Under The Autumn Leaves

Under The Autumn Leaves
Sports Festival


__ADS_3

Baiklah. Hari ini adalah hari pertama festival olahraga. Aku takkan membuat timku kalah dan membawa nama buruk untuk kelasku. Aku akan menjadi anggota tim yang baik.


Shizuka hendak keluar dari kamarnya, namun ia teringat akan sesuatu. Kalung. Ia kembali dan membuka laci nakasnya. Ia berencana untuk memakai kalung itu lagi. Setelah sekian lama, Shizuka memiliki keberanian untuk memakai kalung itu lagi. Ia berharap kalung itu akan menjadi pembawa keberuntungan baginya. Ia takkan kalah dari Kazuya. Setelah itu, barulah Shizuka berangkat ke sekolah.


Hari pertandingan tiba dan pertandingan pertama adalah sepak bola laki-laki antar kelas dengan jadwal yang sudah ditentukan oleh panitia. Semua murid tampak bersiap-siap dan berjalan ke arah lapangan sepak bola. Pagi-pagi sekali Shizuka sudah bersiap-siap dan sudah duduk di pinggir lapang untuk menyemangati para laki-laki yang bermain sepak bola. Ia melihat Kazuya berjalan ke tengah lapangan dari tempat duduknya. Kazuya pun menoleh pada Shizuka. Shizuka tersenyum lebar dan memberikan isyarat semangat pada Kazuya. Kazuya pun hanya membalasnya dengan tersenyum.


Tak lama setelah itu, pertandingan pun dimulai. Shizuka merasa khawatir jika Kazuya akan membuat tim ini menang. Sedetik kemudian, Shizuka tersadar. Apa yang telah Kazuya katakan kemarin? Kazuya ingin bertaruh berdasarkan pertandingan kelasnya sendiri?


Tunggu, jika aku mengharapkan Kazuya untuk kalah, berarti aku juga mengharapkan tim kelasku menjadi kalah. Tapi jika tim ini menang, otomatis Kazuya akan menang juga dalam taruhan ini. Bagaimana ini? Aku harus memihak siapa? Tak mungkin aku mendoakan kelasku untuk kalah, tapi aku tak rela jika Kazuya menang taruhan. Sial…


Karena itu, Shizuka hanya menyemangati seadanya. Ia tak berharap kelasnya kalah, namun juga tak berharap Kazuya menang taruhan. Shizuka berpikir lebih baik ia mendoakan saja yang terbaik untuk kelasnya. Ia takkan peduli dengan taruhan itu. Ia akan mendoakan semua pertandingan kelasnya supaya menang. Akan lebih baik jika Kazuya memenangkan semua pertandingannya dan Shizuka juga memenangkan tim volinya. Akan lebih baik jika tak ada yang kalah. Dengan begitu, taruhan Kazuya dan Shizuka tidak akan berjalan.


Perlahan Shizuka melihat Kazuya bermain, ia menjadi berpikir. Sejak kapan Kazuya yang hanya diam tak berbicara di kelas, menjadi pemain sepak bola yang cukup baik. Terlihat bahwa Kazuya sudah memasukkan satu bola ke gawang tim lawan. Melihat itu, Shizuka merasakan kesenangan dan terkagum-kagum yang amat hebat. Kazuya sangat keren dan semua anggota merangkul dan memeluk Kazuya. Shizuka pun tersenyum diam-diam.


Tak terasa pertandingan pertama sudah selesai. Shizuka sangat senang karena pertandingan sepak bola dimenangkan oleh kelasnya. Semua murid baik perempuan maupun laki-laki berkumpul bersama dan saling berteriak kegirangan. Shizuka menghampiri Kazuya yang berdiri di belakang kerumunan kelasnya sambil memberikan air minum.


Shizuka tersenyum lebar. “Kau sangat hebat! Aku melihatmu tadi, kau sangat hebat! Aku salut padamu!” serunya.


Kazuya bingung. Kenapa Shizuka malah kegirangan, bukakah ini akan membuatnya kalah taruhan? “Kenapa kau sangat senang? Kau tidak takut-”


“Sssttt! Diamlah. Aku ingin menikmati festival ini. Jadi, jangan pikirkan taruhan ini dulu, ya? Intinya kau sangat keren tadi! Semoga pertandingan selanjutnya menang! Aku akan bersiap-siap untuk pertandingan voli bersama Himari. Sampai jumpa!” seru Shizuka. Ia berlari menghampiri Himari.


