Tumbal Jelangkung

Tumbal Jelangkung
Bab 7


__ADS_3

Bab 7


"Ambil kendi ini. Kamu pasti butuh ini!" ujar Ki Gede.


Dengan ragu-ragu, Yoga mengambil kendi yang terbuat dari tanah liat itu. Bentuknya yang unik seperti vas bunga dan di dalamnya berisi air bening.


"Air itu akan berguna untuk kamu nanti. Cipratkan ke seluruh penjuru kamarmu," terang Ki Gede.


Yoga yang merasa aneh terhadap Ki Gede, langsung menaruh kendi seperti vas bunga yang ada tutupnya. Ia menyodorkan berupaya untuk mengembalikan gerabah itu kepada empunya. Tetapi Ki Gede tetap ingin menyuruh Yoga untuk membawanya. Yoga dengan yakin menggelengkan kepalanya pertanda dirinya tidak membutuhkan kendi beserta air yang ada di dalamnya. Dani serta Tia yang saling menatap aksi kedua lelaki yang berbeda usia itu dengan penasaran.


Dagu Dani yang terangkat dan memonyongkan mulutnya seolah berkata, "Ada apa sih?" heran.


Tia yang melihat aksi dari Dani pun lantas menggelengkan kepalanya tidak tahu menahu ada apa di antara mereka berdua. Akhirnya Dani dan Tia memutuskan untuk mengabaikan kedua pria beda usia itu untuk menyelesaikan urusan mereka, kembali dengan kegiatannya untuk mencari kotak piringan hitam pesanannya yang lain, begitu pula dengan Dani yang kembali membaca buku-buku jadul.


"Ki, saya tidak membutuhkan ini. Apalagi untuk mengusir setan, Ki...., emangnya di rumah saya ada setannya? Mana ada setan' yang mau sama saya, Ki..." canda Yoga.


Raut wajah Ku Gede berubah menjadi lebih serius dan penuh kekhawatiran dengan apa yang dilihatnya di belakang Yoga dan kemudian kembali menatap wajah Yoga. Yoga yang merasa aneh dengan tingkah laku pria paruh baya ini seakan dirinya mengikuti gerakan yang dilakukan Ki Gede untuk memastikan ada apa di belakang tubuhnya.


Namun keterkejutan yang di dapat oleh Yoga karena bentakan keras dari Ki Gede, "YOGA! Kamu jangan main-main, ya! Kamu melanggar apa tadi? JUJUR YOGA!!!"


Candaan yang tadinya bertengger di wajah Yoga seketika menghilang melihat raut wajah Ki Gede yang marah. Ia langsung terbata-bata saat menjawab Ki Gede.


"Saya.... Saya tadi cuma nonton film kok. Serius...," ujarnya dengan dua jari terangkat membentuk angka dua.


Ki Gede tetap memandang Yoga dengan tajam. Ia sangat yakin bahwa anak muda di depannya ini pasti telah melanggar sesuatu yang sangat di larang. Namun Yoga tak memperdulikan hal itu. Ia tetap cuek dan tak mengatakan apa pun lagi. Akhirnya Tia memutuskan untuk menyudahi apa yang dicarinya, ketiga pemuda ini lantas pulang dari toko Ki Gede.


Yoga mengemudikan mobilnya dengan lancar tanpa hambatan di jalanan yang lenggang sebelum kemacetan ibukota berubah menjadi padat merayap seperti biasanya, bersama dengan jam-jam orang pulang kerja. Dia pun sudah mengantar kedua temannya ke rumah masing-masing. Yoga pun kembali menuju ke rumahnya.


Pukul lima kurang dua menit, Yoga sudah memarkirkan Pajero putihnya di depan rumah. Saat ia ingin turun dari mobilnya, ia berpapasan dengan Pak RT yang bertepatan tinggal di sebelah rumahnya. Ia melihat Pak RT yang sedang ingin membuka pintu mobil.

__ADS_1


"Sore-sore gini mau ke mana, Om?" sapa Yoga ramah yang baru turun dari mobilnya.


"Eh, Yoga..., apa kabar kamu?" tanya Pak RT tersenyum. Pria yang berbeda usia itu lalu berjabat tangan. "Saya mau ke depan, cari si Anton dulu...."


"Oh, Ok, Om. Gimana kabar Lina, Om? Belum pulang dari Yogja?"


"Minggu depan."


