
Ada apa ini? Kenapa aku malah menangis sendirian disini? Apa yang sudah kulihat tadi sepulang sekolah?
Sesaat sebelum pulang sekolah.
“Himari, mari pulang.” ajak Shizuka.
Mereka berdua keluar dari kelas. Lalu Shizuka menyadari satu hal, Aoi tidak lagi menunggu di depan kelasnya.
“Aoi, tidak ada hari ini.” ujar Himari.
Shizuka terkejut ternyata Himari berpikiran yang sama dengannya. “Y-ya… mungkin dia sudah bertemu dengan Kazuya.”
“Baiklah, ayo pulang.”
Mereka berdua berjalan beriringan melewati lorong sekolah dan keluar dari gedung sekolah. Ketika mereka baru saja keluar dari gerbang sekolah, mereka melihat dua orang yang tampaknya tak asing.
Kazuya? Dengan siapa? Gadis itu… Aoi? Shizuka terdiam tiba-tiba yang membuat Himari menyadari sesuatu lewat arah panjang Shizuka.
“Bukankah itu, Aoi? Dengan Kazuya? Sedang apa mereka?” tanya Himari heran.
“Aku tak tahu.” jawab singkat Shizuka. Yang jelas, ia melihat Kazuya dan Aoi seperti sedang bicara serius. Ia juga menjadi serius untuk mendengarkan percakapan mereka.
“Aku ingin mengembalikan ini. Terima kasih.” terlihat Kazuya memberikan tempat bekal itu kepada Aoi.
“Apakah enak?” tanya Aoi.
Shizuka masih mendengarkan percakapan mereka.
Kazuya tampak mengangguk sambil sedikit tersenyum. “Enak. Terima kasih. Kalau begitu, aku pulang.”
“Tunggu!” seru Aoi.
Shizuka ikut terkejut. Ia penasaran apa yang akan dikatakan Aoi?
Kazuya diam dan menatap Aoi. “Ada apa?” tanya Kazuya.
“A-aku…”Aoi gelagapan. Ia tampak mendekap tempat bekal itu dengan sangat erat.
Shizuka dan Kazuya menunggu Aoi melanjutkan.
“A-aku menyukaimu!” lanjut Aoi.
Saat itu juga, Shizuka tertegun. Ia merasa sudah tak ingin mendengarkan kelanjutannya.
“Wah… gadis itu sangat nekat.” gumam Himari di sampingnya.
“Ha… kenapa?” tanya Kazuya.
“Aku menyukaimu. Aku tahu kita tidak dekat, tapi aku tetap menyukaimu.”
Kazuya mendekat pada Aoi. “Aku menyukai makanan buatanmu…”
Shizuka sudah tak tahan. Saat itu pula ia pergi sambil berlari.
“Hei, Shizuka! Tunggu aku!” seru Himari sambil ikut mengejar Shizuka. Walaupun ia sangat penasaran dengan jawaban Kazuya. Tapi, Shizuka lebih penting dari apa pun.
Ketika berlari sudah cukup jauh, Shizuka berhenti dan terengah-engah.
“Hei… kau ini… berlari begitu saja. Aku kan masih ingin mendengarkan mereka.” ujar Himari ikutan terengah-engah.
“Aku… tak… ingin… dengar. Aku lebih baik pergi saja.” cetus Shizuka. Sesaat ia sudah menjadi lebih tenang. “Aku mau pulang saja. Sampai jumpa besok.”
__ADS_1
“Hei, kau baik-baik saja?” tanya Himari.
Shizuka tidak berbalik. “Aku baik-baik saja.” katanya sambil berjalan pelan menjauh Himari.
Himari hanya menghela napas dan mereka berpisah di sana.
Shizuka melihat taman yang waktu kemarin pernah ia datangi bersama Kazuya. Spontan ia langsung berjalan cepat dan duduk di tempat dimana ia duduk bersama Kazuya saat itu.
Perlahan matanya berkaca-kaca. Namun, ia sama sekali tidak ingin menangis.