“Ada apa dengannya? Apakah ia tak ingin menang taruhan?” gumam Kazuya sambil meminum air mineral yang diberikan Shizuka dan mengelap keringatnya dengan handuk kecil.


Shizuka dan Himari berjalan bersamaan ke kelas untuk bersiap-siap. Ia mengganti baju dan langsung bersiap ke aula. Namun, ketika mereka berdua membuka pintu hendak keluar dari kelas, ada seseorang berdiri tegap di depan mereka. Laki-laki dengan wajah yang cukup sangar.


“Kau…? Tsukami Yuzira?” tanya Shizuka. Dia hanya tahu, tapi tak mengenal laki-laki itu sama sekali. Yuzira anak yang cukup populer di kalangan perempuan tapi memiliki sifat yang tak Shizuka sukai, yaitu kasar.


Laki-laki yang bernama Yuzira itu masuk perlahan dan membuat Shizuka dan Himari berjalan mundur. Hingga akhirnya Yuzira berhenti setelah beberapa langkah dan berada di dekat dengan bangku Kazuya.


“Apa maumu? Minggir, kami ingin keluar untuk tanding.” ujar Shizuka. Sedangkan Himari hanya berdiri di belakang di Shizuka.


“Jadilah kekasihku.” ujar Yuzira tiba-tiba.


Shizuka langsung melebarkan matanya sekaligus mengerutkan alisnya. “Hah??? Aku bahkan tak mengenalmu.”


“Kau tahu namaku tadi, bukan? Sekarang, ikut aku.” Yuzira meraih tangan Shziuka dan menariknya.


“Lepaskan! Sakit … tanganku sakit!” teriak Shizuka.


Himari tampak ketakutan. “Kumohon, lepaskan Shizuka. Kita harus pergi sekarang.”

__ADS_1


“Diam kau! Shizuka harus ikut denganku!” pekik Yuzira lagi.


Shizuka berusaha menahan tangannya dan melepaskan diri. Tapi cengkeraman Yuzira sangat kencang. “Lepas-kan….”


“Lepaskan tangannya.” ujar seseorang tiba-tiba.


Himari membuka mulut. “Kazuya!” panggilnya.


Shizuka langsung menarik tangannya sekuat tenaga ketika Kazuya mencengkeram tangan Yuzira. Cengkeraman Yuzira melemah dan Shizuka berhasil melepaskan tangannya. Shizuka mengusap pergelangan tangannya yang memerah.


“Shizuka, kau baik-baik saja?” tanya Himari khawatir.


“Apa maumu datang kemari untuk menyakiti dua anak perempuan disini?” tanya Kazuya.


Yuzira menghadap Kazuya. “Siapa kau? Kau tidak ada urusannya disini.”


“Maaf, ini kelasku juga. Ini adalah tempat dudukku. Jadi, bisa kau saja yang keluar dari sini?”


“Cih… hanya ingin meminta Shizuka menjadi kekasihku saja serumit ini. Dengar, aku kehilangan rasa tertarik padamu. Dasar menyebalkan.”


“Begini caramu mendapatkan seorang kekasih? Kasar sekali, sama sekali tak menghargai perempuan. Kau takkan bisa mempunyai pasangan jika begini.” gumam Shizuka.


Yuzira mengangkat tangan hendak memukul Shizuka namun Kazuya sudah menahan tangannya dan berdiri di depan Shizuka. “Masih ingin memukul perempuan? Lebih baik kau pergi sebelum murid-murid yang lain datang melihat ini.” ujar Kazuya.


Sesaat setelah Yuzira pergi, Shizuka langsung duduk di bangkunya dengan keadaan lemas.


“Shizuka, kau baik-baik saja? Bagaimana tanganmu?” tanya Himari. Ia sangat terlihat sangat khawatir.


“A-aku baik-baik saja. Terima kasih, Kazuya.”ujar Shizuka.


“Kami benar-benar berterima kasih padamu, Kazuya. Aku sama sekali tak bisa membantu Shizuka tadi. Aku sangat takut.”


“Aku heran, lelaki sepertinya bisa populer di sekolah ini.” sahut Shizuka lagi.


