Under The Autumn Leaves

Under The Autumn Leaves
Win or Lose?


__ADS_3

“Kau hebat.” ujar Kazuya.


Shizuka tersenyum malu. “Biasa saja.” jawabnya.


“Bagaimana tanganmu? Baik-baik saja?” tanya Kazuya terdengar khawatir.


“Hm, baik-baik saja. Aku tak terbiasa bermain voli lagi.”


Mereka berdua berjalan keluar dari aula dan berjalan menuju ke lapangan bola basket. Tapi, terlihat masih ada yang bertanding, jadi mereka menunggu di pinggir lapangan bersama murid-murid lain yang satu kelas.


“Kuharap kita akan menang lagi sekarang.” ujar Shizuka.


“Ya.” ujar Kazuya.


“Semangat.” Shizuka tersenyum. Dan senyuman itulah yang membuat Kazuya ikut tersenyum dan menjadi semangat.


Tak lama setelah itu, pertandingan bola basket pun dimulai. Semua pemain sudah bersiap pada posisi masing-masing di tengah lapangan. Kemudian wasit sudah melemparkan bola basket tersebut ke atas setinggi mungkin.


Semua penonton wanita tampak histeris dan bersorak untuk menyemangati para pemain itu. Entah untuk siapa mereka berteriak, tapi yang pasti Shizuka hanya memperhatikan Kazuya. Dia terlihat sangat mempesona ketika berlari sambil menggiring bola dan melompat untuk memasukkannya pada ring bola musuh. Tak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa Kazuya itu pandai berolahraga. Kazuya bisa beraktivitas seperti itu dan terlihat sangat mengagumkan.


Namun, sangat disayangkan bahwa pertandingan terakhir itu mengalami kekalahan pada kelas Shizuka. Semua terlihat sedih dan kecewa, namun ada juga yang bangga dan berterima kasih karena sudah bermain dengan maksimal.


Seperti biasa, Shizuka menghampiri Kazuya untuk memberikan handuk kecil dan botol air mineral. Himari pun datang menghampiri mereka dan langsung merangkul Shizuka. Wajah mereka berdua terlihat sangat bahagia walaupun ada rasa lelah dibaliknya.


Tak lama setelah pertandingan itu berakhir, semua murid kembali masuk ke gedung sekolah dan panitia membereskan perlengkapan-perlengkapan yang telah digunakan.


“Shizuka, kau mau ikut ke acara penutupan festival nanti, ‘kan?” tanya Himari.


Shizuka membereskan barang-barangnya sambil terduduk lemas di bangkunya. “Mungkin aku akan datang sebentar. Aku cukup lelah hari ini.”


Himari tersenyum. “Tapi hari ini menyenangkan, bukan? Walaupun kita tak menang semua pertandingannya.” sekejap wajahnya berubah murung.


Shizuka ikut tersenyum kemudian. “Ya. Aku tak menyesal ikut dalam pertandingan. Aku sangat bersenang-senang hari ini.”


“Bagaimana dengan tanganmu?” tanya Himari kembali khawatir sambil meraih tangan Shizuka.


“Sudah tidak apa-apa.”


“Syukurlah… dasar laki-laki tak tahu diri. Beraninya dia menyakitimu. Aku sedih, wajahnya yang tampan namun sikapnya yang kasar.”


“Tampan apanya…? Jangan bilang kau menyukainya.” cetus Shizuka.


Himari tersenyum kecil dan mengedipkan matanya berkali-kali pada Shizuka.


“Kau bercanda.”

__ADS_1


“Aku tak begitu menyukainya… hanya saja sedari dulu aku sudah memperhatikannya karena sangat tampan.” gumam Himari pelan.


Shizuka menghela napas. “Hebat, kau suka padanya. Kali ini kau tak marah karena aku menolaknya, bukan?”


Himari tertawa kecil. “Tentu saja tidak. Aku lebih mengkhawatirkan keselamatanmu tadi.”


Tak terasa mereka berbincang-bincang, hari sudah mulai sore dan semua murid sudah berjalan keluar kelas menuju lapangan untuk menikmati acara penutupan festival olahraga itu. Shizuka dan Himari mengikuti gerombolan para murid dan setibanya di lapangan, sudah terdapat api unggun yang begitu besar. Semua murid dan guru sudah berdiri mengelilingi api unggun tersebut. Ada yang sambil mengobrol, menari-nari, atau bahkan asik berpacaran.


Seketika itu juga, Himari langsung berlari ke teman-teman yang lain sesudah meminta izin pada Shizuka. Kini, Shizuka berdiri sendiri sambil mengamati percikan api unggun yang besar itu.


Angin dingin mulai menyelimuti namun terasa hangat di dekat api unggun tersebut. Shizuka memegang kalung dengan kedua tangannya. Kuharap ini benar-benar pembawa keberuntunganku.


“Sendirian?” tanya seseorang tiba-tiba.


Shizuka menoleh dan melihat Kazuya datang menghampirinya lalu berdiri di sampingnya. “Kazuya.”


“Kemana Himari?”


“Bersama yang lain.” Apa ini… kami hanya berduaan begini… bagaimana kalau banyak yang lihat dan mengira yang aneh-aneh? Tidak, bahkan sudah sejak pagi hari aku sering berduaan dengan Kazuya… tak apa.


“Apakah kau bersenang-senang?” tanya Kazuya.