Ada apa ini? Kenapa aku malah menangis sendirian disini? Apa yang sudah kulihat tadi sepulang sekolah? Aku tak menyangka, Aoi benar-benar menyatakan perasaannya kepada Kazuya. Apakah Kazuya menerimanya? Kazuya sudah memakan bekalnya dengan lahap… kurasa Kazuya juga jatuh cinta pada Aoi. Ah, tidak, tidak! Tidak boleh…
Tapi, Aoi hebat sekali… mereka tak dekat, tapi ia berani menyampaikan perasaannya kepada Kazuya. Kurasa Kazuya menerima perasaan Aoi. Aoi adalah gadis yang cantik juga manis. Aku benar-benar penasaran, apakah Kazuya menerimanya? Aku yakin, mereka sudah berpacaran sekarang. Tunggu… kenapa aku sedih? Kenapa aku harus menangisi hal itu?
Sesaat hati Shizuka sudah merasa tenang, ia segera kembali ke rumahnya karena tak ingin membuat Kishima khawatir.
“Shizuka, kau di dalam?” tanya Kishima setelah ia mengetuk pintu dua kali.
“Hm. Masuklah.” jawab Shizuka yang sedang duduk di meja belajarnya. Untunglah dia sedang tidak menangis atau bersedih. Berharap ibunya tak sadar kalau tadi sore ia sempat menangis.
Kishima menghampiri Shizuka lalu mengelus kepala anaknya lembut. “Sayang, kau baik-baik saja, kan?” tanyanya sambil duduk di tepi ranjang dimana di samping meja belajarnya.
Shizuka mengangguk sambil tersenyum kecil. “Aku baik-baik saja. Ibu tak perlu khawatir.”
“Seperti… ada yang mengganggu anakku. Aku tak suka itu.”
Shizuka mengarahkan badannya ke Kishima. “Tenang saja. Aku baik-baik saja dan akan baik-baik saja. Ibu tak perlu khawatir. Lagi pula, aku juga memiliki Himari di sisiku.”
Kishima mengelus wajah Shizuka dengan lembut. “Ibu tahu. Tapi, kau juga harus ingat, bahwa Ibu juga selalu ada di sini, menunggumu pulang setiap harinya. Jangan pernah sungkan untuk bercerita kepada Ibu. Ibu yang paling tahu masalahmu dari kecil hingga sekarang. Ya, sayang?”
Shizuka tersenyum lagi. “Ya, Ibu. Aku selalu ingat, terima kasih.”
“Baiklah. Semangat belajarnya.” Kishima bangkit berdiri dan keluar dari kamar Shizuka.
“Selamat pagi. Shizuka!” seru Himari.
Shizuka hanya menyapanya pelan dan langsung menaruh tasnya di atas meja.
“Hei, kau baik-baik saja?” tanya Himari.
Shizuka menyadari bahwa Kazuya sudah datang dan hanya duduk diam di kursinya seperti biasa. “A-aku baik-baik saja. Ada apa memangnya?” jawab Shizuka gelagapan. Ia takkan membiarkan ada seorang pun tahu bahwa kemarin ia sempat menangis.
“Lalu, ada apa dengan matamu?” tanya Himari semakin penasaran.
“A-ah… semalaman aku belajar, Himari. Jadi aku kurang tidur saja. Kalau tidak percaya, kau bisa tanya pada ibuku.”
Himari akhirnya mengalah. “Baiklah. O ya, Kazuya, kemarin kami meli-”
“Ah, Himari! Sudah, jangan bicarakan itu. Lebih baik, kau siap-siap. Sudah mau pukul 8.” potong Shizuka. Ia tak mau ketahuan Kazuya bahwa mereka melihat Kazuya dan Aoi kemarin. “Benar, kan, Kazuya?”
Kazuya tak menjawab.
Himari memasang wajah kebingungan seperti bertanya ada apa pada Shizuka.
Shizuka hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Memberi isyarat bahwa jangan sampai Kazuya tahu.
Tak lama setelah itu, Ibu Guru pun masuk dan akhirnya pelajaran dimulai.
Shizuka menghela napas. Apakah aku akan tetap ke loteng? Setelah melihat dan tahu semuanya kemarin? Tapi, jika aku tetap ke sana. akankah aku dan Kazuya menjadi canggung? Tapi aku benar-benar penasaran dengan Kazuya dan Aoi. Aku ingin tahu apa perasaannya terhadap Aoi. Tunggu… apakah kalau mereka sudah berpacaran Kazuya akan tetap berada disana? Bukankah seharusnya saat jam istirahat mereka bertemu dan menghabiskan makan siang bersama? Tapi aku akan tetap mencoba ke sana. Baiklah… tak apa-apa. Aku akan tetap kesana dan dan berpura-pura tidak canggung.
