai.


Sementara Dani tetap menggedor pintu dari luar yang tak dapat di dengar oleh Yoga lagi. Teriakan Dani dan Tia yang terus memanggil namanya kini terdengar bagai embusan angin yang berlalu melewati daun telinganya.


Brak


Brak


Dani semakin menggila menggedor pintu kamar Yoga. Ia mendorongkan badannya ke pintu dan menendang-nendang. Tia yang menunggu pintu itu seakan mengintip di slot lubang yang terlihat. Terlihat Yoga yang sesak memegang lehernya sendiri.


"Cepetan, Dan...!!" rengek Tia panik.


Tia yang terus melihat dari lubang itu sampai akhirnya dirinya menyadari kalau Yoga. . .


Dani akhirnya menjauh dari pintu sambil memapah Tia yang lemas. Ia menatap mata Tia dan mereka saling berpandangan. Mereka berdua sudah tahu kalau Yoga sudah tidak ada.


Tepat pukul tiga lewat tiga belas dini hari, Yoga dinyatakan tak bernyawa. Apa yang terjadi setelahnya sudah seperti bayangan yang buram bagi kedua sahabat Yoga.


Saat itu Dani langsung berlari ke rumah Pak RT lalu memberitahukan kejadian di rumah Yoga. Pak RT pun langsung mengikuti Dani.


Dalam waktu lima belas menit polisi sudah mengerubungi rumah besar Yoga. Orang tua Yoga di panggil untuk pulang.


Dani dan Tia duduk di halaman rumah dengan wajah yang tak percaya. Seorang polisi tampak mewawancara mereka, namun hanya Dani yang bisa menggubris dan menceritakan awal mula terjadinya peristiwa yang menimpa teman mereka.


Pandangan Tia kosong ke depan sambil merebahkan kepalanya di bahu Dani. Air mata yang awalnya tidak ada seolah-olah terjatuh tanpa izinnya. Semua orang sibuk datang dan pergi, bahkan bunyi sirine ambulan bergema nyaring memekakkan telinga.


Seorang polisi yang berada di kamar Yoga memastikan eksekusi jenazah Yoga dilakukan dengan benar. Jenazah pun sudah ditutupi kain putih. Cairan merah yang keluar dari lehernya masih mengalir dan menembus ke kain itu. Seorang fotografer forensik membuka kain dan memotretnya. Kilatan lampu blitz menyilaukan ruangan.

__ADS_1


Seorang polisi yang tadi masih memerhatikan sekeliling kamar Yoga. Ia mendapati tulisan M.A.T.I pada dinding kamar dan cermin yang memenuhi kamar itu. Ia berkeliling kamar dan mendapati sebuah gambar komik. Seseorang yang dicekik oleh sepasang tangan, sama persis dengan kejadian Yoga saat ini.


Polisi itu menggelengkan kepalanya.


Lalu seorang polisi lainnya mendatangi seorang polisi yang masih memegang kertas gambar.


"Sepertinya mobil anak ini ditinggalin gitu aja di pinggir jalan," ujarnya.


Polisi yang memegang kertas gambar itu pun lalu menyerahkan kertas itu ke arah temannya lalu ia pun menyuruh polisi itu memerhatikan sekeliling kamar itu


"ABG jaman sekarang kalau ada masalah dikit aja langsung bunuh diri."


Rekannya menatap wajah jenazah Yoga yang ada di foto. "Pasti drugs," duganya.


"Itu, temen-temennya ada di bawah lagi histeris," ujar yang satunya lagi.


Tia yang tak dapat menahan isak tangisnya itu berteriak dengan kuat hingga terdengar di kamar atas.


Seorang petugas laboratorium Forensik berjalan ke arah jenazah Yoga. Lalu ia melihat luka yang ada di leher Yoga. Keningnya mengkerut seakan bingung dengan peristiwa itu.


"Bukan," katanya ketus kepada kedua polisi itu. "Kemungkinan trauma psikis atau asma akut," ujarnya tak yakin dengan dugaannya.


Petugas itu lalu menutup kain putih itu lagi. Ia menghela napas panjang. Menjauh dari jenazah Yoga.


Malam panjang itu berlalu dengan cepat. Bulan purnama yang sudah tenggelam di ufuk barat, kini berganti dengan matahari yang terbit dari timur untuk menyinari seluruh alam semesta. Semua aktivitas berjalan dengan normal seperti biasanya. Ibukota yang selalu sibuk dengan aktivitas padatnya. Namun ada yang berbeda, tak ada lagi keceriaan Yoga di hari-hari selanjutnya bahkan untuk selama-lamanya bagi keluarga dan para sahabatnya yang mengenal Yoga.


"Selamat tinggal, Yoga. Semoga semua kebaikanmu dapat diterima disisi-Nya dan kami semua akan mengenang akan kebaikanmu."


Yoga Indra Ramdanis


1983, 13 Maret - 2002, 13 Maret


.


.

__ADS_1


.


TAMAT


__ADS_2