Tumbal Jelangkung

Tumbal Jelangkung
bab 12


__ADS_3

Bab 12


Tubuhnya lunglai ketika ia menuju ke mobilnya. Ia tak tahu harus berbuat apa lagi sampai-sampai Yoga mengusap wajahnya kasar. Kemudian Yoga menghidupkan mesin dan berlalu dari perusahaan itu. Merasa tak ada jalan keluar, Yoga mencoba menenangkan pikiran yang berkecamuk, berharap semua yang terjadi padanya hanyalah mimpi buruk.


Yoga melirik ke arah jam di mobilnya. Baru jam 20.45 WIB. Terus berpikir siapa yang bisa membantunya untuk hal ini. Terlintas dipikirannya satu nama, Ki Gede.


"Iya, bener! Ki Gede! harusnya Ki Gede bisa bantu gue," gumamnya yang langsung memutar balikkan mobilnya ke toko antik yang selalu di datanginya bersama teman-temannya sejak kecil.


...****************...


Beberapa waktu telah terlewati, di sinilah Yoga, di tempat toko antik itu. Ia lalu masuk ke dalam bertemu dengan sang Pemiliki.


"Ki, tolong saya... Ki....! Saya gak tahu kalau ternyata tumbal itu beneran ada di dunia nyata, Ki....," ujar Yoga yang sudah lelah dengan apa yang terjadi. Ia berharap bantuan Ki Gede bisa menolongnya.


Ki Gede mendengarkan ucapan Yoga dan pandangan matanya tak kalah menatap Yoga tajam yang berada di depannya itu. Ia duduk di balik meja tuanya dengan rokok yang dihisapnya dengan kuat-kuat. Ia lalu mengeluarkan asap tebal dari mulutnya dan kembali menatap Yoga dengan tajam.


"Kamu melakukan kesalahan yang fatal, Yoga. Kamu harus minta maaf dengan mereka," ujar Ki Gede bernada serius. Ia menerawang ruangan yang sepi itu dengan tatapan yang tak bisa diartikan. "Tak ada cara lain selain kamu harus meminta maaf sama mereka. Sikap keangkuhan yang kamu miliki itu lah yang membuatmu celaka."


Yoga yanag mendengar itu tahu akana kesalahannya. Ia tak berani menjawab dan masih menundukkan kepalanya dengan takut yang menyelimuti dirinya.


"Coba kamu lihat keluar...," pinta Ki Gede yang menggerakkan jempolnya ke arah luar.


Yoga mengikuti arah jempol yang diarahkan oleh Ki Gede. Ia tak tahu apa arti dari itu semua tetapi dia hanya melihat bulan purnama yang bersinar terang dengan sempurna. Berbeda dengan Ki Gede yang melihatnya dan itu menunjukkan kewaspadaan pada dirinya.


"Kamu tak tahu artinya itu apa, kan? Semua 'makhluk' memiliki kekuatan begitu besar saat bulan purnama tiba," terang Ki Gede yang tak mengalihkan pandangannya dari mata Yoga. "Mereka yang pasti terus saja mengejar, menghantui siapa pun yang mengusiknya. Bahkan melanggar apa yang sudah menjadi aturan mereka, dan taruhannya itu tidak main-main, Yoga!" lanjut Ki Gede.

__ADS_1


"Ki..., tolong saya, Ki. Saya gak tahu lagi harus meminta tolong kepada siapa, Ki," mohon Yoga dengan tatapan yang mengiba. "Saya akan melakukan apa pun, Ki untuk menyelamatkan saya...,"


"Sekali lagi kamu sendiri yang harus melakukan ini, karena ini adalah kesalahan kamu!" wajahnya mengeras.


"Ki, kasih tahu caranya sama saya, Ki. Akan saya lakukan apa pun itu!"


"Cara ini terlalu berbahaya! Kalau kamu salah langkah bahkan gagal, kamu bisa mengundang yang lainnya. Ini sangat berbahaya!" ujar Ki Gede tegas masih memegang rokok kretek yang ada di tangannya.


"Tapi saya sudah gak tahu, Ki meminta tolong sama siapa lagi," ujar Yoga memohon.


