
Bab 11
Satpam yang menggenggam pergelangan tangannya erat itu melebarkan matanya, marah dengan Yoga. "Jangan bohong kamu, ya! Kamu adalah orang yang kesekian kali yang menerobos masuk untuk nonton tanpa tiket!" Satpam itu menghempaskan tubuh Yoga untuk duduk di kursi kantor pengelola bioskop itu.
Nampak seorang manajer berseragam hitam duduk di depan komputer dengan berbagai pekerjaan yang agak sibuk. Ia melirik datangnya satpam dan Yoga yang duduk di kursi depannya.
"Ada apa ini? Apa yang sudah dia perbuat?" tanya manajer itu yang bertanya kepada satpam tetapi pandangannya menatap Yoga.
"Dia mencoba masuk ke dalam Theater tanpa tiket, Pak," sahut satpam itu.
"Mana KTP kamu?" tanya manajer itu.
Yoga yang masih gemetar ingin meraih dompetnya yang berada di dalam saku celananya. Namun tiba-tiba ada seseorang yang berlari menuju ruangan di mana Yoga berada dan menggebrak pintu itu dengan kasar. Napasnya terengah-engah,
"Pak,.... Gawat, Pak," ujar orang itu mengatur napasnya yang masih sesak karena berlari, "di bawah rusuh, Pak. Pintu lobi pecah, Pak," lanjut orang itu menyelesaikan ucapannya.
Manajer yang masih duduk itu pun langsung berdiri, melangkahkan kakinya untuk bersama-sama satpam keluar dari ruangan itu dan melihat situasi yang dikabarkan. Sedangkan Yoga yang masih duduk di sana pun ikut berdiri dan ingin melarikan diri, namun pandangannya tertuju pada baner yang terpasang di ruangan itu. Banner itu bertuliskan TUMBAL JELANGKUNG beserta perusahaan yang memproduksi film tersebut. Tanpa banyak pikir ,Yoga langsung menjepret banner itu beberapa kali. Ia akan melihat detailnya nanti karena di sana tertera alamat PH (Production House) yang membuat film itu.
"Dapat! Gue akan ke sana sekarang juga!" gumam Yoga yang puas dengan jepretannya sendiri.
Mobil keluar dari parkiran mall itu menuju sebuah alamat yang berada di Jakarta Selatan, tepatnya di TB. Simatupang. Ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang tinggi, tak peduli dengan adanya lampu merah. Ia langsung saja menerobos dengan bunyi klakson yang terus menerus ia tekan. Sampai-sampai polisi lalu lintas yang melihat sempat memberikan peringatan. Ia tetap melaju dengan kencang sampai ke tujuannya.
Beberapa waktu dihabiskan untuk menempuh perjalanan, akhirnya dirinya berada di kantor yang memproduksi film itu. Terlihat sepi dai lura, namun ada beberapa mobil yang masih terparkir di sana. Ia buru-buru memarkirkan mobilnya dan turun dari mobil. Berjalan cepat memasuki kantor yang remang-remang itu.
Yoga menarik pintu depan dan melangkahkan kakinya untuk masuk. Namun, baru saja kakinya memasuki ruangan itu ia dikejutkan dengan adanya penampakan yang menampakkan seorang wanita yang berpakaian putih compang-camping dengan rambut panjang awut-awutan, wajah putih menyeramkan dengan mata yang menghitam di sekeliling lingkar matanya. Refleks saja Yoga berteriak kencang saking terkejutnya melihat sosok itu.
"Aaaarrrrgghhhhhh....,"
__ADS_1
Perempuan itu pun ikut berteriak kaget sama dengan Yoga. "aaaaarrrghhhh...."
"Cut... Cut... Cut, huft siapa sih itu?" ujar seorang yang lagi asyik melihat ke arah kamera. "Yono, bawa dia ke ruangan," ujar orang itu lagi memanggil asistennya.
Yono yang dipanggil itu pun langsung berjalan ke arah Yoga dan menggiringnya ke sebuah ruangan yang sudah diarahkan oleh sutradara. Beberapa kru yang bertugas tertawa kecil melihat ketololan Yoga sebelum dirinya di suruh mengikuti Yono sang asisten sutradara.
Seseorang yang berada di dalam ruangan itu menoleh ketika ada dua orang masuk ke dalam ruangan itu. Ia pun mengangguk ketika Yono menundukkan kepalanya untuk kembali ke area syuting.
