
“Dia adalah… ayahmu.”
“Ha?” saking kagetnya, Kazuya tak bisa merespon apa-apa lagi. Matanya terbuka lebar menatap salah satu foto di album itu. “Ayah...ku?”
“Benar. Dia putraku.” lanjut neneknya.
Kali ini Kazuya merasakan dadanya yang sesak. Kepalanya yang sakit dan tak bisa berpikir apa-apa lagi. “B-begitu ya… Lalu… dimana dia sekarang?” tanyanya terengah-engah.
“Dia sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu, karena sakit.”
Kazuya semakin terasa sesak. “Bagaimana bisa aku tak tahu selama ini…”
“Kau dibawa ke Tokyo oleh ibumu. Aku tak tahu banyak setelahnya… Aku kira ibumu sudah bicara padamu.”
Kazuya tertunduk dan meremas rambutnya dengan kedua tangannya. Ia merasa dirinya sangat kacau sekarang. “Terima kasih, Nek… aku ingin kembali ke kamar.” ujarnya kemudian.
Kazuya berdiri dan keluar dari kamar neneknya tanpa berbicara apa-apa lagi setelah itu.
“Kasihan anakmu… Yuri.”
“Ah…” rintih Kazuya. Ia terduduk di tepi kasurnya masih dengan meremas rambutnya. Kepalanya sangat sakit. Tiap kali ia berusaha memikirkan foto tadi dan mengingat wajah laki-laki tadi, kepalanya menjadi sakit. Rasanya seperti tertusuk-tusuk oleh jarum.
Kazuya merebahkan tubuhnya dan berusaha untuk melupakan semua hal tadi. Tak lama kemudian, rasa sakitnya berkurang. Namun, matanya berkaca-kaca karena rasanya ingin sekali menangis. “Siapa aku sebenarnya… bagaimana bisa aku tak mengenali ayahku sendiri… apa yang coba Ibu sembunyikan dariku… Lalu siapa ayahku sekarang? Siapa laki-laki yang saat ini bersama Ibu…? Siapa…”
Shizu… Shizuka… kenapa aku jadi memikirkannya sekarang? Aku ingin bertemu dengannya, aku ingin melihatnya… Kenapa aku malah mengingatnya sekarang… Kumohon… tolong aku…. Shizuka….
Kazuya membuka matanya perlahan. Ia merasakan air mata yang sudah mengering di sudut matanya. Ia bangkit berdiri dan langsung mengarah ke kamar mandi. Ia melakukan rutinitas seperti biasanya. Menggosok gigi, mencuci muka, mandi, dan mengganti pakaian dengan seragam sekolah. Ia sangat berusaha untuk tidak mengingat apapun tentang semalam. Ia hanya ingin pergi ke sekolah untuk melupakan semuanya.
“Selamat pagi. Aku langsung berangkat saja.” ujar Kazuya.
“Hati-hati.” jawab neneknya.
Kazuya menghela napas lagi. Berada di luar rumah memang cukup menenangkan hatinya. Udaranya yang sejuk dan matahari pagi yang menyorot membuatnya sedikit lupa dengan suasana rumahnya. Ia berjalan menuju sekolahnya berharap ia bisa benar-benar melupakan hal semalam. Ia hanya ingin bertemu Shizuka sekarang…
“Selamat pagi” sapa Shizuka sambil menaruh tasnya di atas meja.
Kazuya menoleh dan tersenyum kecil. “Pagi.” sapanya.
Shizuka bingung. Tumben sekali Kazuya mau menyapanya balik, sambil tersenyum pula.
“Shizuka, kudengar hasil ujian akan diberikan hari ini. Aku sangat takut!” seru Himari.
Shizuka hanya tersenyum. “Ya sudah, apapun hasilnya, terima saja. Kau sudah berusaha.” jawabnya tenang.
“Kau kan pintar, kau tidak akan mendapatkan nilai buruk.” sindir Himari sambil memajukan kedua bibirnya.
__ADS_1
“Tidak juga.”
Tak lama setelah itu, jam pelajaran pun dimulai. Ibu Guru memberikan semua hasil ujian kepada semua murid. Kelas pun menjadi ramai. Ada yang teriak karena senang dan ada yang teriak karena kecewa dan sedih dengan hasil ujiannya.
Nama Shizuka dan Kazuya pun dipanggil. Shizuka terkejut karena ternyata nilai yang ia dapat tak begitu memuaskan. Namun tidak seburuk yang dipikirkan.
“Nilaiku…” gumam Himari. Wajahnya terlihat ingin menangis.
“Tidak apa-apa, Himari. Kau sudah berusaha, bukan? Nilaimu tak begitu buruk.” Shizuka mencoba untuk menghibur Himari.
“Kazuya, bagaimana dengan nilaimu?” tanya Himari.
Kazuya tak memberikan kertas ujiannya namun Himari mengambilnya dari mejanya. Himari melebarkan matanya. “Astaga… nilaimu bagus sekali.” ujar Himari.
Shizuka ikut penasaran dan mengintip pada kertas ujian Kazuya. “Wah… kau hebat sekali.” katanya.
“Biasa aja.” sahut Kazuya.
“Kau ini sangat pintar. Nilaimu bagus semua.” ujar Shizuka.
“Kenapa nilaimu hanya segitu?” tanya Kazuya.
Mereka kembali berjalan berdampingan menyusuri sungai.
“Kau ingat? Malam disaat kita belajar di rumahku? Aku terus memikirkanmu karena kau sakit. Aku khawatir padamu. Aku takut sesuatu terjadi padamu karena kau hanya tinggal bersama nenekmu.”