Raut wajah Ki Gede yang semula tampak keras luluh karena Yoga. Dia kemudian menghela napasnya dan berjalan ke arah sebuah rak yang tak jauh dari meja tuanya. Ia mengambil sebuah kursi dan menaikinya, menarik sebuah kardus dan mengambil sesuatu di dalamnya. Terlihat sebuah barang yang di bungkus kain putih lusuh.


Yoga terpaku melihat sebuah barang yang ada ditangan Ki Gede. Benda itu merupakan sebuah awal masalah yang berada di film yang baru ditontonnya saat pagi hari itu. Yoga tahu boneka itu. Ki Gede memberikan boneka Jelangkung itu kepada Yoga. Tangan gemetar saat Yoga menerima boneka itu.


"Saya katakan sekali lagi, Yoga. Ini sangat berbahaya. Jangan sampai salah langkah saat melakukan ritual ini," ujar Ki Gede memperingatkan.


Yoga pun menganggukkan kepalanya tanda ia mengerti.


Kemudian Ki Gede membuka laci mejanya dan mengambil sebuah buku kecil yang tak kalah tua dari boneka yang di pegang oleh Yoga. Buku itu bertuliskan Jelangkung dalam tulisan kuno. Lalu diserahkan kepada Yoga.


"Ambil ini. Ini akan menolongmu." Tangan Ki Gede dan Yoga sama-sama memegang buku itu.


"Bicara kepada mereka sebelum matahari terbit." Yoga menghela napas panjang. Kini dua barang mistis itu sudah berada di tangannya.


"Jangan sampai salah atau 'mereka' semua akan mengganggumu sampai purnama berikutnya."

__ADS_1


Yoga memandang boneka itu. Lalu memandang Ki Gede yang menatapnya. Mereka saling meyakinkan dengan pandangan mata mereka.


Hati Yoga kini mantap. "Terima kasih, Ki." Yoga berbalik lalu menuju ke pintu keluar. Sebelum dia keluar, Ki Gede memanggilnya.


Yoga seketika berhenti dan menoleh.


"Apa pun yang terjadi, selesai kamu memainkan Jelangkung... langsung kubur!"


Ada jeda yang panjang. "Jangan buat kesalahan lagi!"


Yoga terlihat semakin tegang lalu keluar meninggalkan toko itu. Ki Gede memandang kepergian Yoga dalam tatapannya yang semakin mengabur. Ki Gede mematikan batang rokok kretek yang sudah sangat pendek di asbak. Dia menekan dengan kuat hingga bara api yang ada diujung batang rokok itu mati. Sepuntung rokok itu akhirnya mati sepenuhnya, dan Yoga pun hilang dari pandangan Ki Gede.


Di hadapan Yoga, lampu jalanan berubah. Jam mobil sudah menunjukkan pukul dua puluh satu lewat empat puluh lima menit. Yoga mengitari pandangan ke sekelilingnya. Ia merasakan malam ini sangat sepi sekali. Dia gugup. Sesekali menengok ke boneka jelangkung yang dibawanya itu, di dalam kain lusuh yang ada di sampingnya. Boneka itu masih terbungkus rapat oleh kainnya.


Lalu ia menarik napas panjang. Menenangkan diri. Mengingat apa yang dikatakan Ki Gede barusan. Namun perasaannya sangat tak enak. Seakan ada yang mengawasinya dan akan menyerangnya. Ia lalu melihat ke arah spion tengah. Tak ada apa-apa di sana. Namun kenihilan itu malah membuatnya semakin panik.


Ketidaktahuan adalah musuh terbesar manusia.


Yoga terus menduga dalam hati, 'apakah dia akan mati di sini? Apakah dia akan sampai ke rumahnya? Bagaimana kalau jelangkung itu tak membantunya?'


Pertanyaan-pertanyaan lain terus muncul di kepalanya. Dia melirik ke boneka jelangkung lagi. Ada keanehan tercipta di sana. Surai panjang boneka jelangkung itu keluar dari kainnya. Yoga terperanjat melihat keanehan itu. Dia melihat sekelilingnya. Tak ada gerakan sama sekali. Tak ada suara selain derum mobilnya. Namun dia tahu ada yang tak beres kali ini.


Yoga membuat keputusan cepat kala lampu merah di depan masih bertahan dengan warnanya yang merah. Dia langsung menancap gas dan menerobos lampu lalu lintas itu.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2