Yoga yang mendengar itu seakan tersenyum sendiri. Menyapa Pak RT tak ada salahnya bagi dirinya karena ia pun menyukai anak perempuan dari Pak RT. Kebetulan sekali dirinya bertemu dengan pak RT dan kabar ini lah yang ingin dia dengar. Salah satunya.


"Yuk, Ga, duluan ya...." Pak RT masuk ke mobilnya dan melaju pergi.


Dari kepergian Pak RT, terbitlah senyuman di ujung bibirnya yang sedikit melegakan hati dan pikiran yang ruwet akibat ulah Ki Gede tadi.


Yoga lalu masuk ke dalam rumahnya. Saat dia membuka pintu rumah terlihat koper berjejer di depan dengan berantakan. Yoga semakin bingung dengan adanya koper-koper itu. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru rumah. Matanya menangkap mamanya yang berpakaian rapi menuruni tangga.


"Ga, kita semua mau nginep di rumahnya Om Win, ya. Ada acara hajatan di sana. Anaknya Om Win yang gede, Mbak Tia yang punya acara sekaligus mau bantu-bantu di sana."


"Iya. Mbak Ning juga ikut, tuh...," ujar mamanya.


"Papa juga?" Yoga kembali bertanya.


"Iya. Nanti papa nyusul langsung dari kantor. Semua barang udah mama siapkan untuk papa," jawab mamanya yang santai berjalan menuju koper-koper itu.


Yoga memonyongkan bibirnya, tanda dia cemberut. Dia duduk di depan televisi yang berada di ruang tamu. Mengganti-ganti saluran televisi. Mamanya kemudian menyusul Yoga dan duduk di sampingnya.


Sambil menepuk paha putranya, "Kamu jagain rumah, ya. Besok aja nyusul. lagian mau beres-beres dulu di sana. Takut kamu ikut sekarang nanti sesak lagi," ujar Mama. Yoga pun mengangguk pasrah walaupun ada sedikit rasa sebal yang mengganjal di hatinya.


Rani yang muncul dengan berlarian kecil melintas keluar rumah sambil menjulurkan lidah bermaksud mengejek Yoga yang bakal kesepian untuk malam ini membuat dirinya kesal sekesal-kesalnya.

__ADS_1


Mama yang cantik itu merangkul bahu Yoga. "Duh, anak mama..., jangan ngambek, dong..." tersenyum memandang Yoga. Seketika Mamanya teringat sesuatu dan kembali menatap Yoga. "Oh ya, tadi ada anak kecil nyari kamu, tuh. Cowok, terus badannya kurus, kecil."


Yoga yang masih menggonta-ganti channel televisinya menyahut, "Temen Rani kali. Mana mungkin Yoga punya temen anak TK si, Mah."


"Rani gak mungkin temenan sama anak TK, Yoga," ujar Mamanya.


"Jadi? Menurut mama, Yoga lebih memungkinkan untuk berteman dengan anak TK, ya?"


Ibunya tertawa kecil. "Ya kali aja. Kamu kan masih kaya anak TK, masih suka komik lagi." Tawa kecil itu terhenti ketika kembali ke topik pembicaraan. "Beneran. Dia beneran cari kamu, Ga. Katanya kamu ada salah sama dia."


Hening. Terdengar suara channel dari televisi yang menggema.


Tiba-tiba Yoga tertawa pelan. "Mama, udah nonton film yang lagi booming itu, ya? Nakut-nakutin aja sih, Mah."


Mama menatap Yoga dengan pandangan yang bingung. "Mama belum nonton, sih. Emang serem, ya filmnya?"


"Mama, Ih, garing, tau."


Yoga bangkit berdiri dari sofa dan beranjak pergi ke kamarnya. Ia menaiki anak tangga rumahnya yang menghubungkan antara lantai dasar dengan kamarnya. Langkahnya terhenti seketika terdengar teriakan mamanya dari lantai bawah.


"Jangan lupa beli inhaler, ya Ga. Uangnya udah Mama taruh di tempat biasa."


Yoga menghela napasnya panjang. "Iya, Maaaa...." teriaknya.


Kemudian suara kecil tiba-tiba ikut menggema, meneriaki kakaknya. "Kak Yoga, jangan tidur pas maghrib-maghrib. Nanti diculik wewe gombel lho!"


Yoga seakan menoleh ke bawah. Rani menatap matanya dengan pandangan jahil ke arah Yoga. "They are watching you!" ejek Rani.


Yoga memeletkan lidahnya mengabaikan ucapan Rani. Lalu tertawa kencang yang menggema ke seluruh rumah itu.

__ADS_1


...****************...


bersambung....


__ADS_2