
Sesaat setelah Shizuka mengajak Kazuya, ia merasa menyesal. Kenapa tiba-tiba ia mengundang seorang laki-laki ke rumahnya, entah untuk apa. Walaupun alasan keduanya adalah untuk belajar bersama menjelang ujian mendatang. Tapi, anehnya, Kazuya terima begitu saja. Seperti tanpa pikir panjang, Kazuya menerima ajakannya. Selain itu, Shizuka tak terpikirkan untuk mengajak Himari. Dan sekarang, ia sudah berjalan bersama menuju rumahnya.
Sebenarnya, alasan Shizuka adalah untuk memperlihatkan kalungnya. Kalung hadiah ulang tahunnya yang ke sepuluh dan kalung yang menyimpan kenangan dengan Kazuto. Mungkin selain Himari, ia bisa memperlihatkannya kepada Kazuya, bahwa kalung itu sangat berarti baginya.
Setelah beberapa menit, akhirnya mereka pun tiba di depan rumah Shizuka. Shizuka membukakan pintu dan membiarkan Kazuya masuk. “Aku pulang.” kata Shizuka sambil melepaskan sepatunya diikuti oleh Kazuya.
Kishima menghampiri Shizuka dari arah ruang makan. “Ah, selamat da-, astaga!” pekiknya.
Melihat wajah Kishima yang sangat kaget seperti melihat hantu, Shizuka buru-buru memperkenalkan Kazuya. “Ibu, kenalkan, ini temanku, Kazuya. Kazuya, ini ibuku.”
“Halo, namaku Fujikawa Kazuya. Teman Shizuka.” ujar Kazuya sopan sambil membungkukkan badannya.
Kishima masih terlihat kaget. Ia mengedipkan matanya berkali-kali tak percaya siapa yang Shizuka bawa pulang. “A-aku Kishima.”
“Aku akan ke kamar terlebih dahulu, Kazuya, kau tunggu di sofa ya.” ujar Shizuka lantas menaiki anak tangga.
“Y-ya, kemarilah, Kazuya… Biarkan aku buatkan makan dan minum untukmu. Duduk saja di ruang makan.” sahut Kishima.
Kazuya menurut. Ia hanya berusaha tersenyum seramah mungkin dan duduk di ruang makan. Tak lama setelahnya, Kishima sudah menyajikan menu makan malam di meja makan.
Sementara itu…
“A-aku harus pakai baju apa? Mungkin ini… ah tidak, ini terlalu terbuka… ah, ini saja.” gumam Shizuka sendirian. Ia mengacak-acak lemari bajunya dan akhirnya menemukan yang paling sederhana dan sopan.
Lalu dia akhirnya keluar kamar dan turun ke lantai bawah. Ia mencari di ruang tamu namun Kazuya tak ada di sana. Dan ternyata, Kazuya sudah duduk manis di ruang makan dan Kishima sudah menyiapkan makan malamnya.
“Wah, enak sekali.” ujar Shizuka.
Kishima dan juga Kazuya menoleh. “Ayo, kita makan dulu sebelum kalian belajar.” ujar Kishima.
Shizuka duduk di samping Kazuya. “O ya, apakah nenekmu akan baik-baik saja jika kau pulang malam?” tanyanya.
“Tidak apa-apa. Aku takkan lama di sini. Aku targetkan jam delapan sudah pulang.” jawab Kazuya.
“Baiklah, tak apa. Mari makan.”
Malam itu, mereka makan malam bertiga. Setelah sekian lama, akhirnya ada sosok laki-laki yang duduk di tengah mereka dan bisa mengobrol sambil tertawa. Semenjak ayah Shizuka meninggal, tak pernah ada lagi kebahagiaan seperti itu. Shizuka juga pasti akan jarang bicara. Tapi sekarang, mereka bertiga mengobrol dengan puasnya.
“Sudah kenyang, Kazuya, belajar di kamarku saja, ya. Ibu, aku ke kamar, ya.” ujar Shizuka sambil bangkit berdiri.
“Baiklah, ambil cemilan kalau mau.” sahut Kishima sambil mencuci piring di dapur.
Lalu, Kazuya mengikuti arah Shizuka berjalan keluar dari ruang makan, menaiki anak tangga, hingga memasuki kamar Shizuka.
“Duduk dimanapun kau mau.” ujar Shizuka.
Kazuya menaruh tas nya dan duduk di depan meja kecil. Ia sekilas melihat ke sekeliling kamar Shizuka. Sederhana, tak ada warna mencolok, namun terasa nyaman. Selain itu, ini pertama kalinya ia memasuki kamar perempuan. Rasanya… aneh.
__ADS_1
Shizuka datang sambil membawa beberapa buku pelajaran dan duduk berhadap-hadapan dengan Kazuya. Ia menaruh banyak buku itu di meja dan tersenyum ke Kazuya. “Baiklah, dari mana kita mulai?”
Kenapa jantungku berdebar-debar begini?
Lalu, sudah setengah jam berlalu dan mereka sudah belajar dengan fokus. Sebenarnya, tak terasa kalau Kazuya akan pulang sebentar lagi. Shizuka memutuskan untuk istirahat dan bersantai sejenak. Lagi pula, belajar masih bisa dilanjutkan ketika Kazuya sudah pulang.
“Aku ingin istirahat sebentar.” ujar Shizuka.
“Baiklah.” jawab Kazuya.
Shizuka menghela napas. “Ini pertama kalinya ada laki-laki yang masuk ke kamarku. Kau tahu betapa gugupnya diriku sekarang?” ujarnya sambil tertawa kecil. “O ya, mau cemilan?”
“Tidak perlu, terima kasih.” jawab Kazuya. "Ibumu begitu terkejut saat melihatku tadi."