"Silakan duduk, Mas," ujar seorang laki-laki berkacamata dengan pakaian rapi.
Yoga langsung menarik kursi yang ada di depannya kemudian mendudukkan bokongnya.
"Perkenalkan saya Eko Atmojo. Saya associate producer di sini." Pria berkacamata mengulurkan kanannya untuk bersalaman.
Yoga juga menyambut uluran tangan dari pria yang bernama Eko itu. "Yoga...."
"Saya datang ke sini untuk...," ujar Yoga yang memecah keheningan di ruangan itu.
"Untuk apa, Mas?" sahut Pak Eko.
"Saya harus ketemu dengan yang buat film Tumbal Jelangkung, Pak," ujar Yoga lagi menyampaikan maksudnya datang ke sini.
"Mas ini ada urusan apa ya dengan produser film itu?" tanya Pak Eko lagi.
"Saya..., saya... Saya dikejar sama anak kecil yang ada di film itu, Pak," ujar Yoga yang melihat ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada yang melihatnya kemudian berbisik mengatakan hal itu.
"Bapak harus nolongin saya. Saya duduk di kursi itu saat saya menonton film itu, Pak," lanjut Yoga lagi.
__ADS_1
Tatapan Eko Atmojo yang sedari tadi tersenyum ramah berganti menjadi bingung dengan adanya keluhan yang baru saja didengarnya.
"Huft... Tapi, Mas..," Sebelum Eko menyelesaikan kalimatnya, ia melihat ada kru yang memasuki ruangan dan membawa seorang artis yang sudah di make-up seperti hantu.
"Gimana, Mas? Udah oke belum?" tanya kru itu.
"Tanya sama Joko deh,..." Kemudian kedua orang itu pergi dari ruangan Eko. Eko kembali menatap Yoga dengan pandangan prihatin.
"Sebenarnya, produser yang membuat film itu sedang tidak berada di sini, Yoga. Saya juga bingung dengan apa yang kamu keluhkan," ujar Eko menatap Yoga.
"Tapi, Pak. Saya harus ketemu sama orang yang bikin film ini, Pak. Dia pasti tahu sesuatu!" ujar Yoga yang tak ingin kalah usaha bersikeras dapat menemui sang produser film itu.
Eko Atmojo yang mendengar hal itu lagi-lagi menghela napas panjang. Pancaran matanya menunjukkan perubah yang amat sangat mengkhawatirkan. Ia kembali memperhatikan tatapan mata Yoga yang terus memohon untuk diberitahu sesuatu, namun Eko Atmojo menundukkan kepalanya.
"Saya sebenarnya tidak tahu apa-apa, Yoga. Yang saya tahu tentang hal ini hanya dua perkara."
Yoga terdiam dengan ketakutannya menatap diamnya orang yang ada di depannya sebelum dirinya menjelaskan lebih lanjut. "Satu hal tentang perkara itu adalah jangan pernah melanggar aturan yang sudah dibuat dan ditentukan. Dan yang kedua...,"
Yoga menelan ludahnya dengan kasar. Dengan ingatan yang tiba-tiba melintas dipikirannya, kembali ke antrian bioskop di pagi hari, saat dirinya mencuri dengar tentang gosip itu. Gosip bahwa ada sebuah kursi di dalam bioskop yang tak boleh di duduki. Bahkan sahabatnya sendiri sudah memperingatkan dirinya untuk tidak mencoba-coba apa yang dikatakan oleh gank anak SMA itu.
"Dan yang kedua adalah, bagi siapa pun yang melanggar aturan itu maka akan celaka," lanjut dari Eko Atmojo.
Yoga yang mendengar hal itu, sontak dirinya bergetar dan ketakutan. Ia menyadari bahwa dirinya akan celaka cepat atau lambat.
Tubuhnya lunglai ketika ia menuju ke mobilnya. Ia tak tahu harus berbuat apa lagi sampai-sampai Yoga mengusap wajahnya kasar. Kemudian Yoga menghidupkan mesin dan berlalu dari perusahaan itu. Merasa tak ada jalan keluar, Yoga mencoba menenangkan pikiran yang berkecamuk, berharap semua yang terjadi padanya hanyalah mimpi buruk.
Bersambung...,
__ADS_1