Ia berjalan keluar kelas dan langsung mengarah ke loteng. Setibanya di sana, Shizuka sedikit terkejut karena Kazuya ternyata ada di sana. Duduk menunduk seperti sedang tertidur. Shizuka duduk di sampingnya seperti biasa. Tapi Kazuya menyadari kedatangan Shizuka dan terbangun.
__ADS_1
“Maaf aku mengganggu tidurmu.” ujar Shizuka.
“Tidak apa-apa.” jawab Kazuya.
“Hm… Kazuya…” panggil Shizuka.
Kazuya menoleh. “Hm? Apa?”
Jantung Shizuka sungguh berdebar dengan kencang. Ia takut untuk menanyakan hal kemarin. Tapi ia juga sangat penasaran. “A-aku ingin tahu apa perasaanmu terhadap Aoi.”
Kazuya mengerutkan dahinya. “Ha…?”
“K-kemarin aku melihatmu dengan Aoi. A-aku tahu… kalian pasti sudah bersama. Kan? Mak-maksudku, kalian pasti sudah berkencan. Kan? Hahaha… aku tahu Aoi memang gadis yang cocok untukmu.” ujar Shizuka diselingi dengan tawaan garing. Apa yang sudah aku katakan? Memalukan…
Sesaat setelah Shizuka bicara, Kazuya tiba-tiba tertawa.
Shizuka kebingungan. “Hei, kenapa kau malah tertawa? Memangnya ada yang lucu denganku?”
“Ya, kau memang lucu.” jawab Kazuya dengan wajahnya yang masih tertawa.
“Ha???” pekik Shizuka.
“Kau ini tidak tahu apa-apa.” ujar Kazuya.
Shizuka masih terlihat kebingungan.
“Aku tak berkencan dengan Aoi.”
Hah? Mereka tak berkencan? Bahkan ia bisa dengan cepat menyebut nama Aoi…
“Aku hanya mengembalikan tempat bekalnya kemarin karena aku tak ingin menyimpan barang orang lain. Lalu, setelah aku hendak pulang, dia tiba-tiba menyatakan perasaannya. Dia bilang bahwa dia menyukaiku.”
“Lalu, apa yang kau katakan padanya?” tanya Shizuka penasaran.
“Aku bilang padanya aku berterima kasih atas bekal makan siangnya dan aku tak bisa menerima perasaannya. Tidak mungkin aku bisa menyukainya jika baru kenal kurang dari satu hari.”
“Benarkah? Kau menolaknya?” tanya Shizuka. Perasaan apa ini…
Kazuya menatap Shizuka. “Hm. Aku menolaknya. Aku harap aku tak melukai hatinya.”
“Begitu, ya.” Perasaan apa ini? Kenapa aku merasa sangat lega dan senang. Aku senang sekali mendengarnya… Tapi, dia baik sekali masih memikirkan bagaimana perasaan Aoi saat ditolaknya.
“Lalu?” tanya Kazuya.
Shizuka kebingungan. “Maksudmu…’lalu?’”
“Kau puas?”
“H-ha??? Puas kenapa???” jawab Shizuka sambil tertawa kecil.
“Kukira kau senang aku tak berkencan dengannya.” Kazuya memalingkan wajahnya.
Shizuka terdiam. “Ha??? A-aku biasa saja! Apa urusannya denganku? Hahaha…” Shizuka ikut memalingkan wajahnya sambil tertawa garing.
“Kalau begitu, aku akan menerimanya.”
Lantas Shizuka melotot dan menyentuh bahu Kazuya. “Hei! Ja-jangan…”
Kazuya menatap tangan Shizuka yang menyentuhnya dan seketika Shizuka langsung menarik kembali tangannya. “Maafkan aku! Aku tak bermaksud menyentuhmu.” pekiknya.
“Tidak apa-apa. Aku tak berniat berkencan dengannya. Tenang saja.”
__ADS_1
Apa-apaan? Ternyata aku sudah salah paham… Aku merasa sangat senang Kazuya tetap di sini. Dia tidak menjadi milik orang lain. Itu saja sudah membuatku senang.