Tumbal Jelangkung

Tumbal Jelangkung
Bab 22


__ADS_3

Bab 22


Ketiga pemuda itu memutuskan untuk meninggalkan toko antik Ki Gede.


Di perjalanan yang remang-remang itu, lampu lalu lintas sudah berubah yang awalnya warna merah menandakan semua kendaraan harus berhenti sekarang menjadi warna hijau ke kuning dan ke merah lagi. Mobil Yaris berwarna merah itu dikemudikan dengan santai.


Mobil itu lalu berhenti di perempatan jalan yang sepi. Dani tetap diam di dalam mobil itu sedangkan Yoga masih gelisah dengan keadaan yang menurutnya belum aman. Tia yang melipatkan tangannya itu pun mengeluh dengan bosannya. Tak dipungkiri kalau mereka semua lelah dengan kejadian hari ini.


"Ga, lo mau sampai kapan nunggu di sini? Udah tiga empat kali nih lampu merah ganti ke ijo. Gak bosen lo di sini?" tegur Dani mengingatkan Yoga.


"Kita mau sampai kapan sih nunggu di perempatan jalan kek gini?" kini giliran Tia yang mengeluh.


"Ssstttt,"


Yoga mencoba memberi isyarat kepada teman-temannya untuk tidak berisik saat ini. Ia menggerakkan jari telunjuknya ke arah bibirnya. Tia dan Dani yang melihat itu pun langsung diam tanpa banyak bicara, Hanya terdengar suara napas yang beradu di dalam mobil mereka.


Yoga lalu menurunkan kaca mobilnya dan mengeluarkan kepalanya. Ia mengitari keadaan sekitar untuk memastikan tidak ada apa-apa. Lampu lalu lintas yang ada di depan sudah berubah menjadi hijau lagi. Terlihat sebuah truk besar mengklakson mobil Dani. Dani pun melambaikan tangannya memberi kode untuk menyuruh truk itu maju dan bergerak duluan. Truk itu pun membunyikan klakson pertanda truk itu akan mendahuluinya.


Dani yang mendengar itu langsung berteriak. "Berisik, Oi!" ujar Dani mengumpat keras. Dani menoleh ke arah Yoga yang masih celingukan.


"Ga, ini tempat anak kecil itu menampakan diri ya?" tanya Dani.


"Bener, Dan" Tiba-tiba ada suara yang berdesir sangat lirih sekali.


"Btw, lo bedua denger suara gak?" tanya Yoga yang menajamkan telinganya untuk mendengar sekali lagi suara lirih itu, Namun tidak ada sesuatu yang menyakinkan kedua sahabatnya itu.


"Udah merah aja lagi, Ga. Lo mau balik apa tetep di sini?" ujar Tia yang menatap ke arah lampu lalu lintas itu.


Yoga tak mempedulikan ucapan Tia. Ia malah sibuk sendiri memastikan sekali lagi dengan apa yang ia rasakan di dalam mobil itu. Ia melihat ke arah kaca spion tengah yang menggantung tepat mengarah ke belakang mobil lalu menengok ke belakang, tapi sekali lagi tidak ada apa pun di sana.


"Jadi gimana, Ga? Mau nginep lo?" ujar Dani sekalian menyindir temannya itu.

__ADS_1


"Gak perlu deh, Dan. Thanks," ujar Yoga menggelengkan kepalanya pelan. Ia lalu menyetujui Dani yang menjalankan mobil merah itu.


Ketiga pemuda itu melaju menuju rumah Yoga. Masing-masing dari mereka menatap keluar jendela yang menampakkan bulan purnama semakin tenggelam ke ufuk barat. Yoga yang menatap lekat ke arah bulan purnama itu. Ada kelegaan di dalam hatinya.


"Gue gak pernah punya maksud untuk boongin kalian," ujar Yoga dengan sekali tarikan napas. "Maa...." belum selesai ia mengucapkan kata maaf sudah disela oleh Dani.


"Udahlah, Ga. Gak usah dibahas lagi."


"Jangan asal lagi ya, Ga," timpal Tia mengingatkan Yoga.


Yoga hanya tersenyum mendengar ucapan mereka teman-temannya yang ada di bangku depan. Ia tak pernah menyangka akan merepotkan kedua sahabatnya ini.


