
"Hahaha... payah sekali dia. Ayo tinggalkan dia."
"Jangan! Jangan diambil! Itu punyaku..."
"Rantainya putus."
"Sudah jangan menangis. Ayo ke kelas."
"Kenapa kau tak pulang?"
"Kau...siapa?"
"Aku yang mengambil kalungmu tadi pagi."
"Begitu rupanya. Terima kasih. Kau tak perlu melakukan itu, karena kau akan dijauhi juga sepertiku. Kau tak perlu baik padaku."
"Namaku Akinawa Kazuto. Kau Kojima Shizuka, kan?"
"Namaku... Akinawa Kazuto.... Kau... Kojima Shizuka..., kan?"
Kazuya langsung membuka matanya. Ia melihat ke arah jendela bahwa matahari sudah menyoroti kamarnya. Ia kembali memejamkan matanya sebentar. “Mimpi apa itu tadi… Terasa sangat nyata tapi sekarang aku tidak begitu ingat dengan percakapannya. Siapa anak perempuan dalam mimpiku tadi…? Dia menangis… kalung… rantainya terlepas… taman sekolah…”
Karena kaget, Kazuya pun langsung bangun dan berdiri. Dia segera siap-siap dan mengganti pakaiannya. Lalu ia keluar dari kamar dan berpamitan dengan neneknya.
“Ibu, aku pergi dulu, ya.” ujar Shizuka. Ia sudah mengenakan jaket tebalnya berwarna cokelat dan menggulungkan syal putih ke lehernya. Karena musim dingin sudah tiba.
“Kau mau pergi kemana, Shizuka?” teriak Kishima dari arah dapur.
“Jalan-jalan, cari udara segar.” jawab Shizuka. Seharian berada di kamar memang membuatnya cepat bosan. Yang ada, Shizuka malah semakin memikirkan kabar Kazuya. Sudah hampir seminggu tak bertemu dan tak ada kabar.
Ia akhirnya keluar dari rumah dan langsung merasakan dinginnya udara. Musim dingin… Shizuka tak begitu menyukainya. Langit mendung dan suhunya terlalu dingin. Baru keluar saja, ia sudah merasa kedinginan.
Setelah berlari, akhirnya Kazuya pun tiba di depan rumah Shizuka. Ia memencet bel pintu beberapa kali karena sudah tak sabar ingin bertemu dengan orang yang selalu ia cari selama ini.
Pintu pun terbuka. “Loh? Kazuya? Ada apa?” tanya Kishima kebingungan.
“Aku… ingin bertemu… Shizuka…” jawab Kazuya sambil terengah-engah.
“Hm… dia baru saja pergi. Tapi aku sendiri tidak tahu dia pergi kemana.”
Kazuya pun langsung merasa lemas setelah mendengarnya. Kenapa pula Shizuka pergi saat di hari libur? “B-baiklah, terima kasih. Aku pamit dulu.” ujarnya lalu segera berlari pergi dari rumah Shizuka.
Bahkan Kishima pun belum sempat berkata apa-apa lagi, tapi Kazuya sudah menghilang dengan cepat.
__ADS_1
Kazuya terus berlari sambil berusaha memikirkan tempat-tempat yang mungkin Shizuka kunjungi. Mulai dari taman. Ketika ia sampai, kosong, tak ada siapa-siapa. Lalu, memasuki toko roti kesukaannya, tak ada siapa-siapa. Kemudian ia berlari lagi ke sungai yang biasa tempat mereka bersantai. Hasilnya nihil juga.
“Ah… Shizuka… kau kemana…” gumamnya sambil terengah-engah.
Terus berlarian membuatnya menjadi kelelahan. Ia berhenti sejenak dan berusaha mengumpulkan tenaganya lagi.
