
"Huhhh apakah tidak ada pekerjaan yang harus aku lakukan? Terus aku ke sini sebenarnya ngapain? Aku seperti orang yang tak berguna di sini" ucap kanza
Kanza mendapat ide, ia lalu mengotak atik komputer yang ada di depannya dengan lihai. Tak sampai 5 menit ia telah mendapatkan apa yang ia inginkan
"Bukankah dia Presdir? Mengapa gampang sekali mendapat nomor telepon nya?" Ucap kanza heran
Sebenarnya tidak se gampang itu, hanya saja kanza yang terlalu pandai dalam menggunakan komputer, kanza adalah hacker nomor 1 yang paling di takuti, namun sampai saat ini belum ada yang mengetahui identitas nya bahkan kakeknya sekalipun.
Di legenda ada dua hacker yang sangat di takuti yaitu AZA dan Gary. Di rumorkan juga bahwa AZA adalah guru dari Gary, tapi nyatanya tidak seperti itu.
Aza dan gary hanya pernah berlomba untuk masuk ke dalam situs negara yang keamanan nya sangat tinggi yaitu negara Estonia, dan kanza saat itu menang perlombaan, dan mulai saat itu juga gary mulai mengikuti semua perintah AZA atau kanza.
Kanza mencatat nomor telepon itu memakai telepon genggamnya lalu menelpon Agra.
Agra sedang duduk di kursinya sambil melihat laporan yang menumpuk di mejanya hingga tiba-tiba handphone nya berbunyi.
Agra mengambil handphone di saku celananya lalu melihat siapa yang menelepon di nomor pribadinya, ia berpikir pasti Asya, Alya atau Aiden, karna Agra hanya menyimpan nomor itu di handphone nya, sedangkan leon ia tak mungkin menelpon jika sedang di kantor.
Agra memicingkan matanya melihat nomor baru, ia tak percaya nomor HP-nya telah ia beri keamanan sangat tinggi hingga tak ada yang bisa mendapatkan nomornya ini.
Agra menimbang-nimbang apakah ia harus mengangkat panggilan ini atau mengabaikan nya, setelah berpikir sebentar Agra lalu mengangkat panggilan telepon itu.
"Halo assalamualaikum, kenapa lama sekali mengangkat telepon ku? Apakah kamu se sibuk itu?" Tanya kanza di sebrang telepon
"Kanza" tanya Agra memastikan tanpa menjawab pertanyaan kanza barusan
"Iya" jawab kanza
"Darimana kamu mendapatkan nomorku?" Tanya agra dengan serius dan curiga
Kanza tercengang ia bingung harus menjawab apa
"Astaghfirullah, aku lupa seharusnya aku tahu pasti Agra akan mempertanyakan ini, apalagi tadi keamanan yang digunakan Agra cukup tinggi, jadi dia pasti akan bertanya, huhhh aku jawab apa ya?" Pikir Kanza
"Owh itu, aku di berikan oleh Asya " jawab kanza sembarangan
__ADS_1
Mendengar jawaban kanza, Agra pun tak curiga lagi
"Ada apa?" Tanya Agra to the poin
"Itu.... Aku sangat bosan karna tak ada pekerjaan, apakah kamu bisa memberiku sesuatu yang bisa ku kerjakan? Aku sangat bosan" keluh Kanza
"Masuklah ke ruangan ku" perintah Agra lalu mematikan teleponnya
Kanza bergegas pergi ke ruang Agra setelah mematikan panggilan.
Kanza mengetuk 2 kali, Agra menekan tombol di samping komputer miliknya lalu pintu kaca yang di ketuk Kanza terbuka dengan otomatis.
Setelah pintu terbuka kanza masuk lalu pintu itu tertutup kembali.
Dari luar pintu ruangan Agra terdapat sensor sidik jari dan yang bisa membukanya hanya keluarga Mahardika dan Leon saja.
