
Bab 5
Yoga memasang wajah yang serius namun beberapa detik kemudian ia tertawa terbahak-bahak sampai perutnya saja sakit. "Ha ha ha ha.. Kena lo! ha ahaha hahaha ..."
Dani dan Tia tampak sebal dengan permainan Yoga.
"Apa gue bilang," ejek Yoga, "Lo berdua itu emang contoh nyata orang-orang yang termasuk penakut, yang cuma bisa ngomongin hantu terus ketakutan sendiri. Ha ha ha ha...,"
Tia tersenyum smirk, "Ha ha! Anjir emang lo! Lo pikir kita berdua takut? Kita ngelayanin jokes-nya Lo juga kali..! Kita juga tahu kalau Lo juga boong! Kan Lo suka boongin kita." Tia yang mengarahkan pandangannya melihat ke Dani yang masih terlihat tegang di wajahnya. "Paling nggak gue tau lo bohong, Ga. Nggak tau deh tuh si Politikus."
Dani yang mengerti arah pembicaraan Tia langsung mengangkat alisnya. Dia melihat ke arah Tia sekali lagi, "Enak aja! lo tuh yang penakut Tia! Pas nonton tadi aja teriak paling kenceng. Sakit tau telinga gue!"
"Eleh emang Lo kaga?" balas Tia nyindir.
"Gue mah mana takut yang begituan. Gue ikut-ikutan aja buat buat seru-seruan. Biar makin serem dan ngena tuh orang-orang..," balas Dani lagi.
Sementara Tia dan Dani asyik berdebat, lain halnya dengan Yoga yang berusaha kembali untuk menstarter mobilnya. Namun mobilnya tetap tak menyala. Dani dan Tia yang peka akan hal itu langsung menghentikan perdebatan mereka. Menatap Yoga dengan pandangan kesal.
"Ga, serius dong! Entar Toko Ki Gede tutup. Kita gak jadi ke sana lagi!" kali ini nada suara Tia terdengar tegas.
Yoga menggelengkan kepalanya dengan wajah yang bingung. Ia mencoba sekali lagi untuk menyalakan mobilnya. Dan pada akhirnya usaha menyalakan mobilnya berhasil. Pajero putih itu menyala kembali.
__ADS_1
"Aneh banget. Perasaan ini mobil gak kenapa-napa deh," gumam Yoga sambil menginjak kopling dan memasukkan persnelingnya.
"Kualat lo, Ga," kata Dani menatap Yoga yang fokus dalam mengemudikan mobilnya. Yoga tak mengindahkan ucapan Dani, ia hanya mengangkat kedua bahunya tanda tak tahu.
Mobil itu bergerak perlahan. Makin lama semakin cepat. Meninggalkan seorang perempuan pucat berkebaya lusuh berdiri tepat di samping mobil Yoga. Pandangannya kosong tanpa rasa. Bibirnya seperti dijahit benang tebal.
Yoga, Dani, dan Tia tak melihat ada seorang perempuan pucat berkebaya lusuh yang berdiri tepat di samping Yoga. Namun perempuan pucat itu melihat ke arah mereka, menatap dengan pandangan yang dingin dari jendela kanan Yoga.
Tak terasa matahari perlahan mulai bergeser yang tadinya di tengah sekarang mendekati arah barat, pertanda sang mentari ingin menyembunyikan wujudnya. Mobil Pajero putih yang membawa ketiga pemuda dan pemudi itu berhasil mencapai tujuan mereka yaitu tempat Ki Gede. Ternyata toko itu belum juga tutup.
Yoga, Dani, dan Tia keluar dan turun dari mobil. Melangkahkan kakinya untuk beberapa meter menuju sebuah toko antik yang ada di jalanan Gondangdia. Menembus lalu-lalang orang-orang pejalan kaki yang ramai di waktu yang sama. Tiga orang itu meneruskan obrolan mereka sewaktu di mobil sambil berjalan kaki. Dani tampak asyik berdebat dengan Yoga. Tia mengikuti langkah mereka berdua tepat di belakang. Dia memandang dua sahabatnya itu sambil tersenyum geli sendiri. Dia teringat cerita Ibu Dani kepadanya, "Dari kecil Dani memang suka berdebat. Kadang ngotot yang tak seharusnya. Sehingga Dani tak punya banyak teman sejak kecil."