Selama lima menit Kazuya berdiam diri hingga akhirnya ia bisa berlari lagi untuk mencari Shizuka. Ia mencari ke daerah sekolah pun masih tidak berhasil. Ia sungguh tak tahu lagi harus kemana. Ia memutuskan untuk memejamkan mata sesaat agar bisa berpikir kemana lagi kira-kira Shizuka berada. Ia merasakan angin dingin yang berhembus ke pipi dan lehernya. Saat itu pula ia sadar akan satu tempat dimana Shizuka mungkin berada.
Kazuya lantas langsung berlari kencang menuju satu tempat yang ada di pikirannya saat ini, yaitu sekolah dasar tempat mereka belajar dulu.
Sepuluh tahun aku hidup seperti berada di kegelapan. Tak tahu kemana aku harus melangkah. Tak mengenal diri sendiri, sendirian, diasingkan orang tua. Tak ada yang lebih kejam dari pada ini. Tapi takdir mempertemukan kita kembali. Takdir memberikan arah untukku menuju cahaya dalam kegelapan ini. Dan sekarang… aku sedang menuju cahaya tersebut. Kumohon… berada dan tetaplah disana. Jangan hilangkan cahaya itu ketika aku tiba… karena itulah alasanku bisa berlari menuju sana.
Tak lama kemudian, tiba lah Kazuya di depan gerbang sekolahnya. Tanpa pikir panjang, ia memasuki gedung itu, melewati lorong-lorong untuk masuk ke taman belakang sekolah. Kaki Kazuya terhenti begitu melihat sosok yang kini dicarinya. Ia sangat lega dan ingin sekali menyentuh cahaya itu.
“Shizuka…” panggil Kazuya sambil mengatur pernapasannya. Bahkan udara dingin pun sudah tak mempan baginya. Ia sudah merasakan panas dalam dirinya.
Shizuka yang sedang berdiri di bawah pohon besar itu membalikkan badannya. “K-Kazuya? Kenapa kau bisa tiba-tiba ada-”
Kazuya berlari dan langsung mendekap Shizuka dengan erat.
Shizuka pun menjadi terdiam. Ia sedikit terdorong ke belakang karena Kazuya berlari dan langsung menabrak tubuhnya untuk memeluk. Tangan Shizuka terangkat dan langsung mengepal bagian belakang jaket Kazuya. “Ada… apa…”
Kini aku telah menyentuh cahayaku. Seketika duniaku langsung terang dan terasa sangat hangat. Sudah tak ada lagi kegelapan dalam hidupku.
“Kenapa kau berterima kasih?” tanya Shizuka masih kebingungan.
“Kau mau bersabar menungguku disini. Aku tahu kau pasti akan di sini. Aku selalu tahu kau pasti di sini… terima kasih kau telah menuntunku untuk datang kesini. Aku sangat lega… aku sangat lega…”
“Hei, aku tak mengerti apa yang kau bicarakan. Lepaskan aku...lepaskan.” ujar Shizuka.
Kazuya melepaskan dekapannya tapi masih menyentuh kedua bahu Shizuka. Ia menatap Shizuka dengan wajah yang sangat gembira. Mata Kazuya berkaca-kaca dan akhirnya meneteskan air mata.
“Kenapa… kau menangis?” tanya Shizuka lagi. Kini ia memasangkan wajah bingung tapi kasihan dengan ekspresi Kazuya.
“Aku menemukanmu… aku sangat lega…”
“Kenapa kau lega begitu menemukanku disini?”
“Karena aku sedang mencari cahaya yang dapat menuntunku keluar dari dunia yang gelap ini. Terima kasih.” jawab Kazuya dengan senyumannya yang bahagia.
“Aku… masih tak mengerti.” sahut Shizuka dengan wajahnya yang sangat kebingungan.
Kazuya tersenyum. “Tidakkah kau mengenaliku?”
__ADS_1
Shizuka menatap kedua mata Kazuya. Memang mata yang mengingatkannya kepada Kazuto. Mata yang memberikan kenyamanan dan kehangatan.
