
Bab 15
Wajah orang-orang yang ada di dalam warung itu menatap dengan pandangan bingung ke arah Yoga saat dirinya menatap layar ponselnya. Mereka saling pandang dan bertanya-tanya, dan si pelayan warung itu hanya mengangkat bahunya dan menggeleng.
Yoga menatap layar ponselnya terus menerus dan di dapatinya ikon baterai yang ada di sana menunjukkan sisa dua persen lagi. Ia menimbang dalam pikirannya siapa yang harus di telepon dalam kesempatan hanya sekali lagi.
Jauh dalam lubuk hatinya, ia memutuskan untuk menelepon Dani untuk menyelamatkan nyawanya. Ia lalu menekan ikon dial untuk memanggil dan tersambung. Yoga langsung mengatakan bahwa ia butuh bantuan dengan cepat.
"Tolong gue, Dan! Gue gak tau minta tolong ama siapa lagi. Jemput gue di warung mie deket rumah mantan lo. Please Dan! Gue moh..."
Sambungan itu mati seketika. Kesempatan sekali untuk menelepon sudah tidak ada lagi. Yoga berteriak menahan kesalnya. Dia keluar lalu membanting ponsel kesayangannya. Yoga mengumpat dengan kata-kata sampah.
"ANJ**!!!"
Yoga lalu duduk di trotoar. Dia mengusap setitik air mata yang nyaris turun dari bola matanya ke lengan bajunya. DIa memijat kaki bekas tarikan orang yang ditabraknya. Diangkatnya celana panjangnya bagian kaki dan terlihat lebam warna kebiruan dengan bentuk jari-jemari tangan yang membekas di kakinya.
Malam semakin larut dan itu membuatnya semakin tak bersahabat. Seiring dengan naiknya bulan purnama ke titik tengah langit, diiringi dengan embusan angin dingin bertiup kencang menerpa, jalanan pun terlihat sangat sepi. Yoga masih melamun dalam keadaan duduk di pinggir trotoar.
Klakson bunyi mobil yang dikenalnya itu pun menggema di telinga, Yoga langsung berdiri menuju mobil Yaris berwarna merah itu. Dia membuka pintu belakang dengan cepat. Terlihat di sana ada Tia yang duduk di samping Dani. Yoga yang langsung menghempaskan diri di kursi penumpang itu dengan menenangkan dirinya, mengatur napasnya yang sedikit sesak akibat kejadian yang beberapa jam dialaminya. Selama beberapa menit, mobil itu berjalan tanpa arah yang ingin mereka tuju. Di dalamnya ada hening canggung yang menyelimuti mereka. Sesekali terdengar suara bengek Yoga di arah kursi belakang mobil itu.
Dani dan Tia bertatapan kesal dengan kata-kata yang masih ditahan dalam diri mereka masing-masing. Dalam lubuk hati masing-masing pun terbesit rasa tak tega dengan keadaan yang dialami Yoga.
"Lo basi banget sih, Ga! Lo yang selama ini berkoar-koar gak pernah percaya terhadap mistik..." ujar Dani yang memecahkan keheningan itu.
"Dan selalu ngomong kalo gak ada yang namanya setan!" Tia akhirnya menyambar cepat ucapan Dani.
Yoga yang mendengar itu langsung menggelengkan kepalanya dengan wajah yang tampak kecewa. Yoga mencondongkan badannya ke depan ke arah Dani dan Tia. Sebenarnya Yoga bingung apa yang harus diceritakannya lagi agar mereka berdua percaya kepada Yoga dan apa yang baru saja dialami dirinya.
Yoga memutuskan untuk menyalakan lam[u mobil tengah dan menunjukkan lebam yang berada di kakinya.
"Lo berdua gak percaya setelah gue ngeliatin ini? Lo liat ini!!" ujar Yoga sambil menaikkan celananya.
__ADS_1
Namun Tia hanya melirik sekilas sedangkan Dani tetap fokus ke jalanan sepi remang-remang di depannya.
"Orang gue tabrak narik kaki gue ke bawah kolong mobil gue," ujar Yoga lagi.
"Lo nabrak orang?" tanya Dani kaget begitu juga dengan Tia yang duduk di samping Dani.