Semenjak Dani bertemu dengan Yoga dan Tia, itulah awal mula dan mereka bisa berteman akrab sampai sekarang yang membuat Dani berdebat tanpa takut-takut dengan mereka berdua. Dani menjadi dirinya sendiri tanpa harus menjadi orang lain terlebih dahulu. Memang kadang mereka akan bertengkar kecil seperti sekarang ini.
Lantas mendengar ungkapan yang diucapkan oleh Tia, Yoga tertawa terbahak, namun berbeda dengan Dani yang menatap sinis Tia. Berani-beraninya cewek yang satu ini memotong omongannya.
"Mending gue ke mana-mana. Walaupun banyak ngomong tapi gak pelit kek Lo!" jawab Dani.
"Dih, pelit apaan gue?" sahut Tia yang tak mau kalah.
"Minjem kaset satu aja kek minjem serumah. Ribet!"
__ADS_1
Tak ingin dibilang seperti itu, Tia membela dirinya. Dia mendorong tubuh Dani perlahan untuk menjauh dari dirinya. "Lo sendiri yang minjem kaset gue gak dibalikin. Mana udah tiga bulan lebih lagi. Masa iya gue gak sewot?!" sambil mengarahkan telunjuknya ke arah kepala menandakan Dani memikirkan itu.
Dani tersenyum seraya mengelus pelan kepala Tia. Tak sampai di situ saja, Tia marah besar dan langsung mendorong Dani menjauh darinya lebih kencang daripada yang sebelumnya. Semua orang tahu bahwa Dani paling benci dielus kepalanya. Karena mantan pacarnya dulu sering melakukan hal itu dan nahasnya mereka tak putus dengan keadaan baik-baik saja. Hingga sekarang dirinya benci dengan hal itu.
Dani dan Yoga yang melihat sikap Tia langsung tertawa-tawa. Mereka berdua menikmati godaan yang selalu digencarkan kalau-kalau mereka sedang bercanda.
Namun tatapan Tia dengan Yoga sangatlah galak, "Lo juga, ye... Jangan bisanya ketawa aja! Balikin kaset gue, Cumi!"
Yoga yang tadinya tertawa kencang kini langsung menutup mulutnya seketika tawa itu mengudara di langit yang tinggi dan berbaur dengan seluruh orang yang sedang berjalan kaki daerah itu. Sebenarnya dirinya masih mengingat-ingat di mana ia meletakkan kaset itu.
"Iya, gue bakal balikin besok koq, Tia!" bujuk Yoga bersamaan dengan Dani.
"Btw Lo mau ngapain sih di toko Ki Gede?" tanya Dani lagi ke arah Yoga.
"Ini. Nemenin nyonya kita. Katanya dia mau ngambil pesenannya di sana. Gue mah liat-liat aja. Mana tau ada barang yang bisa menginspirasi gue buat karakter komik gue nanti," sahut Yoga sambil mencibir ke arah Tia.
"Masih aja Lo urusin itu komik Lo," timpal cewek itu, "Percaya deh sama gue, Lo mesti jadi orang Jepang dulu kalau mau komik buatan Lo itu laku di pasaran Indonesia. Hari ini, Lo masih sibuk aja dengan komik Lo itu."
"Ye, Biarin aja sih. Gue kan mau kek bang Lupus. Eh siapa sih komikus kita. Mana tau kan gue ada yang kontrak terus bikin projek bareng-bareng," balas Yoga dengan santai.
"Suka-suka Lo dah... Gue cuma kasih tau aja sama Lo," timpal Tia lagi.
__ADS_1
...****************...
Bersambung .....