Mobil Yaris itu sekali lagi melaju menembus gelapnya malam menuju ke rumah Yoga.


Sampai di gerbang rumah Yoga, mobil itu masuk. Keadaan rumah itu masih sama seperti yang ditinggalkan oleh Yoga ketika ia memainkan boneka jelangkung. Di dashboard mobil menunjukkan pukul tiga lewat tiga. Mobil segera dimatikan dan mereka sama-sama masuk ke dalam rumah besar itu.


Tiga sahabatnya yang telah melewatkan malam panjang itu pun duduk di sofa ruang tengah rumah. Mereka semua sudah kehabisan tenaga. Yoga yang masih gelisah dan menundukkan kepalanya menatap lantai.


Tia pun sama halnya dengan Dani. Ia menghela napas panjang dengan kelegaan di raut wajahnya. Yoga merasa bahagia bercampur dengan kesedihan yang ia rasakan. Ada senyum kecil di wajah Yoga. Tanpa terasa Yoga meneteskan bulir air mata di sudut matanya.


"Gak usah nangis Lo! Cemen ah!" ucap Dani yang mengejek Yoga.


Yoga tak bisa berkata apa-apa lagi, ia berusaha untuk meraup udara sebanyak-banyaknya. Napasnya berat, paru-parunya kembali mengempis. Kali ini suara itu sudah sangat familiar dalam pendengaran Dani dan Tia.


"Taro di mana inhaler Lo?" tanya Tia yang merasa kasihan terhadap Yoga.


"Di...kamar," ujarnya Yoga terputus.


"Biar gue bantu ambil di kamar Lo," usul Tia yang bangun dari duduknya.


Namun ada gerakan yang menahan Tia untuk berjalan dari tempatnya. "Gak usah. Gue udah ngerepotin Lo berdua malam ini. Gue ambil sendiri aja."

__ADS_1


Yoga bangkit berdiri dari duduknya. Ia memandang kedua temannya itu. Lalu pergi menaiki tangga dengan perlahan. Napasnya yang berat itu membuat langkah pasti dan rasa takut hilang begitu saja.


Sampai di depan kamarnya. Ia memandang sejenak pintu kamar yang tertutup rapat. Dibukanya perlahan pintu kamar itu.


Cekrek


Dipandanginya seluruh isi kamarnya yang berantakan. Meja belajar yang penuh dengan alat tulis yang berserakan, tulisan di poster, di dinding yang dipenuhi dengan kata Mati yang ditulis menggunakan krayon hitam. Ia pun mengalihkan pandanganya mencari inhaler yang terletak di atas rak setinggi lehernya.


Dapat.


Ia segera mengambil inhaler itu, namun sialnya inhaler itu sudah habis dan tak ada sisa. Ia lupa kalau inhalernya habis. Seketika ia ingin melangkah keluar dari kamarnya yang berantakan itu, ia melewati cermin yang merefleksikan boneka jelangkung yang berdiri sendiri di atas kasurnya. Yoga langsung membelalakkan matanya mendapati benda keramat itu masih di rumahnya.


Rasa takut muncul lagi. Ingatannya seketika berputar di mana dirinya mendapat pesan dari Ki Gede untuk menguburkan boneka itu.


"Apa pun yang terjadi, kubur boneka jelangkung ini!"


Sial!


Yoga mengerjapkan matanya sesaat, melihat boneka jelangkung itu berputar heboh tak karuan di atas kasurnya. Ia panik. Ingin ia berteriak namun suaranya tercekat. Napasnya mulai sesak kembali. Boneka jelangkung itu seakan berhenti berputar tepat di depan mata Yoga.


Saat Yoga mendongakkan pandangannya ke atas, ke sekeliling kamarnya, dinding-dinding kamarnya telah berubah. Seakan dirinya tidak berada di kamarnya, namun ia berada di kamar rumah sakit sembilan tahun yang lalu di mana dirinya di rawat pertama kalinya.


Dilihatnya kembali ranjang tempat tidur itu, tidak ada boneka jelangkung yang bergerak liar di sana.


Sial!!!


.


.


.

__ADS_1


Bersambung. . .


__ADS_2