"Dia udah mati, Dan!" jawab Yoga yakin.
Wajah Tia langsung berubah takut. "LO NABRAK ORANG SAMPAI MATI?" jeritnya melengking di dalam mobil merah itu.
Yoga membalas teriakan Tia tepat di kuping mereka. "DIA UDAH MATI SEBELUM GUE TABRAK!"
"Inget, Ga! Gue gak mau berurusan sama polisi. Gue gak akan ikutan!" ujar Dani mencengkram setir mobilnya dengan kuat.
Tia yang memegang kepalanya menggeleng itu tak percaya apa yang telah dilakukan sahabatnya itu. Bisa dibilang Yoga saat ini seorang pembunuh tabrak lari.
"Aarrgh!" Yoga berteriak kesal bercampur putus asa. Dua tangannya mengepal keras. "Dan, gue gak peduli lo berdua harus percaya gue atau enggak. Waktu gue mepet! Gue harus cari Ki Gede lagi! Gue gak tau harus mesti ngapain lagi kalau gue sampai gak ketemu dia!" ujar Yoga sembari mengepalkan tangannya dan memukul jendela kaca mobil Dani.
Mobil merah itu berhenti mendadak. Dani menginjakkan remnya dengan kasar. Ia melihat ketakutan Yoga dari kaca spion tengahnya.
Tatapan Dani bertemu dengan tatapan Yoga yang sama-sama melihat ke arah spion tengah.
Sekali lagi Dani kesal dengan Yoga.
"Sok berani sih, lo!"
"Gue bukan sok berani kali ini! Sumpah, anak kecil yang di film itu, dan semua yang terjadi sama gue itu semua beneran!" jerit Yoga. Terdengar dari nada suaranya yang putus asa.
Dani ingin membalas ucapan Yoga, namun Tia menyadari kalau ponselnya bergetar langsung menepuk pelan lengan Dani.
"Shtt!" Tia mengarahkan jari telunjuknya ke arah bibirnya tanda ia meminta diam.
__ADS_1
"Halo, Mah," sahut Tia yang mengangkat teleponnya.
Di seberang telepon san ada suara mamanya yang menanyakan keadaan dirinya.
"Iya, Ma. Si Yoga lagi kumat. Di rumahnya gak ada orang juga, Mah," sahut Tia lalu berdiam seakan mendengarkan apa yang diucapkan mamanya di ujung telepon sana.
"Iya. Ntar aku ajak nginep di rumah, deh," sahut Tia lagi.
Akhirnya panggilan itu pun berakhir. Dani langsung bicara ke arah Yoga dengan tatapan tajamnya.
"Gue tanya, mana semua kelogisan lo yang biasanya? Mana? Dirampas sama setan juga?"
"Ini bukan masalah logis atau enggak, Dan! Kalian percaya gue apa enggak sih?" desis Yoga yang sudah muak dengan temannya yang tak percaya dirinya.
Dani dan Tia saling pandang. Tia hanya berdiam diri tanpa menjawab, berusaha menghindar dari ketegangan antara dua sahabatnya itu.
Dani langsung menjawab dengan yakin. "ENGGAK!" Dani lalu melirik ke arah Tia lagi, menunggu jawabannya yang sama keluar dari mulut Tia,
"Lo gimana, Tia?"
Tia tetap tidak ingin memberi jawaban, ia lalu menghela napasnya panjang. "Mending kita balik aja deh. Nyokap gue nyuruh lo nginep di rumah gue, Ga. Biar ada yang ngerawat lo. Napas lo juga udah sesak gitu lagi!" ujar Tia.
Yoga yang emosi lalu memukul jendela mobil merah itu lagi. Dani yang melihat itu langsung tersulut emosi lebih. Sedangkan Tia terperanjat kaget dengan tindakan sahabatnya itu.
"Lo daripada ngerusakin mobil gue, mending lo buktiin semua omongan lo itu!" teriak Dani lagi. Kali ini ia benar-benar kesal dengan tingkah Yoga.
.
.
.
__ADS_1
bersambung . . .
Sudah sampai sini, jangan di skip ya bacanya. Tinggalin jejak juga. Makasih :)