"Apakah tidak ada pekerjaan untukku? Jika begini terus aku sangat bosan, beri aku setidaknya satu laporan yang bisa ku kerjakan" ucap kanza tanpa basa basi kepada Agra
"Duduk dulu" balas Agra menunjuk sofa di ruangan itu memakai tatapan matanya
"Ini adalah hari pertama mu bekerja, aku tidak akan membebankan mu dulu dengan laporan atau pekerjaan lain, kamu bersantai lah" ucap Agra yang telah kembali berfokus ke berkas yang ada di depannya
"Terus aku hanya akan duduk di sini memperhatikan mu bekerja seperti orang bodoh? Ckkk" pikir kanza
"Jika begitu aku akan keluar untuk melihat-lihat area kantor ini, bolehkah?" Tanya Kanza
"Baiklah aku akan menyuruh Sindi untuk menemani mu"
"Nggak usah, aku pergi sendiri saja!! Berikan saja kartuku" tolak Kanza
"Masih sementara di cetak, akan di antar ke sini saat jam makan siang"
"Bukankah mencetaknya tak sampai 1 jam? Kenapa harus selama itu?" Tanya kanza keheranan
"Aku juga sekalian mendaftarkan sidik jarimu agar bisa masuk ke ruangan ku ini, agar kamu bisa masuk kapan pun kamu mau" lanjut Agra
__ADS_1
"Buat apa? Apakah Sindi juga bisa masuk sesukanya di ruangannya? Biarlah... Lagian itu juga tidak merugikan ku" pikir Kanza
"Aku adalah karyawan baru, selain Sindi dan resepsionis itu tidak ada lagi yang mengenal ku dan mengetahui bahwa aku juga bekerja di kantor ini, jika aku keluar tanpa kartu pengenal para karyawan lain pasti akan langsung menyuruh satpam untuk membawaku keluar" gerutu kanza
"Jika itu terjadi kamu tinggal menelpon ku saja, apa susah nya?" Ucap Agra dengan entengnya tanpa menoleh kepada Kanza
"Ishhh ruapanya lelaki ini ingin sekali hubungan pura-pura terbongkar" ucap kanza membatin seraya melihat Agra yang masih setiap mengerjakan berkas-berkasnya dengan tatapan sinis
"Sudahlah aku akan menyuruh Sindi untuk menemani mu"
"Ngga!!! Jika Sindi menemani ku maka aku tidak akan leluasa, lagian dia juga pasti punya pekerjaan yang harus di kerjakan nya, bukan hanya menemaniku saja" ucap kanza
"Berikan saja aku tanda pengenal mu" lanjutnya
"Aku direktur di sini, apakah aku harus memakai tanda mengenal untuk mengelilingi perusahaan ku sendiri?" Ucap Agra dengan arogan, sedangkan kanza hanya menatap nya dengan malas
"Kemarilah" panggil Agra
Kanza pun berdiri dari duduk nya lalu berjalan ke meja Agra
"Bawalah ini, jika ada yang menghalangi jalanmu tunjukkan saja ini kepada mereka" ucap Agra memberi Kanza pen yabg sering di pakainya
Kanza mengerti lalu mengambilnya dan keluar dari ruangan Agra dengan sedikit senyuman, sedangkan Agra ikut tersenyum melihat kepergian kanza.
Sementara itu di salah satu ruangan, rere menatap tidak suka ke arah kanza yang sudah diamatinya sejak tadi.
Rere mengepalkan tangannya saat melihat kanza yang keluar dengan tersenyum.
Sejak saat kanza masuk ke dalam ruangan Agra, Rere sudah memperhatikan kanza dengan sinis, ia bahkan beberapa kali mengumpat Kanza.
"Enak saja dia, aku saja dulu selama 1 tahun tak pernah bisa masuk ke dalam ruangan itu, bahkan sampai saat ini aku baru 2 kali masuk ke ruangan pak Agra, dan dia di hari pertama nya sudah menggoda pak Agra? Dasar perempuan licik, wajah nya saja yang cantik nyatanya dia adalah pelacur" umpat Rere dengan kesal di dalam ruangan nya.
Ruangan Agra bukan sembarang orang yang bisa memasukinya sesuka hati, biasanya jika ada laporan atau hal lainnya mereka akan memberikan nya kepada leon tanpa masuk ke dalam ruangan milik Agra.
Rere saat itu di bolehkan masuk ke ruangan Agra karna leon dan sindi sedang tak ada di kantor, makanya Agra mengizinkan nya masuk, dan biasanya jika leon tak ada maka sindi yang akan menggantikan nya membawa laporan untuk Agra.
__ADS_1
"Lihat saja nanti aku akan membuatmu memohon-mohon kepadaku agar bisa pergi dari perusahaan ini, tunggu dan lihatlah bagaimana caraku membereskan pelacur tak tahu malu seperti mu" gumam Rere kembali mengumpat Kanza