Shizuka mengangguk sambil tersenyum lebar.
Hingga akhirnya mereka berpisah di pertigaan karena arah rumah yang sudah berbeda. Mereka pulang ke rumah masing-masing. Walaupun sebenarnya Kazuya tak ingin pulang ke rumahnya itu. Mau tak mau, ia harus pulang dan menghadapi kenyataan akan tadi malam.
Kazuya sempat kebingungan karena ada mobil yang terparkir di halaman depan rumahnya. Ia tahu mobil siapa itu. Dan ia benar-benar mempunyai firasat buruk. Ia tahu apa yang akan terjadi.
Kazuya memasuki rumahnya. “Aku pulang.” ujarnya.
“Ah… hai Kazuya! Ibu sangat merindukanmu.” ujar seorang wanita yang terlihat masih muda dari arah ruang keluarga datang menyambut Kazuya dengan sebuah pelukan.
Kazuya terdiam. Bahkan ia tak memeluk balik ibunya itu.
“Yuri, dia pasti kelelahan, biarkan dia beristirahat dulu.” sahut neneknya kemudian.
Wanita bernama Yuri itu melepas pelukannya dan menyentuh wajah Kazuya lembut.
“Apa yang Ibu lakukan di sini?” tanya Kazuya cetus.
Wajah Yuri terlihat kebingungan. “Kenapa kau bertanya? Ini rumah Ibu juga. Ibu sangat merindukanmu. Ibu ingin sekali bertemu denganmu.”
__ADS_1
“Sebenarnya, ada yang ingin kutanyakan padamu.” gumam Kazuya.
“Hm? Apa itu?”
“Aku pernah tinggal disini, bukan?” tanya Kazuya. Ia menatap mata Yuri tajam. Mengharapkan jawaban yang bisa membuatnya lega dan tahu tentang dirinya..
Yuri berpaling dan berjalan ke arah ruang keluarga lagi. “Ya. Bukankah ada nenekmu di sini? Jadi, kau pasti pernah tinggal di sini semasa kecil. Mungkin kau hanya tak ingat saja karena kau masih sangat kecil waktu itu.”
“Begitu ya…”
“Kenapa kau tiba-tiba menanyakan ini, Kazuya?” tanya Yuri. Sedangkan neneknya hanya memantau dari dapur.
Kazuya ikut berjalan memasuki ruang keluarga. “Lalu, sebenarnya, kenapa aku tak ingat sama sekali dengan masa kecilku? Apa yang terjadi?”
Mendengar pertanyaan itu, Yuri pun berbalik cepat menghadap Kazuya. “Karena kau masih sangat kecil, Kazuya. Lalu aku membawamu ke Tokyo sedari kecil. Jadi kau memang tak punya banyak kenangan di sini.”
“Kenapa? Kenapa aku di bawa ke Tokyo?” sahut Kazuya cepat. Matanya semakin melebar menandakan ia sudah merasakan marah yang sangat mendalam. Rasa penasaran yang diselimuti dengan rasa marah.
Yuri terdiam beberapa saat dan itu sangat membuat Kazuya curiga. “Karena dulu kau sakit. Karena di sini tak ada rumah sakit yang memadai, jadi terpaksa aku harus membawamu ke rumah sakit di Tokyo.” ujar Yuri kemudian.
“Sakit?” tanya Kazuya memastikan. Benar, rasanya yang ia ingat hanyalah terbangun tiba-tiba di rumah sakit dan ia tak bisa ingat apa-apa sebelum itu.
“Ya, kau sakit cukup parah sehingga harus kubawa ke rumah sakit.”
“Sakit apa aku? Aku merasa selama ini aku sehat. Tapi kau benar, aku sering mengalami sakit kepala yang luar biasa. Ibu tahu apa sebabnya?”
Wajah Yuri berubah panik. “Ha? Kau sering mengalami sakit kepala? Apakah kau baik-baik saja? Perlu kah kita ke dokter sekarang?” tanyanya sambil menyentuh kepala Kazuya.
Kazuya menghindar dan menepis pelan tangan Yuri. “Aku baik-baik saja. Tapi, aku selalu merasakan sakit ketika aku melihat dan berusaha mengingat seseorang.”
Yuri mengerutkan dahinya bingung. “Siapa…”
“Laki-laki yang ada di album foto.”
Yuri terdiam. Matanya melotot dan tidak berkedip.
“Kenapa Ibu diam? Siapa laki-laki itu? Kenapa aku tak pernah bertemu dengannya? Kenapa dia selalu ada di hampir setiap foto?” tanya Kazuya dengan nada yang melengking.
“Dia… sahabat Ibu-”
“Tak perlu berbohong!” teriak Kazuya. Jantungnya berdebar dengan keras. Ia berusaha menahan emosi dan amarahnya tapi jawaban Yuri yang telah meledakkannya. Kini Kazuya rasanya seperti terengah-engah habis berlari berkilo-kilo meter jauhnya.
Yuri kaget dengan teriakan Kazuya. “Kazuya…”
“Aku sudah tahu semuanya. Ibu tak perlu berbicara apa-apa lagi. Aku lelah ingin istirahat.” gumam Kazuya
__ADS_1
Ia berjalan memasuki kamarnya dan membanting pintu kamarnya. Kazuya terduduk di balik pintu sambil menundukkan kepalanya. Rasanya, ia seperti kehilangan arah sekarang. Ia tak bisa mempercayai ibunya sendiri, ia tak kenal dengan keluarganya sendiri… ia tak bisa percaya siapa-siapa sekarang...