Shizuka tersenyum. “Hm. Aku sangat senang hari ini. Aku tak menyesalinya. Terima kasih karena kau sudah membuatku ikut dalam pertandingan. Walaupun tampaknya kita seri dalam taruhan itu.”


“Ya, aku memenangkan pertandingan voli, sedangkan kau hanya memenangkan pertandingan sepak bola.”


“Kau benar. Tapi kau terlihat sangat mengagumkan tadi. Aku salut padamu, ternyata kau bisa bermain bola voli.” ujar Kazuya.


Shizuka tertawa malu. “Aku pernah main saat sekolah menengah pertama. Jadi, aku lumayan terbiasa.”


“Shizuka…” panggil seseorang tiba-tiba.


Shizuka dan Kazuya melihat ke arah suara itu dan melihat Igara sedang berjalan menghampiri mereka.


“Hai, Igara. Bagaimana kelasmu?” tanya Shizuka ramah. Ia sedikit merindukan sosok Igara yang dulunya mereka selalu bersama dengan Himari.


Igara tersenyum. “Kelas kami menang satu pertandingan saja.” jawabnya.


“Tidak apa-apa, kau sudah berusaha.” gumam Shizuka.


“Kau baik-baik saja? Kudengar tanganmu terluka.” lanjut Igara sambil melihat ke arah kedua tangan Shizuka.


“Aku baik-baik saja. Tidak terluka, hanya merasa pegal saja.”


“Dia baik-baik saja karenaku, tak perlu kau tanyakan.” cetus Kazuya tiba-tiba.

__ADS_1


Shizuka melirik tajam pada Kazuya lalu segera tersenyum pada Igara. “Aku sungguh baik-baik saja. Mungkin sebentar lagi juga aku akan pulang.”


Igara memegang tengkuknya lantas tersenyum. “Syukurlah.” ia mendekat pada Kazuya dan membisikkan sesuatu yang Shizuka tak bisa dengar sama sekali.


Shizuka sempat bingung dan penasaran namun ia tak peduli sedetik kemudian. “Baiklah, aku ingin pulang. Sampai jumpa lagi, Igara.” ujar Shizuka.


Igara pun tersenyum.


Lalu, Shizuka berpamitan dengan Himari dan teman-teman yang lain. Dia berjalan ke kelas untuk membereskan barang-barangnya dan keluar dari area sekolah. Mumpung langitnya masih terang, dengan rasa lelah yang menguburnya, ia ingin menikmati udara sejuk dan pemandangan langit yang sangat jingga sembari berjalan pulang.


“Oi.” panggil seseorang.


Shizuka yang baru saja keluar dari gerbang sekolah berbalik. “Kenapa kau mengikutiku?” tanya Shizuka. Siapa lagi yang memanggilnya seperti itu jika bukan Kazuya. Kazuya berlari kecil dan berjalan bersama ketika sudah tiba di posisi Shizuka.


“Kita masih ada yang harus dibicarakan.” ujarnya.


Mereka berjalan berdampingan menyusuri jalanan kecil, pepohonan besar dengan daun-daun coklat yang berguguran, dan menyusuri pinggir sungai. Sudah seperti rutinitas yang mereka lakukan.


“Kenapa kau senang ketika melihat tim sepak bola menang? Bukankah itu membuatmu takkan menjadi pemenang taruhan?”


Shizuka jalan menunduk sambil tersenyum kecil. “Aku mengerti apa maksudmu membuat taruhan itu, Kazuya.”


“Hm?” Kazuya kebingungan.


“Kau membuat taruhan ini agar aku bisa termotivasi untuk menang. Namun, siapa pun yang menang, tetap membawa kemenangan untuk kelas kita. Aku tak mungkin mendoakan tim sepakbola dan tim bola basket supaya kalah demi taruhan ini. Aku tak mungkin mengorbankan kelas kita supaya aku menang taruhan. Itu tak masuk akal. Jadi, aku berpikir supaya semua tim di kelas kita memenangkan semua pertandingan. Oleh karena itu, taruhan ini pun takkan berjalan.”


“Kau benar. Itulah sebabnya aku membuat taruhan ini.”


“Berkatmu, aku menjadi semangat untuk berpartisipasi dalam festival ini. Aku akan mempunyai kenangan manis lagi sebelum aku lulus. Karena festival ini akan menjadi festival olahraga terakhir untuk kita. Aku sangat beruntung, terima kasih. Kazuya.”


“Aku senang kau menyadari itu semua. Kau memang hebat. Kau adalah pemenangnya, Shizuka.”


Shizuka terkejut melebarkan matanya sambil menatap Kazuya. “Ha?”


“Kau pemenang yang sebenarnya karena sudah membongkar maksud dibalik taruhan ini. Jadi, aku akan mengikuti kemauanmu.”


“B-benarkah? Apakah ini serius?” tanya Shizuka memastikan.


Kazuya hanya tersenyum.


Shizuka menghela napas namun ikut tersenyum. Sejak kapan Kazuya menjadi seperti ini? “Baiklah kalau kau berkata begitu. Sebenarnya ini bukan aku memintamu untuk mengikuti kemauanku, tapi aku hanya ingin mengajakmu ke suatu tempat.”


“Hm?”


Mereka berdua lanjut berjalan lagi hingga Shizuka memberitahu kemana tujuan mereka sekarang.

__ADS_1


__ADS_2