Himari menghela napas. “Bagaimana ini? Tanganmu masih memerah, apakah kau bisa bertanding?” tanya Himari dengan nada kekhawatiran.


“Tentu saja, aku masih bisa bermain.” jawab Shizuka santai.


“Apakah kau yakin? Tidak apa-apa jika kau tidak bisa, aku bisa memberitahu kepada yang lain.” Himari terus menunjukkan rasa cemasnya.


“Aku yakin. Tapi, aku ingin istirahat sebentar. Bisakah kau pergi duluan ke aula? Nanti aku akan menyusul. Maafkan aku.” jawab Shizuka.

__ADS_1


Rasa cemas Himari sedikit berkurang. “Baiklah, aku akan pergi dahulu ke aula. Aku tunggu, ya.” ujarnya yang kemudian berjalan ke luar kelas.


“Aku sangat beruntung kau datang di saat yang tepat. Terima kasih, Kazuya.”


Kazuya meraih tangan Shizuka dan memperhatikannya. “Kurasa tak parah. Masih sakit?” tanyanya.


“Tidak terlalu. Aku takut tak bisa bermain karena pergelanganku menjadi kaku dan sakit. Entahlah, tadi tangan Yuzira terasa sangat besar dan kasar.” ujar Shizuka.


“Bagaimana kalau kau tidak perlu bermain? Takut membuat tanganmu memar.” ujar Kazuya. Ia secara perlahan-lahan mulai memijat tangan Shizuka agar merasa lebih baik.


Merasakan tangannya dipijat oleh Kazuya, entah kenapa dada Shizuka mulai berdebar. Kedua tangannya mulai berkeringat karena merasa gugup. Tangan Kazuya terasa sangat berbeda… tangannya besar namun terasa lembut dan sangat hangat. Rasanya sangat menenangkan.


“Aku baik-baik saja. Aku bisa bermain, tenang saja.” gumam Shizuka sambil tersenyum.


Setelah Kazuya memijat tangan Shizuka, ia berubah menjadi mengelusnya dengan lembut. “Untung saja aku datang.”


Sebelah tangan Shizuka terangkat dan memegang kalungnya. “Mungkin karena aku memakai kalung ini. Aku menganggapnya sebagai pembawa keberuntungan sekarang. Dan mungkin, Kazuto sudah mengutusmu untuk segera datang ke kelas dan menyelamatkanku.” katanya sambil tertawa kecil.


“Tidak. Aku hanya ingin mengambil barangku di sini, lalu… mungkin aku ingin memastikan bahwa kau akan segera ke aula.”


“Baiklah… sekali lagi, terima kasih. Aku akan ke aula sekarang.” Shizuka bangkit berdiri.


“Aku ikut.”


“Mereka sudah bersiap-siap. Aku harus segera kesana.” Shizuka menaruh barang-barangnya di pinggir area lapangan dan ingin segera berlari ke tengah lapang.


Namun Kazuya memanggilnya. “Shizuka.”


Shizuka masih tertegun dan merasa canggung ketika Kazuya memanggil namanya. Ia terhenti dan menghadap Kazuya.


“Semangat.” ujar Kazuya.


Shizuka tersenyum lebar. “Ya!”


Setelah itu, Shizuka bergabung dengan yang lain dan tampak melakukan pemanasan bersama-sama. Sementara itu, Kazuya terus menonton hingga pertandingan pun di mulai.


“Shizuka!!!” seru Himari. Ia berlari ke arah Shizuka dan langsung memeluknya. “Kau hebat sekali tadi! Berkatmu, kita menjadi menang. Walaupun hanya beda dua skor dengan mereka. Tapi kau tetap hebat.” katanya yang membuat murid-murid lain datang dan ikut bergembira.


Shizuka tertawa. “Hanya beruntung saja. Aku kan tidak bisa bermain bola voli.”


“Tidak apa-apa. Kau sangat keren.” ujar para murid yang lain.

__ADS_1


Melihat wajah Shizuka yang bersinar dan menunjukkan kegembiraan bersama yang lain, Kazuya pun ikut tersenyum dari kejauhan. Ia kagum terhadap Shizuka. Dengan tangan yang kesakitan itu, ia masih bisa bermain dengan bagus. Ia juga tak menyangka bahwa gadis lemah itu bisa bertanding dengan sangat hebat.


__ADS_2