“Bukankah aku yang menolongmu saat jatuh dan bertemu dengan ibumu? Aku yang bilang padanya bahwa aku yang merusak kalungmu. Tidakkah kau ingat?”
“Ha…?” Lantas mata Shizuka pun berkaca-kaca.
“Bukankah kita teman dari kecil? Bukankah selama ini kita selalu berteman?” ujar Kazuya masih sambil menangis.
“Tidak mungkin…” sahut Shizuka.
Kazuya mengangguk pelan. “Aku selalu mencarimu… aku tak pernah ingin melupakanmu sedikitpun… Maafkan aku dan terima kasih, Shizuka.”
Saat itu pula Shizuka meneteskan air matanya. “Berarti… kau… benarkah kau selama ini adalah…”
Kazuya mengangguk cepat. “Ya. Sesuai dugaanmu.”
“Bagaimana bisa…? Kau tidak bercanda, ‘kan?” tanya Shizuka memastikan.
“Setelah kecelakaan sepuluh tahun yang lalu, aku mengalami hilang ingatan dan tinggal di Tokyo. Akhir-akhir ini, kepalaku sering sakit karena aku berusaha untuk mengingat kenangan yang hilang itu. Itu semua kutemukan saat aku pergi ke Tokyo kemarin.”
"Ka...zuto... Benarkah kau Kazuto...?" Shizuka pun perlahan mulai menangis. Tidak menyangka dengan fakta yang baru saja ia temukan.
Kazuya pun mengulas senyum. Ia tak bisa menahan kebahagiaan yang ia rasakan saat ini. Senyumnya pun semakin mengembang. "Ya."
Shizuka pun langsung memeluk Kazuya dan menangis sederas-derasnya. Ia sudah tak bisa lagi menahan rasa bahagianya. “Hilang ingatan…? Kenapa… kenapa kau baru bilang sekarang…”
“Maafkan aku… Aku butuh beberapa waktu sampai aku siap bertemu denganmu. Aku ingin memastikan semuanya, aku ingin memastikan bahwa memoriku tidak salah. Begitu aku sudah ingat dan yakin, aku langsung berlari menemuimu. ” tangan Kazuya pun melingkari tubuh Shizuka yang mungil itu dengan erat. “Jangan menghindariku lagi… kumohon…”
Shizuka mengangguk cepat. “Tentu… aku takkan menghindarimu, aku takkan meninggalkanmu. Kau telah kembali dengan membuka dan meluluhkan kembali hatiku. Aku sangat senang.”
“Aku tahu hidupmu juga berat karena aku, maafkan aku.”
“Tidak apa-apa. Dengan adanya dirimu sekarang di hadapanku, tak ada lagi yang lebih membahagiakan dari ini. Terima kasih, Kazuto.”
“Aku mencintaimu, Shizuka.” Kazuya melepas dekapannya dan menatap Shizuka lekat-lekat.
Shizuka tersenyum walaupun air matanya masih mengalir deras. “Aku juga sangat mencintaimu...Kazuto…”
Momen itulah dimana Kazuya akhirnya mencium bibir Shizuka perlahan. Bibirnya yang mungil dan terasa dingin. Namun itu yang membuat mereka kini bersama dan membuat dunia keduanya terang.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Setelah kejadian itu pun, Kazuya menceritakan semuanya secara detail kepada Shizuka. Mengenai masalah keluarganya, tentang penyakit yang dideritanya, dan masalah kesalahpahaman ketika Kazuya bersama Minami saat itu. Kazuya menceritakan semuanya tanpa ada yang ia sembunyikan. Shizuka pun mendengar dengan seksama dan merespon dengan sangat baik. Setelah itu, ketika masuk sekolah, mereka menceritakan semuanya kepada Himari dan Igara. Lalu memperkenalkan kembali Shizuka kepada nenek Kazuya. Dan terakhir, Kazuya kembali memperkenalkan dirinya kepada Kishima sebagai teman masa kecil Shizuka.
__ADS_1