“Karena kau sangat mirip dengan teman kecilku. O ya, ada yang ingin kutunjukkan padamu.” Shizuka berdiri dan membuka laci meja nakasnya. Ia mengeluarkan sebuah kotak yang berisi kalungnya. “Ini kalungku.” ia mengeluarkan kalung tersebut.
Kazuya melihat kalung tersebut.
“Ini adalah hadiah ulang tahunku yang ke sepuluh. Kalung ini sangat menyimpan kenangan untukku. Kenangan indah dan juga kenangan pahit.”
“Kenapa?” tanya Kazuya penasaran.
“Indah karena ini pemberian ibuku. Lalu, ketika aku masuk pertama kali ke sekolah setelah libur musim panas, aku terjatuh dan kalungnya rusak terinjak anak-anak yang lain. Aku hanya bisa menangis dan takut Ibu akan marah. Tapi, saat aku menangis dan diejek oleh anak-anak, Kazuto datang. Ia membantuku untuk bangkit dan malah bilang pada ibuku kalau dia yang merusaknya. Dia menjadi temanku satu-satunya saat itu dan membuat anak-anak lain takut padaku.”
“Lalu?”
“Begitu, ya.” Kazuya melihat kalung itu dan memperhatikannya dengan baik. Kalung itu memang cantik dan simpel. Ia berpikir bahwa Shizuka akan bagus jika mengenakannya. Tapi, kepala Kazuya malah terasa sakit. “Ah…” rintihnya.
“Kenapa, Kazuya?” Shizuka panik dan langsung menyimpan kalungnya kembali.
“Sakit… Kepalaku sakit” rintih Kazuya lagi sambil memegang kepalanya.
Shizuka panik namun ia tak tahu harus bagaimana. “Kau mau tiduran dulu?”
“Tidak… kepalaku sakit sekali.”
Lalu akhirnya Shizuka keluar dari kamar dan turun ke bawah untuk mengambil minum untuk Kazuya. Tak lama setelah itu Shizuka sudah membawa secangkir minum untuk Kazuya. “Ini, minumlah terlebih dahulu, mungkin kau akan membaik.”
Kazuya menurut, ia meminum beberapa teguk.
“Bagaimana?” tanya Shizuka khawatir.
“Hm… terasa mendingan. Terima kasih.”
Shizuka terus menepuk dan mengelus punggung Kazuya. Berusaha untuk menenangkannya. “Baiklah, tunggu sebentar, lalu kau lebih baik pulang saja. Aku akan mengantarmu pulang.”
Kazuya mengangguk. “Baiklah.”
__ADS_1
Tak lama setelah itu, Kazuya terlihat lebih tenang. Ia sudah tak merasa kesakitan dan air yg Shizuka berikan sudah habis. Shizuka membantu membereskan peralatan sekolah dan buku-buku Kazuya dan memasukkannya ke dalam tas.
“Sudah tidak sakit, kan?” tanya Shizuka lagi.
“Tidak. Aku bingung kenapa kepalaku sangat sakit tadi.”
Shizuka menghela napas. “Mungkin kau kelelahan. Baiklah, mari pulang.” Shizuka berdiri, mengambil jaket yang tergantung di balik pintu, dan mengenakannya.
“Kenapa pakai jaket?” tanya Kazuya.
“Sudah malam, dingin. Ayo.” Ajak Shizuka.
Tak lama setelah itu mereka turun dan berpamitan dengan Kishima yang sedang bersantai di ruang keluarga.
“Ibu, aku ingin mengantar Kazuya pulang sebentar, ya. Kurasa dia sakit.” ujar Shizuka.
Kishima bangkit berdiri dan langsung menghampiri mereka berdua dengan wajah panik. “Ha? Kau sakit, Kazuya?” tanya sambil menyentuh dahi Kazuya. Memang terasa hangat. “Baiklah, kau antar sampai ke rumahnya, ya, Shizuka. Hati-hati di jalan.” Ujar Kishima.
“Aku akan baik-baik saja. Terima kasih atas makan malamnya.” sahut Kazuya sambil membungkukkan badannya.
Setelah itu, Shizuka diikuti dengan Kazuya keluar dari rumah Shizuka.
Ternyata rumah mereka cukup dekat. Tak sampai sepuluh menit mereka berjalan, akhirnya mereka tiba di depan rumah Kazuya. Rumahnya yang sederhana dan terlihat nyaman seperti rumah Shizuka.
“Ini… rumahmu?” tanya Shizuka.
“Ya. Terima kasih.” ujar Kazuya pelan.
Shizuka mendekat. “Kau yakin kau baik-baik saja?” tanyanya lagi.
Kazuya memalingkan wajahnya. Shizuka terlalu dekat. “Ya. Aku akan masuk.”
“Ya. Beristirahatlah.”
“Kau bisa pulang sendirian? Kau akan baik-baik saja?” tanya Kazuya dengan wajah yang terlihat cuek.
Shizuka tersenyum lebar. “Aku akan baik-baik saja.”
“Mengingat kau pernah dikejar orang jahat.” sahut Kazuya cepat.
Shizuka tertawa. “Aku akan baik-baik saja!” jawabnya dengan pasti. “Baiklah, sampai jumpa! Semangat dan semoga berhasil ujiannya!” seru Shizuka sambil melambaikan tangannya.
Kazuya tersenyum. “Hm. Kau juga.”
Tak lama setelah itu, Kazuya masuk ke dalam rumahnya dan baru lah Shizuka pergi dari sana.
Ada apa dengan Kazuya? Aku takut ada apa-apa dengannya… semoga dia bisa tetap mengerjakan ujian dengan baik. Tapi, hari ini sangat menyenangkan. Seperti hari paling menyenangkan dengan Kazuya. Aku sangat bersyukur.
__ADS_1